Refleksi Bulan Rajab dan Evolusi Berkat

Ketika memasuki bulan Rajab, yang muncul dalam benak saya, setidaknya ada dua hal: Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw dan takir atau biasa disebut berkat. Mengingat kembali hal itu, seakan saya dibawa flash back ke masa lalu, masa dimana masih menikmati polosnya menjadi anak-anak, tanpa dosa, tanpa noda dan diberi petuah-petuah yang menyeukkan jiwa. Entah mengapa, hal itu selalu menarik.

“Masa lalu tetap aktual”, demikian menurut tagline majalah sejarah popular ibukota, yang memang ada benarnya. Setidaknya ini yang akan saya tulis, daripada membahas soal hiruk-pikuk soal Ahok dan FPI dalam Pilkada DKI Jakarta – yang masih akan berlangsung lama – atau santernya isu perombakan Kabinet Kerja. Dengan sejenak flash back ke masa lalu, mbok-mbok bisa nemuinsesuatu yang masih memiliki relevansi untuk saat ini.

Waktu kecil, ketika bulan rajab tiba, para dai yang datang ke desa saya selalu menceritakan kedahsyatan peristiwa Isra’ Mi’raj. Yah, dahsyat karena itu fenomena yang irrasional. Sekali lagi: irrasional, diluar akal dan logika manusia. Ternyata, tidak hanya orang sekarang yang menyebut dirinya “modern”, dulupun sudah banyak yang ngotak, maksudnya memakai otaknya, logikanya untuk mencerna sesuatu. Jadi, wajarlah kalau waktu itu orang Arab menyebut Muhammad itu mulai gila. Mosok, (diper)jalan(kan) dari Masidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Falestin kok cuma ditempuh dalam semalam? Tambah-tambah, bliyo mengaku terbang ke langit bertemu para-nabi dan selanjutnya menerima perintah shalat lima waktu. Siapa yang percaya? Padahal dulu kanbelum ada Kereta Senja Utama, pesawat Lion Air , apalagi baju astronot?

Adalah Abu Bakar, orang yang pertama percaya. Itu mengapa, kemudian bliyodiberi gelar Ash-Shiddiq. Ketika orang-orang mengatakan Kanjeng Nabi gila karena sedih ditinggal mangkat Siti Khadijah istrinya dan Abu Thalib pamannya, Abu Bakarlah yang mempercayainya.

Apa pelajaran menarik dari peristiwa tersebut? Menurut saya, itualah bagian dari ajaran Islam: “yu’minuna bil ghaib”, percaya kepada yang gaib, tak terlihat serta irrasional. Artinya, Islam mengajarkan, tak semua di hidup ini bisa dilogikakan atau dimateriilkan. Dan di zaman modern, hal ini menjadi penyakit, utamanya semenjak manusia kenal dengan positivisme dan materialisme. Sesuatu yang tak terlihat dianggap tak ada. Padahal setiap hari menghirup udara yang tak terlihat, gratis pula. Meski menghasilkan kemajuan sains dan teknologi, namun terjadi kemuduran spirituil.

Apakah ini tak ada kaitanya dengan peristiwa politik atau ekonomi? Ada. Siapa bilang tak ada. Ketika perpolitikan kita sudah menganut paham liberal dan menjadikan uang sebagai Tuhan, tak selamanya yang memakai uang akan menang. Banyak buktinya. Juga, para kapitalis yang dengan nafsunya memperkosa hak-hak rakyat, jangan dikira merekalah yang paling berkuasa. Ada suatu kekutatan yang jika ia berkendak, terjadi. Begitupun dalam hal rizki, jodoh dan apapun. Kuncinya hanya satu, siapa yang ada dalam jalur kebenaran, dialah yang selamat. Tak usah muluk-muluk berfilsafat mendefinisikan kebenaran, cukup dengan hati nurani saja, itu “batas minimal kebenaran”.

Duh, malah lari ke politik, kembali ke Isra’ Mi’raj. Karena itulah, bulan rajab merupakan salahsatu bulan yang mulia (sharul hurum), dimana shalat sebagai tiang agama, ditegakkan. Dalam ceramah-ceramah keagamaan, para dai biasanyagetol banget mengkampanyekan shalat. Ini wajar, mengingat mendirikan shalat itu memang tidaklah mudah, banyak godaan, utamanya kemalasan. Banyak orang yang mampu menaklukkan gunung, namun tak mampu menaklukkan 17 rakaat sehari – semalam. Padahal, shalat adalah “pajak” dari nafas, pengelihatan, pendengaran, ginjal, jatung, kesehatan atau segala fasilitas dan akses kemudahan dari Allah yang berikan kepada kita.

Dalam al-Quran, kitab suci yang telah “hidup” lima belas abad, Allah menegaskan bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (inna shalata tanha ‘anil fahsyai wal munkar). Artinya, sebenarnya shalat memiliki dimensi sosial, yaitu terhindarnya umat Islam dari perbuatan keji dan munkar. Namun mengapa fakta seakan berbicara lain? Banyak orang yang mengaku muslim tapi justeru bertindak anarkis? Menjawab pertanyaan ini, para ulama tasauf mengatakan, bahwa hakikatnya shalat itu tidak hanya gerakan fisik, namun juga hati. Inilah yang sulit. Mungkin banyak diantara kita orang muslim melaksanakan ritual shalat, namun hati dan fikiran masih kemana-mana, tidak fokus. Wajarlah kalau kualitas shalat kita belum mampu melawan untuk tidak berbuat keji dan munkar. “Meski dalam fiqh tidak mensyaratkan shalat harus khusu’, namun idealnya jika diumpamakan orang bersalaman tapi sorot mata tidak fokus kepada yang diajak salaman, hanya sekadar basa-basi”, ungkap Emha Ainun Najib.

Selanjutnya, dari pengalaman saya mengikuti pengajian Isra’ Mi’raj di desa, yang menarik adalah tradisi dan kultur yang berlaku. Sebelum acara inti, biasanya dibagikan takir atau berkat, berisi nasi lengkap dengan sayur dan lauk. Ini merupakan tradisi unik yang digagas oleh para penganjur agama untuk mengajak masyarakat secara kolektif bersedekah dan berbagi.

Sedekah dan berbagi, mulai langka diinternalisasikan oleh masyarakat modern yang cenderung individualis dan membebankan tanggungjawab kepada personal, efek dari era kebebasan. Meski demikian, selagi masih ada tradisi perigatan Isra’ Mi’raj ini dan juga tradisi Islam yang lain, akan tetap ada takir dan berkat meski telah berevolusi. Di kota-kota, berkat ini mulai menjelma bentuknya dengan roti atau bahan makanan pokok. Jika dialog kultural ini terus tumbuh, minimal akan membantu Negara yang masih sulit berjuang untuk mendekatkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Perlahan, kemudian agama akan menemukan relevansi social, rasional dan hangatnya kembali di era digital ini. Dan kelompok anti-tradisi, jelas hanya akan nyengir.

Demikian flash back dan ke-ngelantur-an singkat ini.[15/04]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: