Tak sengaja, entah siapa yang membawa, ketika bangun tidur tadi, ada sebuah buku di depan saya. Judulnya tidak terlalu menarik perhatian saya: “30 Hari dalam Cinta-Nya”. Tetapi, setelah saya buka, ternyata di sampul dalam ada tulisan mandarin, terbitan Sunrich Publishing Co. Ltd., yang beralamat di 8F, No. 84, Ning Xia Rd., Ta Tung Districk, Taipei 10358.
Saya cek lagi, membukanya secara perlahan dan penuh kasih sayang, laiknya kepada kekasih yang lama dipisahkan. Ketebak, ini buku kumpulan tulisan (curhatan) Buruh Migran Indonesia (BMI) yang menjalani bulan ramadhan di negeri orang: dari Asia sampai Eropa.
Karena saya punya janji, saya hanya ingin membaca dua artikel dulu, dan ternyata cukup menarik. Melihat daftar isi, saya langsung loncat ke halaman 137, terseret judul yang ditulis oleh Okti Li, BMI di Taiwan. Ia mengisahkan, betapa menderitanya beribadah di negeri yang tidak dihuni mayoritas muslim, juga dengan adat dan tradisi berbeda: tak ada suara adzan dan simbol-simbol Islam. Ia dilarang ibadah, khususnya shalat. Juga, harus mengolah daging babi untuk juragannya ditengah muslim di negerinya dihangatkan oleh bedug dan shalat tarawih.
Untuk telfon, ia harus sembunyi. Sang majikan melarangnya membawa HP. Hatinya tercabik-cabik tiap kali ditelfon ibunya: sudah shalat belum?, puasa tidak?, tarawih tidak? sahur pake apa?. Ia tak berdaya menjawab pertanyaan orang yang dulu pernah menyusuinya. Berlinang air matanya. Tidak hanya malu kepada ibunya, ia juga malu kepada Tuhannya.
Untuk ‘sekedar’ shalat, ia bahkan harus sembunyi-sembunyi, karena dimarahi jika ketahuan. Bahkan, pernah ia mencoba nyelinap untuk shalat asyar, tiba-tiba anak sang majikan masuk. Langsung deh, ia pingsan seketika, melihat sosok putih berdiri dikamar. Mungkin dikira pocong. Semenjak itu, mukenanya disimpan rapat-rapat di laci almarinya.

Membaca tulisan ini, tentu saya malu. Tak perlu dijelaskan mengapa alasannya.

Selanjutnya, saya tertarik dengan judul: “Tuhan Kalian Itu Aneh dan Gila” karya Indira Margareta yang bekerja di Hong Kong. Sama, majikannya melarangnya berpuasa, alasannya: takut lapar, haus, sakit dan mungkin bisa mati. Juga, kerja jadi lemas dan merugikan mereka. Namun, karena ia banyak mendapat sms sahur dari teman di rumah, juga sebelumnya pernah bekerja di Arab yang semua puasa, ia tetap puasa.
Ada dialog menarik antara dia dan majikannya, di suatu siang di bulan ramadhan di Hong Kong.
“Kamu tidak lapar?”, tanya sang majikan, “sedikit saja, masa tidak boleh?”, imbuhnya.
“Kami sudah terbiasa, nyonya,” jawab Indira, sang pembantu, sambil melempar senyum.
“Kalian memang aneh! Tuhan kalian itu juga aneh. Masa tidak boleh makan sebulan penuh? Gila!”, timpal ibu majikan, menambahi.

Indira tetap tidak mau. Seisi rumah geleng-geleng kepala melihat pwmbantunya yang seakan menyiksa diri. Namun ia tidak sakit hati Tuhannya dikatakan begitu, karena itu ia anggap bukan sebuah penghinaan, namun bentuk ketidakpahaman, meski telah dijelaskan berulang-ulang. Sama dengan ketidakpahaman Indira melihat sembayang mereka: mengapa harus membakar kertas-kertas. Kisah yang kedua ini, lebih terlihat toleransinya, meski banyak perbedaannya.

Saya larut dan asyik membaca dua kisah riil yang dialami para buruh migran ini, hingga hampir lupa ada janji dengan seorang anggota DPRD Jawa Tengah. Eits!, bukan untuk membahas politik praktis, tetapi mengurus masalah ummat. Ia mempercayakan saya dan kawan-kawan untuk mengurusnya. Iapun tak mau mencantumkan namanya dalam misi tersebut. Ini bukti masih ada – untuk tidak menyebut banyak – anggota dewan yang ikhlas berjuang untuk kepentingan ummat, ditengah citranya yang sedang minor.
Seketika, saya tutup buku dan menaruhnya di laci, kemudian berangkat. Meski awalnya saya menganggap ini buku picisan, tetapi setelah membaca isinya, ingin rasanya mengkhatamkan. Untuk kesekian kalinya, saya tidak mengamalkan pepatah lama: don’t judge a book by its cover.[]

Purworejo, 24 Juli 2016