Memperbarui Iman dan Melunakkan Hati

[Pengajian KH Achmad Chalwani dalam rangka Haul dan Santunan Anak Yatim Piatu Jamaah Nurul Huda sekaligus Selapanan Jamiyyah Thariqah Qadiriyyah/ Naqsabandiyyah di Cepedak, Bruno, Purworejo, 17 Muharram 1433 H. Dialihtuliskan dan diedit oleh Ahmad Naufa, pengasuh blog: ahmadnaufa.wordpress.com]

***

JUNJUNGAN kita, kanjeng nabi Muhammad saw bersabda: al-imānu ‘uryanun, walibasuhut taqwa; Iman itu telanjang, sedangkan bajunya adalah taqwa.

Uryan itu artinya telanjang. Ada pulau yang bernama Irian yang kebetulan orangnya pada telanjang. Maka oleh Gus Dur, nama Irian dikembalikan menjadi Papua, agar supaya tidak telanjang.

Iman itu masih telanjang. Maka kalau kita hanya memiliki iman saja, seperti anak kecil telajang yang berjalan-jalan. Maka sesudah iman, ada kekuatan kedua yaitu syariat, seperti halnya mendirikan shalat. Ini merupakan pakaiannya.

Maka, kita umat Islam sudah diingatkan oleh nabi: jaddidu imānakum. Kenapa demikian? Karena nabi mengerti bahwa iman kita rentan rusak. Lalu sahabat bertanya: kaifa nujaddidu imānanā, ya Rasūlallah: bagaimana cara memperbaruai iman kita, ya Rasulallah. Nabi menjawab: aktsirū min qauli lā ilāha illallah; cara memperbarui iman adalah dengan memperbanyak membaca lailaahaillah.

Kalau ikhwan tarekat, setiap sehabis shalat fardlu, minimal membaca lā ilāha illallah 165x. Terus terang, kalau belum masuk tarekat, jika sempat ya dzikir, kalau tidak sempat ya tidak dzikir. Maka, perlu diingat pesan tiga kiai.

KHR Damanhuri Kutoarjo, ketika Haul Mbah Kastolani Bruno, pernah berkata: “Wong yen durung thoriqoh, nek dzikir namung pendak ono tanggapan; orang kalau belum tarekat, dzikirnya hanya kalau ada hajatan. Ada yang berkata: “Mbah, maksude nek dzikir pendak ono tanggapan maksudipun dos pundi?. “ Ya dzikirnya cuma kalau ada undangan tahlilan dan kenduren.” Ini saya cuma menyampaikan apa kata Mbah Damanhuri. Beliau baiat tarekat Kholidiyyah-Naqsyabandiyyah kepada KH Yusuf Semawaung, Kembaran, Kutoarjo.

Ketika ditanya mengapa orang dzikir dalam tarekat kok menggeleng-gelengkan kepala, almarhum Simbah Sirajd Payaman, menjawab: “Kowe nek ngombe dawet, juruhe di udek opo ora? Wong sing dzikir ora gedhek, ibarat wong ngombe dawet ora di udek, juruhe ora campur; kamu kalau minum dawet, sari gulanya diaduk tidak? Orang yang dzikir namun tidak menggelengkan kepalanya, ibarat orang minum dawet sari gula (juruh)nya tidak diaduk, jadinya tidak campur, tidak manis.“

Suatu ketika, kaum (penghulu desa) Mranti, Gebang, Purworejo, bernama Pak Ansor sowan kepada ayah saya KH Nawawi. “Sor, kowe wis thariqah opo durung; Sor, kamu sudah masuk tarekat belum?”, tanya Mbah Nawawi. “Dereng Romo Kiai; Belum Pak Kiai”, jawab Ansor. “Lha kowe ning deso cok ngimami tahlil opo ora?; Nah kamu di desa sering memimpin tahlil apa tidak?”. “Nggih wongsal-wangsul. Malah tiyang-tiyang mboten purun menawi mboten kulo sing ngimami; Iya, sering sekali, kiai. Malahan, jamaah tidak mau jika bukan saya yang mimpin”. “Ngene, Sor, Imam-imam tahlil sing durung thoriqoh, iku ibarate koyo sopir sing durung duwe SIM, yen ono cegatan ono masalah; Begini, Sor. Imam-imam tahlil yang belum masuk tarekat, itu ibarat sopir yang belum memiliki SIM, jika ada tilangan akan ada masalah”.

Ketiga kiai itu perlu dipegang ucapannya. Kita semua [jamaah tarekat] orang awam, tidak perlu membolak-balik kitab karena tidak mampu. Orang awam yang penting memegang perkataan kiai. Pun demikian dengan kiai, ke atasnya ada yang dipegangi, yaitu Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Yang membina meningkatkan derajat umat disisi Allah itu wali-wali kutub. Wali kutub itu dibagi menjadi tiga: quthbul ‘ulūm, quthbul ahwāl dan quthbul maqāmāt. Wali quthbul ‘ulūm seperti Imam Ghazali. Kedua, quthbul ahwāl, wali kutub yang membina hāliyah, sifat-sifat manusia yaitu Syekh Abu Yazid al-Bustomi. Wali quthbul maqāmāt, yang membina umat agar naik derajatnya disisi-Allah. Siapa wali quthbul maqāmāt? Syekh Abdul Qadir Jilani, yang menjadi raja para wali. Kita semua sudah hafal syiirnya:

لاَاِلٰه الاَّ الله مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ
شَيْخ عَبْدُالْقَادِرْ وَلِيُّ الله إِمَامْ مَهْدِى مَا شَاءَ الله

Syech ‘Abdul Qodir iku ratune
Poro wali sedayane
Sayyid Abu sholih ramane
Syarifah Fatimah Ibune
Miyos songko guwo garbane
Ingkang ibu wayah bengine
Tanggal siji poso wulane
Ora nusu wayah awane
Ono patang atus tahune
Pitung puluh punjulane
Manut tahun hijroh nabine
Sangang puluh siji yuswane
Tanggal sewelas sedane
Robi’ul akhir sasine
Ono limang atus tahune
Suwidak siji punjulane
Sewelas atus bayine
Lanang lahir bareng bengine
Gusti miyos songko ibune
Dadi wali sedayane

Saya punya kitab bernama Al-Ghunyah, kitab ini karangan Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam juz II kitab tersebut, beliau berkata: man shāma tsalātsata ayyāmin fis syahril harāmi fi yaumil khamis wal jum’ah was sabti kāna lahu ibādatu tis’i miati sanatin; siapa yang berpuasa tiga hari di bulan mulia [dulkaidah, besar, suro, rejeb] hari kamis, jumat, sabtu, pahalanya seperti ibadah 900 tahun.

Puasa tersebut, merupakan bagian dari pakaian iman, termasuk sedekah, puasa, zakat, puasa, dzikir, tawajjuhan dll. Jika kita tidak banyak melakukan ibadah itu, ibarat kita tidak berpakaian secara rapat.

Dulu Bapak [KH. Nawawi] pernah berkata: “Wong ke yen wis bengat thariqah nanging ora tau tawajjuhan-khataman, kuwe ibarate wong melu arisan nanging ora tau mangkat ; orang yang sudah berbaiat tarekat namun tidak pernah ikut tawajjuhan-khataman, ibarat orang yang ikut arisan namun tidak pernah berangkat”. Kalau tidak pernah berangkat, kira-kira akan mendapat undian atau tidak?
Coba anda lihat dalam khataman tarekat, yang dibaca adalah: allahumma ya qadliyyal haajat, minta kepada allah supaya semua permintaannya dikabulkan allah. Selesai itu membaca: allahumma ya kafiyal muhimmat, semua kepentingan agar dicukupi allah. selesai itu membaca allahumma ya rafi’at darajat, dinaikkan derajatnya oleh Allah. Alhi tarekat berkumpul mendioakan semua orang tanpa kecuali baik yang sudah tarekat maupun yang belum, supaya dinaikkan derajatnya. Tidak hanya berhenti disitu, masih mendoakan agar semua masyarakat tanpa kecuali dijauhkan dari bala’: allahumma ya dafi’al baliyyat.

Sebagai pengumuman, selapanan bulan depan, bukan sabtu pahing, namun sabtu wage, karena sabtu pahing saya masih pengajian di Hong Kong. Saya diundang pengajian di Victoria Park. Panjenengan semua tidak usah ikut ngaji kesana, karena harus memiliki parport dan sebagainya.

Maka, umat Islam mari kita sama-sama menguatkan lima kekuatan. Pertama, kekuatan Akidah, kekuatan iman. Akidah kita jelas tidak bisa ditawar, Ahlussunnah wal Jamaah.

Apa sebabnya sekarang perlu menjelaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, apa tidak cukup islam saja? Oleh karena sekarang orang dalam memahami islam itu macam-macam. Ada oranag yang mengaku beragama islam dan shalat, namun menghukumi anjing itu halal. Banyak sekarang orang yang menjual daging anjing untuk sate dan penjualnya pun memakai kerudung. Ini di Solo sudah banyak.

Ketika jaman ketika kecil dulu, ketika beli gelas adanya gelas beling. Belum ada gelas plastik dll. Ketika membeli gelas, dikasih gelas beling. Namun sekarang kalau membeli gelas ada beling, plastik, atom dll. Dalam membeli gelas, sekarang perlu kita tegaskan membeli gelas beling, agar tidak salah dikasih gelas plastik atau yang lainnya. Begitupun dengan Islam. Ketika jaman walisongo, adanya Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Belum ada ingkarus sunnah, darul hadis dll. Agar tidak keliru, maka kita perlu mempertegas Islam dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

Ada yang bertanya, apa itu ingkarus sunnah? Yaitu orang Islam yang tidak percaya kepada Hadis. Itu tidak sah imannya, karena hanya percaya kepada al-Quran. Padahal, pembagian waktu shalat lima waktu itu tidak ada dalam al-Quran, adanya dalam Hadits. Mereka shalat dengan waktu seenaknya sendiri. Maka, kalau orang hanya memakai al-Quran saja, itu pertanda orang bodoh. Maka, orang Islam perlu memiliki ilmu. Allah berfirman: yarfa’illahulladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma darajatan; siapa yang memiliki ilmu, yaitu para ulama.

Ada lagi, islam jamaah. Aliran ini banyak mencoret al-Quran karena berkeyakinan, yang lebih pokok itu adalah hadits. Kalau kita Ahlussunnah wal Jamaah, dasarnya Al-Quran, Hadis, Ijma’ dan Qiyas.
Bapak [KH. Nawawi] dulu membuat syiir, agar Ahlussunnah wal Jamaah mudah dipahami.

[Syair Ahlussunnah wa Jamaah]

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْ لَانا مُحَمَّدٍ
عَدَدَ ماَ فِى عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

Planggerane Ahlussunnaah waljamaah
Nderek Rosul lan Aimmatul arba’ah
Pedomane qur’an hadist ijma’ qiyas
Mulo hukum Islam iku biso luas

Ziarah kubur lan haul iku ngamalane
Trawih 20 rekaat tengerane
Adzan loro yen jum’atan do mufakat
Wektu Kholifah Usman iku diangkat

Becike bid’ah trawih kanthi jama’ah
Rong puluh rekaat terus dadi sunnah
Nderek salah suwijine sohabatku
Iku jeneng nderek tindake lakuku

Iki dawuh Nabi kito kang wus masyhur
Mulo penting kito nderek ojo mundur
Haul iku tindake Rosul lan shohabat
Abu Bakar ‘Umar iku do mufakat

Imam Wakidi iku wus nyritaake
Njeng Nabi Bu Bakar ‘Umar nindaake
Nang syuhada’ Uhud iku ben tahune
Ugo Abu Bakar Umar sak ba’dane

Untungnya, KH Nawawi sudah membikin syiir Ahlussunnah wal Jamaah ini. Kalau beliau tidak membikin, kita orang awam sulit membaca kitab secara langsung. Ternyata, Ahlussunnah wal Jamaah itu mengikuti Nabi dan imam yang empat.

Maka, saya menganjurkan kepada orang NU untuk membedakan [menandai] mushalla dan masjidnya dengan menulisi nama Nabi dan sahabat empat: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ini agar orang yang non-aswaja merasa sungkan jika ingin merebut. Bisa juga ditambah imam empat: Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Ini karena sekarang banyak kelompok islam yang tidak mengakui keempat sahabat itu, hanya mengakui nabi saja. Aliran ini namanya syi’ah yang pusatnya ada di Negara Iran. Bila perlu di rumah kita juga ditulis nama-nama itu.

Masyarakat Bruno punya syiir yang diciptakan oleh Kiai Karangmalang Raden Abdullah Pangeran Kajoran.
Abu Bakar sahabat Nabi
Umar Usman Sayyidina Ali
Kanjeng Nabi Muhammad kang suci
Gustinipun sedoyo nabi

Maka, ketika tarawih, setiap dua salaman sekali [bilal tarawih]kita membaca al-khalifatul ula Abu Bakrinis Shiddiq, dijawab oleh ma’mum: radliyallahu ‘anh….dst, tradisi ini perlu dilanjutkan. Inilah Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam acara haul dan selapanan ini, tadi juga ada santunan kepada 12 anak yatim-piatu. Menyantuni anak yatim juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan hati lunak. Diriwayatkan oleh Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, yang berkata :

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلٌ يَشْكُوْ قَسْوَةَ قَلْبِهِ, قَالَ : أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ, وَ تُدْرَكَ حَاجَتُكَ ؟ اِرْحَمِ الْيَتِيْمَ, وَامْسَحْ رَأْسَهُ, وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ, يَلِنْ قَلْبُكَ, وَتُدْرَكْ حَاجَتُكَ

“Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya: sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (H.R. Thabrani, Targhib)

Perlu anda ketahui, setiap rambut anak yatim satu yang anda usap menjadi perantara hati kita dilembutkan oleh Allah SWT. Jika ada orang keras hatinya, bisa jadi ia tidak pernah mengusap rambut orang yatim. Maka saya teringat ayah saya Kiai Nawawi, setiap bulan suro beliau memanggil anak yatim, kemudian dibuatkan among-amongan [sejenis nasi tumpeng], diusap kepala [rambut] nya serta memberinya sedekah. Ini adalah ajaran baginda nabi. Nabi menganjurkan agar memberikan sebagian makanan dan rejeki kita untuk diberikan kepada anak yatim. Jika bisa seperti itu, kita akan bisa lembut hatinya dan tercapai cita-citanya. Makanya, jika kita punya hajat, cita-cita, tujuan dan program dan ingin terlaksana, jangan berkecil hati, bersedekahlah kepada anak yatim, kemudian berdoa, insya Allah cita-cita akan dikabulkan oleh Allah.

[Tentang ini, ada syairnya:]

Ngusap sirah… bocah yatim, sodaqoho
Masak enak… mayorake keluargo
Ngusap sirah… bocah yatim, bocah yatim, sodaqoho..
Masak enak… mayorake keluargo

*)Allahumma shalli wa ssalim ‘ala
Sayyidina wa maulana Muhammadin
Adadama fi ‘ilmilah, fiilmilahi shalatan
Daimatam bidawami mulkillahi

Ngethok kuku ojo dingu dowo-dowo
Surat ikhlas kaping 1000 podo diwoco
Ngethok kuku ojo dingu, ojo dingu dowo-dowo
Surat ikhlas kaping 1000 podo diwoco

*)

Wulan suro umat islam lakonono
Kautaman akehing rolas perkoro
Poso sholat silaturrahmi, silaturahmi sowan ulomo
Nganggo celak adus lan tilik wong loro

*)

Selapanan depan kita memasuki bulan shafar (sapar). Karena di sebagian kita ada persepsi bahwa bulan shafar adalah bulan yang kurang baik, maka para kiai menambahi menjadi shafarul khair, yang artinya shafar yang baik. Ada yang berkata jika bulan safar tidak boleh keluar rumah, malah ada yang ke hutan menentukan nasibnya kepada suara burung. Ada juga orang yang ke hutan menentukan nasib berdasarkan suara tokek. Kalau berdasarkan suara tokeknya tidak menguntungkan [misal kaya-miskin], tokeknya dicari dibunuh. Itu semua tidak benar, nasib manusia tidak bergantung suara hewan, namun bergantung belas kasih tuhan. Jika pagi-pagi ada suara burung prenjak, girang bukan kepalang karena akan ada tamu. Sampai-sampai memiliki lagu: e dayoe teko e gelarno kloso….dst, ini maknanya agar kita menghormati tamu. Seperti hari ini, masyarakat disini punya banyak tamu yang ahli pengajian.

Tamu itu datangnya membawa 1000 berkah dan 1000 rahmat, pulangnya membersihkan dosa yang ditempati tamu. Masyarakat disini setelah ini, saya yakin, akan dibersihkan dosanya oleh Allah lantaran menghormati tamu. Makanya, kalau ada tamu, dimasukkan ke rumah. Nabi Ibrahim as tidak pernah makan jika tidak ada tamu. Beliau berdoa: “Ya Allah, apa dosa saya sehingga hari ini tidak memiliki tamu?”. Apalagi bulan suro, jika sowan [bertamu] kiai satu seperti sowan kiai 1000. Kalau disini tidak perlu sowan, karena kiainya yang sudah langsung bertamu ke pengajian.

Maka, setiap ada acara pasti ada seksi penerima tamu, dari sunatan, ngantenan, sampai muludan. Ini karena tamu mempunyai jasa menghilangkan dosa yang ditamui. Ini perkataan nabi. Kalau anda tidak percaya, rusak imannya. Maka yang punya tamu berkuwajiban memuliakan tamu. Tidak boleh orang yang akan di datangi tamu hanya melihat dari jauh sambil mem-batin: “coba maunya apa itu orang?”. Dan harus semangat dalam melayani tamu. Bila perlu diantarkan kepulangannya, meskipun hanya beberapa langkah.
Di bulan suro ini, ketika kita silaturrahmi dengan bertamu pahalanya juga dilipatgandakan oleh Allah, seperti bertamu kepada 1000 orang di bulan shafar. Ta’ziyah jenazah satu di bulan suro, pahalanya seperti ta’ziyah kepada 1000 jenazah di bulan shafar.

Maka kita perlu memperbanyak syukur kepada Allah atas ni’mat ini. Jika kita sering bersyukur, iman kita akan semakin kuat. Selain itu perlu diseringkan membaca istighfar dan shalawat. Amal-amal yang dapat mengantarkan kita kepada khusnul khatimah, perlu kita perbanyak.

Menjelang bulan shafar, ada shalwat yang sering dibaca. Dulu Mbah Mad Watucongol sering menjuluki dengan shalawat gajah. Biasanya dibaca ketika penutupan pengajian.

[Shalallahu rabbuna ‘ala nuril mubin
ahmadal musthofa sayyidil mursalin.]
tawassalna bibismillah wabil hadi rasulillah wa kulli mujaahidillillah biahlil badri ya Allah
Ilahi sallimil ummah minal afati wan niqmah wan hammin wamin ghummah bi ahlil badri ya Allah.

Semoga kita semua tentram damai, selamat dunia akhirat, diijabahi doanya, digampangkan semua urusannya, amin ya rabbal alamin. Cukup sekian dari saya, banyak kurang-lebihnya mohon maaf.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: