TAKUT JATUH CINTA

“Aku takut, mas. Aku pernah jatuh cinta dan lupa semuanya. Bahkan aku lupa pada Allah. Aku takut nantinya aku terlalu sayang sama anakku, dan enggan melepas dunia. Aku takut itu.”, katamu, jelang akad nikahmu.
“Aku percaya, kau, sekarang dan kedepan bisa ‘melihat’ Allah dimanapun: di dalam suami yang belum kau kenal itu, kelucuan anak-anakmu kelak, atau disetiap sisi kehidupan: air, daun, udara dan semua yang terlihat ataupun tidak. Bahkan di dalam dirimu sendiri. Jangan khawatirkan masa depan, bukankah kau pernah bilang: kekhawatiran terhadap sesuatu sering terjadi dalam pikiran, bukan pada kenyataan. Positif thingkinglah pada Allah, mungkin Dia sedang menguji cintamu pada-Nya. Pegang kembali prinsipmu erat-erat: ‘aku boleh kalah, namun setelah berjuang sampai titik darah penghabisan’. Maafkan aku, ketika melibatkanmu dalam hidupku.”

[19 Juli 2016]

BUKAN PELACUR

“Mas, apa perbedaan pelacur dengan istri yang tidak mencintai suaminya?”, tanyamu, sebelum akad nikah dengan lelaki yang tak kau cintai.

Dan aku diam seribu bahasa. Lama. Tak bisa berkata-kata. Tak terasa, butiran embun keluar dari bola mataku, terbayang perjodohanmu. Dengan hati-hati sekali, kujawab:

“Kamu tentu sudah tahu: secara fiqh, yang pertama haram dan yang kedua halal. Seandainya ada cara terhormat yang direstui Allah untuk menggagalkan pernikahanmu, tentu akan kulakukan, apapun caranya. Pertanyaanmu itu, sungguh menyiksaku yang tak berdaya melawan takdir, selain merapalkan bait doa, semoga waktu membuatmu cinta kepadanya”, jawabku. Dan seperti yang kuduga, kau menjawab sendiri ‘jawaban hakikat’ dari pertanyaan itu. Kemudian berkata tak mampu menghentikan tangismu. Jawaban itu, sungguh menyesakkan dadaku.

“Keduanya intinya sama, mas: berhubungan tanpa cinta. Yang satu atas dasar uang, dan yang satu atas nama agama”.

[21 Juli 2016]

TEKAD MENGIKHLASKAN

Alhamdulillah, aku lega, akhirnya dia memilih mengikhlaskan apa yang sudah menjadi keputusan orang tuanya. Kemarin, dia masih mengirim puisi Aan Mansyur berjudul Kepada Hawa. Sebuah puisi yang begitu menyiksa. Suara hatinya seakan terdengar riuh dalam puisi ini.

aku merelakanmu menjauh,
merelakanmu terjatuh
ke tempat sampah
bagai sepotong apel merah
yang di geligimu pernah
berdarah
adakah cinta yang jatuh
kepadamu melebihi cintaku?
lelaki yang engkau cintai itu mati
dan tak membawamu ke makamnya
sementara aku bertahan hidup,
bertahun-tahun sanggup tak mati
oleh rindu—dan menanti di surga
hawa, aku masih ular yang setia
mencintaimu sepanjang usia Tuhan.

Aku membalas puisi itu dengan nasehat-nasehat dalam magnum opusnya Imam Ibn Athaillah Assakandary: Al-Hikam. Salahsatunya, adalah nasehat ini:

“Terlambat datangnya pemberian (Allah), meski sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuatmu patah harapan. Karena Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.”

Entah karena berkah kata-kata Ibn Athaillah itu (yang banyak kukirimi) atau bukan, aku tidak tahu, pagi tadi dia mengirim pesan via bbm begini:

“Mas, aku harus ikhlas. Bukankah Nabi Muhammad pernah patah hati dengan Fakhitah? Maafkan aku, mas”, katanya.

“Syukurlah kalau begitu. Iya, aku tahu itu: dia cinta pertama nabi, tapi sudah terlanjur dilamar orang. Kamu tidak salah, tak perlu minta maaf”, jawabku.

“Dulu nabi juga sangat sayang kepada Sayyidina Hasan dan Husain, dari itu Allah mengambilnya dengan tragis. Dia cemburu. Allah tidak ingin di duain”, dia kembali membalas. Aku agak kurang sepakat, ada yang janggal.

“Allah memang ‘tidak mau’ dimadu, meski dimadu pun tak mengurangi kecintaan-Nya kepada kita. Jadi, takdir menyakitkan yang pernah kau sebut itu untuk kebaikanmu, karena Allah tidak pernah memberi keputusan dan takdir untuk kepentingan-Nya sendiri. Semua untuk kepentingan makhluk-Nya. Oh ya, aku belum dan bahkan tidak yakin Sayyidina Hasan dan Husain diambil karena kecintaan nabi yang teramat dalam kepada beliau berdua. Nabi sudah tau itu semenjak mereka berdua kecil. Hadisnya ada, sangat memilukan. Ini seakan sudah skenario Tuhan. Dan salahsatu hikmahnya adalah, keturunan Sayyidina Husain lari ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, dan keturunan Sayyidina Hasan lari ke Eropa karena dikejar-kejar bala tentara Yazid bin Muawiyah, raja kedua Bani Ummayyah. Kemudian, dalam pelarian itu, mereka berdakwah sehingga Islam cepat meluas. Dan, perlu diingat, kematian bukanlah halangan sebuah cinta, karena mereka akan dibalas dengan cinta yang sejati dan abadi.”, terangku, menghiburnya.

“Iya. Terima kasih, mas”, balasnya. Singkat.

Mendapatkan, kehilangan, kesenangan, kesedihan, adalah merupakan hal yang selalu terjadi dalam proses sejarah manusia di dunia ini. Cara hati dan fikiran bersikap, akan menentukan semuanya. Dan untungnya, ada Allah tempat mengadu dan kembali.

[24 Juli 2016]