Ramalan “Ilmiah” atas Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Ada fakta sejarah yang mencengangkan, dibalik merdekanya Indonesia dari belenggu penjajah. Hal itu berupa ramalan “ilmiah”, bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dari para ulama dan tokoh yang memiliki daya linuwih, lebih dari umumnya orang. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah negeri sembarangan, yang bisa di-obok-obok oleh bangsa asing semau mereka. Ada “kekuatan tersembunyi” dibalik sebuah negeri bernama Indonesia. Negeri yang menurut statement Mahmoud Syaltut Rektor Universitas Al-Azhar Mesir pada kunjungannya ke Indonesia tahun 1960-an, adalah “serpihan surga yang diturunkan Allah di bumi”[1].  Negeri dengan penganut agama Islam terbesar di dunia, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari Makkah.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, seorang ulama kasyaf Aceh sudah memprediksi dengan amat-sangat tepat. Dalam sebuah tulisan Tengku di Mulik[2] pada tahun 1288 H (1871 M) tanpa hari dan bulan, dituliskan apa yag dikatakan oleh Syekh Ibrahim bin Husein Buengcala, Kuta Baro, Aceh, sebagai berikut:

“Negeri Bawah Angin (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah Cina bangsa Lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang) masuk. Maka Insya Allah Ta’ala pada tahun Hijrah 1365 (1945 M) lahir satu kerajaan yang adil – bijaksana dinamakan kerajaan al-Jumhuriyyah al-Indunesiyah yang sah….”[3]

Naskah ramalan ulama Aceh ini, bahkan telah disahkan oleh sekretaris Kerajaan Aceh dengan stempel di sebelah kanan atas.  Ada 18 ulama Aceh-Nusantara yang memberikan pandangan, pendapat keagamaan dan politik tentang hakikat Negara ideal. Dan yang mencengangkan, tidak satupun diantara para ulama sufi ahli kasyaf itu melontarkan ide Negara Islam (Daulah Islamiyyah) atau ide Khilafah Islamiyyah[4], yang dewasa ini banyak digembar-gemborkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ulama-ulama itu justeru mengunakan ide adil – bijaksana, yang juga sudah dirumuskan dalam ramalan sebelumya pada 12 Rabiul Awal 1283 H/ 14 Juli 1866 M oleh empat ulama tasauf: Syekh Sayyid Abu Bakar Al-Aydrus Tengku di Bukit, Syekh Abbas bin Muhammad Kutakarang, Qadhi Mu’azzam al-Mufti Syaikhul Islam Syekh Muhammad Marhaban Taballah Lambuek dan Syekh Muhammad Amir Turki Kurdiq. Berikut ramalan yang sudah dikenal dengan sebutan lima sila sebagai fondasi normatif al-Jumhuriyyyah al-Indunesiyah, sebelum kita mengenal Pancasila dari rumusan Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945 dalam BPUPKI di Jakarta[5].

“Bahwa dalam alam dunia ini mulai pada masa zaman dahulu dan pada masa zaman sekarang hingga pada zaman yang akan datang turun-temurun yang sangat dihajat dan diharap oleh sekalian umat manusia iaitu: pertama-tama adil hukum, dan kedua aman negeri, dan ketiga senang rakyat, dan keempat makmur, dan kelima perjanjian dan pelajaran nasihat yang benar lagi teguh………………”

“……pegang olehmu agama Islam yang suci lagi benar, selamat dunia akhirat, dan taat setialah kepada kanun syarak (konstitusi) kerajaan al-Jumhuriyyyah al-Indunesiyah dan jangan sekali-kali bughat yakni durhaka melawan kerajaan al-Jumhuriyyyah al-Indunesiyah yang sah dan jangan sekali-kali dalam kerajaan mendirikan lagi kerajaan dan dalam negeri mendirikan negeri”

“…….maka ingat jangan membikin pecah belah umat manusia dalam satu-satu kerajaan yang sah dengan keputusan ijma’ mufakat alim ulama yang Ahlussunnah wal jamaah dan sekalian orang yang besar-besar yang cerdik ahli akal bijaksana, fahamnya luas; dan fikiran yang tajam dan mendalam dan jernih hati dan sihat otak dengan dingin beserta rakyat yang terbanyak. Maka inilah yang mu’tamad, sahih dan benar. Maka yang diluar yang seperti tersebut, ini maka itulah bughat maka tiap-tiap bughat berhak mesti kerajaan al-Jumhuriyyyah al-Indunesiyah menghancurkan dan menghilangkan dan melenyapkan tiap-tiap bughat walau siapa-siapa sekalipun. Jangan diam……[6]

Dalam analisis Ahmad Baso, kelima prinsip rumusan ulama tersebut melampaui zamannya, bahkan melampaui pemikiran politik modern dari Eropa sekalipun. Baso menerjemahkan: pertama, adil hukum adalah ide tentang keadilan universal; kedua, aman negeri, adalah ide tentang kebangsaan yang kokoh dan bulat; ketiga, senang rakyat, adalah ide tentang kemanusian yang adil dan beradab; keempat, makmur, adalah ide tentang keadilan dan kesejahteraan social dan; kelima, perjanjian dan pelajaran nasihat yang benar lagi teguh, merupakan ide permusyawaratan dan kontrak sosial antara penguasa dengan rakyat. Kelima sila al-Jumhuriyyyah al-Indunesiyah  yang diputuskan berdasarkan ijma’ ulama Ahlussunnah wal Jamaah tersebut disebut dengan “qanun syara’” yang tidak boleh dilanggar oleh setiap warga Negara.

Kemudian, dalam Sejarah Banten Rante-Rante disebut: ketika syekh Nurullah (kemudian dikenal Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah) belajar kepada Syekh Ibnu Athaillah Al-Iskandari (1250-1309) di Kairo[7], beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Mimpi itu berisi perintah untuk belajar ke Pasai (Aceh) dan berguru kepada seseorang (yakni Sunan Ampel) di Jawa dan ikut aktif dalam pengislaman Jawa. Berikut teks Jawa dalam “mimpi ramalan” tersebut:

“Isun Nabi Muhammad lan sira putu nisun, lungaa sira ing Desa Pase, ana ingkana sawiji saking umat isun, arane Datuk Bahrul, lan angembil sira saking ilmune, darapon wuwuh ing sira, lan saking Pase sira maringa Jawa, ingkana ana umat isun, minangka rowang ing sira anyalini agama kalawan agama Islam, ingkana sira mukima”[8]

Mimpi serupa juga diungkap dalam rapat para ulama di Kawatan Surabaya sekitar tahun 1925 ketika sedang merintis berdirinya NU. Hal itu diceritakan kembali oleh saksi sejarah: KH As’ad Syamsul Arifin, dalam ceramahnya berbahasa Madura. Ceramah beliau dengan terjemahan bahasa Indonesia kini juga bisa diakses di youtube dengan judul: Sejarah NU KH As’ad Syamsul Arifin. Berikut penggalan isinya:

“Dalam rapat itu ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya dalam rapat para kiai itu: “Saya menemukan satu teks sejarah tulisan Sunan Ampel yang menyatakan demikian: ‘Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji kepada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW, seraya berkata kepada saya (Sunan Ampel): “Islam Ahlussunnah wal Jamaah ini bawalah hijrah ke Indonesia, karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Bawalah ke Indonesia!”

Hemat penulis, kata “Indonesia” dalam ceramah tersebut tentunya adalah penyebutan Kiai As’ad untuk memudahkan pendengarnya. Nama Indonesia sendiri baru lahir pada pertengahan abad 19, jauh berabad-abad sesudah Sunan Ampel wafat. Signifakansi dari “mimpi ramalan” ini, menunjukkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang secara umum terkonsolidir dalam Walisongo, kemudian diteruskan ulama pesantren dan NU memang “dikehendaki” di Indonesia ini oleh Baginda Nabi. Terbukti,  Islam Ahlussunnah wal Jamaah dianut oleh mayoritas, kaum santri dan tarekat berjasa besar dalam masa perjuangan, tidak pernah memberontak kepada pemerintah yang sah dan bahkan melegitimasi Presiden Soekarno dengan gelar Waliyyul Amri ad-Dharury bis-Syaukah, serta menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Kemudian, ramalan atau bahkan bisa disebut “bisikan gaib” juga datang dari pemimpin Mataram Islam: Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Wangsit itu, kemudian direkam dalam biografinya: Tahta Untuk Rakyat.  Begini kisahnya.

Usai Hamengku Buwono VIII mangkat, Gubernur Dr Lucien Adam mengambil alih kekuasaan keratin Yogyakarta. Setelah rapat keluarga keraton, kemudian GRM Dorojatun (HB IX) dipilih untuk menjadi penerus tahta. Sesuai dengan pengalaman sepanjang sejarah Mataram, ketika awalnya Kompeni Belanda (VOC) hanya membuat perjanjian dagang, lambat-laun dan terutama sejak 1733 menyusuplah pasal-pasal yang bercorak politis. Setiap kali akan ada pergantian sunan atau sultan, selalu akan didahului oleh sebuah kotrak politik. Dan setiap kali dibuat kotrak politik baru, sudah barang tentu pemerintah jajahan Belanda mencari kesempatan untuk memperbesar dan memperluas kekuasaannya di daerah kasunanan atau kasultanan.[9]

Singkat cerita, kemudian terjadi perundingan kontrak politik yang alot  dan menyita banyak energi antara GRM Dorojatun dengan Dr Lucien Adam, sampai empat bulan lebih, dari akhir 1939 sampai 1940. Peliknya perundingan disebabkan oleh buntunya tiga point: pertama, Patih. Kehendak Belanda, patih memiliki dwi-kesetiaan: mengabdi Hindia Belanda sekaligus Kasultanan; Kedua, Dewan Penasehat. Soal ini, karena separuh dari anggotanya diusulkan oleh Gubernur Belanda, sementara yang harus menyetujui calon pihak Kasultanan juga Gubernur Belanda; ketiga, Prajurit. Keinginan Belanda, prajurit Keraton dijadikan prajurit legiun Hindia Belanda dibawah komando KNIL, pihak Kasultanan tidak dapat memerintah namun harus menggaji.  GRM Dorojatun tetap keukeuh tidak mau menyepakati tiga point itu, sampai kondisinya lemah karena fikiran dan fisiknya digunakan untuk berunding dan berdebat berbulan-bulan. Dalam keadaan lemah itulah, suatu senja di akhir Februari 1940, ketika sedang berbaring istirahat menjelang perundingan malam hari, GRM Dorojatun antara bangun dan tidur, mendengar orang berbicara dalam bahasa Jawa: “Tole, tekena wae, Landa bakal lunga saka bumi kene; (Nak, tanda tangani saja, Belanda akan pergi dari bumi sini)”. Semenjak adanya bisikan itu, yang dipercaya adalah petunjuk dari leluhurnya, hatinya menjadi mantap dan tidak ragu. Malamnya, GRM Dorojatun langsung menandatangani kontrak politik tersebut[10]. GRM Dorojatun kemudian dilantik menjadi raja bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dan kemudian benarlah, dua tahun semenjak perjanjian itu, Belanda diusir dan lari terbirit-birit oleh tentara Jepang.

Itulah beberapa ramalan dan prediksi adanya Islam Nusantara dan NKRI yang hari ini kita semua hidup didalamnya. Selain itu, masyarakat sebelumnya juga mengenal ramalan Jayabaya yang sembilan diantaranya, dianggap aktual dengan keadaan saat ini. Kecuali dibangun dan diisi dengan perjuangan fisik dan pemikiran, negara kita tercinta juga dibangun dengan wirid, lelaku dan riyadlah orang terdahulu, sehingga mereka ampuh, linuwih, bisa melihat masa depan. Dan perlu dicatat, legitimasi Nabi Muhammad SAW atas kelangsungan Islam ala Walisongo di Nusantara, menjadi penyelamat Islam di Saudi Arabia yang kini dikuasai Wahabi. Itukah sebuah fakta dari adanya sebuah ramalan “ilmiah”? Wallahu A’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan  Purworejo, Wakil Ketua (Bidang Kaderisasi) PW IPNU Provinsi Jawa Tengah.

 ———————————–

[1] Pidato KH Dzawawi Imron pada Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke – 4, 15 Januari 2015 di PP Tebuireng, Jombang.

[2] Nama lengkapnya: Tengku di Mulik Sayyid Abdullah ibn Ahmad Ibn Ali al-Jamalullail Ba-Alawi al-Husaini. Tentang profil beliau, lihat: A. Hasjmy, Peranan Islam dalam Perang Aceh dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1976).

[3] Ibrahim Alfian, Catatan Ringkas Mengenai Tulisan Ahli Tasauf Acheh pada Abad ke-XIX, dalam Sastera Melayu dan Tradisi Cosmopolitan: Kertas Kera Hari Sastera ’85 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1987) hlm. 444 – 445, seperti dikutip oleh Ahmad Baso dalam Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Indonesia (Jakarta: Pustaka Afid, 2015) hlm.  250 – 251.

[4] Loc. Cit..

[5] Ibrahim Alfian. Op cit. hlm 254.

[6] Ibrahim Alfian, Catatan Ringkas…hal 445 – 446 dengan sedikit perbaikan ejaan. Kutipan ini juga dimuat dalam T. Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah (Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1999), hlm 234 – 235.

[7] Dalam analisis Ahmad Baso, menganggap beliau berguru kepada murid pengarang kitab Al-Hikam itu, karena Sunan Gunung Jati dengan Syekh Ibnu Athaillah tidak se-zaman, terdapat jarak satu abad lebih. Lihat Ahmad Baso, Islam Nusantara…hlm 14.

[8] Lihat, Hikayat Hasanoeddin (ed. Jan Edel) (Meppel: B. ten Brink), h lm 141.

[9] Kompas, 24 April 1980, dalam Atmakusumah (Penyunting), Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (Jakarta: PT Gramedia, 1982), hlm 39.

[10] Atmakusumah (penyunting), Op. Cit. hlm 40 – 44.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: