Kartini Inisiator Diterjemahkannya al-Quran

Pemerintah menetapkan tiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Sebagai seorang perempuan yang memperjuangkan pendidikan dan hak-hak perempuan, Kartini memang layak mendapat kehormatan itu: diperingati hari kelahirannya. Lewat surat-suratnya yang fenomenal dan legendaris, putri Bupati Jepara ini telah membawa dampak sosial, budaya, politik dan pendidikan yang cukup revolusioner di masanya.

Kini, nama Kartini yang harum semerbak: dipuja dan dikenang lewat nyanyian. Juga, tiap tahun biasa diperingati oleh perempuan-perempuan Indonesia dengan simbol kebaya, baju khas perempuan Jawa. Meski demikian, banyak yang belum mengenal sosok Kartini seutuhnya; siapa orang yang mendidik dan mempengaruhi dirinya. Tulisan ini akan sedikit mengungkap sisi-lain seseorang yang berpengaruh dalam pemikiran dan kehidupan sang perempuan bangsawan Jawa.

Namanya lengkapnya adalah Raden Adjeng Kartini. Ia merupakan seseorang dari kalangan priyayi (bangsawan) Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Kartini adalah putri dari istri pertama, meski bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Ny Hj Siti Aminah dan KH Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan RA Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kebanyakan penulis sejarah hanya mencatatnya pernah mengenyam pendidikan formal di Europese Lageren School (ELS) hingga usia 12 tahun. Kemudian tradisi mengharuskannya tinggal dirumah karena sudah biasa dipingit. Disaat itulah, ia banyak membaca majalah Eropa seperti majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie, Max Havelaar dan surat Cinta karya Multatuli di tahun 1901. Buku roman juga dibacanya seperti karya Nyonya Goekoop de-ong Van Beek, juga roman anti perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder yang semuanya berbahasa Belandaa. Selain membaca buku-buku Eropa, anak perempuan tertua ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri tersebut juga berkirim surat kepada Stella Zihandelaar, JH Abendanon dan Nellie Van Kol.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Al-Quran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Kartini Menginisiasi Diterjemahkannya Al-Quran

Adalah KH Sholeh Darat Semarang, seorang ulama besar di zamannya. Ia hidup sezaman dengan dua waliyullah besar lainnya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan, Madura ini disebut sebagai gurunya para ulama tanah Jawa. Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dll.

Takdir, menurut Ny Fadhila Sholeh (cucu KH Sholeh Darat), mempertemukan RA Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Hal ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca al-Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar al-Qur’an diterjemahkan, karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.

“Kyai, perkenankan saya bertanya, bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini. Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis, Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar: menerjemahkan al-Quran ke dalam Bahasa Jawa (lihat juga: Majalah Aula, April 2012).

Pada waktu itu, penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon (tulisan Arab berbahasa jawa), sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur). Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap menuju cahaya, karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. Para sejarawan Islam kemudian meyakini, ide kartini menunis Habis Gelap Terbitlah Terang terinspirasi dari ayat tersebut.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Hal ini bisa dilihat dalam surat Kartini kepada Ny Abendanon bertanggal 27 Oktober 1902.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Juga dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis:

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis:

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Berangkat dari akta sejarah ini, menurut KH Achmad Chalwani Wakil Syuriah PWNU Jawa Tengah, memperingati dan meneladani RA Kartini hendaknya juga mau menjadi sepertinya: belajar mengaji al-Quran. Peringatan Hari Kartini dengan simbol kebaya, arak-arakan perlombaan dan berbagai pementasan, bukanya kurang baik, namun kurang lengkap. Idealnya, memperingati hari kartini adalah juga bagaimana membumikan nilai-nilai al-Quran kedalam kehidupan nyata, baik lewat pengajian maupun kajian. Sanggupkah negara mempeloporinya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: