Isra’ Mi’raj dan Hujan Dalil Ustadz TV

Di kampung saya, ada seorang kiai yang cukup dikenal. Namanya Kiai Makin. Ia adalah kiai kampung yang sehari harinya bergelut dengan lumpur, pacul, kitab, ceramah, membersamai keluarga orang yang meninggal sampai melayani tamu dengan hajat bermacam-macam. Ia jauh dari media, baik koran, medsos apalagi televisi. Jauh dari kota dan “pusat peradaban”. Meski begitu, bliyo memiliki kearifan yang kadang tidak dimiliki para pendakwah sekarang.

Suatu ketika, Kiai Makin diminta mengisi ceramah tentang Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw. Ia menyampaikan peristiwa yang tak masuk akal itu secara perlahan, sesekali menyelinginya dengan syair dan shalawat. Diantara syair yang masih kuingat adalah sebagai berikut:

Isro’ Mi’roj Kanjeng Nabi (Isro’ Miraj Baginda Nabi Muhammad)

Tindake ing wayah bengi (Berangkatnya di waktu malam)

Di dereake moloekat loro (Diikuti dua malaikat)

Jibril Mikail Asmane (Jibril dan Mikail namanya)

Reff*

Shalatullah salamullah – ‘ala thoha Rosulillah

Shalatullah salamullah – ‘ala yasiin habibillah

Tindak ipun wanci ndalu ( berangkatnya di waktu malam)

Dumugi nginggil langit sap pitu (sampai diatas langit sap tujuh)

Akhiripun nampi wahyu (sampai akhirnya mendapat wahyu)

Shalat wajib limang wektu (shalat wajib lima waktu)

Kembali ke Reff*

Usai mendendangkan syair, Kiai Makin meminta seluruh hadirin menyanyikannya secara koor, beramai-ramai dan bershalawat bersama-sama. Kemudian secara perlahan, kiai kampung ini mengurai peristiwa 14 abad silam itu. “Dalil Isra’ Mi’raj adalah bahwa Kanjeng Nabi semur hidupnya tidak pernah berbohong,” tuturnya. Hadirin mendengarkan dan larut dalam ceramah, seakan mendapat kedamaian sesuatu pemahaman yang mudah.

Jika ditelisik lebih dalam, Kiai Makin adalah seorang pengembara ilmu. Semasa mudanya, ia pindah dari satu pesantren satu ke pesantren lain. Koleksi dalil al-Quran maupun Hadisnya pun cukup banyak untuk dicekokkan ke jamaahnya. Namun hal itu tidak bliyo lakukan, cukup menyampaikan beberapa potong dalil. Selebihnya ia menyampaikan dengan bahasa kaumnya, bahasa masyarakat Jawa yang lekat dengan syair, tembang dan sedikit humor. Ia masuk ke jiwa-jiwa jamaah, menyelami keseharianya, masalahnya, pengalamannya dan kebutuhan riilnya, tidak melangit.

Kiai kampung ini, berbeda sedikit dengan beberapa ustadz yang akhir-akhir ini marak di media, khususnya televisi. Berbekal terjemahan al-Quran Depag atau kitab terjemahan Hadits di toko-toko, mereka mengguyur penonton dengan hujan dalil dan banjir ayat yang memusingkan. Kadang malah ceramah sambil marah-marah, mencaci dan menyesatkan sesama Islam maupun non-Islam, tanpa perasaan. Mereka enggan menyelami jiwa jamaah, seperti yang dilakukan oleh Kiai Makin. Sudah barang tentu, tak ada waktu untuk membungkus ajaran agama dengan kearifan lokal (local wisdom), membikin syair atau cerita. Mirisnya lagi, ceramah-ceramah mereka justeru menyulut kebencian dan permusuhan. Benar-benar edan!

Namun, saya tetap sayang dengan mereka semua, sebagai sesama muslim, juga sesama manusia. Mungkin mereka terlalu bersemangat. Mungkin pula tidak tahu metodologi dakwah di nusantara. Atau mungkin mereka mengimport ajaran dari Timur Tengah dan Saudi Arabia secara mentah-mentah. Apapun itu, mereka masih hidup dan punya kesempatan untuk berubah, menuju semangat beragama yang lebih cerah.

Toh saya yakin, masyarakat Indonesia kini sudah cerdas. Orang awam-pun kini sudah bisa menilai, mana yang layak mereka teladani dan tidak. Orang sudah bisa membedakan mana dakwah yang arif dan cerdas, sehingga mereka berminat untuk mendengarnya. Dan untungnya lagi, masih ada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang berdakwah dengan teduh: menjaga kesantunan Islam dengan wajah Indonesia.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) misalnya, ia kerapkali mengkritik cara dakwah yang cenderung menyesatkan. “Dakwah itu mengajak yang belum masuk dalam jalan kebenaran. Ibarat manol bus, mengajak penumpang masuk bus: merayu dan meladeninya. Sekarang, malah banyak pendakwah yang menyesatkan, itu ibarat manol bus yang menyesat-nyesatkan calon penumpang” kata sesepun NU itu, dalam suatu pengajian baru-baru ini.

Ada juga yang berdakwah dengan modern dan segar, yaitu Majelis Maiyah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng dengan jamaahnya yang tersebar di berbagai kota dan pelosok Indonesia, bahkan mancanegara. Cak Nun, begitu orang menyebutnya, menggabungkan unsur modern dengan konvensional dalam berdakwah, serta interaktif dan komunikatif dengan jamaah. Ia seakan mencontoh dakwah para wali di bumi nusantara: dengan sentuhan seni dan budaya. Wajarlah kalau dalam berbagai kesempatan, jamaahnya kuat duduk berjam-jam tanpa berpindah, bahkan ketika hujan turun sekalipun.

Akhirnya, kearifan Kiai Makin dalam menyampaikan dakwah, serta beberapa pendakwah yang santun, tetaplah menjadi akar yang kuat, meski tidak muncul dalam dunia entertaint yang gemerlap dan bertabur bunga. Akar adalah bunga, hanya saja ia sudah mengikhlaskan diri untuk menyuplai sari-sari makanan bumi kepada bunga dan apa saja yang melingkupinya. Orang seperti Kiai Makin ini, ribuan jumlahnya, seantero Nusantara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: