AKU yakin, bahwa tak ada satupun kejadian di dunia ini yang tidak ada hikmahnya. Peristiwa apapun, termasuk yang oleh maenstrem orang dianggap tabu, negativ dan bahkan kriminalistik, bisa dicerdasi dan diambil ilmunya. Perkara belum ketemu apa dibalik itu, tentu itu tugas kita mencarinya, menelitinya, menganalisisnya dalam “kacamata” Allah SWT.

Sewaktu duduk di kelas lima SD, aku pernah mengalami suatu masalah yang besar, dalam kacamata seorang anak desa ketika itu. Aku meminjam buku Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) milik sekolah. Perasaan dan kesadaranku meyatakan bahwa buku itu sudah atau belum kukembalikan, seperti lupa-lupa ingat. Sedikit keyakinan berkata sudah kukembalikan. Namun tidak menurut Ibu Guru. Tiap kali pelajaran, aku disindir sebagai seorang “tersangka” yang menghilangkan buku milik negara. Kupingku merah. Berulang kali. Sampai-sampai, bayang-bayang sindiran itu sudah kurasakan dimalam hari, menjelang pelajaran esok hari. Ketakutan-ketakutan, ketika itu, tumbuh dan menjelma raksasa besar yang menyeramkan. Seorang guru marah dan menyindir, dalam pada itu, sungguh menakutkan jika dilakukan oleh seorang guru yang tak mendapat gelar killer. Kegelisahan itu menjadi masalah terbesarku, sampai berlangsung sekitar sebulan atau dua bulan. Aku sendiri hanya tunduk terdiam, sambil menaksir berapa harga buku itu? Jika mahal, bagaimana aku membayarnya? Adakah buku Negara itu di toko-toko swasta? Padahal, dalam buku itu tertulis: milik negara, tidak diperjual-belikan! Kalaupun ada, mungkin di luar kota sana, bukan di kotaku, kota pegunungan. Kalau aku tak bisa mengganti, bagaimana jadinya siksaan batin seperti ini kulalui sampai lulus di kelas 6? Bayangan buku kucel yang sudah berstampel SDN Jangkrikan itu terus memburuku, tiap malam, dan tiap kali berangkat ke sekolah dan memasuki kelas. Waktu itu, belum musim di desaku sekolah bersepatu, kebanyakan nyeker atau memakai sandal jepit merk Mely.Usai melepas sandal dan masuk pintu kelas, aku sudah menyiapkan hati baja, meski akhirnya runtuh juga. Aku tak mampu mengangkat kepalaku, ketika sang guru mengingatkan aku, apalagi melihat sekelilingku. Ketika itu, aku tak tahu apa ekspresi seluruh teman-temanku. Hatiku, ketika keluar kelas, kadang merasa hancur, tercabik-cabik oleh tajamnya lidah ibu guru. Oh buku IPS, kenapa pula kau jadi masalah BESAR bagiku?

Kenaikan kelas, aku masuk kelas enam dan dengan guru yang masih sama. Suasana yang sama. Kebetulan, waktu itu aku mulai “rajin” shalat, gara-gara ayahku membeli kaset shalawat KH Ma’ruf Islamuddin Sragen yang isinya menggambarkan betapa kejam siksa kubur dan panasnya api neraka yang meluap-luap. Dengan tape recorder bermerk Tens, ayah sering memutarnya. Syair dari lagu yang paling menakutkan ketika itu, masih sayup-sayup kuingat sampai hari ini:

Ono kubur, akeh wong podo di sikso/ Njerit-jerit, sambate nganyuworo/  Sebab rikolo ning ndunyo kakean duso/  Ajal wis teko, ora biso opo-opo

 [terj. Dalam kubur banyak orang yang disiksa/ menjerit-jerit dalam merasakannya/ sebab tatkala di dunia kebanyakan dosa/ ajal kemudian datang, tak bisa apa-apa]

Karena syair itu, yang semula kalau disuruh shalat oleh ibu hanya mengkucel-kucel lipatan rapi sarung agar terlihat terpakai, kini tak berani lagi. Setiap kali malam, dingin dan belum shalat isya, bayang-bayang siksaan itu menghantuiku. Aku paksa diriku menggayuh air wudlu, kemudian shalat. Padahal, di kemudian hari ketika dewasa, aku tahu waktu itu aku belum berkuwajiban shalat, oleh karena belum ‘akil-baligh, belum pernah mimpi basah. Lucu dan menggelikan kalau mengingatnya. Nah, dalam pada masa “pertaubatan” kecil itu, solusi atas kasus buku itu kuadukan kepada Allah, sang pemilik alam. Doa-doa kulangitkan agar Tuhan Semua Agama itu terlibat menyelesaikan persoalanku.

Beberapa hari kemudian, ayah mengajakku pergi ke Purworejo untuk mengikuti pengajian. Di jalan, kuberanikan bilang: sebelum pulang agar membelikanku buku pelajaran. Beliyo tidak mengiyakan, namun juga tidak menolak. Aku jadi heran. Usai pengaian [ayah yang pengajian, aku bermain-main atau menghitung mobil lewat], kuseret-seret tangan ayah untuk ke kota membelikan buku itu. Ayah, yang pendiam, menuruti hal itu.

Aku diajak ke kota, diajak makan bakso dan mencari “Buku Pelajaran IPS Kelas 5 SD Kurikulum 1994 seperti yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional”. Usai menemukan toko buku, aku langsung lari meninggalkan ayah. Kucari dimana buku-buku pelajaran. Nah! Betapa girangnya aku, ketika baru saja masuk, buku itu langsung Nampak oleh pandanganku. Aku menunjukkannya pada ayah. Beliyo meyakinkan apakah tidak salah? Aku geleng-gelaneg kepala. Setelah ditebus dengan harga Rp. 15.000,- , kupeluk erat buku itu. Perlu diingat, itu adalah tahun-tahun pemulihan krisis moneter pasca tumbangnya Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa. Jika uang sakuku sekolah maksimal adalah Rp. 200,- [dapat es dan nasi kuning], tentu harga itu cukup mahal ketika itu. Aku tak sabar berangkat sekolah dengan gagahnya dan mempersembakannya untuk ibu guru.

Pagi itu tiba. Aku dikelas menyerahkan buku baru itu kepada ibu guru. Dan kulihat, senyum merekah terpancar dari guru yang suka memperlihatkan kemulusan kakinya dengan memakai rok selutut itu. Aku bangga, lega dan plong. Semenjak itu, sekalipun aku tak pernah dimarahinya. Tambah-tambah, aku semakin giat dalam mata pelajaran IPS. Dalam tebakan pertanyaan rebutan pulang, jika IPS yang dilempar, aku selalu pulang duluan atau nomor dua. Meski tetap ada tragisnya: pulang terakhir tiap kali yang diujikan matematika. Itu kelemahanku, bahkan sampai hari ini. Tak perlu kututup-tutupi. Namun, toh, bermodal keberuntungan, aku selalu lulus melewati tiga ujian Nasional: SD, MTs dan MA[K]. Khusus matematika, kupasrahkan kebenarannya kepada Allah subhanahu wata’ala!

Lalu apa ending dari tulisan ini? Begini saja. Entah sesuai judulnya atau tidak: mencerdasi, tapi semoga tidak terlalu menyesal yang terlanjur membaca. Ternyata apa yang dulu kulihat sebagai masalah besar dan momok yang menakutkan, sekarang justeru terlihat menjadi sebuah pemantik dan konsekuensi-logis aku giat belajar IPS, khususnya sejarah, cukup baik nilainya[meski sekarang sudah tak lagi]. Masalah dan problem yang kita hadapai saat ini, bisa jadi kelak akan kita tertawakan karena menjadikan sebab kita berada di titik tertentu. Termasuk nilai-nilai itu, yang dalam pandanganku hanya menipu. Bagaimana mungkin manusia diukur dengan nilai? Sekarang jadi tertawa lagi. Semoga malaikat kelak tak menanyakan nilai-nilaiku di sekolah waktu itu, karena banyak yang merah. Lalu, apakah kita harus berdoa jangan diberi masalah? Tidak! Tentu doanya agar kita selalu kuat dalam menghadapi masalah, cobaan, baik berupa kesedihan atau kesenangan. Baik berupa kekalahan atau kemenangan. Berupa apapun yang kita sedang dan akan lakukan.

Oke, sebagai penutup, kata guru saya KH Achmad Chalwani, sepertinya relevan untuk saya kutip disini. “Jika takut diterpa badai, jangan pernah punya cita-cita menjadi pohon yang tinggi”. Maka, senang atau sedih, sebenarnya tak penting dalam hidup ini, karena semua orang akan dan pasti pernah mengalaminya. Yang penting apakah itu semua mendekatkan kita kepada Sang Pencipta atau tidak? Itu saja! Hidup adalah sebuah keutuhan. Hidup adalah bagaimana menemukan [keterlibatan] Tuhan dalam lalat, laut, udara, jalan, bulan, gunung, teknologi, budaya, seni, politik dan terlebih di dalam diri kita sendiri. Dia satu, tapi dimana-mana. Dan doaku: “Ya Allah, bimbinglah aku, kuatkan aku, tegakkan aku menempuh jalan-Mu,

baik susah ataupun senang, baik bahagia atau menderita. Karena, tak ada tempat kembali kecuali hanya kepadaMu. Ijinkan aku mencintai semua manusia agar menjadi manusia seutuhnya, serta perkenankanlah mencicipi getaran-getaranMu: getaran ilahiyyah dalam hidupku, sebagaimana yang ditempuh orang-orang pilihan terdahulu”.[]

Purworejo, 31 Mei 2016