Negeri Tembakau

Pagi itu langit Nampak cerah. Namun matahari masih malu-malu untuk menampakkan batang hidungnya. Suara ayam berkokok bersahutan dimana-mana. Para lelaki mulai berangkat berkebun. Sementara beberapa ibu-ibu sibuk mencuci baju dan perabot rumahtangga di pancuran kamar mandi masjid. Di sebuah desa di lereng gunung sumbing bernama Losari, wilayah kabupaten Temanggung Jawa Tengah, beberapa aktu lalu, aku terdampar diseret takdir.

Penduduk desa ini ramah-ramah. Mereka selalu bertanya sambil melempar senyum kepada semua orang, termasuk kepada pendatang, sambil berkata, “monggo pinarak, mas” (silakan mampir, mas). “Nggih, matur suwun,” balasku, sambil menundukkan kepala.

Bersama seorang teman, aku naik ke lereng gunung, untuk menikmati panorama alam dan segarnya udara yang masih perawan. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi lika-liku perkebunan yang sangat indah. Para petani, baik laki-laki maupun perempuan juga berjalan kaki naik, sambil membawa gendongan di punggunggnya, serta parang di tangannya.

Sampai di sebuah tanah lapang dibawah perkebunan milik perhutani, kami berhenti, menikmati hamparan permadani hijau, lautan awan serta kesibukan petani di pagi hari. Temanku mengajak mengabadikannya dengan kamera buatan Tiongkok, yang terselip di ponselnya. Kami berfoto sewajarnya.

Kemudian, kami mendatangi sebuah kerumunan orang, ditengah beberapa gundukan pupuk. Kulihat seorang laki-laki dengan memakai kaos partai sedang memasukkan isi karung kedalam pikulan. Pikulan itu terdiri dari dua keranjang, terbuat dari anyaman bambu yang tak rapat amat. Ia mengerti kedatangan kami, lalu menghentikan pekerjaannya sejenak.

“Diangkut keatas pupuk ini, pak?”tanyaku.

“Iya, mas. Soalnya motor dan mobil bisanya sampai sini.”

“Paling jauh, mikul pupuknya berapa kilo, pak?”

“Ya, sekitar 7 – 10 kilo, mas, dibawah hutan milik perhutani itu” jawabnya, sambil menunjukkan letak geografisnya.

“Dikasih berapa untuk sekali angkut, pak?”

“Kalau yang normal Rp. 10.000, kalau yang jauh sampai di dekat perhutani itu Rp. 15.000,-“

“Ini sudah berapa kali, di jam 08.00 ini?” tanyaku nerocos.

“Baru sekali, mas, soalnya ini berangkat kesiangan”

“Biasanya, sehari kuat angkut naik-turun berapa kali?” kataku penasaran.

“Lima sampai tujuh kali, mas” jawabnya.

Lebih jauh, ia menuturkan, ada dua pupuk yang biasa ia bawa. Pertama pupuk kandang, yang harganya paling mahal. Kedua, adalah merang padi. Merang padi ini berfungsi sebagai campuran pupuk kandang yang “harganya” terlalu mahal bagi beberapa petani. Menurutnya, yang paling bagus adalah pertanian murni pupuk kandang.

Matahari mulai meniggi, menyengat, menimbulkan keringat di punggung dan dahi petani. Setelah puas menyapa, kami kemudian beranjak turun. “Terima kasih, pak, selamat bekerja,” kataku. Ia menawabnya, kemudian melanjutkan kerja.

Bulan april ini, adalah musim tanam sayur-sayuran. Hampir semua perkebunan ditanami sayur, mulai dari seledri, loncang, wortel, kubis sampai cabe. Di musim lain, hampir 100% petani desa ini adalah petani tembakau. Di desa inilah, dari tangan petani inilah, dua komoditas yang mendunia dihasilkan: tembakau srintil dan kopi. Konon, karena efek tanah yang subur hasil letusan gunung, membuat tembakau dan kopi Temanggung tak ada yang bisa melawan rasanya di dunia.

Siangnya, usai membantu menyelesaikan tugas mahasiswi Jogjakarta karena sedang sakit, saya bertemu dengan sang Kepala Desa. Ia masih muda. Namanya Mas Ahsan. Selain disepuhkan di desanya, ia juga diberi amanat menjadi sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung. Saya dan beberapa teman terlibat diskusi hangat dengannya. Selain karena seorang perokok, saya juga tertarik dengan isu tembakau.

“Tahun lalu kan APTI mengundang Cak Nun, mas,” kata saya membuka, sekaligus mendekatkan emosional.

“Ia, beliau kita undang untuk mengawal dan membela teman-teman petani,” jawabnya. Kemudian kami terlibat diskusi panjang tentang seluk-beluk pertembakauan.

Ada banyak hal yang dihadapi petani, diantaranya adalah para “kaki-tangan” pabrik rokok yang berkeliaran. Kaki tangan ini merekrut petani dengan memberi kartu anggota. Mareka hanya disuruh menanam dan menanam, tiak perlu ikut dalam organisasi (APTI) untuk memperjuangkan nasib, mengawasi kebijakan pemerintah dll. Selain itu, kapitalisasi tembakau lewat para cukong juga merugikan petani: harga pembelian dengan patokan pabrik tidak balance. Disisi lain, pabrik-pabrik besar juga mencoba “menghindar” dari beban pajak dengan mendirikan anak-anak perusahaan. Pemerintah sangat banyak dirugikan dalam hal ini: banyak uang pajak yang tidak masuk ke pemerintahan. Sekali lagi, ini akal-akalan.

Pabrik Rokok Jadi BUMN, Mungkinkah?

Dalam tahun 2015, dana yang diterima pemerintah lewat Dirjen Bea dan Cukai (DJBC) Kementrian Keuangan sebesar 139, 5 triliyun atau 100,3 persen dari target. Dengan fakta ini, komoditas tembakau sebenarnya cukup prospektif dan mempu berbuat banyak dalam mengentaskan kemiskinan. Sayang, negara belum mampu berbuat banyak.

Andai saja, negara mengambil-alih perusahaan-perusahaan besar itu dengan membuat BUMN, tentunya Indonesia akan jauh melesat dalam bidang ekonomi. Perputaran uang yang begitu banyak, tidak hanya masuk kantong bos-bos yang hanya beberapa gelintir saja. Dengan begitu pula, nasib petani akan lebih terjamin karena langsung berhubungan dengan negara. “Sekarang kita bingung, karena negara saling lempar. Dalam suatu kasus pertembakauan, apakah kementerian perdagangan, keuangan, pertanian atau perindustrian, kadang saling lempar,” ungkap Kepala Desa mantan aktivis IPNU tersebut.

Sayang, dalam hal ini sepertinya tangan negara tidak mau kotor dan ambil pusing, cukup mengeruk dari yang sudah ada. Padahal, jika negara mampu mengambil-alih atau membuat BUMN pabrik rokok, tentu akan ada lompatan besar. Beruntung, beberapa pabrik rokok masih “punya hati”, utamanya PT HM Sampoerna dan PT Djarum Kudus yang memberikan CSR kepada masyarakat berupa beasiswa, olah raga dan seni budaya. Sampai-sampai, PT Djarum misalnya, mengalahkan negara dalam pementasan menghidupkan seni-budaya, juga memunculkan banyak atlet di Indonesia.

Ditengah isu “buruknya” dampak negatif rokok, yang sebenarnya disokong dana oleh WHO dan perusahaan-perusahaan luar yang gulung-tikar karena kalah dengan rokok Indonesia, pemerintah seakan mendua, membolehkan sekaligus memperingatkan perokok, dengan bahasa yang profokatif-lebay: merokok membunuhmu. Kampanye yang tidak pernah efektif dan sia-sia selama 20 tahun terakhir yang tercantum di bungkus rokok. Dalam hal pelik ini, wajar kalau seorang budayawan Jogja, Mohamad Sobary pernah berkata: “kalau ada yang mengatakan rokok itu haram, tanya saja: kamu dibayar berapa?” Para ulama telah menyelesaikan “status hukum” tembakau ini, beberapa abad yang lalu.

Soal tembakau adalah soal industri, soal hegemoni ekonomi, soal politik, soal mafia dan tentunya soal ribuan nasib petani yang bergantung  “hidup” darinya. Mereka harus ada yang membela, seperti ketika waktu itu Cak Nun membersamai mereka: menemani rakyat pribumi menghadapi tempok kapitalisme dunia.

Kini, ditengah gencar-gencarnya Tiongkok yang menanam tembakau 2500 hektare atau pemerintah yang doyan impor tembakau, para aktivis APTI sibuk konsoliasi ke berbagai daerah baik di Jawa maupun luar Jawa, seperti NTB dan Lampung. Mereka bergandengan erat, sharing pengalaman dan meningkatkan hasil dengan mandiri, menghadapi berbagai musuh baik yang “terlihat” maupun “tak terlihat”.

Namun, apapun peliknya persoalan itu, lereng sumbing adalah tempat yang tenang dan menentramkan. Setiap pagi, bahkan dari puncak gunung, suara sahut-sahutan adzan terdengar dimana-mana. Al-barzanji menggema memuji manusia utama. Di depan masjidnya terpasang plang hijau bertuliskan: Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Losari. Rakyat-rakyatnya masih begitu taat beragama. Mereka tetap tidak lupa pada tujuan hidup sesungguhnya: mencari bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.

[Ditulis di Purworejo, 24April 2016, disela mengisi Pelatihan Fasilitator PC IPNU Purworejo, selesai pukul 1:05 WIB].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: