Pemuda setengah baya itu menceburkan diri ke lumpur. Di tengah terik matahari, ia membimbing pemuda-pemudi lainnya untuk menanam, suatu pekerjaan yang membutuhkan keberanian dan kesabaran. Ditengah lumpur rawa-rawa bagian pesisir samudera hindia, hampir setiap hari semenjak beberapa tahun lalu, ia menjadi pahlawan bagi masyarakat. Pemuda itu mampu memobilisir ratusan warga, ribuan manusia serta meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dengan memperkenalkan gagasan baru: ekowisata mangrove.

Namanya Sapto Pamungkas. Ia bukanlah seorang pemuda biasa. Universtitas Diponegoro Semarang serta Universitas Okinawa Jepang, pernah mencatat namanya sebagai salahsatu mahasiswa. Pasca lulus, Sapto yang memiliki minat yang tinggi pada persoalan kelautan, terjun meng-advokasi masyarakat pesisir dengan terus menanam pohon mangrove, sebagai penahan abrasi laut dan juga ekowisata. Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa dan akademisi, meski telah meraih S2, ia tak canggung untuk untuk turun langsung membersamai petani dan nelayan masyarakat pesisir. Setelah banyak bergelut dengan mangrove dengan masyarakat di Pulau Karimunjawa Jepara, kini ia fokus mengembangkan di wilayah pesisir kota kelahirannya: Purwodadi Purworejo. Kemudian ia dikenal dengan nama Sapto Mangrove. Meski, selain dalam urusan mangrove, ia juga memiliki prestasi lain: finalis Eagle Award dengan judul “Rob di Jantung Kota”, sebuah kompetisi film dokumenter nasional yang diadakan Metro TV.

Dua tahun lalu, masyarakat di sebuah desa Gedangan kecamatan Purwodadi, Purworejo dan berbatasan dengan wilayah Kulon Progo DIY, masih sepi. Seperti kebanyakan daerah pesisir, masyarakat bekerja menjadi nelayan, pedagang ikan(termasuk membuka warung sea-food) dan mengelola tambak ikan. Pantai yang dikunjungi wisata, hanya di titik-titik tertentu. kemudian, Sapto datang menemui pemimpin masyarakat, menyampaikan gagasan besarnya, program jangka panjangnya serta niat tulusnya meningkatkan roda ekonomi warga. Dikumpulkanlah warga masyarakat, mendengarkan gagasan dan cita-cita orang yang baru dikenalnya. Dan Sapto sanggup meyakinkan warga. Mereka pun kemudian bergotong-royong, membuat “kanal mangrove” dengan jembatan bambu sepanjang tanaman mangrove. Selain itu, mereka mau diajak menanam beribu-ribu pohon mangrove. Desa wisata mangrove diperkenalkan. Warung-warung dan parkiran dibuka. Namun, karena minimnya publikasi, turis-lokal masih jarang yang tahu dan datang. Ini merupakan masa-masa sulit bagi Sapto.

Namun, ibarat pepatah: sopo sing nandur bakal panen, siapa yang menanam akan memetik, atau berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian. Itu merupakan masa dimana pegiat Wolulasan jamaah maiyah purworejo tersebut menanam dan bersakit-sakit. ia masih terus berjuang, memberi inovasi dan berbagai penopang untuk cita-citanya itu. Kemudian ia membuat proposal pengajuan perahu wisata kepada Kementrian Kelautan dan Perikanan. Deal. delapan perahu dan piranti lain senilai 150 juta rupiah, bisa ia usahakan dari tangan dinginnya. Sambil terus menanam, berkampanye ekowisata dan mengawal, ia terus optimistis.

Puncaknya adalah tahun baru 2015. Tak kurang dari 700 kendaraan bermotor, berparkir setiap harinya di hari-hari itu. Desa yang dulu sepi, kini berhasil ia sulap menjadi ekowisata yang begitu menjanjikan. Usaha itupun memicu semangat desa-desa di sekitarnya untuk mencontoh dan kemudian saling bersaing dalam menciptakan wisata yang mendatangkan lapangan pekerjaan.

Kini, ia mendirikan Komangjo Foundation dan ia sendiri bertindak sebagai direktur utama. Komangjo adalah singkatan dari Komunitas Mangrove Purworejo. Ia dipercaya oleh KLH Purworejo untuk turut berperan-aktif membantu pemerintah dan mengawal isu-isu lingkungan hidup. Melalui media sosial dan kopdar, ia terus meracuni generasi muda dengan virus-virus cinta dan pelestarian alam, khususnya mangrove untuk wilayah pesisir yang rentan dengan tsunami. Mahasiswa juga tak lepas dari pengaruhnya. Ia kerapkali diundang sebagai narasumber di berbagai kampus negeri untuk berbicara (tidak hanya berteori) tentang pengembangan wilayah pesisir-pantai.

Mungkin, sekilas seorang Sapto adalah pemuda biasa dan tak banyak orang tertarik dengan isu lingkungan dan ekowisata. Namun, ditengah maraknya korupsi “kaum tua”, banyaknya pemuda yang hanya menjadi beban bagi masyarakat, mahasiswa yang sibuk dengan gadget-gadget serta ribuan sarjana yang antre mencari lowongan kerja, Sapto seakan menjadi inspirator yang progressif. Ia tak banyak mengeluh dan menyalahkan, namun berbuat secara nyata. Ia merupakan “pahlawan kecil”, yang berjuang untuk perubahan. Perjuangan yang dulu juga Nabi Muhammad mencontohkan di Negara Madinah: memberdayakan ekonomi ummat.

Semoga, akan terus lahir generasi “Sapto-sapto” yang baru di Indonesia, di berbagai bidang dan disiplin pengetahuan. Yaitu sebuah generasi yang mau kembali ke sawah, ladang, desa, pantai, dan kampung halaman meski sudah mencicipi tingginya “gengsi” pendidikan sekolah dan bangku perkuliahan. Generasi terdidik yang mau mengaplikasikan ilmunya untuk membela masyarakat, bukan semata untuk kemakmurannya sendiri, apalagi malah bertindak sebaliknya: membodohi masyarakat, seperti yang banyak dibuktikan KPK. Na’udzubillahi min dzalik.

[Selesai ditulis pada 02 Mei 2016 di sekretariat PC IPNU, Jl Sibak No. 18 Purworejo, tiga hari usai memantau masyarakat dan ekowisata pesisir purwodadi purworejo bersama Sapto Mangrove]