Tahukah kamu, kasih, semalam tadi aku kembali ke rumah bercat hijau di Kasihan, Bantul, Yogyakarta itu. Rumah yang menjadi saksi kehangatan kita, atau minimal kehangatanku saja. Di rumah yang dijadikan warung itu, bayangmu yang biasanya hanya menggodaku, kini hampir membunuhku. Tanggal 17 Mei 2016, mengingatkan perjalanan kita membelah malam tanpa tujuan waktu itu: 17 Agustus 2015.

Untung, ketika sampai dirumah depan forum maiyah itu, kemudian Muhammad Ainun Nadib atau Cak Nun naik ke atas panggung. Sosok guru bangsa itu minimal menyelimurku dari ingatanku yang tak henti mengingatmu. Sehabis memesan kopi dan rokok, aku duduk menyimak, di beranda rumah itu, rumah yang dulu kau menawariku makan sepiring berdua, dan juga menawarkanku bantal untuk istirahat, meski kau belum mengenal penghuninya.

Kini, perjalananku di Macapat Syafaat itu akan kuceritakan padamu. Semoga kau membacanya, dan mengambil apa yang bisa diambil manfaatnya.

Di malam itu, Cak Nun membawa seorang “peshalawat cilik” yang masyarakat Indonesia mengenalnya: Sulis. Kini ia telah dewasa. Sulis kemudian diberi “kemerdekaan” atau “kebebasan” oleh Cak Nun untuk menyanyikan atau berbuat apa saja di panggung-level dengan background bertuliskan Macapat Syafaat itu. Sulis bershalawat dengan indahnya. Sesekali ia dicandai dan dikerjai personil Kiai Kanjeng. Shalawat yang dibawakannya diselingi lagu-lagu Jawa. Cekakan dan riuh dari jamaah maiyah pun tak henti, benar-benar malam yang membahagiakan. Bahagia yang murni dan sederhana.

Setelah menyenandungkan beberapa lagu, pelantun Ya Thaibah itu mengungkapkan isi hatinya. Ia, katanya, baru kali itu merasakan menjadi “manusia seutuhnya”. Dalam forum itu, ia merasa dihargai dan dimanusiakan, tanpa paksaan. Kemudian karena bahagianya, ia membawakan lagu yang tak pernah atau belum pernah ia bawakan di panggung lain, namun berkesan dalam hidupnya. Pertama, lagu Asmara yang dipopulerkan Novia Kolopaking, serta lagu Jawa lir – ilir dan Prau Layar. Ia juga bangga, setelah tak “mendapat tempat” di paggung musik tanah air yang kini cenderung mengangkat pop-industrialistik, maiyah masih menerimanya, menghargainya. Ia juga mempersembahkan sebuah lagu untuk gurunya: Cak Nun dan mentornya Haidar, berjudul Da’uni.

Oh iya, Mas Doni, dimalam itu, mengajak duet Sulis menyanyikan lagu Leaving On A Jet Plane-nya John Denver yang dicover dan dipopulerkan Chantal Kreviazuk. Di Indonesia, lagu ini sering dibawakan oleh Dera Idol. Romantis banget lagunya. Andai saja suaraku bagus, tentu akan kunyanyikan lagu ini untukmu.

Kemudian Cak Nun keatas panggung. Ia meminta Kiai Kanjeng memberi beberapa nomor untuk meyegarkan suasana. Penampilan Kiai Kanjeng sungguh menghipnotis jamaah yang hadir, tak terkecuali Sulis. Doni, vokalis Kiai Kanjeng membawakan lagu-lagu Nusantara sampai Barat diiringi musik gamelan. Satu per-satu personil tampil dengan kebolehannya membawakan alat musik. Tepuk tangan riuh menggema dari arena.

Tak ada yang menyana, ketika lagu daerah Papua dibawakan, dua orang dari Papua maju keatas panggung. Mereka berdua seperti terharu, merasa dihargai, dan langsung ikut bernyanyi dengan girangnya. Melihat peristiwa itu, aku semakin yakin bahwa dialog budaya adalah salahsatu hal yang penting dan mulai hilang di negeri ini. Sungguh, majunya dua orang papua hanya karena lagunya dinyanyikan, merupakan bukti nyata ampuhnya budaya dalam merajut kebersamaan dan menambal baju kebangsaan yang kini mulai robek karena kepentingan.

“Majunya dua teman kita ini jangan dianggap peristiwa biasa. Siapa yang merencanakannya dan bagaimana dua orang ini bisa sampai disini? Silakan maknai sendiri, jangan sampai ada peristiwa yang lepas kita ambil pelajaran dan campur tangan Allah di dalamnya”, tegas Cak Nun berkomentar.

Kemudian shalawat badar menggema di arena. Setelah dilantunkan secara koor oleh jamaah maiyah, Kiai Muzammil meluruskan kesalah-kaprahan bacaan. “Yang pertama itu bukan bi ahlil badri ya Allah, tetapi wa ahlil badri ya Allah“, katanya. Ia kemudian menerangkan asal mula shalawat ini. “Ini shalawat yang hebat. Terkenal. Siapa penciptanya? bukan orang Arab, Yaman atau Maroko, tetapi orang Banyuwangi. Hebat bukan ulama Nusantara?”, jelas Kiai yang doyan humor ini. Kemudian, beliau mengupas sejarah Shalawat Badar secara singkat.

Awalnya, lanjut Kiai Muzammil, adalah pada tahun 1962, ketika seorang ulama bernama KH. Ali Mansyur bermimpi melihat orang-orang berbaju putih berjubah hijau. Kemudian, istri beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad saw. Esok harinya KH Ali menemui Al-Imam Al-Habib Hadi Al-Haddar Maula Banyuwangi dan menceritakan mimpinya kepada Habib Hadi, dan Habib Hadi mengatakan bahwa orang orang yang datang di mimpimu itu adalah para ahli Perang Badar, perang yang legendaris: Islam berkekuatan 313 pasukan melawan 10.000 tentara kafir dan menang. Lalu, dengan langsung mendapat “bimbingan langit”, tangan KH Ali Mansyur berjalan menuliskan Shalawat Badar, yang di kemudian hari juga masyhur dengan nama Sholawat Badriyah.

Esok harinya, banyak para tetangganya dan orang orang kampung yang mengirimi bahan makan mulai dari beras, daging, sayur-mayur dan lain-lain. Kiai Ali merasa heran dan bertanya kepada mereka yang mengirimi bahan makanan tersebut, dan jawaban mereka semua sama: “pada Subuh tadi datang orang berjubah putih memberitahukan bahwa di rumah Kiai Ali akan ada Acara besar”

Merasa heran dan penuh tanda tanya, itu yang terjadi dalam diri Kiai Ali. Dan mengherankan lagi ada orang yang tidak dikenal ikut juga mempersiapkan acara tersebut.

Di pagi-pagi sekali Rombongan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dari kwitang datang kerumah Kiai Ali dan ternyata inilah jawaban atas rasa penasaran beliau, betapa senangnya KH Ali mendapat kunjungan Ulama besar yang dikagumi oleh Umat Islam Indonesia dan merupakan hal yang teristimewa kejadian tersebut terhadap Kiai Ali atas kunjungan Al-Habib Ali dan Rombongannya.

Didalam kunjungan tersebut tercatat dalam buku kecil Kiai Ali, beliau  mencatat kejadian tersebut pada Hari Rabu pagi tanggal 26 September tahun 1962 jam 8 pagi.

Pada kesempatan itu dibacakan Maulidul Azab dan ceramah agama. Diantara yang memberikan ceramahnya adalah Al-Habib Ali Al-Habsyi kwitang, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dan Al-Habib Salim bin Jindan. Dan setelah itu Habib Ali mengundang Kiai Ali dalam Majlisnya di Jakarta pada Hari minggu yang dihadiri banyak para Alim Ulama dan Habaib serta beribu-ribu umat Islam dalam undangan tersebut. Semenjak itu, Shalawat Badar tersebar luas ke berbagai pelosok negeri.

Selain itu, kasih, shalawat ini ditulis Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ibadah Sepanjang waktu
Dalam pada itu, kasih, Cak Nun memepersilakan Kiai Muzammil menerangkan tafsir sebuah ayat al-Quran: wamaa khalaqtul jinna wal insaan illaa liya’budun; Allah tidak menciptakan manusia kecuali hanya untuk beribdah kepada Allah. “Allah tidak menggunakan redaksi: khalaqtul jinna wal insaan liya’budun; Kuciptakan jin dan manusia untuk menyembah kepada-Ku. Ini ada penegasan yang sangat kuat, bahwa manusia diciptakan, sepanjang waktu hanya utuk beribadah. Jika diibaratkan seorang lelaki yang berkata kepada wanita: aku tidak mencintai seseorang kecuali hanya kepadamu. Ini benar-benar eksplisit, beda dengan: aku cinta kepadamu. Redaksi yang terakhir ini, masih ada kemungkinan mencintai perempuan lain. “Jadi, Mbak, kalau ada lelaki yang bilang kepada anda: aku cinta padamu, jangan mudah percaya, karena bisa juga mencintai yang lain”, jelas aktivis bathsul masail PWNU DIY ini panjang lebar.

Keterangan ini baru bagiku. Juga qiyas [analogi] Kiai Muzammil yang mengunakan sepasang kekasih untuk menjelaskan ayat, cukup logic dan acceptable dalam mendalam sepotong redaksi al-Quran. Entah mengapa, aku jadi teringat padamu yang setiap hari bertengger dihatiku. Sampai-sampai terbesit dihatiku, jika Tuhan tak menyatukan kita, semoga kau mengijinkanku untuk terus menyayangimu. Dengan caraku.

Kemudian Cak Nun menambahkan, bahwa ibadah itu ada yang mahdlah dan ghairu mahdlah. Ibadah mahdlah tidak boleh dirubah, beda dengan ibadah ghairu mahdlah yang bisa dikreasikan serta dilakukan kapan saja dan dimana saja, mulai dari senyum, bekerja, berdagang, mengelola negara sampai afdhalu dzikri: laailaaha illallah. Maiyah ini, lanjut Cak Nun, adalah salahsatu cara agar apa yang kita pikirkan dan lakukan selalu dalam kerangka ibadah dengan cara mentransendensikan kepada-Nya.

“Jika Tuhan tidak menciptakan kita kecuali hanya untuk beribadah, itu berarti 24 kita harus selalu beribadah. Sedangkan al-Quran dan hadits itu bersifat universal dan dunia selalu berkembang. Maka kalau kita mau beribadah dan selalu harus ada dalilnya, kita bisa modyar. Tentang bagaimana harusnya posisi berak, membuat jejaring sosial, menaati rambu lalu lintas dijalan, tak perlu mencari dalilnya”, ungkap Cak Nun. Intinya, jika dalam 24 jam setiap harinya, kita harus beribadah. Dan jika semua yang kita lakukan dalam 24 jam itu harus ada dalilnya, maka kita bisa matek!

Penjelasan yang renyah dan segar, bukan? Andai saja dimalam itu kau bersamaku, tentu akan terpingkal-pingkal mendengar ceramah berbalut seni dan humor Cak Nun yang membuat otak plong. Juga, ritual-ritual khas maiyah seperti “chasbunallah wan ni’mal wakil ni’mal mawla wani’man nashir” dan “duh gusti” yang membuat hati melayang-layang ke awan, begitu menenteramkan, begitu mendamaikan. Namun tak apalah, hari-hari esok masih memberikan harapan untuk kita miliki.

Di akhir-akhir sesi, Cak Nun menegaskan kepada jamaah maiyah untuk terus ber-khusnudzan kepada Allah. Bahkan, beliau berdoa agar kita semua selalu diberi kemampuan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Ketika beliau menjelaskan ini, kasih, terbesit dalam hatiku, bahwa kaulah jodohku. Aku mencoba berprasangka baik saja kepada Allah. Kuserahkan urusan itu kepada-Nya.

Oh iya, ada yang lupa. Dalam pada itu, beliau juga sempat menjelaskan kata yang popular diucapkan dihari pernikahan: sakinah, mawaddah wa rahmah. Pertama, beliau tidak setuju dengan tren yang menyingkat kata-kata itu menjadi samawa. Itu merubah arti. Kedua, bahwa sakinah itu merupakan buah atau dari mawaddah dan rahmah. Jadi, dalam penyebutan, idealnya sakinah menempati posisi yang terakhir: mawaddah, rahmah dan sakinah. Hal ini, menurut Cak Nun, karena mawaddah dan rahmah itu adalah modal, sudah ada dalam diri manusia, sedangkan sakinah  adalah sesuatu yang dinamis dan perlu diperjuangkan. “Dengan bekal mawaddah dan rahmah, semoga menjadi keluarga yang sakinah. Begitu semestinya”, ungkap Cak Nun.

Dengan pengertian itu, kasih, semoga kelak kita bisa mencapainya. Bermodalkan ikatan suci, cinta dan kasih sayang, kita mencapai ketentraman dan kedamaian dibawah naungan Tuhan. Amin ya rabbal ‘alamin.[]

[ditulis 18 Mei 2016 dan diselesaikan 22 Mei 2016, ditengah kebahagiaan atas kesanggupan seseorang untuk melangitkan doa kepada diri ini]