KH Achmad Chalwani Berdakwah hingga Mancanegara

HARI masih pagi saat pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo KH Achmad Chalwani menerima lima santri anggota jamaah tarekat di rumah.

Lima santri itu adalah tamu dari Lampung yang hendak mengundang tuan rumah mengisi pengajian di sana. Sebuah buku besar berisi jadwal pengajian yang sudah penuh, dibolak-balik sang kiai dan dicocokkan dengan buku besar asisten pribadinya. 

Ya, begitulah kesibukan kiai yang pada 19 Desember 2016 nanti berusia 62 tahun. Selepas purnatugas sebagai anggota DPD-MPR 2004-2009, waktu putra ketiga dari pasangan KH Muhammad Nawawi Shidiq-Nyai Hj Saodah ini dihabiskan untuk berdakwah di berbagai tempat. ‘’DPD cukup satu periode. Bidang saya memang dakwah dan sudah saya jalani sejak 1980-an.

Mulai 1982, setiap orang yang mengundang, pasti saya beri surat kesanggupan. Nah berdasar surat kesanggupan itu, saya sudah mendatangi pengajian di 11.708 tempat. Itu belum termasuk pengajian rutin di pondok dan selapanan di beberapa tempat,’’ paparnya. Di kalangan mubalig, Achmad Chalwani bukan tokoh asing.

Dia adalah Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki ratusan ribu anggota. Santri tarekat yang dibimbingnya bukan hanya dari Purworejo, melainkan juga berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, Bangka Belitung, Lampung, Palembang, Kalimantan, Riau, Dumai, Batam, dan berbagai kota di Sumatera. Ihwan thoriqoh Achmad Chalwani juga tersebar hingga Johor Bahru Malaysia.

Dia juga berdakwah sampai mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, Macau, Hong Kong, dan Guangzhou. ‘’Prinsip saya, siapa pun dan dimana pun, kalau mengundang saya berdakwah untuk syiar Islam, asal badan sehat, pasti saya datangi. Saya tak pernah membeda-bedakan antara pejabat, konglomerat, dan rakyat,’’ paparnya.

Menjadi khadam thoriqoh adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai usaha menjaga warisan ayahanda Muhammad Nawawi Shidiq yang menjadi pemrakarsa sekaligus pendiri Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Al-Mu’tabaroh bersama KH Mandhur Temanggung, KH Muslih Mranggen, KH Masruhan Mranggen, dan mantan Bupati Grobogan Andi Patopoi pada Kongres Toriqoh pertama di Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo Magelang, 10 Oktober 1957 silam.

‘’Sebagai anak, saya berkewajiban menjaga dan meneruskan warisan yang baik dari orang tua,’’ ujar Chalwani yang ketika muda telah malang melintang nyantri di berbagai pondok pesantren. Sebagai pewaris, dia menyadari harus terus menjaga marwah dan tujuan luhur pondok pesantren, sesuai keinginan para pendahulu.

Selain itu, juga mengembangkan pondok sehingga selaras dengan kebutuhan zaman dengan tidak meninggalkan ciri khas pesantren salafiyah. Kalangan salafiyah memiliki keyakinan bahwa ilmu tidak akan masuk tanpa melalui riyadhoh. ‘’Kalau dalam Alquran bahasanya tazkiyah.

Berzikir, mujahadah, puasa, ngrowot, dan berkhidmat kepada kiai, merupakan bentuk tazkiyah supaya ilmu dapat masuk dalam diri santri,’’ tuturnya. Chalwani menambahkan, pengembangan diperlukan agar pondok pesantren mampu memberi kontribusi yang lebih besar bagi peningkatan martabat hidup masyarakat.

Sejumlah langkah dan strategi dilakukan untuk mengembangkan pondok pesantren, seperti mengirim dai-dai muda ke berbagai daerah terbelakang, melaksanakan berbagai kegiatan, dan selapanan. Salah satu peristiwa penting pada periode ini, perubahan nama pondok pesantren dari Roudlotut Thullab menjadi An-Nawawi, tanggal 6 Januari 1996 silam.

Setelah itu, Pondok Pesantren An Nawawi berkembang pesat. Terutama, setelah Chalwani mengintegrasikan pendidikan salafiyah dengan pendidikan formal dengan mendirikan madrasah. Diawali dengan madrasah tsanawiyah (MTs) kemudian diikuti dengan madrasah aliyah (MA), serta Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) An Nawawi. Kini ada tidak kurang 2.000 santri.

‘’Pendirian pendidikan formal itu dalam upaya menyesuaikan dan menjawab tantangan zaman. Khusus untuk STAI An Nawawi, saya dirikan untuk melaksanakan wasiat ayah yang dulu menghendaki ada fakultas syariah di Berjan. Sebagai generasi penerus, saya menganggap itu sebagai wasiat yang harus dilaksanakan,’’ ujar suami Siti Sa- ’adah ini.

Sementara itu, terkait dengan isu-isu keagamaan yang muncul saat ini, Kiai Chalwani mengungkapkan keprihatinannya terkait dengan kecenderungan Islam yang dicitrakan dengan kekerasan. “Kekerasan bukan misi Islam.

Sejak awal kedatangaanya, Nabi mendakwahkan Islam dengan cara-cara perdamaian. Artinya kalau yang mengajarkan kekerasan itu jelas bukan Islam,” jelasnya. Dakwah dengan misi Islam rahmatan lil alaminyang menurut dia harus terus dikembangkan. Termasuk, lewat media yang memiliki peran strategis menjadi instrumen pendukung dakwah damai Islam.

(Nur Kholiq – Suara Merdeka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: