Sowan Kiai Gondrong

Setelah hampir dua bulan merasa tidak berarti apa-apa seperti kehilangan harapan dan semangat, jumat sore kemarin saya menuju kota budaya: Jogjakarta, untuk sowan kepada seorang kiai. Setelah sebelumnya kami janjian, beliau mau menerima kami sehabis maghrib. 

Karena motor saya baru saja ketilang polisi karena lupa membawa STNK, saya mengajak rekan saya Muhammad Syarif untuk menemani sekaligus menjongki. Ia mau. kami berangkat dari Base Camp IPNU Purworejo pukul 15.00 WIB. Syarif memakai tas rangsel, jaket, celana jeans dan helm, lengkap laiknya musafir jalanan abad ini. Sedangkan saya tak membawa tas, hanya surat dan lampirkan yang akan diberikan kepada kiai, itu saya masukkan kedalam tas syari: blung! Oh iya, karena helm saya juga hilang entah dan belum jua kembali, terpaksa saya memakai helm ala changcuters yang tidak ada kacanya. Lumayan untuk antisipasi, siapa tahu ada operasi simpati dari om-om polisi.

Sore itu langit nampak mendung, namun sedikitpun tak menghalangi niat, tekad dan semangat kami. Karena menurut google map, daerah yang akan kami tuju dekat dijangkau via kaligesing, kami memutuskan memakai jalur pegunungan itu. Memakai honda vario, gas dipacu dengan angka 80 oleh Syarif.

Desa-desa di perbatasan Kaligesing dengan Kulonprogo, adalah alam yang menakjubkan: masih segar, alami dan perawan. Sore itu beberapa petani masih mengayuhkan cangkulnya dengan ditemani burung-burung blekok yang mencari ikan di sawah. Peternak pulang dengan menyunggi gundukan rumput segar diatas kepalanya. Beberapa ibu dengan pakaian Jawa membawa arit, mungkin sehabis babat-babat merawat ladangnya. Hamparan sawah hijau dengan lekuk-lekuk khas dari tinggi ke rendah sebagai penahan erosi, seperti hasil seni rupa seniman yang mengagumkan. Pemandangan sawah yang menghijau bagai permadani yang dihamparkan.

Ditengah pemandangan alam itulah, rinai hujan mengucur dari langit membasahi jaket dan motor yang kami tumpangi. Air dari awan  kami terjang, tak dihiraukan. Baru setelah memasuki jalan Godean, butir-butir air itu semakin membesar, memaksa kami memakai mantol.

Memasuki Jogja, Syarif sempat keukeuh tidak menuruti saran saya dan lebih percaya pada google map. Ia membelokkan setir ke arah kiri sebelum jalur yang semestinya. Bisa kutebak hasilnya, salah jurusan. Kami kebablasan sampai ujung Sleman, menuju arah Muntilan. Syarif menyerah dan menceraikan google map-nya. Saya kembali menjadi navigator. Dengan insting dan kepercayaan tinggi, saya mencari kediaman sang kiai, yang belum pernah sekalipun saya sowan kesana.

Setelah sempat bertanya dengan beberpa orang, saya mencari rumah itu. Dari jalan layang Jombor, turun kebawah, ada indomaret sekaligus pangkalan ojek. Dari situ, masuk menuju perumahan jombor baru: lurus mentok, kemudian ke kanan. Sebelum masjid, ada perumahan. Depannya berdiri bendera hijau lambang Nahdlatul Ulama, juga tergantung beberapa sangkar burung lengkap dengana isinya. Saya yakin, itulah rumahnya. Kami mendekat.

Namun, niat untuk bersalam dan mengetuk pintu, sejenak kami urungkan. Penghuni rumah itu, ternyata sedang ramai makan-makan. Tidak hanya kiai gondrong beserta keluarga, namun puluhan orang juga sedang makan bersama, dari kecil sampai dewasa. Itu terlihat jelas lewat jendela kaca yang belum diselimuti gordennya. Kami memutuskan menunggu diluar sambil rokokan.

Namanya Ahmad Muwaffiq. Orang biasa menyebutnya Kiai Muwaffiq, Gus Muwaffiq atau Cak Afiq. Badannya tinggi dan besar, kulitnya hitam kecoklatan, rambutnya gongrong, mirip sekali dengan bintang film hollywood, Steaven Seagal. Ia dulu kuliah di IAIN Jogjakarta dan menadi aktivis pergerakan. Pernah menjadi Sekjend Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. Kemudian ketika Gus Dur menjadi presiden, ia menjadi asisten pribadinya. Selain selesesai dalam soal agama karena alumnus pesantren, ia dikenal luas pemahaman politik dan sejarahnya. Juga, terkenal jadog atau kebal. Konon, ketika Gus Dur akan dilengserkan pada Mei 2001, ia di depan pasukan berani mati, sendirian mengangkan mobil panser milik TNI dengan tangan kirinya. Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh wartawan dan menadi headline di kompas. Saya mengenalnya pada waktu PKD PMII tahun 2007. Juga, beliau kemudian sering mampir di tempat om-ku, yang menjadi yuniornya di IAIN Jogjakarta. Meski begitu, sekali-pun saya belum pernah sowan kerumahnya. Baru kali ini, di depan rumah yang ada bendera NU-nya itu, kami menunggu.

Syarif tak sabar jua menunggu pesta itu. Ia memaksaku masuk meski tuan rumah sedang makan bersama. Kami terpaksa masuk. Cak Afiq dan beberapa orang sudah selesai, tinggal beberapa anak-anak. Kemudian beliau menyambut kami dan mempersilakan sekalian makan. Kami tidak menolak. Nasi putih, bak mie rebus pedas dan telor goreng yang harum disodorkan di malam itu. Kami menikmatinya, meski Syarif terlihat berat menghabiskan karena efek pedas yang diatas rata-rata. Namun akhirnya ia habis juga, karena mungkin tak enak tak menghabiskan makanan di depan tuan rumah.

Usai makan, kami menghaturkan maksud dan tujuan kami: meminta beliau menjadi pemateri dalam LAKUT IPNU Jateng. Alhamdulillah, beliau bisa meski dengan sedikit merubah jadwal. Hati kami lega rasanya, beliau bisa mengisi dan menggembleng generasi muda NU.

Kemudian minuman teh tersaji, dan diskusi pun dimulai. Beliau banyak membincang soal Gus Dur. Kemudian saya bertanya: “Gus, apakah ada sekarang anak muda NU yang mewarisi Gus Dur?”. “Gus Dur itu”, jawabnya, “punya setengah yang tidak dimiliki oleh generasi NU sesudahnya”. “Apa itu, Gus?”kejarku. “Beliau dilahirkan menjadi cucu Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari” lanjutnya, diiringi derai tawa dari kami semua.

Banyak ilmu dan pengalaman yang disampaikan beliau, yang tentu tidak semua bisa saya tulis disini. Setelah kira-kira jam setengah sembilan, kami pamit memohon diri. Kami meninggalkan Jombor dan bergerak menuju kota. Di barat Malioboro, kami mampir di angkringan khas Jogjakarta. Setelah puas, kami balik ke Purworejo.

Perjalananku ke Jogja itu, memiliki semangat tersendiri. Semangat yang sepertinya telah lama hilang dariku. Semangat yang kuharapkan bersemi kembali, dan mekar abadi dalam hati.[]

Baca juga:

Sowan Kiai Gondrong dan Pesan-Pesan Didalamnya

 

Iklan

2 thoughts on “Sowan Kiai Gondrong

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: