Surat Balasanku

Aku bahagia menerima surat balasanmu. Itu sebuah penghargaan padaku. Namun, aku jadi prihatin kau sering sakit kepala. Sakit, apapun bentuknya memang menyakitkan. Itulah mungkin mengapa, orang mengatakan: kesehatan itu adalah barang yang mahal. Anugerah Tuhan itu perlu terus dijaga dan disyukuri, meski toh setiap orang pernah dan akan mengalami sakit. Hanya Raja Firaun yang selama hidupnya sehat. Aku sendiri menganggap, kesehatan adalah kurnia terbesar Tuhan ketiga, setelah iman dan akal. Aku juga pernah merasakan sakit kepala yang sangat, sampai dua-pekan. Itulah mengapa, dulu aku tidak bisa menghadiri wisudamu, momen (yang mungkin penting) dalam hidupmu. Kata dokter, aku kena fertigo, entah penyakit apa itu. Katanya lagi, sebabnya adalah kebanyakan kopi dan begadang malam. Waktu itu, seluruh teman-temanku juga hampir mengalami sakit yang sama: badan demam, kapala mengalami sakit yang sangat, seperti tersambar petir. Dalam saat yang sama, selama tiga-minggu, delapan-belas temanku juga dibawa ke klinik semua. Beruntung teman-teman baikku hadir saat itu untukku: merawatku. Aku takkan melupakannya, meski belum atau tak bisa membalas budinya. Alhamdulillah, sampai kini, penyakit itu tidak menyerang kami kembali. Kata seorang kiai, sakit itu untuk membersihkan dosa. Mungkin waktu itu, aku dan teman-teman pernah melakukan dosa berjamaah dan dibersihkan secara berjamaah pula. Wallahu A’lam. 

Soal kau sering bermimpi buruk dan tak bisa tidur, mungkin kamu terlalu banyak berfikir atau pikiran(atau mungkin kekhawatiran?) Sayang, aku tidak bisa meramal mimpi, seperti Nabi Yusuf. Kata orang, mimpi itu bunga tidur. Kalau begitu, lantas itu disebut apa mimpi buruk itu? Adakah aku dalam mimpi burukmu itu? Haha. Namun yang jelas, mimpi, setahuku, selain bunga tidur, kadang punya suatu pesan. Entah itu apa. Aku, waktu bulan puasa di pesantren dulu, pernah ngaji tafsir mimpi. Namun kini sudah lupa. Tentu kau tahu, Nabi sendiri pernah mendapat wahyu melalui mimpi, namanya arru’yah-ashshadiqah, mimpi yang benar. Dan dipesantren dulu diajarkan, jika seorang bermimpi bertemu Baginda Nabi, itu adalah beliau sendiri, karena Iblis tidak bisa menjelma meniru nabi. Semoga, suatu saat kita bermimpi bertemu Nabi.

Aku punya cerita soal mimpi. Konon, Sultan Muhammad Turki, waktu menaklukkan Konstantinopel, juga dibimbing mimpi oleh leluhurnya. Dalam mimpinya, eyangnya mengatakan bahwa dialah orang yang dijanjikan nabi dalam hadisnya, untuk menaklukkan benteng terakhir Nasrani waktu itu: Konstantinopel. Dalam buku biografi Sri Sultan Hamengubuwono IX: Tahta Untuk Rakyat, ngarso ndalem juga pernah ditemui oleh leluhurya, Sultan Agung, Raja Mataram ke-III. Waktu itu, HB VIII mangkat dan Dorojatun naik tahta menjadi HB IX. Namun Belanda begitu berhasrat untuk menguasai kerajaan. Orang-orang kafir itu mengajukan beberapa pasal yang merugikan kerajaan Joga. Untuk dilanlantiknya HB IX, perundingan terjadi secara pelik dan kadang sampai larut malam, sampai berbulan-bulan. Dorojatun tahu Belanda ingin mengibuli rakyat Jogja. Banyak desakan terjadi, sampai datang dari kalangan istana sendiri. Namun Dorojatun, waktu di yang desak itu menjawab: “Silakan saja disepakati, kalau anda yang bersedia mau jadi Raja”. Dan wibawa Dorojatun terlalu besar dikalangan keluarga raja. Dalam masa pelik itu, Dorojatun suatu malam bermimpi ditemui sosok dengan memakai baju biru. Dalam kepercayaan keluarga raja, itu adalah sosok Sultan Agung, Raja Jawa yang mengelaborasi Kalender Islam dengan Saka itu. Dalam mimpinya, Sultan Agung menyuruh Dorojatun menandatangani surat kesepakatan itu, karena tak lama lagi Belanda akan hengkang dari Tanah Jawa. Berbekal wangsit tersebut, tutur Dorojatun dalam biografinya itu, kemudian mantap menandatangani kerjasama yang tak seimbang dengan Belanda. Akhirnya ia dilantik. Tak lama kemudian, Belanda benar-benar diusir Jepang, sampai kemudian ketika ada Proklamasi Kemerdekaan, HB IX menyatakan: Jogja merupakan daerah Istimewa yang merupakan bagian dari Indonesia. Semenjak itu, Jogja menopang negeri yang masih bayi, menyelamatkan tokoh-tokoh ketika penjajah datang lagi, menjadi Istana Negara dan menginisiasi sekaligus menopang logistik perang gerilya yang dipimpin Pak Dirman, jenderal yang berperang selalu dalam keadaan suci itu. Aku melihat, begitu besar peran mimpi HB IX, juga mimpi orang yang ahli riyadlah dan tirakat.
Soal Sufi atau tarekat, maaf jika kau tidak suka membahasnya. Aku hanya ingin berkagum-ria dengan orang-orang yang menempuh jalan sunyi itu. Sekarang, banyak orang yang salah-memahami tentang tarekat soalnya. Tarekat dan dunia sufi baru akan dipahami setelah orang tahu bagaimana industrialisasi Barat yang memunculkan egoisme, individualis: kering dan kesepian. Jiwa mereka sunyi dari cinta dan kebersamaan. Hal ini pernah diungkapkan Alvin Toffler, bahwa di Barat, struktur kemasyarakatan yang kukuh sudah ambruk dan hilangnya nilai dan makna yang berlaku. Mereka teralieniasi dari kehidupannya sendiri dan mengalami kesepian yang mencekam, merindukan perkawanan yang akrab dan hangat, mendambakan suatu penjelasan tentang makna hidup. Saran dari Nurcholis Madjid, dalam Banyak Jalan Menuju Tuhan, mereka mesti kembali ke agama sebagai sistem pandangan hidup yang menawarkan makna dan tujuan hidup yang benar dan baik.

Tentang kepompong dan kupu-kupu yang kau misalkan, aku setuju dan tidak setuju. Setujunya secara hakikat memang seperti itu: kaya miskin sudah merupakan sunnatullah. Dengan logikamu itu, kita tak usah menolong yang lemah: biarkan mereka berpuasa menjadi kepompong dan bangkit sendiri. Jangan kita tolong, biarkan mereka ditempa tuhan agar menjadi kupu-kupu. Begitu, bukan? Secara hakekat memang kamu tidak salah. Namun aku belum bisa seperti itu: memakai pendekatan hakikat. Dan tentu aku tidak setuju secara syariat, sebagaimana jalan yang hari ini aku mencoba mengarus-utamakan. Memang, Khidhir dengan Musa sepertinya sulit untuk berdamai dengan masing-masing perspektifnya, meski kedua-duanya dibutuhkan oleh orang beragama.

Tentang sakit maag-mu, aku sudah cari info obat yang tradisional, yaitu sari kunyit dan sari kacang hijau. Ada lagi sebenarnya: air sari godogan daun jambu biji. Tapi yang terakhir sepertinya tidak cocok untukmu. Sari kunyit dan kacang-hijau saja coba kamu banyak-banyakin, juga air putih. Kalau kopi, sesekali saja, jangan seperti katamu: tiga gelas sekaligus. Itu secara syariat bisa dosa, seperti orang sakit jantung yang tetap merokok, atau orang darah tinggi pesta kambing. Kaidah fiqh mengatakan: lâ dharâra walâ dhirâra; jangan merugikan diri sendiri dan orang lain. Mudah-mudahan, dengan obat dari tanah bumi pertiwi itu, sakit maag-mu bisa cepat sembuh.

Oh iya, siang ini aku akan menuju Kendal, menghadiri Harlah ke-62 IPNU Jawa Tengah. Doakan semoga selamat dan bermanfaat dalam menempuh perjalanan. Sekian dulu suratku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: