KECUALI satu jendelanya yang hilang entah kemana, sebuah rumah kontrakan tua di Jl Sibak No. 18 Purworejo itu juga sering diibaratkan kapal pecah. Namun, dari tempat sederhana itulah, sekelompok pemuda yang ingin maju, berkumpul setiap bulannya membahas pelbagai hal baik yang tekait diri, lingkungan, masyarakat, negara, ekonomi, politik, budaya dengan lambar agama. Pesertanya datang dari berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, status sosial dan menyatu dalam tag line: mau bersama-sama dengan orang yang tidak sama.

Di tempat itu, tepat pada malam pergantian tahun 2011, mereka mendeklarasikan Jamaah Maiyah Purworejo dengan nama Wolulasan. Ditengah ribuan pemuda sedang hura-hura merayakan tahun baru, mereka memilih “jalan berbeda”. Mereka mengawali forum dengan berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tadarrus, diskusi dengan menyelingi musik dan puisi. Ketika masjid sudah “cek sound” tarhim subuh, mereka baru mengakhiri dengan “Mars Maiyah”: chasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wan ni’man nashir dan duh gusti. Jelas, para pemuda ini bukanlah orang yang iseng mendirikan forum tersebut. Mereka adalah para pegiat yang selama ini datang ke Kasihan, Bantul, Yogyakarta di tanggal 17 malam, serta mengikuti Maiyah dari berbagai media.

Kini, dalam usianya yang sudah lima tahun, Forum Rembug Wolulasan, begitu nama grup fesbuknya, dengan segala dinamikanya telah mengadakan 66x pertemuan. Ada kalanya forum ini ramai diikuti berpuluh-puluh orang [belum mencapai ratusan], namun beberapa kali hanya bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Meski demikian, kekonsistenan Wolulasan untuk selalu mengadakan forum tersebut, minimal menunjukkan keseriusan tersendiri. Tak ada panitianya, yang ada hanyalah koordinator dan beberapa “pawang”. Untuk soal snack, minuman dan rokok, mereka biasa bantingan secara insidentil di awal forum.

Lukman Khakim, koordinator awal forum ini, selalu menjelaskan kepada jamaah baru terkait Wolulasan. “Ini forum kita dalam menempa diri dan belajar bersama. Tidak ada narasumber disini, semua menjadi narasumber sekaligus peserta. Kita tidak mencari siapa yang benar tetapi apa yang benar. Kita mendiskusikan apapun, tembelek saja disini bisa menjadi ilmu. Kita bahas problem dan keadaan diri kita, sekitar kita dan apapun itu. Jangan sampai ada suatu peristiwa yang tidak kita ambil ilmunya. Semua kita gesek dalam dinamika keilmuan kemudian ditransendensikan kepada Tuhan”, ungkapnya.

Memang, dimanapun Jamaah Maiyah tak terlepas dari sosok Cak Nun (CN), khususnya dalam soal cara berpikir, kemurnian dan dialog budaya-agama. Pun demikian dalam forum Wolulasan. Dalam cara perpikir, CN mendekonstruksi secara radikal cara berfikir logis-filosofis, antara Barat-Jawa-Islam yang kabur tergerus modernitas, tanpa terseret logika modern secara total. “Identitas diri” memiliki signifikansi untuk tetap dijaga, selain karena kita dijadikan atau dilahirkan menjadi orang Jawa (Indonesia) adalah sebuah takdir. Tak ada satupun hal di dunia ini yang tidak terkait dengan Allah. Cara berpikir yang semua ditransendensikan kepada Tuhan ini, seakan menjadi oase ditengah padang pasir kehidupaan. Allah-lah yang menjadi patokan dalam berfikir dan bertindak, baik dalam bekerja, berkesenian, sampai bernegara.

Kemudian, soal kemurnian yang hampir punah dari muka bumi. Menurut CN, orang hari ini tidak memiliki pengalaman tantang kemurnian. Mereka sudah terbiasa menyangka “ada udang dibalik batu”. Dalam hal apa saja, dari perilaku diri ataupun dunia ekonomi, budaya, agama, apalagi politik, hampir selalu menunjukkan “ada udang dibalik batu”. Orang begini-begitu karena ada maunya. Partai berbuat baik karena ada maunya. Bahkan institusi agama memberi bantuan korban bencana juga membawa bendera. Nah, di Maiyah diajarkan kembali agar jamaah memiliki kemurnian atau belajar menjadi orang murni. Kita tidak bisa menjadi orang yang suci, tapi justru karena kita tidak suci itulah kita mencoba sedikit-sedikit menabung kesucian. Misalnya, membantu orang tanpa pamrih atau amal-shalih lain kepada sesama manusia untuk kita jadikan tabungan kesucian kepada Tuhan.

Soal dialog budaya-agama, adalah nilai-nilai lama yang digunakan Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam yang santun. Dalam hal ini, CN sering memberikan kerangka: Jawa digawa, Arab dirawat, Barat diruwat. Kemampuan untuk mengelaborasi dan mendinamisasikan unsur budaya sebagai sarana yang ampuh untuk menyampaikan pesan dan “melawan” inilah yang dewasa ini hilang. Semua unsur, institusi, disiplin ilmu, profesi dan pelbagai “jalan kehidupan” seakan berdiri sendiri-sendiri dan tercerabut dari Tuhan. CN dengan dialog budayanya mampu mengelaborasi dengan apik, baik melalui Kiai Kanjeng-nya maupun gagasan dan pandangan-pandangannya yang utuh (komprehensif). Ketiga unsur inilah, minimal, yang diadopsi oleh Wolulasan dalam-rangka mereproduksi dan memproduksi gagasan-gagasan baru serta sebagai alat “ijtihad” dalam membaca peristiwa.

Dalam Wolulasan, ada sajian intelektualitas, spiritualitas dan kolektivitas (harmoni sosial) yang dipadukan menjadi ramuan yang menjadi obat dan lentera dalam jiwa. Di umurnya yang sudah lima tahun, pegiat Wolulasan Maiyah Purworejo mencoba berbenah diri. Secara administratif, mulai ditentukan pembuat tema, notulen untuk mereportase dan menyiapkan “pakar”, “inovator” atau “pejuang” di bidangnya sebagai pemantik diskusi dan inspirasi. Para pegiat Wolulasan juga sedang berkeinginan tampil secara terbuka kepada publik. Sudah beberapa kali dilakukan, khususnya ketika Anjar Duta menggawangi Musik Edukasi bersama Letto dengan menyelenggarakannya di Aula Pendopo Kabupaten Purworejo. Namun pasca itu belum bisa kembali ke khalayak ramai. Meski demikian, “orang tua dan sesepuh” serta tokoh masyarakat petinggi kabupaten, selalu berminat datang di forum ini. Semoga, Forum Wolulasan Maiyah Purworejo kedepan terus ada perbaikan.

Terakhir, kami mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah melahirkan CN ke tengah-tengah masyarakat Indonesia, menjadi guru bangsa dan “tongkat tegak” sandaran nurani-logika dan kemurnian manusia. Semoga, dimana-mana akan lahir CN-CN baru dari Jamaah Maiyah yang tentu dalam kapasitas, proporsi dan skala yang berbeda. Lahir tokoh-tokoh yang mampu mendinamisasikan keadaan, mampu berdialog bil hikmah dan mau’idlah chasanah serta mampu ber-mujadalah dengan ontologis, opistemologis serta aksiologis yang baik dan benar sesuai visi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.[]

[Tulisan ini merupakan salahsatu judul yang dimuat dalam buku “Kado Ihtifal Maiyah: Catatan Reflektif Perjalanan Maiyah”, [Kado 63 tahun Mbah Guru Muhammad Ainun Nadjib], terbitan Jamaah Maiyah Nusantara, Mei 2016]