Lelaki Pengecut!

Kalau kamu pernah mendengar orang berkata: “dasar lelaki pengecut!”, mungkin akulah orang yang pantas menyandangnya. Bahkan secara sadar, kepengecutanku kupelihara sampai kini, detik ini.

Aku mempengecuti banyak hal dalam hidup ini, dari dirimu, orang tuaku, keluargaku, guruku bahkan tuhanku.

Aku kadang heran dengan apa yang kujalani dalam hidupku ini. Mengapa aku bertindak dan memilih yang ini, bukan itu. Mengapa aku bersikap begini, bukan begitu. Mengapa aku memilih yang ini, bukan yang itu. Dan banyak hal, tentang dosa dan kepengecutanku.

Aku bagai prajurit yang lari dari medang perang, meski mengharapkan menang. Aku berharap uluran tangan orang, meski dalam hati berniat memperjuangkan. Aku dilumuri dengan parfum-parfum mewah namun miskin kesejatian. Aku masih mengharap segunungan emas meski banyak gunung emas telah kugenggam.

Di waktu ini, aku merasa sendiri, sungguh-sungguh merasa sendiri.

Aku begitu lemah dan lunglai menghadapi kehidupan. Aku lari dari kenyataan, mencari istana-istana dalam imaji dan bayangan. Tak bisa berbuat apa-apa.

Aku hidup dalam negeri dongeng. Aku menikmatinya, menggaulinya, memperkosanya dan menyangka ialah kehidupanku seutuhnya. Namun lagi-lagi aku seorang lelaki pengecut: tidak bertanggungjawab atas pilihanku. Tidak total dalam keputusanku. Tidak memaksimalkan dan total dalam memasuki kesalahan. Tidak konsisten dengan apa yang kuucapkan. Aku sungguh-sungguh mengerikan.

Ditengah ketiakberdayaan ini, entah mengapa masih saja datang kepengecutan. Aku masih memiliki harapan yang naif dan diluar keterbatasan. Sebegini pengecutkan aku menjalani kehidupan?

Aku masih menunggu dan menunggu momentum itu, momentum yang mampu menghancurkan kerasnya hatiku, lemahnya semangatku, mekarnya cintaku. Meski boleh dibilang itu harapan semu, tepatnya harapan palsu.

Ada apa denganku? Lupakah mimpi-mimpiku semasa kecilku dulu? Lupakah cita-cita yang sedemikaian lama kudendangkan? Matikah semangat yang kudapatkan selama bertahun-tahun mengarungi perjalanan?

Biarlah. Akan kutanggung sendiri semua ini. Di sisa-sisa hidupku ini. Biarlah kepengecutanku menjadi sebuah sejarah yang tak tercatat, bahwa di muka bumi pernah hidup seseorang seperti aku. Akan kunikmati derita itu sendiri, kubawa lari, sampai kelak aku dipermalukan di pengadilan tertinggi.

Aku takkan menyalahkan siapa-siapa. Apapun yang menimpaku adalah hasil dari keputusanku, jalan hidupku. Biarlah ia menjadi bagian hidupku. Tanpa kusesali secara berlebihan, dan tanpa tidak kusesali secara wajar. Biarlah ia menjadi kebahagiaan dalam kesedihanku, dan menjadi kesedihan dalam kebahagiaanku.

Aku akan tetap menjalaninya.

[Purworejo, 15/03/ 2016]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: