KETIKA waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB dinihari, wanita muda itu masih bersemangat melayani pembeli. Dengan pakaian dan kerudungnya yang serba merah, ia menunjukkan harga satu persatu dari produk yang ia jual. Cahaya lampu terang yang bersinar di depan lapaknya, memperjelas kulitnya yang putih tanpa make up serta barisan rapih giginya yang putih gemerlapan saat melempar senyuman. Disitulah, Komplek SDIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul, bersama puluhan PKL dengan beraneka ragam dagangan, ia membuka lapaknya setiap tanggal 17 malam setiap bulan. Adalah Majelis Masyarakat Maiyah: Mocopat Syafaat, sebuah forum yang menyedot ribuan orang, tanpa tendensi dan kepentingan, kecuali mengharap Ridla Allah dan cinta Rasulullah, dengan jalan dialog budaya dan belajar bersama. Transaksi ekonomi dan berkah-pun datang melimpah.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Hamparan ribuan manusia di depan dan sekelilingnya –cowok maupun cewek yang tanpa sekat itu – tentu banyak yang tertarik ketika melintas melihat apa yang wanita muda itu jual: marchendise Maiyah. Mulai dari kaos, buku sampai kaset CD bernuansa maiyah, tentu memiliki arti dan minat sendiri bagi Jamaah Maiyah. Beberapa kaosnya, memang cukup nyentrik, dari gambar wajah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), KH. Achmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan sampai gambar logo NU-Muhammadiyah yang berpelukan mesra jadi satu, bertuliskan: Aset Indonesia. Pula, kaos dengan kata-kata Sang Guru Bangsa, diantaranya: “Tuhan Tidak Perlu Dibela!”, “Luwih Becik Ngobong Menyan Daripada Ngobong Ndasmu!”, “Ahlul Bid’ah Wal Jamaah”, “Komunis Syariah”, dan masih banyak lagi. Untuk buku, didominasi oleh buku-buku yang membahas seputar tokoh-tokoh diatas. Diantaranya saya punya, yaitu: NU vis a vis Negara karya Andree Feillard, NU – Pancasila karya Einar M. Sitompul, Markesot Bertutur, Indonesia Bagian Dari Desa Saya karya Cak Nun, Fiqh Keseharian Gus Mus, Membaca Kembali Sejarah Nusantara-nya Gus Dur, dan masih banyak lagi. Dan tentunya, banyak buku ulasan dari berbagai penulis tentang Cak Nun dan Jamaah Maiyah, dari berbagai perspektif dan pisau analisa. Di pukul 03.00 WIB, tangan lentik wanita muda itu masih tak henti menerima uang ratusan ribu, limapuluhan ribu, puluhan ribu dari pembeli, untuk kemudian ia tukar tukar dengan buku lalu memberi kembalian, dengan kembangan senyuman.

***

Ketika saya sampai di sebuah desa kecil yang berada sekitar 10 km barat daya kota Jogjakarta itu, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Kali ini saya telat. Maklum, memakai motor matik melewati Kaligesing, Purworejo, saya dengan seorang teman terkendala kabut asap yang begitu tebal. Jarak pandang 4-6 meter. Kecepatan 20 km perjam. Wajar jika untuk menempuh jarak 60 km menuju arah Timut Laut dari Purworejo itu, memerlukan waktu dua jam, yang biasanya bisa ditempuh dengan sejam lebih sedikit.

Di jam 23.00 WIB malam itu, ribuan manusia sudah terhampar laksana samudera. Saya yang tak tahu awalan, konteks atau tema, langsung sayup-sayup mendengar Cak Nun meneruskan paparannya.

“Untuk menjadi pemimpin itu harus pernah menjadi rakyat. Pemimpin itu bukan jabatan, tetapi sesuatu yang menyatu dengan rakyat itu sendiri, seperti halnya Kanjeng Nabi Muhammad saw ketika akan wafat kata-kata terakhirnya: ummati…ummati…ummati… (umatku…umatku…umatku…). Pemimpin adalah rakyat itu senditri,” penangkapanku di malam itu, yang mulai berjalan dari parkiran.

“Bagaimana mau adil seorang pemimpin kalau tidak tahu kondisi yang dipimpinnya? Misalnya: imam shalat, jika tidak tahu yang dipimpin, kemudian dalam membaca surat-nya terlalu panjang, seperti surat Al-Baqarah, bisa tidak kondusif jamaah yang dipimpinnya. Jamaah shalat yang sholeh dan mulutnya suci mungkin akan mengatakan: masya Allah, atau sederet kalimah thayyibah lain,” kata Cak Nun dengan mimik wajah yang serius di LCD putih besar. “Namun jika jamaahnya gentho-gentho seperti kalian, bisa jadi ngucapnya: Hassssshhhhuuuuu….Albaqarah je! Teruske ora kie sholate?”, celetuk Cak Nun, diiringi “Ggggggrrrrr!!!!” dari ribuan Jamaah Maiyah yang hadir.

Lebih lanjut, Cak Nun menjelaskan bahwa memimpin itu harus tahu situasi dan kondisi yang dipimpin, umatnya. Dalam jamaah shalat tersebut, lanjut Cak Nun, ada berbagai problem, kebutuhan, kepentingan atau mungkin penyakit yang diderita. “Imam harus arif dan bijaksana terhadap umatnya,” imbuhnya.

Kemudian saya memasuki warung hijau jauh di seberang forum, untuk memenuhi tuntutan perut yang tak sepakat berkompromi. Saya makan nasi dengan sayur banggi (kulit lembu) dan tempe goreng panas yang menggugah selera, sambil membenarkan apa yang dikatakan Cak Nun tadi. Ketika makan, terlintas ingatan lalu ketika saya nyantri di An-Nawawi, senior saya menginformasikan begini: nabi itu kalau ngimami orang banyak, shalatnya cepat, karena beliau tahu umatnya memiliki kepentingan dan agenda macam-macam. Apalagi kalau shalat jamaahnya mendengar ada anak kecil menangis di masjid, beliau ingin buru-buru mengasihinya, mendiamkannya, mempuk-puknya. Beda ketika beliau shalat atau membaca wirid sendiri di kamar, bisa semalam suntuk, sampai pagi.

Lalu terdengar, dari sound sistem yang cukup ngebass dan mantap itu, dua nomor dari Letto membawakan Sebelum Cahaya dan Sandaran Hati. Entah kenapa saya selalu enak mendengar lagu itu, tak pernah bosan. Mungkin karena lagu-lagu Letto itu memiliki unsur magis. Lagu Sebelum Cahaya seakan mengisahkan kata-kata Allah SWT kepada umat Islam yang sedang shalat malam, sebelum cahaya mentari bertebaran: “…kekuatan hati, yang berpegang janji… (maksudnya usai membaca syahadat)… Ku tak akan pergi, meninggalkan mu sendiri, temani hatimu cinta…. perjalanan sunyi, dan kau tempuh sendiri, kuatkanlah hati, cinta….”.

Kemudian, nomor selanjutnya adalah Sandaran Hati. Juga sama. “…teringat ku teringat, pada janjiMu ku terikat, hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati… peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika Kau lah sandaran hati”. Kita sudah berjanji hidup mati untuk Allah, tapi shalat kita hanya sekejap, persis seperti shalat saya sak klepatan. Dan jika memang hati sudah disandarkan kepada Allah SWT, sedih itu sudah tak ada artinya. Begitu kira-kira tafsir lagu yang saya tak kunjung bosan mendengarnya.

Kemudian, untuk menggodai ‘suku’ asal Kiai Muzammil, Mas Sabrang menceritakan hebatnya orang Madura. Setelah puas diejek, Kiai Muzammil pun membalasnya. Ia menceritakan perihal semangka pucat. “Ini semangka merah dan segar, ayo dibeli,” ungkap pedagang. “Cak, beli satu, semangka merah beneran kan?,” kata pembeli. “Bo..abo…bener cak..”. “Yo wes, beli satu”. Beberapa saat kemudian pembeli kembali dengan marah-marah ke penjual. “Cak, yok opo sampeyan iki, jarene semangkae abang, lha ini kok putih begini”. “Lho iki semongko kok ancur?,” taya penjual. “Iyo semongko iki tibo, jatuh dari motor. “Dik..dik.. wong sampeyan semongko ditibakno (dijatuhkan). Jangankan semongko, sampean nek jatuh dari motor, pucet dik, mangkane semongkone putih,” jawab penjual Madura, tak mau kalah. Hadirin langsung geeerrr!!!.

Sesi selanjutnya, datang pertanyaan dari seorang Jamaah Maiyah. Ia, mengaku masih gelisah dengan relasi antara sains dengan agama, antara epistimologi dengan ideologi yang, menurutnya, saling bertabrakan satu sama lain. Mengutip dua orang sarjana barat yang berseberangan – entah siapa saya lupa namanya – sang penanya berkata: agama pada saatnya akan kalah dengan sains. Satunya berkata: sains pada akhirnya nanti akan kalah dengan agama. Dengan polarisasi yang begitu tajam, sang penanya yang seorang pemuda itu berkata: “apa gunanya saya shalat, toh pada akhirnya shalat atau tidak shalat saya akan mati? ,” katanya.

Cak Nun memberi kesempatan kepada Mas Sabrang untuk menjawab terlebih dahulu. Jawabannya, meski saya tahu arah dan polanya, begitu rumit karena menggunakan pendekatan fisika dan matematika, dua hal yang jauh dari bidang saya yang tak punya bidang. Selengkapnya silakan tunggu saja videonya diunggah di youtube. Namun, saya mencoba mengais “sisa-sisa” jawaban darinya yang sedikit saya cerna: “Berpikirlah dalam spektrum yang lebih luas, dengan begitu kita akan lebih memahami konteks dan pola relasinya. Misalnya: jika ada sebuah white board, lalu kita membuat lingkaran di dalamnya, maka lingkaran itu tak ada ujung dan pangkalnya. Namun, perlu diingat, bahwa lingkaran itu masih ada dalam domain white board. Ini tentang cara pandang, jarak pandang, etc.”

Kemudian, vokalis Letto yang bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panoeluh (Noe) itu, mengatakan beberapa fakta terkait fisika dan matematika. “Puncak dari ilmu pasti itu ketidakpastian. Kecepatan cahaya itu, pada akhirnya adalah konsensus (kesepakatan) para ilmuwan. Jadi pada akhirnya itu ya kira-kira. Teori apakah bumi itu datar apa bulat, dan semua orang sepakat bumi itu bulat, itu kan tidak benar. Pada faktanya bumi juga ada gronjolan-gronjolan-nya, tidak bulat presisi. Itu hanya diambil kesepakatan normatifnya saja. Dalam matematika, bilangan dalam rumus yang mutakhir (saya lupa rumusnya-pen), bilangan nantinya akan kembali pada angka 1. Dalam rumus level tertentu tertentu, kadang angka satu itu berarti dua, dan dua sama dengan satu. Ini mirip Manunggaling Kawulo Gusti,” ungkap sarjana jebolan Universitas Alberta, Kanada, dengan cumlaude ini, merespon penanya dengan perspektif sains.

Mas Sabrang, di malam yang cerah dengan bulan, bintang dan arak-arakan awan di langit itu, juga sempat mengaku pernah ada diposisi sang penanya: menjadi seorang atheis (tidak percaya adanya Tuhan). “Dulu, ketika di Kanada, saya juga pernah stress memikirkan satu pertanyaan agama: jika ada anak setan yang lahir sebelum kiamat, dan belum sempat menggoda manusia, Allah akan memasukkannya kemana? Kalau ke neraka, Allah berarti tidak adil. Kalau masuk surga, itu semestinya, tapi kan sudah kadung dikutuk neraka tempatnya? Karena satu pertanyaan itu, pokoknya saya strees, menjadi seorang atheis. Kemudian hidup pernah membawa saya menjadi seorang gelandangan di negeri orang, tidur di kolong telpon umum, terlunta-lunta dll. Karena musim salju yang dingin, saya pernah tidur dengan memeluk seekor anjing untuk menghangatkan badan. Tiba-tiba, terbesit dalam pikiran, kenapa saya tidur disini, bukankah masjid selalu dibuka?. Itu awal penyadaran diri saya, yang masih tidak percaya Tuhan. Betapapun, agama memberi banyak peluang dan ekses manfaat untuk manusia. Lalu saya pergi ke sebuah masjid, untuk sekadar tidur, dan otomatis bertemu dengan sang imam. Saya menanyakan pertanyaan itu kepadanya. Jawabannya teryata simpel, dia balik bertanya: apa saudara tahu bagaimana setan berkembang-biak? Dan saya tidak bisa mejawabnya. Ternyata, selama ini, saya terjebak dengan logika tumbuhan yang kawin silang, penyerbukan, membelah diri atau laiknya manusia. Perkembangbiakan setan itu, diluar kemampuan akal saya. Kemudian saya sadar, bahwa di hidup ini, tidaktahu atau ketidaktahuan terhadap sesuatu itu kadang penting, berguna. Itulah yang disebut iman. Iman itu, percaya atau meyakini dulu sebelum tahu. Jadi, adanya pertentangan antara sains dan agama itu hanya mitos! ,” Jelas Mas Sabrang panjang lebar, sampai saya terseok-seok mengikutinya. Untung ada sebungkus Surya Signature, sebagai obat penenang pikiran.

Terkait pertanyaan sains versus agama, Cak Nun menambahi, dan menjelaskannya secara radikal dan sederhana. “Kalau ada orang yang mempertentangkan antara sains dengan agama, bisa jadi itu karena satu dari dua hal: pertama, ia hanya belajar sains setengah-setengah, dan belajar agama setengah-setengah. Kedua, karena ‘pemuka’ agama hari ini, belum bisa menjelaskan agama seperti yang dikehendaki Tuhan. Sederhananya kan begini, dunia ini itu ada sunnatullah (seperti siang malam, gravitasi, hukum sebab akibat dll) dan ada qudratullah (kuasa Allah). Sunnahnya orang mendapat rejeki ya kerja. Kepingin pinter ya belajar. Api membakar ya panas, itu sunnah-nya. Tapi Allah juga punya keperkasaan untuk memberi rizki yang tanpa diduga (min haisu la yahtasib), memberi ilmu kepada orang yang Dia kehendaki atau membuat api yang membakar nabi Ibrahim tidak panas. Ada kebiasaan dan keluarbiasaan. Orang yang belajar ilmu eksak (fisika, matematika, arsitek etc) atau para ilmuwan di seluruh dunia, jangan dikira itu tidak mengikuti sunnatullah. Mereka semua tunduk pada sunnatullah. Kalau tidak, apa yang mereka kerjakan akan hancur. Arsitek yang membuat gedung tidak sesuai dengan ilmu dan gravitasi akan ambruk. Jadi, mereka itu menjalankan sunnatullah. Bahkan, kata Sabrang, matematika itu ilmu paling suci, dimana kejujurannya paling teruji. Kita, sehari-hari, juga tidak bisa melawan sunnatullah. Masa kamu meludah dan kencing menghadap ke atas? Modyar to?”, seloroh Cak Nun, diikuti “Ggggrrrr!!!” dari para hadirin.

“Jadi tidak ada yang keluar dari sunnatullah, alam dan manusia ‘tunduk kepada-Nya’, termasuk para ilmuwan itu. Ini juga kesalahan pemerintah dulu mengapa pembedaan Universitas Negeri dengan Universitas Islam Negeri. Semua ilmu-ilmu eksak itu kan juga Islami.”

Kemudian Cak Nun merespon pertanyaan selanjutnya, sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dan provokatif: “shalat atau tidak sama saja, toh saya akhirnya mati”. Menjelaskan hal itu, teman akrab Gus Dur ini bicara panjang lebar.

“Mas, sampean itu sudah ditakdirkan hidup di dunia ini. Sebelum lahir, sudah disumpah untuk hanya beriman dan beribadah kepada Allah. Dan di dunia ini, maupun kehidupan selanjutnya, anda tidak bisa ‘lari’ dari Allah. Mau kemana? Hidup di planet? Bukankah itu juga masih dalam kekuasaan Allah? Kalau kemudian sampean berkata ‘shalat atau tidak sama saja, toh nantinya akan mati’, lha konsep ‘mati’ atau pengetahuan tentang ‘mati’ yang dalam benakmu itu seperti apa? Mati itu hanyalah siklus, sebuah ‘pintu’ menuju kehidupan baru, laiknya air membeku kemudian jadi es. Kelak, kamu tetap hidup, bahkan dalam Alquran Allah berfirman ‘kekal’ dan ‘abadi’ (khalidina fiha abada). Jika kita tahu apa pelanggaran di dunia ini, kelak kita malu kepada Allah, kepada Rasulullah. Dunia ini diciptakan untuk kita mengabdi kepada-Nya sebentar, dengan segala aturan Allah SWT, kemudian diberi ganjaran hidup enak selamanya. Dunia ini hanya sebentar, sangat-sangat sebentar. Bahkan, jika diibaratkan menghitung perbandingan kehidupan dunia dengan akhirat kelak, ibarat kamu ke padang pasir yang luas. Kemudian, kamu ambil, setiap pasir itu seribu tahun di akhirat. Coba ambil dan hitung segenggam pasir saja, sudah berapa ribu tahun? Lak modyar tho utekmu lhe ngitung!? ,” seloroh Cak Nun, diikuti riuh tawa hadirin.

“Hidup kita itu rata-rata kisaran 60-90 tahun, hanya sebentar di dunia ini. Apa kamu mau kaya nabi-nabi terdahulu, yang hidupnya di dunia ribuan tahun? Kalau sekarang ada istilah balita yaitu bayi yang umurnya 0 – 5 tahun, usia kamu sekarang mungkin masih balita, jika diberi umur ribuan tahun. Dunia ini hanya sebentar, Mas, sangat-sangat sebentar. Jangan menyia-nyiakannya. Jangan sampai perilaku dan perbuatan kita membuat malu diri sendiri, karena kita akan terus hidup,” papar Cak Nun.

Merehatkan suasana, satu nomor dari Letto bertajuk Lubang di Hati, menggema di dinihari yang dingin itu. Ribuan Jamaah Maiyah tetap duduk khyusuk diatas lembar-lembar koran bekas. Sebagian mereka ikut bernyanyi, larut dalam lagu yang menceriterakan kegamangan suatu ‘pencarian’ dalam hidup itu. Sayapun hanyut dalam lagu itu, seakan Letto itu menciptakan lagu khusus untuk menghibur saya.

Sesi selanjutnya, Cak Nun merespon sebuah pernyataan dan pertanyaan dari jamaah, yang galau dan curhat melihat kondisi Indonesia hari ini. Kemudian ia meminta kemungkinan Cak Nun untuk mau memimpin negeri ini. Suami Novia Kolopaking itu menjawab datar: “Mas, menurut saya, saking ruwetnya Indonesia hari ini itu sudah tidak mampu lagi pemimpin menyelesaikannya. Saya juga merasa tidak mampu merubah republik ini. Kecuali satu, atas pertolongan Allah, Allah yang nyuruh saya. Manusia takkan sanggup. Saya memungkinkan itu jika yang menyuruh saya adalah yang mau melindungi dan bertanggungawab atas diri saya. Rakyat hanya bisa memilih, tetapi tidak bisa mengontrol apalagi melindungi saya. Hanya Allah yang bisa,” jawabnya.

“Problem pertama yang harus di dandani di Indonesia ini adalah sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak ada negara yang seperti Indonesia ini, di dalam hal apapun, Allah selalu dibawa-bawa, dari pergaulan sehari-hari sampai acara kenegaraan. Namun orang-orangnya munafik, tidak benar-benar taat kepada Allah. Allah hanya dijadikan kambing hitam atas kesalahan dan kemunafikan. Kalau dulu, jaman Kanjeng Nabi, jelas: mu’min, musyrik dan munafik. Misalnya, mu’minnya 45 persen, musyriknya 50 persen, munafiknya 5 persen, itu jelas. Oh yang itu hitam, yang itu putih, yang itu merah. Namun sekarang tidak! Di Indonesia ini, hampir 90 persen orangnya munafik. Terus bagaimana cara melawannya? Semua sudah tidak jelas,” ungkapnya.

“Secara logika berpikir, presisi kebudayaan, orang juga sudah pada tidak tahu. Pikirannya, tidak penting siapa orang dan latar-belakangnya, yang penting, jika ada pengusaha sudah dipakaikan peci, baju koko, sama sarung, kemudian jika masuk pesantren disambut gegap gempita, diciumi tangannya. Yang penting pikirannya kan uangnya tho!?,” jelas Cak Nun, disambut gelak-tawa jamaah yang sepertinya tahu itu.

“Ada seorang pejabat berdoa yang berisi kritikan atas kelakuan DPR/MPR/ Pejabat di acara kenegaraan pada perigatan HUT RI di gedung DPR/MPR. Hey!, Mas, saya kasih tahu, ya: kalau sudah tahu perilakunya seperti itu, kenapa yang berdoa kok masih mau bertempat disitu? Ini kan kemunafikan yang luar biasa gila! ,” papar Cak Nun, semua hadirin terdiam.

“Ada menteri, menjabat 20 hari, dipecat, kemudian dengan permisifnya masyarakat menyilakannya berpidato di podium masjid. Sebelum dipecat, ditanya apakah kewarganegaraan anda? Jawabnya: ‘coba lihat wajah saya, wajah saya Indonesia begini, saya orang minang!’”

“Hey, Mas, saya kasih tahu: tak ada hubungannya antara status kewarganegaraan dengan wajah seseorang! Kalau begitu, orang Papua bisa juga mengaku sebagai warga Nigeria. Beliau, Pak AT itu orangnya baik. Saya tidak ada masalah dengan beliau. Tapi ini bukan soal orangnya baik, tapi soal hukum dan administrasi. Ini ibarat ada orang pinter, alim, hafal Alquran pula, menjadi imam shalat. Ketika shalat berlangsung, sang imam kentut. Jangan sampai makmum bilang: jangan diganti, itu imamnya orangnya baik, alim, etc. ini soal hukum, batal atau tidaknya, bukan urusan orangnya baik atau tidak! Harusnya, dengan kredibilitasnya, sebelum diangkat menjadi menteri, beliau bilang kepada Pak Jokowi apa adanya, tentang status kewarganegaraannya. Kan bisa diurus. Ini tidak. Baru ketahuan belakangan, jadilah boomerang. Nah, hal-hal presisi kebudayaan, logika berpikir dan posisioning seperti ini orang sudah pada banyak tidak tahu,” jelas Cak Nun panjang lebar.

“Ada lagi, seorang siswi gagal mengikuti upacara pengibaran bendera HUT RI (kemudian diberi jatah menurunkan bendera), karena belum bisa memiliki status kewarganegaraan karena belum 18 tahun. Negara kita ini menganut teori Barat yang menyatakan kedewasaan seseorang semenjak berusian 18 tahun. Kalau konsep Islam kan tidak. Tanda kedewasaan perempuan adalah semenjak keluar haid, sedangkan untuk laki-laki ketika sudah mimpi (basah). Konsep Islam tentang kedewasaan seseorang ini justeru lebih jelas, karena tingkat kemajuan zaman, gizi seseorang, juga bisa dengan sendirinya merubah pola-pola itu. Sekarang, anak perempuan SD saja sudah pada haid,” ungkap Cak Nun.

“Dulu, ketika Sri Sultan Hamengkubuwono X ngunduh mantu (menikahkan putrinya), ada aturan: dilarang memberi kado kepada Gubernur, alasannnya karena nanti bisa berpotensi grativikasi, suap. Ini aturan apa-apaan?. Sungguh logika yang tidak waras. Hey, mana ada gubernur mantu? Yang ada yang mantu ya Sri Sultan. Hal tata nilai dan batas-batas budaya yang seperti ini orang sudah rancu, tidak tahu. Memang, semangat anti-korupsi itu baik. Namun jangan lantas menerjang tata-nilai, semua ada garis-batasnya. Mana ada undang-undang berkata: salahsatu tugas gubernur adalah mantu? ,” seloroh Cak Nun, disambut cekakan hadirin.

“Lagi, jika ada petugas PLN memperbaiki listrik, kemudian dari kantor menelfon atau memakai surat yang isinya: melarang pelanggan listrik untuk memberi tips kepada petugas tersebut. Ini aturan yang konyol juga. Harusnya, kantor tersebut cukup bilang kepada petugas tersebut, atau membuat aturan agar tidak boleh meminta uang kepada pelanggan (karena sudah ada gaji tetap). Jangan pelanggan yang dilarang untuk memberi sesuatu, itu tak ada hubungannya. Lha jangankan memberi sesuatu, uang misalnya, sedekah sebagai rasa terima kasih kepada petugas tersebut. Lha wong jika petugas itu mau tak ambil mantu kan ya sah-sah saja to?,” canda Cak Nun sambil memberi logika, diikuti gelaktawa hadirin.

Kemudian, ia meminta Jamaah Maiyah untuk mulai belajar berpikir rasional, melihat cara pandang Islam dan mengetahui presisi kebudayaan. Ia juga berpesan untuk terus belajar dari apapun, siapapun, untuk menemukan kunci-kunci. “Kunci-kunci itu sekarang belum tentu berguna. Namun, suatu saat, ketika ada pintu, kita sudah memiliki kuncinya, tidak perlu lagi mencarinya,” imbuhnya.

Reinterpretasi Makna Riba.

Dalam pada itu, Cak Nun juga memberi perspektif yang cukup baru, minimal bagi saya yang baru mendengarnya. Beliau awali dengan mengkritik bank-bank yang masih tidak jelas, yang menerapkan sistem konvensional sekaligus sistem syariah, dengan logika agama: “kalau saya beragama Islam, dan pindah agama Katholik, tentu saya sudah tidak menjadi muslim lagi. Tapi bank-bank ini tidak, ya masih melestarikan agama lama ‘sistem konvensional’ dengan ribanya, ya dipakai, sistem bagi hasil yang katanya ‘syariah’ itu juga dipake. Ini kan ambigu. Islam tidak, kafir tidak. Ini berarti tujuan mereka hanya perluasan pasar. Anda juga jangan mau ditipu, lha wong itu labelnya cuma syariat tok kok. Syariat siapa dulu? Jangan-jangan itu hanya syariat (jalan) si bank. Jangan sampai kita kecelik, besok pengurus bank itu di akherat bilang: kan saya tidak menulis syariat Islam to?,” ungkapnya, disambur cekikika hadirin.

“Jadi, para ulama dan intelektual Islam, perlu menerjemahkan kembali konsep riba itu seperti apa? Jika saya pinjam uang di bank, dan diberi bunga 5%, saya malah ngenyang, jangan cuma segitu, saya minta 20%. Saya ngenyang dinaikin bunganya. Itu pegawai banknya kan justeru malah kebingungan sendiri. Dulu kan sebelum ada bank, yang menjalankan peran ini adalah perorangan, seperti bank plecit itu. Untuk jasanya, orang tersebut minta upah, lebihan, disebutlah riba. Sebenarnya, dalam hal tertentu itu wajar. Bedanya, sekarang, karena sudah berbentuk lembaga, tidak mungkin diurus satu persatu, diambil jalan umumnya, potongan beberapa persen untuk: biaya sewa gedung, jasa, gaji pegawai dll sekian persen. Kalau hal itu tidak dipikirkan, bagaimana lembaga itu ada? Sebagai seorang muslim, tentu saya dan kita semua juga harus tahu rasa terima kasih. Jangan maunya hanya enaknya. Kalau kita pinjam uang 1 juta, misalnya, untuk sekian tahun, lalu mengembalikan juga sama 1 juta, bukankah itu artinya kita tidak tahu di untung, tidak tahu terima kasih? Padahal, pegawai, gedung dan administrasi bank juga perlu uang. Dan jika tidak kita pinjam, bukankah uang 1 juta itu sudah bisa mereka pakai untuk investasi, modal usaha, dll yang bisa dikembangkan? Jadi, menurut saya, konsep riba ini perlu dikaji kembali. Itu makanya saya umpamakan, jika saya minta tolong orang, saya sebisa mungkin mengembalikan lebih dari yang ia bantu, seperti tadi 5% jadi 20%. Itu namanya kita orang yang tahu terima kasih,” ungkpanya.

Kemudian Cak Nun menyilakan Kiai Muzammil untuk memberi wejangan kepada Jamaah Maiyah. Merespon beberapa pertanyaan dari jamaah, aktivis LBM NU Jogjakarta ini menuturkan, bahwa “tidak memberinya Allah kepada kita itu adalah bentuk pemberian itu sendiri”. Beliau juga berpesan agar jangan pernah berhenti mengharap rahmat Allah, tidak pernah putus asa.

Tak kelewatan, beliau sedikit membahas tentang kemerdekaan. Dalam bahasa arab, menurutnya, ada dua term: hurriyah (kemerdekaan) dan istiqlal (independen). Uforia kemerdekaan Indonesia kali ini, menurutnya, hanya sebatas seremoial belaka, tidak subtantif. Dalam pandangan Kiai Muzammil, peringatan itu berarti mengingat, dalam bahasa Arab dzikir. “Kemerdekaan yang sebenarnya ya seperti kita ini, dzikir, tafakkur, muhasabah, tadabbur,” ungkapnya.

Kemudian, berdasarkan gramatika Arab, Kiai Muzammil menduga, bahwa kata huur (bidadari), hurriyah (kemerdekaan, kebebasan) dan hariroh(kain sutera) memiliki ‘keterkaitan makna’, yaitu kemerdekaan, kelembutan. Sesuatu, jika spektrumnya semakin luas, akan semakin melembut. Dalam teknologi modern, dari disket, flash disk, sampai sudah ditemukan yang terbaru juga semakin mengecil, melembut, namun kapasitasnya lebih tinggi dan besar. Kemudian, Cak Nun juga berspekulasi, “Jangan heran kalau nanti di surga, bidadari itu bukanlah seorang wanita, melainkan sebuah kebebasan yang jika kita berkehendak itu ada. Melihat asal rumpun kata yang mirip, hal ini mungkin saja, meski perlu dikaji kembali,” ungkapnya.

Sebagai pamungkas, Cak Nun menyilakan putranya untuk kembali bernyanyi. Kali ini, adalah nomor indah yang belum sempat memuncaki tangga lagu Indonesia: Cinta Bersabarlah… Seperti yang sudah dinyanyikan, lagu ini pun seakan sebuah syair yang khusus dipersembahkan kepada saya. Indah sekali!

Kiai Muzammil memuncaki dengan melangitkan doa, usai pembacaan puisi dari ketua Nahdlatul Muhammadiyyin: Mustofa W. Hasyim. Sebelum Jamaah Maiyah membubarkan diri secara tertib, dipagi buta itu Cak Nun berpesan, yang sungguh layak untuk di tindaklanjuti:

“Kepada para Jamaah Maiyah, usai pulang ke rumah masing-masing, saya anjurkan untuk membuka Alquran, membaca dan memikirkannya. Cobalah untuk merenungi hidup anda sekalian dan ‘bandingkan’ dengan firmah Tuhan dalam Surat Alam Nasyroh: 1-8. Mungkin disitu ada kesamaan. Mungkin disitu Tuhan sudah memberi jalan atas apa saja permasalahan yang ada di dada kalian,” ungkap beliau.

Terjemahan ayat: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?, dan Kami telah meghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Cak Nun, menitikberatkan pada dua ayat: inna ma’al ‘ushri yusra, sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan. Kesulitan kita semua, kata Cak Nun, sudah tahu semua, tinggal kemudahan atau solusinya yang perlu dicari. Selain itu, lanjutnya, yang paling penting jika kita telah selesai mengerjakan sesuatu, atau bekerja misalnya, untuk berpegang teguh pada ayat terakhir pada surat itu: wa ilaa rabbika farghab, dan HANYA kepada Tuhanmulah kendaknya kamu berharap. Bukan kepada selain-Nya.

***

Kemudian, pada pukul 03.00 WIB dinihari lebih, Jamaah Maiyah secara tertib membubarkan diri. Sementara, di seberang forum, seorang wanita muda itu masih bersemangat melayani pembeli. Dengan pakaian dan kerudungnya yang serba merah, ia menunjukkan harga satu persatu dari produk yang ia jual. Cahaya lampu terang yang bersinar di depan lapaknya, memperjelas kulitnya yang putih tanpa make up serta barisan rapih giginya yang putih gemerlapan saat melempar senyuman. Ditemani seorang pria, yang kemungkinan besar adalah suaminya, selain ngaji, ia juga sedang berjuang untuk masa depan.[]

Purworejo, 18 Agustus 2016