Kemarin, Lailatul Munawwaroh alias Ela, seorang teman seangkatanku ketika masih duduk di sekolah menengah pertama, mengabariku berita duka. Rifqi Ishom, teman seangkatanku yang juga beralmamater sama, telah meninggal dunia, sekitar setahun lalu, ketika usia pernikahannya baru setengah tahun. Dan betapa, di era teknologi informasi yang sedemikian canggih, kabar itu baru sampai di telingaku selambat ini – setahun kemudian.
Mungkin tak banyak orang mengenal namanya, dan bahkan catatan ini tak penting untuk dibaca, ditengah berbagai masalah kehidupan yang sedemikian komplek. Namun aku tetap akan menuliskannya, minimal untuk diriku sendiri, karena ia telah sedikit-banyak mengisi puzle dalam sejarah hidupku. Selebihnya, aku hanya ingin mengajak otakku untuk flash back, kembali mengenang seorang teman, merefleksikan kehidupan dan mengambil suatu pelajaran.


Di suatu pertengahan tahun 2000, aku pertama kali mengenal sosoknya, di sebuah pesantren di Purworeo, Jawa Tengah. Nama lengkapnya Rifqi Ishom, namun ada yang memanggilnya: “Ndul!”. Anaknya tidak tinggi, berbadan agak gemuk, berwajah bulat, rambut ikal hampir kriting, dan memiliki sorot mata yang tajam. Ia seorang yang lincah, care, jail, bandel dan pemberani. Ia ditempatkan oleh pengurus pondok di komplek KH Bisry Syansuri, tepatnya kamar 08 Semarang, sebuah kamar yang diapit oleh kamar 07 Kebumen dan 09 Sumatera. Di kemudian hari, kamar itu berubah nama menjadi A11, diapit oleh A10 dan A12.
Suatu ketika, ditengah guyuran hujan, aku dan Rifqi kelaparan. Padahal, uang kami telah habis. Waktu itu, yang ada adalah beras dan beberapa cabe di sebuah almari di dapur pesantren. Dengan iringan gemuruh hujan itu, kami berdua membuat api dari hanger dan sendal. Waktu itu, aku masih takut melakukan “kejahatan kecil” itu. Namun, bagaimana lagi, semua kayu basah dan tak dapat dibakar. Usai nasi masak, leyeh dan muthu untuk menyambal pun tak ada entah kemana. Atas inisiatif Rifqi, ia kemudian menaruh cabai, bawang dan garam itu diatas wajan, kemudian mencari batu, dicuci dan menguleknya sekuat tenaga seorang bocah yang baru lulus SD. Kemudian, karena lagi-lagi tak ada nampan, kami makan diatas wajan itu. Namun ajaibnya, rasa nasi sambal itu nikmatnya seakan terasa sampai sekarang – 16 tahun kemudian. Mungkin ketika itu kami sedang berada di puncak kelaparan. Setelah itu, ketika uang kiriman sudah habis, seringkali kami berdua mencari daun enceng gondok atau mancing di sawah, yang berarak sekitar 2 km di belakang pesantren.
Menginjak dua tahun di pesantren, ia sebakin berani, jail dan memiliki banyak teman, dari anak-anak seusiaku sampai orang dewasa. Hanya dia, setahuku, anak kecil yang berani berteman degan para “santri nakal” yang bermarkas di kamar lantai tiga, salahsatu kamar yang “wingit” ketika itu. Kata teman-teman dulu, di kamar yang nyempil sendiri itulah, berisi kumpulan orang-orang sangar. Dan Rifqi biasa berkunjung ke kamar itu, dan pernah suatu kali mengajakku. Dari jendela kamar itulah, aku juga melakukan maksiat kecil-kecilan: mengintip aktivitas pondok putri yang berjarak sekitar 100 meter. Betapa waktu itu, mengintip wanita yang hanya tak berkerudung, dengan sedemikian jarak pandang jauh, memiliki rasa kenikmatan tersendiri, keasyikan tersendiri, yang jika ketahuan tentu hukuman akan ditegakkan dengan pasti. Dan Rifqi, sudah berani semenjak dini. Karena keberaniannya itulah barangkali, setahun kemudian ia dianggkat sebagai ketua OSIS di sekolah menengah pertama kami. Ia berani tampil berpidato ditengah ratusan siswa dan guru. Itu hal yang dulu sangat asing dan tak kumiliki ketika itu.
Aku pun pernah sangat-sangat marah kepadanya. Suatu malam usai mengikuti madrasah, aku menempatkan diri tidur di lantai dua, dekat kamar B1 Pengurus. Ketika aku baru saa terlelap, tiba-tiba sebuah sarung menutupi waah dan seluruh tubuhku, aku diseret, setelah itu mukaku dikentuti: prepeeeeeeeeeettttt!!!! Akupun berjibaku mengelak, dan berhasil membuka sarung. Sesosok anak kecil seusiaku berlari, dan ternyata itu Rifqi, sialan! Setelah kejadian itu, hampir setiap malam kami berdua saling mengerjai satu sama lain, saling balas dendam, dengan permainan yang sama, dan kadang ada inovasi. Dan lama-lama kami berdua bosan, sampai akhirnya bersekongkol.
Di suatu malam, usai madrasah dan masak di dapur, kami berdua pergi ke masjid tua di depan pesantren. Di waktu malam, dari serambi sampai dalam, sudah biasa digunakan sebagai tempat tidur santri, yang jika lampunya dihidupkan, akan nampak seperti deretan ikan asin yang sedang dikeringkan dijemur. Permaina pertama, adalah permainan odol dan korek api. Biting korek api itu dibakar sampai menjadi arang kecil dan hitam. Setelah mendapat beberapa, kami mencari calon korban. Calon korban ini biasanya adalah anak yang pecicilan atau tidak disukai Rifqi atau memang anak yang ditakdirkan masa kecilnya untuk dikerjai orang-orang seperti kami. Setelah mendapat target koraban yang sedang tidur tanpaa penerangan lampu itu, kami mengendus-endus laiknya seorang tentara yang sedang perang merebut kemerdekaan. Setelah sampai di depan kakinya, secuil odol atau pasta gigi itu dioleskan di kaki, kemudian arang biting korek api itu ditancapkan di odol tersebut dan dinyalakan ujungnya. Sekitar 2 sampai 3 menit, bara itu akan turun dari atas kebawah. Setelah mendapat beberapa korban yang dipasangi kakinya, kemudian kami langsung pura-pura tidur di samping atau sekitarnya. Ketika para korban merasakan kakinya yang kepanasan dan menjerit-jerit, kami masih menahan tawa untuk tetap diam, berakting laiknya para bintang iklan. Setelah puas, kita saling memberi kode untuk perki ke kamar atau aula lantai tiga, baru tertawa sekencang-kencangnya, sepuas-puasnya. Itulah yang namanya kebahagiaan diatas penderitaan orang lain.
Selain permainan dan hiburan itu, ada banyak lagi jenis pembulian orang-orang seperti kami berdua. Namun, meski banyak, ada satu yang paling gokil dan gila segila-gilanya. Kami operasi para santri kecil seusia kami yang tidur dengan dengan posisi membungkuk lagi tidak memakai CD. Setelah menemukan, kami sediakan tali rafia setengah meter yang masing-masing ujungnya kami buat ikatan yang belum terikat kuat. Secara hati-hati, perlahan dan tanpa suara gerakan, kami ikatkan tali rafia itu pada burung korban di satu ujung dan pada jempol kaki di ujung yang lain. Usai terikat dengan sempurna, maka kami akan menjauh, pergi ke asrama lantai dua. Dari situ, kita lempar piring atau apapun ke pinggiran atap masjid yang terbuang dari seng. “Gundheenggg…..!!!”. Seketika, korban yang tidur dan kaget akan terbangun sambil menjerit gila: burungnya tercincang! Dan ketika suara jerit itulah, kami berdua tertawa cekakan dari kejauhan: senang melihat orang susah.
Menghadap Yang Kuasa
Itulah saat-saat dimana aku intim berteman dengan seorang yang bernama Rifqi, sebelum akhirnya terpisah karena cita-cita yang berbeda. Dan sebelum ia menikah, setelah beberapa tahun lulus SMA, aku beberapa kali bertemu dengannya. Ia nampak tak seperti biasanya. Kata teman-teman, ia jadzab karena mengamalkan amalan tertentu. Namun ia masih mengenaliku, memperlakukanku seperti biasa dan menyambutku dengan ramah ketika aku bertamu ke rumahnya. Ia tak berbeda, kecuali cara berpikirnya. Sesekali ia berbicara tentang hakikat dan tasauf agak tinggi, yang beberapa memang kubenarkan – tak bisa menyangkal – padahal dimasa itulah aku senang-senangnya melahap buku-buku Rumi, Al-Ghazali sampai Emmanuel Kant. Aku di ajak ke Padepokan bambu besar yang menampung ribuan jamaah, di sebuah bukit di Gunungpati, Semarang. Katanya, padepokan itu di waktu-waktu tertentu tempat mengaji tarekat yang aku sudah lupa apa nama alirannya. Dari tempat itu, yang kuingat dengan, hamparan kota semarang terlihat dengan indah.
Beberapa waktu kemudian, agak lama, aku tak bertemu dengannya. Tiba-tiba, ketika ikut-ikutan tren orang masakini dengan menggeser-geser DP BBM, kulihat dia memasang DP pernikahannya dengan seorang wanita. Aku mengucapkan laiknya, ucapan orang-orang kepada temannya yang melangsungkan pernikahan. Dan setahun setelah itu, baru kudapatkan kabar dari Ela, bahwa ia telah dipanggil ke Hadirat Yang Kuasa, di umur yang masih muda. Umur yang sama seperti yang kupunya.
Kini, meski sudah setahun kau telah meninggalkan dunia, semoga ia mendapat tempat yang indah di sisi Sang Pemilik Nyawa. Dosa-dosanya diampuni semua, termasuk dosa sewaktu kami dulu mengerjai teman-teman kami bersama, yang ketika itu kami belum disunat, akil, baligh atau dewasa. Benarlah firmannya, Dia memanggil siapapun dan kapanpun yang Dia suka, tak peduli tua ataupun muda. Aku berharap, semoga Allah SWT memanggilnya khusnul khatimah, karena rindu: tak tega lama-lama melepas makluknya dalam dunia yang kian kemari kian kelabu.
Untuk teman seperjuanganku, Rifqi Ishom Almarhum, Al-Faatihah…[]
Purworejo, 1 September 2016.