Maiyah Februari 2016: Menjadi Bukti Kebenaran Allah


[Reportase Maiyah: Macapat Syafaat, 17 Februari 2016]

Karena berhalangan hadir, Macapat Syafaat di Jogja, 17 Februari 2016 kemarin, saya hanya mengikuti via youtube. Banyak hal dibahas mengenai isu maupun ilmu baru. Meski begitu, tidak semua saya tulis disini. Selamat membaca! 

“Saya ingin merespon dua hal”, ungkap Cak Nun malam itu: “pertama, hidup ini ada dua tempat: boleh ngegas dan melampiaskandan ada wilayah kita harus ngerem. Jangan sewaktu naik tanjaan kamu ngerem, atau melewati jalan menurun kamu malah ngegas, bisa bahaya. Dalam bahasa ilmu, ada wilayah kita boleh ijtihad, boleh kreatif ada juga yang kita harus taat. Atau dalam bahasa fiqhi, ada wilayah bidah itu dianjurkan dan dilarang. Dalam rukun Islam atau ibadah mahdlah, kita perlu mengerem kreatifitas, seperti dalam shalat dan haji. Tapi dalam wilayah shalawat, misalnya, kita perlu kembangkan. Jadi, bid’ah atau tidak itu ada konteks dan ranahnya.” Ungkapnya. “Kebanyakan kita di masyarakat modern ini terbalik. Ketika kita boleh kreatif, kita malah taat, ketika harusnya taat kita malah kreatif. Misalnya di bidang negara: pembangunan, demokrasi atau tidak. Itu wilayah keratif, bidah. Bikin negara atau tidak itu boleh, tapi kita disitu malah taat pada fenomena baku: seperti taat kepada botoh-botoh atau yang membiayai jadi menteri atau presiden. Ketika kita bebas bernegara, malah kita taat. Ketika kita harus taat, malah maunya bebas. Misalnya ketika Allah hanya menciptakan Adam dengan Hawa, dan tidak menciptakan Adam dengan Hendra, malah mau kreatif.” Jelas Cak Nun, disambut gelak-tawa hadirin.

“Tidak apa-apa”, imbuhnya, “namun dalam hal ini saya mau menantang, kalau mau kreatif dalam bidang itu, sekalian sama debog (pohon pisang), kuda, kalau cewek sama timun atau terong, sekalian kalau mau kreatif, tak usah tanggung-tanggung!” Selorohnya, diikuti “Gggrrr!!!”.

“Dan itu tidak diperlukan apa-apa kecuali hukum Tuhan yang disebut: faman sya’a falyu’min, faman sya’a falyakfur. Siapa mau beriman kepada Allah, berimanlah; barangsiapa mau ingkar, ingkarlah. Tuhan tidak menangis atas kekufuran kita. Tuhan tidak menderita karena kita kafir. Namun ada resikonya sendiri-sendiri, baik yang taat maupun yang ingkar. Dan perihal ngegas dan ngerem ini, bisa diproyeksikan dimana-mana, jadi perlu anda ingat, namun tetap pada konteksnya. Jangan pas naik tanjakan malah ngerem, atau pas turun malah ngegas. Hidup itu kalau bisa ya ijtihad, misalnya mencari temuan makanan dari beras, kalau tidak bisa ya ittiba’, ikut yang sudah ada, makan nasi dari beras saja.” Ungkapnya memberi landasan.

“Maiyah ini fenomena yang bukan sembarangan. Jangan difikir, meski ada orang-orang disana yang sudah menguasai alam pikiran masyarakat, media massa, program dan isu sudah pasti menang. Yang menang dipikir pasti menang, dan yang kalah sudah pasti kalah. Belum tentu, karena menang-kalah itu hanya satu detik.” Ungkapnya menasehati jamaah. “Dan kita harus mulai melacak asal-usul segala sesuatu. Jangan hanya melihat barang jadinya, tapi tidak melihat proses sebelumnya, jika tidak, kita tidak mendapat ilmu. Jika kita hanya menerima mateng-nya Islam saja, tanpa melacak, kita tidak akan mendapat banyak ilmu. Misal, kita melacak bagaimana senang dan menderitanya Rasulullah. Kita jangan hanya berpatok pada rumus-rumus yang sudah ada, kita membuka kemungkinan-kemungkinan rumus baru yang akan diberikan Allah, yang sekarang mungkin masih dirahasiakan oleh Allah.” Imbuhnya.

Malam itu hujan lebat mengguyur arena, dan para jamaah tetap mantheng, tidak kabur. Cak Nun mengungkapkan kebahagiaan dan keharuannya, melihat pemandangan ditengah guyuran hujan lebat, jamaah maiyah masih tetap setia.

“Anda begitu sungguh-sungguh mencari kebenarannya Allah. Anda disini sedikit terhibur. Nanti setelah pulang, anda pulang kerumah dihajar lagi oleh keadaan, sebagai rakyat anda disiksa terus, sebagi umat Islam anda diadu-domba terus, sebagai manusia anda dihina terus, sebagai apapun anda berdiri dengan eksistensi dan anda mendapat tekanan yang luar biasa. Kita tidak berputus asa dengan ini semua.” Ungkap Cak Nun dengan penuh kekhusyukan.

“Kalau kita diajak kalah – menang, kita ini orang yang kalah atau menang?” tanya Cak Nun. “menang”, “kalah, ”jawab jamaah, ada perbedaan. “Kalau kita ngomong kalah menang, kita mundur satu langkah: batasannya apa, paramenternya apa, kriterianya apa? Saya tanya: menang itu musuhnya orang lain atau diri sendiri?”. “diri sendiri,” jawab jamaah maiyah. “Berarti”, lanjut Cak Nun, “Kita memakai parameter Rasulullah SAW, sewaktu pulang dari Perang Badar, beliau mengatakan: kita baru menunaikan perang-perjuangan yang kecil dan akan memasuki perang yang besar (jihaadul akbar)”, lanjut Cak Nun, memperbaiki cara berpikir jamaah. “Jadi, kalau ada Arab perang melawan Iran itu perang kecil, kalau ada Korea Utara melawan Korea Selatan itu perang kecil. Kalau ada perang Jepang dengan China dalam pembangunan kereta di Indonesia itu perang kecil. Kalau ada ketidak-menentuan undang-undang atau silang-sengkarut antara presiden dengan menteri-menterinya, atau sesama-menteri, atau birokrasi yang salah-urus negera ini, itu semua perang kecil. Sesungguhnya, dibalik perang-perang kecil tersebut, ada perang besar yang tidak pernah tertulis, tidak pernah diekspose media, tidak pernah muncul di koran, di medsos, dan dimanapun yaitu: perang melawan hawa nafsu.” Ungkapnya.

“Anda sekarang hidup di abad 21, dimana hati dan fikiran tak nampak, yang nampak adalah kakinya, namun langkahnya tak terlihat. Orang hanya tahu tujuannya. Hatinya orang abad 21 adalah individualisme. Otaknya adalah materialisme. Tangannya adalah kapitalisme. Kakinya adalah industrialisme. Semua orang mau-tidak-mau terlibat disitu, kecuali maiyah. Gampanynya, kecuali saya. Anda tahu, saya sudah tmundur dari media massa, negara, institusi apapun, kalian dan apapun saja. Saya puasa dari itu semua semenjak 1998 atau 2 hari semenjak Soeharto turun. Intinya, saya mundur dan tidak mengijinkan diri saya menggunakan hak-hak saya. Saya punya hak untuk menjadi pemimpin, pengusaha besar, menteri, presiden atau apapun. Saya punya hak menjadi ulama, pimpinan NU, Muhammadiyah atau apapun, tapi hak-hak saya itu saya rem, saya puasa dan tidak pernah saya pakai. Saya takut, hak-hak itu hanyalah nafsu dari karya pribadi saya.”, terangnya panjang lebar.

“Anda datang kesini sebagai orang menang, memilih yang terbaik. Bukan maiyahnya yang terbaik, tapi pencarian kebenaran dari Allah berupa peristiwa, bencana, rizki atau apapun. Anda orang pinggiran, bukan stake holder yang memegang kendali kekuasaan. Namun anda memegang hak lebih besar dari Allah yaitu: rizqan min haisu la yahtasib. Semoga rizki Allah diberikan kepada anda lewat momentum yang tak diduga-duga. Perlu teman-teman ketahui, sudah 63 tahun ini, saya hidup hanya mengandalkan rizqan min hasiu la yahtasib. Saya hidup 100% hanya mengandalkan kemurahan Allah. Saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Pun saya dan teman-teman terus keliling menyelenggaakan seperti ini tanpa bisa berhenti. Padhang Bulan sudah 23 tahun, Macapat Syafaat 18 tahun, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bang Bang Wetan, Maneges Qudrah, WK, Juguran Syafaat, Ambengan di lampung dan sebagainya. Dan sampai kemana dan kapankah kita nanti?, tiada lain kecuali ketika meninggalkan dunia, sampai mati.”jelasnya panjang lebar.

“Maksudnya meninggal dunia itu pindah tempat”, ungkapnya, “kalau anda kepingin tahu tempatnya, silakan kesana dulu”, jelasnya, diikuti “Gggrrr!” dari ribuan jamaah.

“Perlu anda ketahui, bahwa anda adalah orang-orang yang menang. Anda harus yakin itu. Bahwa hidup itu susah, itu tidak ada hubungannya dengan menang-kalah. Itu soal irama hidup, Allah yang memegang itu. Saya tidak pernah kalah, meskipun saya tidak pernah merasa menang. Kalau kepada diri sendiri, saya harus menang dan tidak pernah kalah. Kalau kepada anda, saya tidak harus menang. Kalau dengan diri sendiri kita harus radikal, kalau dengan orang lain harus lembut. Kecuali kepada istrimu sendiri, kamu harus radikal di kamar.” Candanya, dikuti “Ggggrrrr!!!”

“Kamu tertarik tidak dengan wanita cantik? Pasti tertarik! Tuhan tersinggung kalau kamu tidak tertarik. Namun, seberapaun tertariknya dirimu, jangan sampai mengalahkan disiplin imanmu. Harus begitu. Jadi, tidak ada orang suci, adanya orang yang berjuang untuk suci. Tidak ada orang hebat, adanya orang berjuang mudah-mudahan diberi kehebatan oleh Allah. Dan ada kemungkinan suatu hari kita kalah, namun harus bangkit lagi. Makanya, kita membaca ihdinash shiraatal mustaqim setiap hari, karena ada kemungkinan setiap hari kita terpeleset.”

“Kita mundur sejenak. Jaman Kanjeng Nabi kan jelas, beda antara Abu Bakar, Umar dengan Abu Jahal dan Abu Lahab. Dulu itu, perbedaan muslim atau mukmin dengan kafir itu jelas. Sekarang tidak jelas. Apa kalau orangnya seperti gali, preman sudah pasti jelek? Apa kalau sudah pakai sorban dengan sedikit kalimah thayyibah sudah pasti baik? Apa kalau sudah membantu pembangunan masjid sudah pasti baik, sedangkan kamu tidak tahu itu duit darimana? Jadi, sekarang anda sudah tidak merumuskan, baik kepada manusia, stuktur sosial, lembaga atau institusi. Ini bukan berarti meremehkan Kanjeng Nabi, cuma sekarang memaman sulit. Kalau antara mukmin dengan kafir sudah tidak jelas, lalu yang paling menonjol apa? Kan ada tiga kategori: mukmin, kafir dan diantara keduanya adalah munafik. Jadi, yang paling berbahaya dan tidak pernah menjadi trending topic adalah munafik. Tidak pernah dibicarakan orang apa itu kemunafikan. Sekarang, bahkan tidak lagi perorangan: kemunafikan sudah menjadi undang-undang, sudah menjadi policy, sudah menjadi peraturan, sudah menjadi keputusan, sudah menjadi teks, sudah menjadi catatan ideologi, sudah menjadi visi-misi. Visi misi itu, unsur kemunafikannya berapa persen? Misalnya janji-janji politik: pokoknya kalau saya jadi Presiden, Jakarta dalam seminggu akan beres dari banjir. Jadi, yang menonjol sekarang itu kemunafikan. Kita pernah mendengar: daripada melawan 10 orang munafik, mending melawan 1000 orang kafir. Sebab kalau 1000 orang kafir jelas musuh di depan kita. Namun kalau 10 orang munafik, mungkin dia ada di barisan kita, bagaimana kita mengeceknya? Bagaimana kita perangnya”

Cak Nun melanjutkan: “Karena itulah, semenjak tanun 1998 saya tidak tampil di koran, majalah dan tv nasional, utamanya yang swasta. Kalau hanya di tv local, itu saya anggap bukan Indonesia, itu hanya hiburan orang kecil, tidak menjadi konstelasi nasional. Dan sesungguhnya saya pernah punya cita-cita, andaikan semua ustadz dan kyai tidak tampil di tv, dan tidak ada program-program keagamaan di tv, kalau perlu tidak ada adzan atau unsur agama sedikit-pun di tv: supaya jelas bedanya malaikat dengan setan, supaya jelas tv itu apa, supaya jelas industri itu apa, supaya jelas Islam itu apa. Tapi kan yang berani tidak tampil, berani melawan nafsu, berani tidak menggunakan itu hanya siapa? Meski kadang ketar-ketir, Alhamdulillah, Kiai Kanjeng dipelihara oleh Allah sampai sekarang.”

“Soal orang wandu, khusnsa, orangnya mukhonnas, itu tidak apa-apa. Kamu itu ndak punya tangan atau kaki juga tidak apa-apa. Kamu jadi lelaki gagah namun lentik tidak apa-apa. Tidak ada masalah. Yang tidak boleh adalah zina, baik laki-laki dengan perempuan apalagi dengan sesama –jenis. Kalau memang tidak agama tidak apa-apa. Tapi kalau begitu, saya selaku orang budaya pingin sensasi sekalian, yang lebih dari itu: sama debog(pohon pisang) atau sama kuda sekalian!”selorohnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam forum itu, Cak Nun mengingatkan kembali kepada Jamaah Maiyah agar tidak terpancing dengan berita. Urusan berita, negeri ini sudah menjadi industri yang sulit dan hampir tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Berita apapun. Media apapun adalah rimba. Bahwa yang kita lihat di media itu hanyalah “resepsi” saja, namun kita tidak tahu “akad” dan orang-orang yang bermain dan mengolah dibalik isu tersebut.

Karena kebetulan isu LGBT sedang marak, Jamaah Maiyah diminta kembali lagi kepada cara-cara berpikir maiyah, tak usah risau dengan gelombang di permukaan.

“LGBT itu resmi dibiayai: kita diadu domba. Dan kita tidak ikut menikmati adu domba. Pernah saya melayani orang yang menjelek-jelekkan saya? Saya tidak pernah membalas. Kalau ada yang menjelek-jelekkan saya, bahkan membunuh saya, itu bukan urusan orang itu kepada saya, tapi urusan dia sama Allah. Saya hanya punya masalah jika saya tidak mampu mengatasi nafsu diri saya.”

“Kita itu tidak mampu mengurus masalah Indonesia, sangking akutnya. Anda ini sedang dalam kondisi ‘hijrah’, tidak mampu mengatasi masalah di ‘Makkah’. Nanti insya Allah kita akan sampai di Fathu Makkah. Kita harus yakin adzab Allah akan datang kepada orang yang harus diadzab, dan Allah akan memberi pertolongan, nikmat kepada yang berhak serta kemenangan pada orang yang ada di jalan kebenaran”

Kemudian Cak Nun dengan bantuan Mas Haryanto me-nyurvey secara singkat tentang orang maiyah. Diantara hal yang menarik adalah banyaknya anak kecil yang ikut menyimak maiyah, berjam-jam dan tidak mengantuk. Menurut Cak Nun, ini tidak ditemui disekolah atau tempat-tempat lain, karena sebenarnya mereka memiliki kepekaan sendiri melalui mata, telinga, akal dan hati untuk menyimpan dan menyerap materi. Proses itu alamiah karena yang bekerja adalah otak, akal dan pikiran. Seperti orang yang takut atau phobia melihat kecoak, mata melihat, menyalurkan ke otak kemudian otak mengolah dan disalurkan ke hati lalu hati memberi keputusan dan dikembalikan lagi melalui otak dan disalurkan ke mulut atau mata: reaksinya baru muntah atau jijik. Itu terjadi hanya dalam hitungan detik, sangat tinggi speed-nya. Anak kecil itu bisa menyimpan kefahaman, meski campur dengan orang dewasa, dengan nalarnya sendiri. Jangankan anak kecil, bahkan semenjak masih dalam kandungan, anak bisa di didik.

“Dengan contoh ini, saya ingin mengatakan: Anda harus mulai melihat sesuatu yang tidak kelihatan, sesuatu yang tidak tertulis dan suara yang tidak diucapkan. Termasuk ketika melihat wanita, jangan hanya melihat pipi dan hidungnya. Begitu juga dalam melihat kata-kata dari Maiyah. Kamu harus bisa mencerna kata-katanya, apakah itu pelok(biji mangga) atau pelem (daging buang mangga)? Kamu harus belajar itu. Jika ada yang berani menyuplik kata-kata saya kemudian diselewengkan, jangan harap itu tidak mendapat adzab dari Allah. Jadi, jangan menjahati saya dengan menjelekkan saya, karena itu merepotkan saya untuk memintakan ampun anda kepada Allah”

Kemudian ada yang bertanya tentang aktualisasi Al-Quran. Menjawab itu, Cak Nun berpendapat, salah jika kita melihat Al-Quran dengan kacamata “akademis”, karena al-Quran itu tidak memiliki pangkal dan ujung, semua adalah pusat. “Jika anda disuruh mencari titik pusat bola, anda tentu tidak bisa menemukannya: semua adalah pusat,” ungkapnya. Jadi, surat al-Baqarah misalnya, apakah itu pelajaran soal sapi? “tidak!” jawab jamaah. Juga surat Al-Fil tidak hanya membicarakan soal gajah. Apakah Nabi Ibrahim hanya dibahas pada surat Ibrahim? Juga dalam surat kahfi: kisah Ashabul Kahfi, dan cerita nabi-nabi lain juga banyak. Al-Quran menceritakan dengan amat-sangat puitik. Jadi, kalau anda kesini, ke maiyah ini dengan cara-pandang akademis, tidak akan menemukan sesuatu, malah bingung sendiri. Anda tidak akan bisa menemukan ayat tentang LGBT. Padahal, tidak ada suatu benda apapun di dunia ini yang tidak terkait dengan Al-Quran. Bahwa jika kamu belum punya asosiasi atau jangkauan untuk menemukan, itu urusan otak anda saja yang belum sampai.”

“Adzan saja urutannya bisa saya pakai untuk melatih sepak bola. Iya, adzan hasil karya sahabat Bilal yang sudah disertivikasi oleh Rasulullah itu. Bayangkan urutannya: Allahu Akbar-Allahu Akbar dan diakhiri dengan Allahu-Akbar. Artinya, kamu takjub dulu, meneliti, merasakan dan mengalami baru mengakui kebesaran Allah. Makanya, dalam ramadhan kita ditempa, agar kemudian masuk Idul Fitri kita takjub dan menikmati kemenangan. Di al-Quran itu, semuanya banyak pelajaran, kandungan dan jawaban atas pelbagai persoalan, termasuk ayat: ma khalaqta hadza baathila, kata haadzaa ini bisa bermakna apa-saja, sangat luas.

“Kita tegaskan, bahwa Allah mengatakan: engkau tidak makan kecuali aku yang memberimu makan. Sekarang kenapa kita bilang begitu juga: ya Allah, aku tidak makan kecuali engkau aku beri makan? Dan itu saya aplikasikan. Saya mengosongkan gelas kehidupan saya. Sehingga yang masuk hanya minuman tetesan dari Allah. Saya tidak menganjurkan anda untuk spekulasi seperti saya: sekosong saya. Bisa dilakukan sesuai kapasitas masing-masing. Bagaimana anda membuktikan kasih sayang Allah, kalau anda dipenuhi kasih sayang oleh selain Allah? Seberapa beranimu itu diukur? Temukan bahwa gajimu itu,  gaji yang diridhai Allah. Kalau anda setia dengan itu, Allah akan bermurah hati yang laur biasa, sampai nantinya: la khoufun alaihim walaa hum yahzanuun. Yang kita buktikan bukan kebenaran kita, tapi kebenaran Allah. Doanya begini: ya Allah, jadikanlah aku alat bukti atas kebenaranmu. Dan itu luar biasa hasilnya, pokoknya Allah top!. Sudahlah, kamu percaya saja. Jadi, rizkimu akan berbanding lurus dengan keyakinanmu. Namun, jangan terus di-gebyah-uyah, semua ada ukuran dan kadarnya.”

Cak Nun melanjutkan: “Anda punya watak pejuang berapa persen? Ini ilmu lama, bahwa manusia itu ada empat macam: pencetus atau perintis, lalu pembangun, manager, ketiga pemelihara, pegawai dan yang keempat pendobrak. Pendobrak ini mendominasi, semua disalahkan.  Anda temukan anda detailnya dimana. Kalau anda tipe orang setia, anda orang ketiga. Kalau anda perintis anda harus menanggung resiko sebagai seorang perintis. Kalau anda manager, anda harus punya kesucian sebagai seorang manager. Jadi ngalimul ghaib was shahadah, Rahman Rahim, kemudian Malik, Quddus, Salam, Mu’min, Muhaimin. Kalau sudah itu, anda masuk Aziz dan tidak bisa dihantam atau dijatuhkan siapa-siapa. Kemudian Jabbar dan Mutakabbir, yang artinya mengatasi. Ketika kamu mendapat masalah, kamu mampu mengatasinya, kamu lebih besar dari masalah itu. Kamu mengembangkan hatimu, keyakinanmu, fikiranmu untuk mengatasi masalah. Hari ini, kita tidak mungkin mengatasi masalah Indonesia. Virus saja kita tidak bisa. Dan memang tidak ada manusia yang bisa mengatasi masalah, hanya Allah yang bisa. Kamu ingin membangun diri sendiri atau ingin menjadi pejuang?”

“Ampunan Allah itu hanya untuk orang yang bersalah. Semakin kamu bersalah, kamu semakin membuat berguna ampunan Allah. Ini memang dialektika yang agak aneh, tapi itulah kehidupan. Anda tidak perlu bicara pencapaian, tidak perlu membayangkan sukses. Ikut perintah Allah saja. Jangan lupa, tidak ada tongkat yang sakti. Tongkat Nabi Musa itukan bukan tongkatnya yang hebat, namun kekuasaan Allah-lah yang sakti. Kita semua tak bisa jadi orang sakti. Kita orang fakir-miskin didepan Allah. Yang penting kita bekerja keras, namun hati kita kosongkan kecuali untuk Allah. Di dalam (cinta kita kepada) Allah, ada keluarga kita dan Indonesia. Jadi Indonesia, bagian dari cinta kita dalam jiwa. Jangan pernah meragukan nasionalisme maiyah. Kita sangat cinta, dan mau duduk sampai pagi, demi Indonesia, manusia dan dunia. Semoga malam ini ada kenaikan drajat dan curahan rizki dari Allah. Amin”

Kemudian Cak Nun meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Dan Insya Allah, katanya, tidak aca yang tidak suci dari niat kita bersama. Syair chasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir dengan komando Cak Nun dilantunkan oleh ribuan jamaah maiyah yang hadir, pertanda maiyah hampir selesai. Kemudian doa dari KH Muzammil, menutup majelis dari malam sampai pagi itu.


Demikian ulasan Maiyah di waktu luang saya ini. Meski ringkas dan tidak mencangkup semuanya, semoga dapat memberi manfaat. Amin.

Purworejo, 2 Maret 2016, tepat di Harlah ke-61 IPPNU.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: