Pesan-Pesan Kiai Chalwani di Malam Ta’aruf

[Ceramah KH Achmad Chalwani pada malam Ta’aruf Kilatan Ramadhan Pondok Pesantren An-Nawawi di Serambi Masjid Tua Berjan, 22 Agustus 2009. Ceramah direkam  via LG KG, dialihtulisankan dan diedit oleh Ahmad Naufa, author: ahmadnaufa.wordpress.com]

***

Suka Cita Menyambut Ramadhan

MALAM hari ini, alhamdulillah, kita mengadakan ta’aruf sekaligus pembukaan pengajian ramadhan. Pertama-tama, saya sebagai pengasuh pondok pesantren menyampaikan terima kasih kepada peserta pengajian kilatan ramadhan tahun ini. Mudah-mudahan, kehadiran saudara-saudara di pesantren ini, dicatat oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang meghormati ramadhan dengan penuh suka-cita.

Kita tahu, Rasulullah saw ketika menjelang ramadhan berpidato, semua orang yang mendengarakan pidato nabi bergembira-ria. Tetapi, pidato nabi ketika akhir ramadhan, semua orang yang mendengarkan sedih. Nabi ketika awal ramadhan berbahagia, tetapi ketika akhir ramadhan sedih. Kebalikan kita: kalau menjelang ramadhan susah karena tidak makan tidak minum, tapi akhir ramadhan bersenang-senang, bersuka-cita. Nabi tidak, kebalikan dari kita.

Sampai-sampai, nabi bersabda: man faroha biduhuli ramadhan haromallahu jasadahu ‘ala niran; barangsiapa bergembira dengan datangnya bulan ramadhan, Allah haramkan baginya disentuh api neraka. Mudah-mudahan kita digolongkan hadis ini, kita termasuk orang yang bergembira menyambut kehadiran ramadhan.

Pada bulan ini, pahala ibadah kita dilipatgandakan. Jika kamu melaksanakan shalat sunnah di bulan ramadhan, pahalanya dilipatgandakan seperti shalat wajib. Jika kita melakukan shalat dhuha, seperti melaksanakan shalat subuh. Bukan shalat saja, amal sunnah di bulan ramadhan ini diganjar wajib, dilipatkan 70 kali oleh Allah SWT. Maka saya minta semua para santri di pesantren ini untuk memperbanyak membaca al-Quran.

Perbanyak Membaca Al-Quran

Jadi, jika kita ingin saling komunikasi dengan Allah, caranya adalah memperbanyak membaca al-Quran. Ketika kita baca al-Quran, posisi kita sedang diberi fatwa, diberi tausiyah oleh Allah SWT. Maka biasakan dalam membaca al-Quran kita khusuk serta berpakaian sopan, memakai peci serta baju lengan panjang. Para ulama-ulama memperbanyak membaca al-Quran ketika ramadhan. Saya minta santri juga demikian, apalagi setelah shalat berjamaah.

Membaca al-Quran merupakan mujahadah, riyadlah, tirakat. Dengan banyak membaca al-Quran, ilmu kita akan melekat. Maka, al-Quran merupakan perekat atau menurut orang Jawa lem. Bahkan orang mengaji apa saja, namun tidak mengaji al-Quran,  bisa salah mengambil berkah.

Almarhum Mbah Dalhar pernah memberikan tausiyah: man ‘allama ayya kutubin walam yu’allimil Qurana faqad akhtoal barakah; barangsiapa yang mengajarkan kitab [ilmu] apa saja tetapi tidak mengajarkan al-Quran, maka akan salah dalam mencari berkah. Maka, setelah shalat tarawih, kita ada tadarrus al-Quran.

Ilmu apa saja, jika tidak dikasih riyadlah, tirakat, tidak akan masuk dihati kita. Membaca al-Quran ini merupakan bagian dari riyadlah, selain shalat berjamaah.

Kita membaca al-Quran meski tidak mengerti artinya tetap besar pahalanya. Bifahmin am la bifahmin, kata imam syafii, paham atau tidak paham tetap mendapat pahala. Kalau sering dibaca, al-Quran akan membina, membimbing hati dan pikiran kita. Kalau orang sering baca al-Quran, ketika ingin menyeleweng, atau berbuat tidak benar, al-Quran akan membimbing kita. Pertama al-Quran, kedua shalawat. Apabila kita memperbanyak membaca shalwat, otomatis nabi akan membimbing hati kita. Tentu tidak al-Quran dan shalawat saja, termasuk istighfar, tasbih atau kalimat yang berisi pujian-pujian kepada Allah dan Nabi, seperti shalawat burdah, termasuk bacaan lam yah talim. Ini semua akan membimbing kita. Tentu yang membimbing Allah, namun dengan perantara kalimah thayyibah itu.

Dasar Puji-pujian Sebelum Shalat

Maka para santri begitu sudah mengambil air wudhu, segera saja menyebut-nyebut nama Allah baik itu berbentuk bahasa Arab ataupun bahasa Jawa, tidak apa-apa.

Dalam al-Quran ada petunjuk: qad aflaha man tazakka wadzakarasma rabbihi fashalla.  Berbahagialah orang-orang yang sudah mengambil air wudlu. Tazakka ini, mengambil kebersihan, bermakna luas, termasuk berzakat, fitrah dan wudlu. Makanya niatnya: nawaitul wudlua li raf’il hadasil asghari. Membersihkan dari hadas kecil termasuk tazakka. Selesai wudlu, selesai tazakka, wadzakarasma rabbihi fashalla, kemudian menyebut nama Allah, artinya pujian. Kemudian kita shalat berjamaah. Maka, jika kamu setelah wudlu tidak ikut pujian, ada ayat al-Quran yang tidak kalian laksanakan. Jadi berurutan, qad aflaha man tazakka: wudhu, wadzakarasma rabbihi: pujian dan fashalla: itu shalat.

Sehabis shalat, kita berdzikir. Kenapa? Itu adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Saya minta kalau berdzikir biasakan mencontoh orang-orang thariqah walaupun kamu belum thariqah. Tidak apa-apa mencontoh. Laailaaha, digelengkan ke kanan, illallah ke kiri agak menunduk. Jangan asal geleng, bisa kejedot sampingnya. Nanti ada orang habis dzikir kepalanya benjud. Ada aturannya dzikir itu. Biasakan juga ketika dzikir suara dan gerakannya bersemangat, karena kita orang awam. Kalau orang-orang khos, para wali, ulama, dzikirnya kelihatan diam saja, namun hatinya bergerak terus kepada Allah SWT. Kalau kita beda, karena orang awam. Orang awam prosesnya dari luar dulu baru masuk kedalam hati. Kalau berdzikir, suaranya dikeraskan dan badannya digerakan. Jika kita orang awam namun dzikirnya diam saja, itu namanya sok wali.

Dalam kitab Kifayatul Atqiya’ disebutkan, bagi orang awam, berdzikir dengan suara yang jelas dan semangat akan mempercepat masuk hati dan mempermudah mengusir syeitan.

Kalau orang khos itu beda, seperti Mbah Mad [almarhum KH Achmad Abdul Haq] Watucongol misalnya, kalau dzikir diam. Soalnya beliau sudah sampai hati. Kalau kita, jangankan dzikir, shalat saja kadang hati dan fikiran kluyuran kemana-mana. Kita semua, ketika shalat, ingat Allah-nya pas dzikir saja, sampai iyyaaka na’budu sudah kluyuran fikirannya. Kita harus berbuat apa adanya bahwa kita ini orang awam. Justeru kalau orang berbuat apa adanya, ilmu cepat masuk.

Lestarikan Budaya Jawa – Islam

Kemudian, kita orang Ahlussunnah wal Jamaah, Nahdlatul Ulama, yang menerima adat istiadat(‘urf). Oleh karena itu, adat istiadat yang sudah berjalan di Berjan sejak jaman Mbah Zarkasyi, Mbah Shiddieq, Mbah Nawawi, jika pujian Jawa menjelang shalat isya di bulan ramadhan, saya minta untuk tidak diganti. Astagfirullahal adzimmm…. Astagfirullahal adzimmm…Innallaha ghafurur rahim…Allah-Allah kulo nyuwun ngapuro dst, itu yang menyusun wali. Santri yang dari luar Jawa, yang tidak bisa bahasa Jawa, justru mendapat nilai tambah.

Kemudian, sehabis tarawih dan wiridan, tidur [menabuh bedug dengan irama khas] disertai membaca shalawat tetap diadakan. Ini nuansa ramadhan, jangan dihilangkan.

Tidur ini pernah mengusir penjajah. Waktu itu [jaman penajahan], orang Belanda sedang keliling ke desa-desa. Belanda mendengar suara santri yang sedang menabuh bedug. Belanda bertanya kepada penduduk, itu suara apa? Penduduk menjawab, itu suara santri sedang tidur! Kemudian Belanda lari terbirit-birit, tidur-nya saja suaranya seperti itu, apalagi kalau bangun?

Kemudian juga malam, sehabis pukul 00.30, tidur tetap dilaksanakan, seperempat jam saja. Tolong ini dibudayakan.

Kemudian untuk pujian waktu dzuhur juga jangan diganti. Dzuhur itu pujiannya shalawat yang apabila kita membaca sekali saja, pahalanya seperti membaca shalawat yang jumlahnya seperti jumlah seluruh daun-daun di dunia, baik yang masih basah, kering atau rontok. Namanya shalawat Auraqil Asyjar.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ اَوْرَاقِ اْلاَشْجَارِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلاَنْصَارِ

Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin ‘adada aurāqil asyjāri wa ‘alā ālihi wa ashhābihi almuhājirīna wal anshāri.

Shalawat ini adalah shawalat yang sudah mu’tabar. Saya pernah di daerah Banten menjelang shalat dzuhur, pujiannya shalawat ini dan lagunya juga persisi seperti ini. Saya juga pernah ke Banyuwangi di daerah Brasan, orang tuanya KH Nur Iskandar SQ, pujiannya seperti ini. Dari Banten sampai Banyuwangi membaca shalawat ini. Tolong shalawat ini supaya jangan ditinggal.

Kemudian pujian maghrib, lam yahtalim, tanpa maulayashal. Kalau kamu hafal lam yahtalim, yang barisan ke-enam disebutkan: hadzil khasaisa fahfadha takun amina min syarri narin wasuraqin wamin mihani. Barangsiapa yang hafal khushushiyyah nabi yang 10 ini, aman dari kebakaran dan pencurian, termasuk kecopetan dan selamat dari semua ujian. Saya sejak kecil seudah hafal lam yahtalim. Saya minta semua santri hafal. Soal lagunya bebas. Lagu itu kan wadah. Islam tidak mengatur wadah, yang penting isinya. Diselang-seling, antara lagu kuno dan modern. Menggunakan lagu kuno berarti kita menghargai karya orang dulu. Namun lagu modern juga penting. Tidak bisa lagu modern tidak punya inovasi namanya. Jadi, kuno bisa, modern bisa.

Lam yahtalim qattutaha mutlalaqan abada wama tasaaba aslam fi mataz zamani, minhu dawabu falam tahrab wama waqa’at, dhubabatun abada fi ismihil hasani, wa qalbuhu lam yanam wal ‘ainu qad na’asat falam tahrab wama waqa’at,

Saya minta, puji-puian untuk tidak dirubah. Kalau subuh pujiannya Baqiatus Shalihah.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَاِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ آمَنْتُ بِاللهِ وَمَلاَ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلاٰخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى

Subhānallāhi walhamdulillāhi walā ilāha illallāhu wallāhu akbaru lā haula walā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘adhīmi. Āmantu billāhi wamalāikatihi wakutubihi warusulihi wal yaumil ākhiri wabilqadari khairihi wasyarrihi minallāhi ta’ālā.

Kemudian, sehabis maghrib dan subuh, jangan tinggakan membaca: ya hayyu ya qa qayyum la ilaha illa anta. Ini membuat mandiri. Orang kalau banyak berdzikir, banyak membaca nama Allah dan nama-nama nabi, pikirannya hidup, punya banyak kreasi. Orang Kalau jarang membacanya, beku pikirannya. Dalam memnbaca, kita musti semangat. Idzil fata hasba’tiqadihi rufi’ wa kullu man lan yantaqid lam yantafi’. Kalau kita semangat, Allah semangat memberi petunjuk kepada kita. Ngaji juga semangat, jamaah semangat, jangan semangatnya ketika mau makan saja. Bahkan semangat dalam beribadah itu sunnah. Dalam kitab fiqh dijelaskan, ketika mau shalat berjamaah, sunnah dengan trengginas, semangat.

Keutamaan Melanggengkan Wudlu

Anjuran saya, sehabis wudlu, air wudlunya jangan di lap. Biarkan dia kering sendiri, jangan diusap dengan handuk. Ini menjadikan hati tenteram dan fikiran terang. Dan kalau sudah punya wudlu, biasakan jangan mudah untuk dibatalkan. Kadang ada, yang berangkat sekolah punya wudlu, namun sesampai di sekolah malah jawil-jawilan, senggol-senggolan dengan cewek. Itu tidak benar. Kalau kita banyak maksiat, ilmu sulit untuk masuk. Hanya faham diterangkan, namun tidak sampai ke hati. Kan dalam kitab  Ta’limul Muta’alim disebutklan: sakautu ila waqiin su’a hifdzi, faarsyadani ila tarkil maasi.

Setelah berwudlu, kita pertahankan untuk tidak batal. Ini namanya mudawamatul wudlu. Namun jika mau kentut, ya jangan ditahan, ini malah makruh, malah akan menjadi penyakit. Mudawamatul wudlu itu bukan menahan kentut, namun wudlu lagi setiap kali batal. Dan Orang yang mudawamatul wudlu, rizqinya dilapangkan oleh Allah SWT. Maka Nabi mengatakan: dum ala thaharah yuwassa’ alaika rizqu; langgengkanlah berwudlu maka akan dilapangkan rizkimu.

Dalam kitab Ta’limul Muta’alim dikatakan, ilmu itu nur, wudlu juga nur. Ilmu jika di tambah wudlu, semakin terang, tambah faham. Maka kalau mau berwudlu, jangan malas.

Bahkan, air wudlu itu bisa untuk menyembuhkan penyakit. Wadlu itu, air wudlu. Jadi, jika ada yang mau mengumpukan, bisa untuk pengobatan berbagai penyakit. Jika kamu malas, dengan wudlu akan semangat. Biasakan kita berwudlu, kan air juga tidak beli.

Jangan Lengah

Kemudian, kepada para pengurus, ketika santri dan pengurus tarawih, jangan lupa ada petugas yang jaga. Keamanan jangan lengah. Kalu ada tamu-tamu yang mencurigakan, saya minta untuk waspada. Apalagi, sekarang polisi menyebar intel-intel di pesantren, kalaupun dikhawatirkan ada teroris yang masuk pesantren. Kita harus ekstra hati-hati.

Generasi Muda Islam Harus Punya Idola

Kemarin, empat hari lalu, saya diwawancarai wartawan Global TV. Sudah ditayagkan dua hari lalu. Ada enam kiai di Jawa Tengah yang diwawancari terkait dengan teroris. Di [Eks Karesidenan] Kedu, KH Abdurranman Chudlori Tegalrejo dengan saya. [ada juga] Habib Lutfi Pekalongan, Mbah Sahal Pati.

Saya ditanya: “bagaimana cara pembinaan terhadap generasi muda islam yang sudah mengikuti teroris atau khawatri dipengaruhi terosi?”. Saya jawab: “caranya diberi pemahaman Islam yang benar, jangan sepotong-potong. “Menurut kiai, hubungan teroris dengan silam bagaimana?”, tanyanya lagi. “Islam adalah sesuatu, teroris adalah sesuatu yang lain. Islam tidak identik dengan teroris”, jawab saya.

Kemudian saya katakan, generasi muda Islam harus punya idola seorang ulama yang bisa memberikan pemahaman keagamaan yang tepat. Sayangnya, anak-anak muda kita tidakak punya idola ulama, idolanya Mbah Surip dan Ahmad Dhani. Anda mau mencintai Mbah Surip, Ahmad Dhani, silakan. Tapi ulama, jangan sampai tidak dijadikan referensi.

Nah, ulama-ulama Indonesia yang dikenal pemahaman keagamaanya sangad valid dan akurat, saya kasih contoh. Pertama, Dr KH Ma’ruf Amin. Itu idola kita. Kedua, Dr KH MA Sahal Mahfudz [sekarang sudah almarhum-ed.], dan ketiga, KH Maemoen Zubair. Mereka bertiga ini pemahaman keagamaannya utuh sekali. Sayangnya kadang kita melihat ulama itu, mereka yang muncul di televisi. Padahal, ulama yang sesungguhnya itu jarang yang muncul di televisi. Anda mau mencintai ulama di televisi silakan, tapi di televisi, yang benar-benar alim terbatas. Di televisi, yang alim adalah Prof Dr Quraish Shihab. Itu alim betul. Yang lain sedang-sedang saja. Yang sering di televisi itu kan yang mau berkompromi dengan pihak televisi, seperti halnya orang yang sering tampil di surat kabar itu. Kamu jangan kemudian menganggap yang muncul di televisi itu valid, jawaban ilmiahnya belum tentu. Makanya, jadi santri jangan malas belajar.

Budayakan Membaca Buku

Di toko buku dan kitab selatan, sudah saya kasih petunjuk, kalau kamu ingin beli buku-buku hasil bathsul masail. Sehari kamu hafalkan satu masalah, dalam seminggu kamu menghafal lima masalah. Pertanyaan sekalius jawabannya sudah ada. Dalam sebulan kamu hafal 20 masalah. Dalam setahun sudah berapa, kamu sudah seperti syuriah NU. Dulu mbah mahrus juga menganjurkan santri begitu. Ada kumpulan bathsul masail NU, Ahkamul Fuqaha dari Muktamar NU pertama sampai terakhir, ada kumpulan bathsul masail thariqah, ada kumpulan bathsul masail Lirboyo, Sarang, ada 100 Masalah Agama 6 jilid, Tanya Jawab KH Syafi’i Hadzami, seorang alim yang juga pengasuh radio Cendrawasih di Jakarta. Itu orang alim. Kalau kita bicara orang alim di Jakarta, ya KH Syafi’i Hadzami. Ada 40 Masalah Agama karangan KH Sirajuddin Abbas, 4 jilid. Ada juga buku-buku karangan KH Muhyidin Abdussomad.

Hanya, sayangnya kamu pada kurang gemar membaca. Santri-santri Berjan ini kurang gemar membaca. Beberapa buku-buku itu perlu kamu miliki dan baca. Dan buku-buku itu semuanya dalam koridor Ahlussunnah wal Jamaah. Semuanya saya minta, baik santri putra maupun putri, semangat membaca itu harus ada. Ada yang bilang, semangat baca sudah ada, semgangat beli yang belum. Setiap kiriman, sisihkan untuk beli buku satu. Setiap bulan tambah buku, lalu kita baca.

Ketika masih di pesantren, buku-buku saya juga banyak. Padahal, dulu buku terjemah belum semudah sekarang. Ketika itu, terjemahan Alfiah baru ada satu: Masalik, terjemahan ‘Imriti baru satu: al-Ghurratus Sanniyah. Sekarang sudah banyak. Dulu, Musykilat, hal-hal yang musykil dalam Amsilatut Tashrifiyah belum dibukukan, sekarang sudah ada.

Malu pada Generasi Dahulu, Jika…

Makanya, kalau kamu sekarang mengaji, belajar, – mohon maaf – kalau  keberhasilannya tidak seperti ulama dulu, kita malu. Ulama dulu dengan segala keterbatasannya, mereka berhasil. Coba banyangkan, KH Abdul Karim Lirboyo ketika berangkat ke pesantren, orang tuanya tidak memberi bekal, berangkat sendiri. Pertama nyantri di Pesantren Sono Nganjuk, satu tahun belum diajar mengaji. Oleh sang kiai, satu tahun hanya disuruh merumput dan memandikan kudanya. Itu merupakan rasa khidmah, dediskasi dengan kiai.

Jadi, pesantren itu bukan lembaga pemdidikan yang umum, karena  ada nilai khidmah, dedikasi, istilah Jawa-nya nyuwito. Maka, di pondok-pondok salaf ada kerja bakti di tempat kiai, ro’an. Ketika di pesantren dulu, saya mengaji di ndalem Mbah Marzuki [KH Marzuki Dahlan], duduk diatas jagung-jagung. Pagi mengaji Tafsir Jalalain, kalau siang Ihya Ulumuddin. Ngajinya, tangan kanan ngesah-sahi [memaknai] kitab, tangan kiri merontokkan jagung. Ketika saya di pesantren, ngesah-sahi kitab sudah satu pusingan, tidak seperti sekarang. Harus beli tinta Arab,  terus digosok beberapa hari, kemudian mencari klamat dari hati debog [pohon] pisang, dan masih mengasah pen yang kadang sampai tiga hari. Bayangkan, jerih payah santri dulu seperti itu. Maka, kalau kamu di pesantren tidak berhasil, malu dengan kiai dulu. Mereka dengan jerih payahnya, kekurangannya, bisa berbasil, mengapa kita tidak berhasil. Belum lagi pada zaman Syekh Nawawi Banten atau Mbah Hasyim Asy’ari.

Pada zaman Imam Syafi’i, lebih berat lagi. Ketika Imam Syafi’i mengaji, kertas masih jarang. Imam Syafi’i kalau mau ngaji, mencari pelepah kurtma telebih dulu. Bahkan kadang membawa tulang-belulang. Bayangkan, berangkat ngaji membawa tulang-belulang. Lama kelamaan, rumah beliau dipenuhi tulang, sampai ayahnya judeg, ingin membersihkannya. Kemudian Imam Syafi’i minta dua hari dua malam untuk menghafalkan semuanya. Hafal. Masuk hati dan fikiran. Kemudian beliau menyilakan ayahnya untuk membuang catatan ilmu yang ia dapat dari guru-gurunya. Maka akhirnya Imam Syafi’i mengatakan: al-ilmu fis-shudur la fis-suthur, ilmu itu apa yang ada di dalam hati, bukan tulisan. Beliau ulama yang luar biasa. Tujuh tahun sudah hafal al-Quran, 9 tahun hafal Hadis Muwatta’, sebelum baligh hafal 70.000 hadits. Maka, kita sangat malu kalau kita tidak berhasil.

Jangan Malu, Harus Bangga Mengaji!

Dan kamu jangan merasa hina, jangan merasa kecil hati, remeh, karena kamu mengaji. Kadang, orang sekarang, kalau ditanya di jurusan agama itu malu, pede-nya di jurusan umum. Belajar “ilmu-ilmu umum” silakan, tapi sebagai insan yang terpanggil imannya, imannya tebal, jangan sampai malu di jurusan agama. Silakan kamu mau pinter komputer dll, tapi agama ini esensi yang akan dibawa ke akhirat. Ini yang sangat esensi dan tidak kita tinggal. Kita kan punya keimanan: alladzina yu’ minuna bil ghaibi. Kita hidup tidak hanya di dunia. Justru alam kubur, alam barzah, akhirat, lebih panjang dari dunia. Ini supaya dicamkan betul.

Maka pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini – seperti saya sampaikan kemarin di pengajian hari ahad – kita akan punya tamu agung. Tamu itu bernama ramadhan, dan tamu itu membawa oleh-oleh tiga hal. Sepuluh hari awal, oleh-olehnya rahmah. Oleh-oleh sepuluh yang kedua, magfirah. Dan oleh-oleh sepuluh hari tetakhir adalah ‘itqun minan-nar.

Biasakan menghormati tamu.

Saya ingin, pada tanggal 16 ramadhan, semua kitab yang dibaca telah selesai. Sekaligus sewelasan, malam 17 nanti saya niati memperingati nuzulul quran, tahlilan untuk mengirim Fata dkk, sekaligus tasyakuran khataman kitab yang dibaca di bulan ramadhan ini.

Keutamaan Membaca Shalawat Ulhidhuhu Biyadih

Sembelum ditutup, saya ingin mengajak kalian semua mmbaca shalawat bersama-sama. Shalawat itu banyak. Setiap malam jumat, disini membaca shalawat Ulhidhuhu Biyadih. Shalawat ini yang menyusun nabi sendiri.

Allahumma shalli ‘ala Muhammadin

Annabiyil ummiyil habibil ‘Ali

Alqadril ‘adzimil jahi wa’ala alihi

Wa’ala alihi wa shahbihi wasallim

Maka, Nabi dulu mengatakan: barangsiapa yang malam jumat membaca shalawat ini walaupun hanya sekali, besok ketika meninggal dunia, kata nabi, “aku yang akan menempatkan di liang lahat dengan tanganku sendiri”. Alangkah nikmat dan indahnya ketika kita masuk di liang lahat, kubur, nabi ada disitu. Termasuk ikhtiarnya, kita membaca shalawat Ulhiduhu Biyadih setiap malam jumat. Ini termasuk wirid yang dulu sering dibaca Bapak [KH. Nawawi].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: