Empat mutiara Allah yang dilekatkan pada manusia

Oleh: KH Achmad Chalwani

Assalâmu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamin. Wassholâtu wassalâmu alâ asrofil anbiyâi wal mursalin. Wa’alâ âlihi wa shohbihi ajma’in. Amma ba’ddu. Kepada yang kami hormati, segenap sesepuh dan kasepuhan serta tokoh masyarakat, khususnya Ibu Nyai Zuhri Syamsuddin beserta putra-putra beliau: Kiai Fadlun, Kiai Atiq, Kiai Imdad dan Kiai Mahin. 

Saya berterima kasih kepada masyarakat Ngabean Kalikarung Kalibawang Wonosobo yang telah mengundang saya dalam acara memperingati Haul Kiai Syamsuddin Jangkrikan. Semoga terima kasih ini termasuk syukur saya kepada Allah SWT, sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW: inna asyakaronnâsi lillâhi tabâroka wa ta’âlâ, askaruhum linnâs; sesungguhnya orang yang paling bersyukur kepada Allah yaitu orang yang pandai bersyukur kepada sesama manusia. Jika saya bersyukur kepada masyarakat Ngabean ini, itu artinya saya bersyukur kepada Allah SWT.

Hadirin hadirat yang saya hormati. Kata haul berasal dari bahasa Arab yang berarti tahun. Nabi sendiri bersama para sahabat, setahun sekali menziarahi makam Uhud, yaitu makam sahabat yang gugur dalam Perang Uhud. Setahun sesudah perang uhud, nabi mengajak sahabat menziarahi gunung yang dikasihi Allah tersebut, sesuai dengan sabda nabi: uhudun jabalun yuhibbuni wayuhibuhullah; uhud itu adalah gunung yang mencintaiku dan dicintai oleh Allah. Gunung saja dikasihi oleh Allah, kita semua tentu ingin dikasihi oleh Allah, jalannya dengan mencintai nabi, sahabat dan para ulama.

Almarhum Kiai Syamsuddin termasuk ulama yang taat kepada guru. Menurut riwayat, Kiai Syamsuddin lebih dari 11 tahun, setiap hari selasa berjalan ke Berjan Purworejo. Dari Jangkrikan ke Berjan, berjalan kaki dan tidak berani mampir di warung. Maka, semoga anda sekalian yang turut memperingati Haul Kiai Syamsuddin, mendapat berkahnya, ketularan ilmu dan amalnya, meski sedikit.

Hadirin hadirat yang saya hormati. Allah SWT, memberi empat mutiara yang “dilekatkan” kepada kita semua. Empat mutiara tersebut adalah: akal, agama, perwira(punya sifat malu) dan amal shalih. Kapan orang punya empat sifat ini, akan selamat dunia dan akhirat.

Pertama, mutiara itu adalah akal. Akal ini pemberian Allah. Dengan akal kita dapat membedakan benar-salah, baik-buruk, panjang-pendek, putih-hitam, dll. Jika kita sudah berakal, maka mesti kita jaga agar tidak hilang akalnya. Orang yang hilang akalnya, namanya mabuk, lebih parah lagi gila. Jika anda berkunjung ke RS Jiwa Magelang, anda akan melihat banyak orang yang hilang akalnya. Meski begitu, orang memiliki akal memiliki tingkatan. Akal kita tidak seperti akalnya para ulama, yang bisa untuk membahas ilmu, (dalam Nahdlatul Ulama) namanya bahtsul masail. Maka akal itu penting dan harus senantiasa kita jaga, karena akal bisa saja hilang.

Dalam kitab yang saya baca, disebutkan: al’aqlu yuziluhu al-ghodlobu; akal dapat hilang karena seringnya marah-marah, emosi. Orang jika sering jengkel, marah-marah dan tidak bisa mengotrol emosi, bisa hilang akalnya. Meski dalam hati emosi, (sebisa mungkin) jangan dikeluarkan. Contoh orang yang dapat menahan emosi, adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka, beliau diberi gelar: raufur rahim.

Suatu ketika, Baginda Nabi duduk di masjid bersama Umar bin Khattab dan para sahabat banyak. Kemudian datang orang kafir dengan naik kuda masuk masjid, beserta kudanya. Sampai di dalam masjid, orang kafir itu turun dari kuda dan kencing. Semua sahabat jengkel, emosi, termasuk Sayyidina Umar bin Khattab sudah menghunus pedangnya, sambil menggertak orang yang memancing emosi itu. Kemudian nabi berkata: mahlan ya Umar, biarkan duhai Umar. Kemudian setelah selesai kencing, tanpa cebok orang itu keluar dengan menaiki kudanya. Setelah itu, nabi mengajak sahabat untuk membersihkannya. Begitu hebatnya akhlak nabi, dapat menahan amarah dan emosi. Maka, kita dianjurkan untuk tidak sedikit-sedikit marah, semampu kita meneladani nabi. (Belajar dari itu) Saya tidak setuju jika ada kelompok Islam yang sedikit-sedikit sweeping, marah-marah, itu jelas bukan organisasi Nahdlatul Ulama. NU harus santun, karena akal dapat hilang karena sering marah-marah. Maka pada suatu ketika, ada sahabat yang minta nasehat kepada Rasulullah, dan Rasulullah menjawab: ta taghdlob, jangan marah. Jawaban nabi itu bahkan diulangi sampai tiga kali.

Saya punya doa supaya meredam emosi. Doa ini bisa juga untuk menurunkan penyakit darah tinggi. Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah, ya salam, ya Allah, ya Salam, ya Shobur, ya Allah, ya Salam, ya Shobur, ya Allah, ya Salam, ya Shobur. Jika sering membaca ini, insya Allah anda dapat menahan emosi, tidak sedikit-sedikit marah, termasuk mengobati darah tinggi. Secara lahir, jika darah tinggi obatnya mimum air godogan daun seledri. Secara batin, membaca doa itu tujuh kali, menghindari makanan yang dapat mengakibatkan darah tinggi, atau minimal jangan kebanyakan memakannya.

Mutiara kedua, yang diberikan Allah SWT kepada kita semua adalah Agama (addien). Addien, menurut Prof Quraish Shihab berasal dari kata dainun, yang bermakna hutang. Maka, kita semua manusia, punya hutang kepada Allah, dan kita diperintahkan menebusnya dengan jalan ibadah: shalat, puasa, haji, wirid, pengajian dll. Allah SWT yang memberi hutang, manusia yang memiliki hutang. Maka Allah SWT memiliki gelar: Dayyan.

Orang jaman dulu pernah punya syiir: Astaghirullah rabbal baroya…Allah rabbal baroya / Astaghirullah Minal khotoya / Rabbi zidni ‘ilman nafi’a…Allah ‘ilman nafi’a / Fawafiqni ‘amalan maqbula / Ya Hannanu ya Manannu…Allah ya Mananu / Ya Dayyanu ya Shulthanu

Dalam syiir itu, ada kalimat: Ya Dayyan. Kita semua menjalankan ibadah ini, bentuk penebusan hutang kepada Allah.

Agama ini merupakan mutiara dari Allah, namun mutiara juga bisa hilang. Mutiara yang kita simpan, jika tidak hati-hati bisa hilang. Saya membaca kitab: addinu yuziluhu al-hasadu, agama dapat dihilangkan oleh sifat hasud atau dengki. Maka dari itu, agar hilang sifat hasud kita, dengan siapapun kita mesti khusnudzon(berprasangka baik, positif thingking). Orang jika ahli khusnudzon, akan khusnul khotimah di akhir hidupnya. Dr Sayyid Muhammad Alwi berkata: Shâbihu khuznidhon musibun walau akhtoa; orang yang selalu ber-khusnudzon dengan orang lain, akan selalu dalam kebenaran, meski prasangka itu kadang tidak tepat. Sebaliknya, menurut Dr Sayyid Muhammad Alwi, orang jika selalu berburuk sangka(su’udzon, negatif thingking), kata beliau: Shohibu suidzon mukhtiun walau ashoba; orang yang sering berburuk sangka senantiasa dalam kesalahan walaupun sangkaanya tepat. Ini ajaran tarekat, maka Kiai Imdad tadi mengatakan, jangan hanya wirid saja tapi juga laku tarekat: menghindari dengki, hasud dll.

Mutiara ketiga adalah al-haya’u, sifat malu. Orang selama memiliki sifat malu akan menjadi baik. Misalnya: aku malu, istriku sudah baiat thariqah dan aku belum. Termasuk malu kepada anaknya, menantunya, mertuanya, tetangganya dll. Mutiara yang bernama malu itu dapat hilang. Saya baca kitab: al haya’u yuziluhu at-thomau, orang jika tama’(mengharap pemberian orang lain) akan hilang mutiaranya. Seperti ketika pemilu, mengharap pemberian dari caleg, dll.

Orang yang tama’ itu rekasa, sulit hidupnya. Saya pengalaman, pernah tama’. Suatu kali, saya akan pergi ke pengajian. Istri saya mengingatkan: “Pak, dahar riyin (Pak, makan dulu)”. “Tidak usah, nanti disana biasanya disuguh”. Setelah sampai di lokasi, ternyata saya hanya diajak ngobrol tentang pertanian terus-menerus, tidak disuruh makan. Berat jadi orang tama’ itu.

Maka, Gusti Nabi bersabda: al-haya’u minal iman; malu itu sebagian dari iman. Sifat malu itu menunjukkan bahwa dihati masih ada imannya. Kita orang awam, kalau langsung malu kepada Allah belum bisa, malunya lewat anak, tetangga, guru dll.

Mutiara keempat adalah Amal Sholeh: sholat, zakat, puasa, wirid, sedekah, masuk tarekat, haul, ini semua merupakan bentuk amal sholeh. Orang jika memiliki alam sholeh, masih bisa menolong orang yang masih hidup.

Jaman dulu, di Surabaya, ada seorang murid Sunan Ampel yang bernama Sholeh. Mbah Soleh bukan ulama besar. Setiap hari tugasnya mengisi kulah (bak air, Jawa: jeding) di Masjid Ampel untuk berwudlu dan shalat. Ketika Mbah Sholeh wafat, kulahnya kosong tak berisi air. Suatu sore ketika akan shalat asar, kulah masih saja kosong. Sunan Ampel kemudian berkata: “Jam segini ini, kalau saja Mbah Sholeh masih hidup, tentu akan penuh kulahnya”. Sekejap kemudian, Mbah Sholeh, yang telah wafat itu, muncul kembali dan mengisi kulah, kemudian pergi. Sore selanjutnya, Sunan Ampel berkata: “Mbah Soleh kok tidak datang lagi ya”. Kemudian Mbah Sholeh menampakkan diri dan mengisi jeding kembali. Begitu berulangkali, sampai lebih dari 11 hari setelah wafatnya. Itu artinya, Mbah Sholeh yang sudah wafat, karena punya amal sholeh bisa menolong orang yang masih hidup. Adapun makam Mbah Sholeh ada di timur Masjid Ampel.

Sunan Ampel juga punya murid bernama Mbah Kiai Shonhaji yang mashur dengan nama Mbah Bolong. Bolong artinya tidak rapat.  Beliau ahli ilmu falaq, ilmu yang mengungkap waktu shalat, awal puasa, arah kiblat dll. Suatu waktu, Sunan Ampel membangun masjid di Surabaya, kiblatnya kurang pas. “Kanjeng Sunan, kiblatnya kurang pas?” kata Mbah Shonhaji. “Kamu kok tahu?” jawab Sunan Ampel. “Lha itu, ka’bahnya kelihatan..” kata Mbah Shonhaji sambil mengacungkan jari. Ka’bah yang ada di Makkah, terlihat dari Surabaya. Semenjak itu, karena Makkah terlihat bolong dari Surabaya, Mbah Shonhaji dijuluki Mbah Bolong. Itu merupakan keramat Mbah Shonhaji murid Sunan Ampel, yang makamnya ada di Ampel, belakang pengimaman masjid.

Jadi, orang yang sudah meninggal bisa membantu orang yang masih hidup asal memiliki amal shaleh. Kita sesama orang hidup belum tentu bisa memikirkan yang hidup jika tidak memiliki amal shaleh. Alhamdulillah, sedikit-sedikit kita memiliki amal itu: shalat, zakat, puasa dll. Namun perlu diperhatikan pula bahwa amal shaleh itu bisa hilang pahalanya. Dalam kitab yang saya baca, tertulis: al-‘amalu-s-shâlih yuziluhu-r-riyâ’u; sifat pamer bisa menghilangkan pahala amal shalih. Jadi, jangan katakan apa amal atau ibadah kita, karena bisa menghilangkan pahalanya. Kalau orang lain yang mengatakan tiedak apa-apa. Termasuk ikhlas, jangan katakan. Allah SWT sudah memberi contoh kepada kita, di dalam surat ikhlat tidak ada-ada kata ikhlas. Tidak kelihatan tapi ada: lillahi ta’ala.

Keempat mutiara itu, Kiai Syamsudin sudah ada dan dijaga. Maka, tinggalan kiai syamsudin  berupa tarekat semakin banyak karena beliau memiliki empat mutiara ini dan senantiasa dijaga. Perlu diingat kembali keempat mutiara itu: akal, agama, sifat malu dan amal sholeh. Keempat mutiara ini perlu kita pegangi. Yang sedang kita hauli sekarang adalah guru thariqah yang memiliki guru yang jelas. Sering saya sampaikan, mencari guru itu harus jelas darimana mendapatkannya. Kita ini arga NU, memiliki pendiri yang jelas mengambil ilmunya. Pendiri NU KHM Hasyim Asy’ari mengambil ilmu syariat dari Syaikhona Kholil Bangkalan, yang juga merupakan guru KH Abdul Karim Lirboyo. Ilmu bisa masuk ke hati, syaratnya santri harus khidmah dan mencari ridla guru. Maka dipesantren ada ro’an atau nderek ndalem, menyapu dll.

KH Hasyim Asyari pernah nyantri di Bangkalan. Suatu ketika, santri-santri mendapati Kiai Kholil dan Ibu Nyai sedih. Kemudian salahsatu santri bertanya: “Kiai, apa yang menyebabkan panjenengan susah,”tanya santri. “Anu, saya sedih karena cincin (ali-ali) nyai jatuh ke jumbleng(kakus). Kira-kira siapa santri yang mau masuk jumbleng mencari cincin istriku”jawab Kiai Kholil. “Harga cincin itu sih murah, namun cincin istriku itu kenang-kenangan dari guruku di Makkah” imbuh Kiai Kholil. Kabar itupun kemudian sampai pada santri yang bernama Hasyim Asyari.  Tanpa berpikir panjang, santri Hasyim langsung menjebur ke jumbleng. Setelah dicari, sampai kurang-lebih sembilan jam, ketemulah cincin itu. Sementara Hasyim masih berendam untuk menghilangkan bau, cincin itu dicuci dan diberikan oleh santri lain kepada Kiai Kholil. “Ini kiai, cin-cin ibu nyi sudah ketemu” kata santri sambil menyodorkan cin-cin. “Siapa yang mencari dan menemukan cincin ini?” tanya Kiai Kholil kepada santri yang mengantarkan. “Hasyim, kiai”, jawab santri itu. “Mana dia, suruh kesini”. “Masih berendam, kiai”. Selesai berendam, Hasyim menghadap Kiai Kholil. “Hasyim, saya sangat berterima kasih atas khidmahmu yang sedemikian dalam, sampai mau masuk ke jumbleng. Saya merasa puas sekali. Maka, saya anggap kamu cukup belajar disini, saya doakan ilmumu bermanfaat. Silakan pulang dan dirikanlah pesantren,” nasehat Kiai Kholil. “Namun kiai, kitab saya belum khatam” jawab Hasyim. “Tak usah menunggu khatam, kamu sudah mau turun jumbleng dan khidmah sedemkian besar.” Timpal Kiai Kholil. Kemudian Hasyim pulang mendirikan pesantren dan menjadi ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama.

Khidmah kepada guru itu mempermudah masuknya ilmu ke hati. Dulu ketika di pesantren Lirboyo, saya sering di dawuhi matun dan ndawud di sawah milik Kiai Marzuki. Malah-malah, ketika ngaji Tafsir Jalalain di kediaman Kiai Marzuki, tangan kanan memegang pulpen dan tangan kiri merontokkan jagung, itu sudah menjadi hal yang biasa bagi santri waktu itu. Maka, jika putra-putri anda di pesantren di dawuhi pak kiai untuk ini-itu, anda mesti rela. Itu dapat mempermudah masuknya ilmu ke hati. Jika santri tidak pernah khidmah, nyuwito, lumadi kepada guru, ilmu hanya singgah di otak namun tidak sampai ke hati.

KH Abdul Karim Lirboyo, ketika nyantri di pesantren Kertosono Nganjuk, selama satu tahun belum diberi pelajaran ngaji, hanya disuruh memandikan kuda milik sang kiai. Mbah Abdul karim menerimanya dengan ikhlas. Akhirnya beliau menjadi ulama besar, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo dengan santri lebih dari 10.000. Kalau kelasnya kita semua, jangankan setahun, jika seminggu tidak diajari ngaji mungkin akan menduga kiainya bodoh dan pindah kiai. Itulah yang membuat ilmu sulit bermanfaat.

Mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan. Semoga haul ini dapat mengatarkan kita selamat di dunia dan akhirat; dicukupi segala kebutuhan kita dan dimudahkan semua urusannya. Segala kekurangan mohon maaf. Wallahul muwaffiq ila aqamith tharieq, wassalamu’alaikum Wr. Wb.


KH Achmad Chalwani Nawawi, Mursyid Thariqah Qadiriyyah/ Naqsyabandiyyah sekaligus Pengasuh PP An-Nawawi Berjan Purworejo. Disampaikan pada Peringatan Haul Kiai Syamsuddin oleh Masyarakat Ngabean Kalikarung Kalibawang Wonosobo Jawa Tengah, 24 Maret 2014. Ceramah dialihtulisankan oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun, santri PP An-Nawawi dan pengelola blog: ahmadnaufa.wordpress.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: