Entah mengapa, sosok almarhum Mas Fata begitu terkesan dalam hidup saya. Terkadang, sosoknya melintas begitu saja dalam benak saya. Sontak, itu mengingatkan saya untuk ziarah ke makam beliau di Bulus Purworejo. Jika tidak bisa, minimal melangitkan bacaan fatihah untuk beliau.

Tulisan ini saya tulis tidak sekadar untuk beromantisme dengan beliau, namun juga agar saya senantiasa ingat dan menjalankan nasehat dan spirit beliau.

Mohon maaf apabila banyak melibatkan kehidupan pribadi saya, oleh karena tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya dengan beliau. Jadi, bukan dari hasil riset data maupun wawancara atau penggalian sumber lain seperti laiknya penulisan karya ilmiah, namun berdasarkan fakta empirik, pengalaman saya dengan beliau.

 

Masa Kecil yang Indah

Nama lengkapnya Muhammad Khoirul Fata. Beliau lahir pada…… 1986 dari pasangan KH Achmad Chalwani (Pengasuh PP An-Nawawi Beran Purworejo)dengan Ny Hj Sa’adah (Putri KH Achmad Abdul Haq Watucongol Muntilan Magelang). Sebagai seorang yang terlahir dari keturunan kiai sekaligus pengasuh pesantren, beliau sudah akrab dengan tradisi pesantren yang bersifat feodalistik. Meski demikian, beliau tidak eksklusiv dalam bergaul: mau berteman dengan siapa saja.

Ketika masih duduk di bangku TK, saya sering diajak oleh ayah saya sowan kepada KH Achmad Chalwani. Maklum, selain alumnus PP An-Nawawi, ayah-saya juga bertemu dengan ibu saya di Pesantren yang didirikan KH Zarkasyi tersebut.

Ketika itu, saya masih menjadi anak yang nakal. Menurut riwayat ibu saya, pernah suatu kali saya sowan beliau, disuruh salaman oleh ibu, malah meginak-injak kaki al-mukarram. Malulah ibu saya. Namun saya sudah tidak mengingat peristiwa itu.

Nah, ketika sering diajak sowan ke Ndalem al-Mukarrom itulah saya bertemu dengan Mas Fata, yang ketika itu juga masih kecil dan duduk di bangku SD. Peristiwa masa itu, yang saya ingat ada tiga hal: pertama, beliau selalu mengajak ke lantai dua untuk “memamerkan” mainan-mainan beliau yang setumpuk, khususnya mobil-mobilan. Ketika bermain mobil-mobilan, beliau selalu menggunakan yang terbaru dan saya yang agak lama, sehingga saya selalu kalah kalau balapan. Meski begitu, saya sangat bahagia karena dirumah biasanya mainan bikin sendiri dari bambu atau kulit jeruk bali, tidak kenal mobil pabrik dengan remot seperti ini.

Kedua, ketika memetik pohon jambu. Sebagai anak desa, saya sangat menyukai buah jambu biji. Kebetulan, waktu itu di depan ndalem ada pohon jambu biji yang buahnya lebat. Waktu itu saya memanjat dan memetik buah dengan polosnya, laiknya anak desa. Sedangkan beliau hanya berdiri dibawah menunggu petikan dari saya. Bedanya ketika makan, saya langsung memakannya tanpa dicuci atau dikupas, kalau beliau di kupaskan oleh santri dan hanya diambil dagingnya, kulit dan bijinya dibuang. Karea pohon jambu itu, suatu kali saya juga pernah menangis sejadi-jadinya karena disengat tawon yang sedang santai-santai di pohon.

Ketiga adalah tentang sepeda. Ketika sowan ke ndalem dan kemudian bermain bersama beliau, saya diajak naik sepeda dan saya belum bisa. Maklum anak desa yang belum begitu mengenal roda dua yang diputar dengan kaki tersebut. Ketika beliau bersepeda, saya hanya nonton saja.

Suatu ketika, beliau mengajak saya ke gudang yang dulu ada di utara ndalem. Beliau menunjukkan saya dua sepeda: warna merah dan biru. Sepeda yang merah berukuran kecil (pas untuk saya waktu itu) sedangkan yang biru lebih besar, yang mungkin milik kakak perempuan beliau: Mbak Asyfa Khoirunnisa’. Tanpa saya nyana, beliau akan memberikan sepeda itu kepada saya. Saya disuruh memilih. Akhirnya, pilihan saya jatuhkan pada sepeda yang berwarna merah. Kemudian, oleh ayah saya, sepeda itu diangkut diatas bus dan dibawa kerumah. Selain dipakai oleh saya sendiri, sepeda itu kemudian dipakai oleh adik-adik saya secara turun-temurun. Sepeda kenangan itu, sekarang sepertinya tinggal kerangkanya saja dirumah.

 

Remaja dan Hobi

Semenjak peristiwa itu dan saya mulai menginjak akhir SD, ayah saya jarang mengajak saya sowan ke Berjan. Setelah saya lulus SD dan kemudian di pesantrenkan di Berjan, ketika itulah saya kembali bertemu dengan beliau. Saya duduk di MTs An-Nawawi kelas 1 sedangkan beliau di kelas III. Selaku santri, saya sudah tidak berani menyapa beliau. Namun kemudian beliaulah yang pertama kali menyapa saya.

Suatu ketika, di sekitar kantin sekolah, kami papasan. Beliau melihatku dan berkata: “Eh, Pak Mahin yo?”, katanya dan saya jawab dengan anggukan. Kemudian beliau berlalu diikuti para pendereknya. Mahin adalah nama ayah saya, lengkapnya Ahmad Mahin. Saya senang dengan sapaan itu meski sudah canggung, beliau sudah begitu besar lagi putra kiai saya. Seakan ada tembok besar yang memisahkan kita berdua.

Ketika remaja, beliau adalah sosok pemuda yang sportif. Suatu ketika, beliau datang terlambat ke sekolah, begitu juga dengan saya dan beberapa teman lainnya. Seperti biasa, siswa yang telat akan dihukum oleh guru BP. Dan beliau, meski sang pemilik sekolah sekaligus yayasan, tetap mau antri bersama kami yang telat dan menerima hukuman yang sama. Ketika itu, hukumannya adalah disuruh push up. Beliau juga ikut push up tanpa protes. Ini menunjukkan sportifitas dan sifat egaliter beliau.

Ketika itu, beliau hobi dengan yang namanya memancing. Bersama para pendereknya beliau banyak memancing ke danau dan laut. Sampai-sampai, selain memiliki pancing yang komplit dan modern, beliau juga membuat seragam grup mancing. Salahsatu santri di kamarku yang sudah senior yang sering nderek beliau mancing adah Mas Iwan alias Gonder.

Selain hobi memancing beliau juga hobi memainkan alat musik, khususnya gitar. Di hari-hari tertentu, beliau latihan menggitar dengan beberapa santri yang memiliki hobi ini. Beberapa waktu kemudian beliau juga pernah menunjukkan kebolehannya bermain gitar dalam suatu pentas di Plaosan. Beliau memainkan aransemen milik gitaris kelas dunia, Joe Satriani.

Menurut temanku Fikri Amrillah, musisi Purworejo yang juga waktu itu sering nderek beliau, ia terkesan dengan skill yang dimiliki Mas Fata. “Saya punya teman the best gitaris se-Kedu dan DIY. Dia setiap hari pegangannya gitar. Namun, Mas Fata yang pegang gitar-nya jarang-jarang bisa sebanding dengan teman saya itu. Padahal waktu beliau kan sudah terbagi-bagi: untuk ngaji, ngemong santri dll” ungkap Fikri.

Wajar, kalau hobi Mas Fata ini kemudian memiliki kekuatan lain, yaitu dikenal oleh kalangan musisi Purworejo. Pergaulan beliau dengan musisi di Purworejo terjalin, sampai menurut Fikri, beberapa diantara mereka yang tadinya doyan minum miras, berhenti.

Selain itu, hobi Mas Fata juga “mempengaruhi” kebijakan pesantren. Khataman Akhirussanah yang diadakan setiap tahunnya, waktu itu selalu mengundang musisi dan grup band papan atas Indonesia. Diantara yang pernah di undang waktu itu adalah Esnanas dan Jikustik grup band asal Jogja serta Vagetoz band dari Bandung. Kebijakan ini tentu menuai pro dan kontra. Meski demikian, lebih banyak yang pro karena itu mendekatkan pesantren dengan masyarakat, khususnya anak-muda. Wajar kalau ketika itu, koran wawasan memuat: Vagetoz Masuk Pesantren An-Nawawi dengan konten yang positif dan mendukung.

 

26138_1222611138558_5189788_nSebuah Masa Pencarian

Masa ketika beliau masuk kuliah dan menjadi wakil kepala pondok pesantren An-Nawawi, adalah waktu yang menurut saya beliau lebih dewasa. Beliau menginisiasi lahirnya musyawarah malam selasa yang membahas pelbagai problem hukum dan sosial-kemasyarakatan. Perpustakaan pribadi beliau penuh dengan kitab dan buku dari masa klasik sampai kontemporer.

Selain berdiskusi dengan kami di kampus ketika waktu senggang, beliau juga banyak memacu mendalami hal-hal elementer seperti ilmu-ilmu alat (nahu dan shorof), selain ushul fiqh dan wacana kontemporer.

Ketika dulu saya “setoran” alfiyyah dengan beliau dan tidak sesuai target, saya dinasehati: “Koe ki kakeen wacana. Wacana yo penting, tapi nahwu-shorofe yo luwih penting. Diapalke, ojo mung kakeen wacana thok! (wacana itu penting, tapi ilmu nahu-shoro juga lebih penting dihafalkan, jangan cuma berwacana saja!)”kata beliau, mengomentariku yang aktu itu sedang gandrung pemikiran-pemikrian kontemporer.

Kebetulan, waktu itu sedang hangat-hangatnya PMII berdiri di An-Nawawi. Hampir semua mahasiswa yang ikut PKD PMII di Kutoarjo dan Jogja setiap hari diskusi tentang problematika yang dulunya jarang dibahas di pesantren: isu relasi Islam – Negara, keadilan, ekonomi, lingkungan, korupsi, HAM, Islam sebagai ideologi pembebasan dll. Nama tokoh-tokoh pemikir Islam kontemporer seperti Ali Abd Raziq, Muhammad Syahrur, Hasan Hanafi, Abul A’la al-Maududi, Sayed Husein Nasr dll banyak mempengaruhi kami. Meski begitu, beliau tetap mendukung adanya PMII di kampus. Terbukti, beliau hadir dan ikut menyimak PKD PMII di Kutoarjo diselenggarakan, meski tidak sampai selesai.

Karena itu barangkali, beliau seringkali “mengimbangi” (untuk tidak menyebut melawan) pemikiran tokoh-tokoh kiri tersebut dengan pemikir yang agak kanan, seperti Adian Husaini dengan Wajah Peradaban Barat-nya.  “Ayo Fa, kita diskusi soal Pancasila. Kamu pakai pemikiran Gus Dur, aku Adian Husaini” tantang beliau, suatu ketika. Tentu saja saya tidak berani dan selalu menghindar. Namun tetap tak bisa. Suatu ketika, saya tidak bisa mengelak dan kami diskusi tentang itu. Hasilnya pun bisa ditebak: saya kalah telak! Kalah segala-galanya. Oh iya, khusus tentang Adian Husaini, sang ketua DDI sekaligus penulis buku Wajah Peradaban Barat ini, beliau banyak terinspirasi olehya. Sampai-sampai, ia pernah menyampaikan cita-citanya: “Setelah lulus SI, aku ingin melanjutkan S2 di Islamic Univercity of Malaysia. Disana, perpustakaannya paling lengkap di seluruh dunia”, ungkapnya, untuk masuk di universitas yang meluluskan Dr Adian Husaini. Keinginan beliau ini juga disampaikan kepada Akmalul Khuluk, teman seangkatan kami.

Selain “penggemar” Adian Husaini, beliau waktu itu juga mengidolakan Dr Wahbah Az-Zuhaili dan dr Zakir Naik. Beliaulah yang pertama kali mengenalkan saya dengan video-video dr Zakir Naik, sosok Intelektual Muslim yang waktu itu belum begitu terkenal di Indonesia karena belum banyak internet.

Meski bergelut dengan dunia literasi dan pemikiran baik ulama klasik maupun kontemporer, hobi musik beliau tetap berlanjut. Beliau jago membagi waktu kapan untuk ngurus santri, menunggui setoran alfiyyah, belajar, bermusyaarah, mancing, nge-band, jalan-jalan dll. Waktu itu saya kagum dengan berbisik diam-diam: “Seandainya saya yang jadi beliau: memiliki rumah besar, mobil mewah, toko besar dan segala pendukung lain, belum tentu saya mau belajar, muthalaah dll, sudah larut dalam dunia hura-hura” pikiran nakalku waktu itu.

 

Pendidikan dan Semangat Belajar

Semenjak kecil, beliau di didik oleh kedua orang-tuanya beserta pengurus pesantren. Menginjak remaja, beliau mengikuti madrasah di pesantren milik ayahnya sampai lulus kemudian. Ini jarangkali kita temukan. Biasanya, putra kiai mondok ke pesantren lain.

Dari segi pendidikan formal beliau juga melewatinya di lembaga pendidikan milik ayahandanya, dari MTs sampai perguruan tinggi: STAI An-Nawawi (STAIAN). Di STAIAN inilah saya mulai dekat kembali, setelah lama “terpisah” dari beliau. Sebuah kelas di semester satu menyatukan kami kembali.

Ketika menunggu dosen atau mengisi jam kosong, kami berdiskusi sambil berkelakar. Beliau banyak memotivasi dan memberi pencerahan kepada kami tentang Islam. Persahabatan kami begitu hangat dan menyenangkan. Sampai, suatu ketika saya diberi kehormatan untuk selalu menyambangi beliau ketika berangkat kuliah.

Di semester awal, bahasa Inggris beliau agak buruk. Pernah dalam suatu ujian bertanya pada saya. Namun, satu semester kemudian, beliau sudah bisa membenarkan saya. Usut punya usut, ternyata beliau les bahasa Inggris dirumah. Saya jadi begitu kagum akan semagat dan haus ilmu beliau. Dalam tempo singkat, beliau mampu memanfaatkan kecerdasannya tidak saja untuk mengejar ketertinggalan, namun jauh meninggalkan.

Selain itu, di pertengahan semester beliau juga ndouble kuliah di UII. Entah mengambil jurusan apa beliau, saya tidak tahu. Ketika saya Tanya mengapa kuliah di UII, beliau menjawab: “untuk menambah wawasan dan pengalaman”. Hal ini membuktikan kehausan beliau akan ilmu yang senantiasa beliau timba.

 

Beberapa Pemikiran yang Kukenang

Beliau sering mendiskusikan tentang NU kepada kami. Maklum, rata-rata dari kami adalah aktivis IPNU dan PMII. Suatu ketika, dalam diskusi, beliu berstatemen: “Kesalahan terbesar NU adalah memutuskan bahwa Pancasila Final. Menerima Pancasila boleh-boleh saja. Tapi ya jangan final, supaya kita terus belajar dan mencari.”ungkapnya. statement ini, menurut saya, melampaui masanya ketika itu, ketika semua ulama terbelah menjadi dua: pro dan anti-pancasila sebagai “ijtihad final” dasar Negara.

Pemikiran beliau tentang kenegaraan ini, jika diterapakan dalam hukum atau statement legal-formal, menurut saya, memang kurang pas. Mengingat penemuan Pancasila adalah Mahakarya para founding father yang hampir menyerupai Piagam Madinah. Pancasila, yang didalamnya mengusung konsep ra’iyah (rakyat) hasil “ijtihad” nabi, juga hanya dan satu-satunya yang di terapkan oleh Negara di Indonesia.

Meski demikian, jika dilihat perspektif kajian keilmuan-normatif, sebenarnya gagasan “Pancasila Final” adalah hal yang kurang tepat(untuk tidak menyebut itu kesalahan). Hal ini mengingat dalam Islam, tidak ada konsep yang jelas bagaimana seharusnya sistem dan dasar Negara dibentuk. Nabi tidak mewasiatkan bentuk dan konsep Negara. Islam lewat beliau “hanya” merumuskan nilai-nilai universal tentang keadilan, kejujuran dan perlakuan sama di depan hokum, atau tegasnya tugas Negara adalahapa yang menjadi inti tujuan syariat dalam kulliatul khams yang lima itu: melindungi nyawa, akal, harta, agama dan keturunan. Wajar kalau pasca wafatnya nabi sampai kini, sudah banyak eksperimen dan berganti-ganti system. Dalam kebijakan walisongo misalnya, menyebut penguasanya Sultan, adalah juga ijtihad-eksperimen para wali. Islam memberi nilai-nilai spiritual-ubudiyah dan sosial-muamalah, tidak ada satupun ayat al-Quran maupun Hadits yang mengharuskan bagaimana idealnya bentuk Negara.

Namun, harus diakui pula bahwa apa yang sudah termanifertasikan dalam Pancasila sudah sesuai dengan al-Quran dan Sunnah. Hanya saja, kita tidak tahu seberapa panang umur NKRI ini? Bisa saja, meski semoga tidak, Pancasila dan Indonesia bubar dan berganti ideology maupun system bernegara. Semoga Indonesia tercinta dijauhkan dari adanya demikian.

Dalam hal pemikiran keagamaan, beliau selalu tahu dasar dan metodologi dalam istinbath. Sehingga sebenarnya, beliau tidak kaku (tekstual-konservatif) namun juga tidak liberal. Ketika awal-awal musyawarah, saya pernah dibuat diam gara-gara pertanyaan ringan: apa hukum membunuh semut, tau nggak kamu? Dari hal kecil ini, saya secara subyektif menilai beliau sebagai orang yang mencintai dan selalu mempelaari hukum Islam secara komprehensif.

Sebagai seorang santri yang berada dalam kultur pesantren, hukum bermain alat music belum begitu jelas bagi saya waktu itu. Beberapa kiai atau pesantren mengharamkan alat-music tertentu. Disisi lain, pesantren milik beliau membolehkannya ketika liburan tiba. Suatu ketika, saya bertanya kepada beliau, tetntang kebolehan bermain alat musik?  Beliau hanya menjawab, “yang penting saya bermain musik ini ada dalilnya”ungkapnya. Artinya, setiap yang beliau lakukan selalu memiliki landasan yuridis secara Islam. Belakangan, saya tahu ulama yang membolehkan itu bernama Ibn Hazm, meski beberapa kiai yang tahu fatwanya tetap tutup mulut. Tidak tahu mengapa, mungkin karena jika efeknya berbahaya (menjurus ke maksiat), hukum juga bisa berubah sesuai illat.

Suatu saat, ketika saya tertanya tentang “batasan” nafsu, beliau juga menjawab: “bergeraknya kemaluan”. Jika kemaluan sudah “bergerak”, menurut beliau itu sudah memasuki lingkaran nafsu. Dengan jawaban ini, kemudian saya secara pribadi memiliki tolak ukur dan standar pengereman terhadap apa yang selama ini masih abstrak: nafsu.

Dalam pemikiran gerakan, beliau beberapa tidak sepakat dengan Gus Dur yang menurutnya terlalu liberal. “Saya beberapa tidak sepakat dengan Gus Dur. Namun, harus saya akui, dibawah kepemimpinannya, beliau mampu membawa NU begitu dinamis dan diakui dunia. Saya khawatir, pasca ditinggalnya beliau kelak, NU akan susah menemukan orang yang pemikiran dan gerakannya lincah sepertinya” kata beliau, kurang lebih dalam suatu sesi diskusi.

 

Mendung Duka di Langit Berjan

Kontak terakhir saya adalah malam tanggal 1 Ramadhan 2008. Ketika itu, saya baru mendapat kabar bahwa beliau juga belaar di UII. Kemudian saya SMS: “Mas, njenengan tureen kok malah pindah kuliah wonten UII, tho? Lha teras pripun nasibe rencang-rencang wonten mriki”, tanyaku yang teringat diskusi dan nasehat beliau disela-sela perkuliahan.

Beliau menjawab: “Ndak pindah kok pa, cuma ndouble untuk nambah wawasan dan pengalaman” balasnya. “Terus perlu dicatat, Islam, dengan ataupun tanpa saya, besok di akhir zaman akan mengalahkan semua agama, baik yahudi, nasrai dll” imbuhnya. Dan kubalas: “Oh, nggih”.

Dan hampir sebulan kemudian, malam 26 Ramadhan, aku yang masih di pesantren waktu itu mendapat kabar beliau kecelakaan dan pergi kehadirat Ilahi Rabbi. Semuda itu, beliau sudah begitu dirindukan oleh Allah SWT. Ketika itu, air mataku bercucuran keluar tanpa bisa ku kendalikan. Badanku begitu lemas dan akal sekana masih tak mempercayainya.

Ditengah air mata yang bercucuran kulihat kembali SMS beliau, aku baru sadar, seakan ada perpisahan tak resmi dari SMS itu: “Islam DENGAN ataupun TANPA saya…..” dan aku tak menyadari SMS yang agak aneh itu sebelumnya.

Seorang teman kemudian memanggilku, untuk mempersiapkan segala-sesuatu. Ditengah genangan air mata, aku berlari ke kantor pondok setelah sebelumnya mengabari lelayu ini kepada keluargaku dirumah. Sebentar lagi, Berjan akan ramai oleh para ta’ziyyin dan ta’ziyyat. Aku dan beberapa santri menyiapkan karpet dan berbagai hal untuk itu.

Kurang lebih jam 10.000 WIB jenazah datang. Ribuan manusia sudah menjadi lautan dengan wajah pucat, sedih dan tertunduk lesu. Ada mendung duka di langit Berjan. Aku yang mengambil kamera inventaris pesantren, mencoba mendokumentasikan saat-saat terakhir itu. Entah dimana foto-foto itu kini, saya tidak tahu. Saya dan ribuan orang khususnya santri, mengantar ke peristirahatan terakhir beliau di makam Bulus.

Belakangan kulihat, beberapa teman-teman beliau dari anak-anak band dengan pakaian gaul juga ta’ziyah menghormati sekaligus kehilangan sosok beliau. Ada diantara mereka yang bertato, tertunduk lesu. Ada kemudian diantara mereka, yang menaruh ponsel di makam beliau, entah memutarkan MP3 surat yasin karena tidak bisa, entah memutarkan music kesukaan beliau atau karena non-muslim, aku tidak tahu. Ratusan mahasiswa UII juga tumpah disana. Ini membuktikan solidaritas beliau dikalangan teman-temannya begitu dihargai, dihormati dan dianggap bermanfaat ditengah-tengahnya.

Aku percaya, terhadap hambanya yang begitu cerdas, tekun dan haus ilmu, Allah tak sabar ingin bertemu. Beliau dipanggil kehadirat-Nya karena cinta dan rindu-Nya. Di umur yang masih begitu muda, beliau sudah berziarah ke Baginda Nabi, Makkah dan Madinah serta mempelajari pelbagai ilmu klasik sampai kontemporer. Allah memanggilnya, sebelum beliau sempat membuat perubahan untuk Indonesia dan dunia.

Semoga beliau tenang disana dan selalu mendoakan untuk kami yang masih berjuang diatas bumi yang penuh dengan cobaan ini. Spirit beliau masih terus berkobar-bobar dihati kami. Lahul faatihah…

 

[Base Camp IPNU Purworejo, 28 April 2016]