Beikut ini adalah resume subyektif saya dalam forum Macapat Syafaat, 17 Juni 2016 TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul, DIY. Saya sebut subyektif karena ini adalah penangkapan saya atas paparan yang disampaikan dalam forum tersebut dalam konteks-konteks tertentu. Bisa jadi apa yang saya tangkap salah atau berbeda dari maksudnya, silakan dicari sendiri “kebenarannya”. Semoga, ini  menjadi sepercik catatan untuk mengabadikan.

Pertama, didahului pentas dari Teater Perdikan Yogyakarta dengan judul Buah Simalakama. Saya telat, tidak menyaksikan pentas itu karena berangkat ke Jogja pukul 22:10 WIB dan sampai pukul 23.15 WIB. Ketika baru sampai, Cak Nun [Muhammad Ainun Nadjib] baru naik ke atas panggung level. Kemudian mengambil-alih forum. Diantara paparan-paparan yang beliau sampaikan – yang dapat saya tangkap – adalah sebagai berikut:

  • Hidup itu tidak bisa tanpa perumpamaan. Innallaha la yastahyi ayyadriba masalamma bangudlatan fama fawqaha. [konteksnya menyikapi tokoh-tokoh dalam wayang]. Bahkan dalam Al-Quran – sesuai ayat diatas – Allah SWT membuat perumpamaan lalat atau nyamuk. Dibalik sebuat lalat, nyamuk atau semut, ada banyak pelajaran.
  • Tidak ada apapun di muka bumi ini kecuali ciptaan Allah SWT., dan semua tak ada yang sia-sia. Tinggal bagaimana kita melihat dan menyikapinya.
  • Wayang adalah alat untuk berbicara dan memahami Indonesia.
  • Dulu India adalah “bagian” dari Indonesia, namun mereka yang rajin mencatat apa yang menjadi peradaban nenek moyang kita [ dalam Ramayana – Mahabarata].
  • Apa yang ditulis oleh orang India adalah kisah raja-raja, dan Walisongo-lah yang membuat tokoh Punokawan [ Semar, Petruk, Bagong dan Gareng]
  • Tokoh Semar merupakan penggambaran tokoh yang komprehensif (utuh), ya dewa ya kawula; seperti – diibaratkan, meski tak bisa diibaratkan – Muhammad yang seorang Nabi juga rakyat jelata. Semar adalah gagasan manusia Jawa tentang sosok Insan Kamil (manusia sempurna) tersebut. Jadi, ibarat sebuah”bulatan”: bisa diatas, bisa dibawah.
  • Dewa adalah “ijtihad” Orang Timur tentang Tuhan, karena dengan akal-budaya saja, tidak akan mungkin menemukan Tuhan. Dalam ijtihad pencarian itu, orang Jawa sudah mencapai 90%.
  • Kitab suci Al-Quran hari ini belum dipahami secara ilmu, kebanyakan orang [Indonesia] masih memahami sebagai hukum legal-formal dan cenderung untuk menakut-nakuti [neraka].
  • Kafir itu tidak bisa berdiri sendiri, sebagaimana juga muslim tidak bisa berdiri sendiri. Kafir itu artinya menutupi. Padahal jika dengan Iblis, kita harus kafir. Semua ada konteksnya. Jangan asal-asalan dan mudah melabeli kafir pada seseorang.
  • Jin itu lebih senior daripada manusia. Kalau ada orang “mengusir” atau memaki-maki jin itu kurang ajar namanya.
  • Sulthanam mubiina adalah pengetahuan diatas pengetahuan panca indera yang nyata.
  • Tokoh Bagong adalah bayangan Semar. Filsafatnya Semar, Aktivisnya Petruk dan budayanya Bagong.
  • Jangan tinggalkan Allah SWT untuk mengejar surga.
  • Agama tidak bisa dijalankan tanpa budaya. [ contoh: shalat itu mesti memakai sarung dan baju yang kedua barang itu adalah produk budaya, termasuk masjid, karpet, speaker dll]
  • Filsafat tidak berguna tanpa ilmu, ilmu tidak berguna tanpa budaya.
  • Penafsiran Buah Simalakama [ judul teater yang sebelumnya dipentaskan oleh Teater Perdikan], adalah situasi yang dilematis, misal: jika dimakan bapak mati, jika tidak dimakan ibu yang mati. Bapak adalah gambaran raja, pemimpin atau penguasa sedangkan ibu adalah alam dan atau Tuhan. Idealnya, bapak dan ibu itu dikawinkan, namun kondisi kadang justeru berhadap-hadapkan. Dalam tafsiran lain, bapak merupakan simbol maskulinitas dan ibu feminitas. Keduanya perlu diharmonikan, dinikahkan.
  • Nikah itu ada lima: Allah dengan makhluk, pemerintah dengan rakyat, manusia dengan alam [ex. manusia maskulin dengan alam sebagai feminim], laki-laki dengan perempuan dan segala sesuatu seperti “nikahnya” Allah dengan makhluk yaitu ngopeni dan tanggungjawab.
  • “Mu’jizat” itu banyak sekali, baik yang ada di dalam diri kita maupun fenomena dan kejadian di sekitar kita. Itu bisa kita lihat jika memaksimalkan akal-pikiran kita untuk tadabbur.
  • Penafsiran mengenai Punokawan. Semar, dari kata tsamar, yang berarti: buah atau hasil. Gareng, dari kata ghairan yang berarti: bukan itu [dalam hidup ini banyak yang “bukan itu” atau palsu baik di televisi, perpolitikan, atau apa saja]. Petruk, dari kata fatruk yang berarti: tinggalkanlah [banyak dalam hidup ini yang harus kita tinggalkan]. Bagong, dari kata bagho, yang berarti: lacut atau lalai.
  • Laailaaha dulu, baru Illallah. Dalam penerapan kehidupan sehari-hari jangan dibalik. [saya – penulis – agak kurang fokus tentang ini, tapi sedikit paham, dan akan saya pikirkan dan cari lagi maksudnya]
  • Pemilu sekarang itu bukan demokrasi, tetapi jual – beli. Dalam skala dan proporsi tertentu, demokrasi diperlukan, khususnya yang terkait permusyawaratan.
  • Banyak hukum yang tidak memandang keadilan. Padahal tidak ada supremasi hukum, adanya supremasi keadilan.
  • [orang] Indonesia tidak betul-betul belajar baik kepada Nabi, Malaikat, Sahabat, Presiden-presiden kita [Soekarno, Soeharto, Habibi, Gus Dur, Megawati, SBY], Ki Hajar Dewantara atau yang lain. Semua serba nanggung. Yang dicari dan dipikirkan hanya jual beli dan untung. [kalau cuma nanggung], lebih baik belajar total kepada Latta dan Uzza. Latta adalah nama tokoh Arab terdahulu.
  • Kalian tidak pernah memiliki pengalaman ruhani dari IT [internet: fesbuk, twitter dll]. Adanya teknologi canggih-canggih tersebut tidak membuat kalian takjub apalagi menambah iman dan melihat kebesaran Allah SWT.
  • Bagi Cak Nun, Hari Raya adalah puasa itu sendiri. Gol bukan ketika bola masuk ke gawang, tetapi ketika ia menendang. [pikir dewe😀 ]

Musthofa W. Hasyim, ketua Nahdlatul Muhammadiyin kemudian diberi waktu untuk membacakan puisi “rusak-rusakannya” yang berjudul: “Tadarrus Bola”.

  • Ramadhan 1437 kali ini berbarengan dengan Piala UEFA, banyak orang tadarrus bola dan bahkan menjadikan bola sebagai agamanya. Padahal, ia hanya sebagai penonton yang setelahnya tidak mendapat apa-apa. Hal ini disampaikan lewat puisinya yang jenaka membuat para jamaah terbahak-bahak: bahagia.

Kiai Mohammad Muzammil, yang kebagian waktu di akhir menjelang sahur, memaparkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Menyanggah Mustofa W. Hasyim. Bahwa di sepak bola juga ada Tuhan.
  • Orang yang membedakan Tuhan dengan manusia karena ia tidak melihat Tuhan di dalam manusia.
  • Mengijazahi membaca surat An-Naml: 17, dibaca 41x setiap malam. Dengan wasilah ini, pernah ketika beliau mendirikan pesantren, 3x diancam orang mau berbuat jahat namun selalu gagal.
  • Fariduddin Ath-Thar, guru dari Maulana Jalaludin Rumi berkata: semua makhluk [termasuk manusia] adalah “bayang-bayang Tuhan”.
  • Semua yang ikut maiyah ini berjam-jam tidak tadarrus Al-Quran, padahal kalau tadarrus sudah dapat banyak surat. Namun karena ini tafakkur, nabi pernah bersabda: attafakur afdhalu min qiyamillaili; tafakkur itu lebih utama daripada shalat malam [maaf saya – penulis – kurang jelas medengar hadisnya, belum saya cari lagi]. Hadis kedua, attafakur as-sa’ah khairu min ‘ibadati sanatin; bertadakkur sesaat lebih baik daripada beribadah setahun.
  • Ilmu itu penting, namun membaca Al-Quran juga penting.
  • Jika ingin di-ganjar seperti membaca Al-Quran terus menerus, caranya adalah: “Al-Quran jangan dijadikan sebagai dogma, tetapi dijadikan perspektif [kacamata, cara pandang] kita dalam melihat segala sesuatu.

Kemudian acara dipuncaki dengan bershalawat oleh Cak Nun dengan khusyuk dan khidmad. Ditutup dengan doa oleh Kiai Muzammil. Ribuan jamaah maiyah pun kemudian bubar.[]

[Purworejo, 18 Juni 2016 –  05:55 WIB.]

o