Belajar dari Mantan Teroris

Pria separuh baya itu keluar dari mobil dengan cekatan. Langkahnya gontai, menolak tawaran menuju ruang transit pemateri, namun langsung berjalan memasuki forum Latihan Kader Utama (Lakut) yang diselenggarakan PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Sekilas, kesan peserta terlihat biasa-biasa saja melihat pemateri yang masih muda dan berpaiakan laiknya orang biasa. Ia hanya memakai kemeja hitam dan celana panjang, tidak berpeci apalagi sorban. Namun, tak lama berselang, sang moderator memperkenalkan.

“Kali ini materi kita adalah Peta Gerakan Radikalisme di Indonesia. Kalau biasanya rekan dan rekanita hanya mendengar dari riset akademisi, wacana atau membaca kejadian di koran-koran, kali ini akan sedikit berbeda. Ketua PW IPNU Jawa Tengah Amir Mustofa Zuhdi, langsung mendatangkan Ken Setiawan. Beliau ini adalah pelaku teroris dan petinggi Negara Islam Indonesia (NII). Tak usah rekan-rekanita khawatir, karena sekarang ia sudah taubat dan berganti memusuhi kelompok NII. Untuk lebih jelasnya, sekarang kita haturkan kepada Mas Ken Setiawan bercerita tentang masa kelamnya” ungkap moderator, yang langsung mempersilakan pemateri. Mendengar paparan moderator, kening-kening peserta berkerut, sambil melirik kanan-kiri.

Usai salam dan menyapa peserta, Ken kembali menegaskan profilnya yang dulunya seorang pelaku teror. “Benar tadi apa yang dikatakan moderator. Sebenarnya ini adalah aib bagi saya. Namun setelah saya pikir masak-masak, jika saya share pengalaman pribadi saya, saya pikir akan lebih bermanfaat.” Ungkap pendiri NII Crisis Center  tersebut.

Ken kemudian memulai dengan membahas definisi radikal. “Radikal berasal dari kata ‘radix’ atau ‘radicis’ yang berarti akar. Radikal diartikan sebagai ‘secara menyeluruh’, ‘habis-habisan’, ‘amat keras menuntut perubahan’, dan ‘maju dalam berpikir dan bertindak’. Radikalisme berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis.” Ungkapnya.

Gerakan radikal, lanjutnya, menjangkiti semua agama. “Aum Shinrikyo, sekte yang menggabungkan ajaran Budha dan Filosofi Kristen melakukan pembunuhan dengan melepas gas Sarin di kereta bawah tanah Tokyo tahun 1995. Sikh di India melakukan kudeta berdarah dan pembunuhan tokoh-tokoh penting pemerintahan. Klu Kluk Klan di Amerika, Kristen rasis yang menunjukkan supremasi kulit putih dan membunuh kulit hitam. Perang antara penganut Katolik dan Protestan di Irlandia, dan masih banyak lagi.” Tegasnya.

Kemudian ia memetakan secara umum periodesasi gerakan radikalisme di Indonesia. Pertama, Era Orde Lama ditandai dengan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) tahun 1949 sebagai wujud perlawanan kepada Belanda yang kemudian menjadi friksi dengan pemerintahan Soekarno. Kedua, Era Orde Baru ditandai dengan munculnya perlawanan sebagian umat Islam atas represi Soeharto dan politik Azas Tunggalnya yang memarginalkan aktifis Islam. Selanjutnya, Era Reformasi. Era keterbukaan ini, ungkapnya, menghilangkan musuh tunggal bagi para aktifis gerakan radikal hingga mengambil legitimasi internasional  (Al Qaeda) dan menjadi afiliasinya.

Kemudian Ken menunjuk peserta putra satu putri satu untuk mempraktekkan bagaimana dahulu ia merekrut anggota. “Pertama, kita mencari dulu informasi korban sebanyak-banyaknya, mulai dari hobi, cita-cita, kesenangan sampai pada masalah-masalahnya. Setelah itu, baru dieksekusi. Dulu saya hanya butuh paling lama 10 menit untuk eksekusi dan menjadikan orang itu terpengaruh. Sekarang, akan saya coba praktekkan kepada teman-teman sekalian” jelas Ken sembari mendekat ke peserta yang telah maju dan berdiri. Kemudian, ia mengajukan pertanyaan.

“Apakah kamu Islam?”tanya Ken. “Iya, saya muslim” jawab peserta. “Oke. Syarat menjadi orang Islam adalah bersyahadat. Pertanyaannya, kapan pertama kali kamu bersyahadat?”. “Semenjak….semenjak…saya shalat”, jawab peserta ragu. “Saya tanya syahadat, bukan shalatnya. Kalau belum bersyahadat kan tidak wajib shalat!” balas Ken.

Peserta yang maju itu kebingungan. Kemudian Ken menjelaskan, bahwa dalam eksekusi anggota itu, calon korban tidak diberi kesempatan berpikir, selalu dipojokkan. Kemudian, gantian kepada peserta cewek.

“Mbak, anda orang Islam?”. “ Iya, Insya Allah” jawabnya. “Siapa musuh nabi yang utama waktu itu?” tanya Ken. “Abu Jahal” jawab peserta. “Apa gelar sebelumnya?”, peserta terdiam. “Namanya Abul Hakam. Ia merupakan seorang ahli hukum, tata-negara. Bagaimana kamu orang Islam namun tidak tahu sejarah Islam? Jangan-jangan malah yang dihafalkan artis-artis dan sederet pemain bola? Nah, kira-kira begitu sistem dotrinnya, pokoknya korban dibuat bingung, dibuat bodoh dan tidak ada ruang untuk berpikir,” ungkap Ken.

“Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Quran, dulu negerinya, penguasanya kafir atau muslim?” tanya Ken lagi, menggiring ke ideologi radikal. “Kafff…..fiiir…”jawab peserta ragu. “Kalian mengaku muslim dan percaya bahwa Al-Quran itu benar dan datang dari Allah?”. “Iyaaa…..”jawab peserta kompak. “Apakah hukum Al-Quran harus dipatuhi dan ditegakkan?”. “Iyaaaa…”jawab peserta. “Oke, apakah sekarang di Indonesia ini sudah menerapkan Al-Quran? Apakah penjudi sudah ditangkap? Apakah pelacuran masih dimana-mana? Apakah minuman keras legal?”. “Iyaaaa….” jawab peserta. “Kalau begitu, apa bedanya pemerintahan ini dengan dulu ketika jaman Abu Jahal? Ini pemerintah kafir, negara kafir, maka kita harus perangi. Kalau tidak, ini melanggar Al-Quran, kitab suci yang kalian percayai” ungkap Ken memperagakan cara berpikir mereka dalam merekrut korban.

Selain itu, Ken Juga menyampaikan bahwa seorang yang sudah terpengaruh itu ia akan menjadi asing, karena dalam dua dunia. Ia asing dengan teman bahkan orang tuanya. Kebanyakan, sang korban kemudian kabur dari rumah. “Iming-imingnya bagi yang mau masuk apalagi melakukan bom bunuh diri, adalah tujuh puluh bidadari yang melayani mesra kita di syurga” katanya. Soal pendanaan, aku Ken, dulu ia banyak merampok dengan sekali aksi bisa mencapai milyaran rupiah. Uang itu, katanya, digunakan untuk biaya perjuangan menghancurkan negeri bughot Indonesia.

Doktrin Gerakan Radikal

Ciri –ciri gerakan radikal, kata Ken, ada beberapa, diantaranya: (1) Menafsirkan Al Qur’an  dan hadits dengan nafsunya. (2) Takfiri Atau menganggap diluar kelompoknya adalah kafir yang halal harta dan darahnya. (3) Hakimiyah atau menafsirkan hukum hanya milik Allah sehingga bila ada pemerintahan yang membuat hukum dan tidak bersyariat Islam dianggap thoghut. (4) Jihad bi ma’na qital yaitu jihad yang hanya diartikan sebagai perang fisik dan angkat senjata. (5) Irhabiyah atau teror menjadi keharusan dengan alasan untuk menggetarkan hati musuh.

Ada beberapa tanda menurut Ken, untuk mengidentifikasi korban, diantaranya: meninggalkan sekolah atau kuliahnya bahkan rumahnya karena aktif di NII; perubahan signifikan pada sikap mental yang mendua (split personality) lantaran harus hidup dalam dua dunia yang berbeda; cenderung menjadi pribadi tertutup dan tertekan jiwanya, manipulatif serta minim empati; mengkafirkan orang diluar kelompoknya; menghalalkan segala cara dalam menuntaskan programnya; disharmonisasi hubungan dengan keluarga, teman dan lingkungan sekitar dan; resistensi terhadap pemerintah yang dianggap kafir.

Ken berpendapat, bahwa gerakan semacam ini berpotensi menghancurkan masa depan para pemuda yang menjadi anggota NII karena kehilangan pekerjaan, putus sekolah, dan terasingkan dari lingkungan kehidupan sosial sehingga menimbulkan kecemasan, ketakutan yang berdampak pada   keresahan sosial. “Selain itu, orangnya juga berpotensi melakukan tindakan yang melanggar hukum untuk memenuhi target yang diprogramkan NII dengan menghalalkan segala macam cara. Mirisnya lagi, dari 13 pelaku bom bunuh diri di Indonesia, rentang umurnya adalah 19-30 tahun”, terangnya.

Terakhir, Ken memberikan tips untuk mengantisipasi faham radikal tersebut. “Pelajari Islam dengan paripurna kepada ahlinya, yaitu ulama dan kiai. Minimal dekat dengan kiai. Dulu saya sempat nyantri, namun ketika kemudian pindah ke ibukota, jauh dari kiai sehingga paham seperti itu masuk mernarik simpati saya” tuturnya. “Tolak dengan tegas bila mulai diajak kajian yang sembunyi-sembunyi, konsultasi kepada orang lain apabila mendapatkan materi Islam yang tidak dimengerti, khususnya kepada kiai serta kritis walaupun dalam konteks agama agar tidak mudah tersugesti yang merupakan pintu awal perekrutan” pungkasnya.

Di akhir sesi, Ken membuka kesempatan seluas-luasnya kepada kader IPNU atau IPPNU jika ingin mengundangnya. “Yang penting siapkan waktu, tempat, peserta khususnya anak-anak SMA, Insya Allah saya datang. Tidak usah mikir biaya” pungkasnya. Usai moderator menutup sesi, sontak Ken diserbu peserta yang mayoritas masih berumur 22 tahun kebawah tersebut. Ada beberapa berkonsultasi, meminta kontak dan sebagian minta foto bersama.”Kontak saya, jangan cari saya ke alamat di kartu nama itu. Semenjak saya dianggap penghianat oleh NII, kantor saya sering diteror. Sekarang saya nomaden, dari tempat satu ke tempat lain”pungkasnya sambil keluar forum.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: