PADA suatu siang di pertengahan bulan Mei 2011, dua orang pemuda berboncengan motor keliling kota Purworejo, Jawa Tengah. Di depan sebuah rumah tua di pertigaan jalan sibak, sekitar 500 meter dari makam pahlawan nasional Sarwo Edhy Wibowo, perlahan sang joki mengerem motor, berhenti. Kemudian mereka turun dari motor astrea grand, melihat-lihat dan menanyakan kepada penduduk sekitar: siapa sang pemilik rumah itu?

Rumah itu bercat biru langit yang kusam dengan rumput tinggi-tinggi dan balutan klamat laba-laba. Luasnya sekitar 20×30 meter persegi dengan dikelilingi tembok dan gerbang besi. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Menurut penduduk setempat, jika malam tiba tak ada setitik cahayapun bersiar dari rumah yang sedang diamati kedua pemuda tersebut. “Inilah rumah yang kita cari”, ungkap Musyafa’ kepada Makhrus. Usai mendapat banyak keterangan dari warga sekitar, keduanya menemui sang empunya rumah yang tinggal tak jauh dari tempat itu.

Kedua pemuda itu adalah Muhammad Musyafa’ dan Anis Makhrus. Musyafa’ adalah ketua Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Purworejo 2009 – 2011. Sedangkan Makhrus adalah salahsatu jajarannya. Sudah sekitar sebulan terakhir, keduanya mencari sebuah rumah, bukan untuk mereka berdua, melainkan untuk sekretariat organisasi yang dipeluknya: IPNU. Memang, sebelumya mereka berkantor satu atap dengan gedung organisasi iduknya: Pengurus Cabang NU (PCNU) Purworejo. Namun, dengan dalih memaksimalkan lembaga dan lajnah PCNU, semua badan otonom terpaksa direlokasi dari gedung berlantai dua di Jalan Kepatihan No 17 Purworejo itu. Sekretariat IPNU disuruh pindah ke bekas gedung SMU Sultan Agung, yang masuk wilayah kecamatan Gebang. Dalam suatu rapat terbatas yang digelar para aktivis IPNU usai kebijakan “orang tua” mereka itu, tak ada satupun yang setuju. “Tempat relokasi ini terlalu jauh dari pusat kota, kurang strategis”, komentar Musyafa’ ketika itu, yang diamini oleh pengurus lainnya. Usai rapat, beberapa petinggi penguruspun bergreliya mencari rumah kontrakan.

Ketika ditemui oleh Musyafa’ dan Makhrus, sang pemilik rumah itu sedang berijbaku dengan berbagai taman yang ada di pekarangannya. Anjingnya berwarna coklat yang diikatkan pada suatu pohon, tak henti menghentak kedua tamu itu. “Assalamu’alaikum. Permisi, Pak”, sapa Musyafa’, “bisa minta waktu sebentar”, imbuhnya. “Monggo, silakan masuk, Mas”, jawabnya. Keduanya kemudian ngobrol dan basa-basi lama dengan sang pemilik rumah.

Namanya adalah Ibnu Laga. Badannya tinggi, kurus, berkulit putih, dengan kumis tipis panjang tak rapi. Rambutnya yang mulai menguban dibiarkan gondrong. Sorot matanya tajam, namun bibirnya selalu dihiasi senyuman. Ia tinggal sebatang kara di sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari rumah yang dilihat Musyafa’ dan Makhrus itu. Istrinya sudah meninggal dua tahun silam, sedangkan dua anaknya merantau ke luar kota. Di dinding rumah sederhana itu, tampak terpajang beberapa foto keluarga. Salahsatu foto nampak seorang pemuda tampan, agak gemuk dan memakai dasi di sebuah kantor perusahaan, menarik perhatian Musyafa’. “Itu foto siapa, Pak?”, tanyanya. “Itu saya sewaktu masih muda”, jawab Ibnu Laga. Kemudian ia banyak cerita tentang masa mudanya.

Dulu, semasa muda, Ibnu Laga adalah seorang yang pernah mencapai karir yang cukup tinggi. Di Jakarta, ia menjadi seorang direktur di salahsatu Hero Supermarket, yang ketika itu belum punya banyak saingan seperti indomart dan alfamart sekarang, yang hampir menjamur di tiap kecamatan. “Pucuk pimpinannya ketika itu Bapak Suryadharma Ali”, ungkapnya mengenang. Semasa menjadi direktur, ia banyak membaca dan mengkliping berita dan majalah seputar delik, investigasi dan pelbagai persoalan hukum, sosial dan budaya. Kepada kedua tamunya, ia menunjukkan setumpuk kertas yang sarat sejarah dan data, khususnya kebijakan pada masa Orde Baru yang represif itu. Karier Ibnu Laga ambruk usai ditinggal istrinya ke pangkuan alam dan ia banyak mendapat cobaan. Meski begitu, ia damai dengan keadaan sekarang. “Semua ini sudah menjadi garis hidup saya”, ungkapnya. Kemudian, Musyafa’ dan Makhrus juga baru mengetahui kalau dia ternyata adalah seorang non-muslim, usai melihat patung Yesus disalib yang ada di dinding rumahnya. Makhrus sempat senyum kecil meledek Musyafa’ yang ketika datang bertamu membuka dengan salam khas Islam.

“Maaf, sebenarnya ada keperluan apa datang kesini?” tanyanya usai ngobrol ngalor-ngidul.

“Anu, Pak, kami ingin mengontrak rumah bapak yang ada di seberang jalan”, jawab Musyafa’.

“Tapi rumah itu kotor sekali, sudah dua tahun tidak ditempati”

“Tidak apa-apa, biar nanti teman-teman bersihkan”

“Oh, yasudah kalau begitu”

Kedua pemuda itu bolehlah sejenak lega, karena pecarian sebulan terakhir telah membuahkan hasil. Namun itu tak berlangsung lama, karena mereka masih menghadapi tantangan kedua: berembug harga. Jelas, kedua pemuda itu tahu dari pencarian sebulan terakhir, bahwa kontrakan rumah di dekat alun-alun kota sangatlah mahal, kisaran 7 sampai 15 juta pertahun, sebuah angka yang cukup besar untuk ukuran kantong para pemuda yang rata-rata masih dalam tahap belajar, belum bekerja atau memiliki banyak penghasilan.

“Mau dibuat usaha atau apa ya?”, tanya sang tuan rumah, sebelum keduanya sempat bertanya soal harga.

“Untuk sekretariat IPNU, Pak, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama”

“Nahdlatul Ulama? Berarti kalian ini anak-anak ideologisnya Gus Dur, to?”

“Bolehlah dikatakan begitu, Pak”, sahut mereka berdua, setelah mengetahui nama Gus Dur seakan lebih besar dari NU itu sendiri baginya.

“Saya itu, meski seorang non-muslim, suka dengan beliau. Kalau orang yang benar-benar memahami agama, saya yakin akan seperti beliau. Beliau itu menghormati semua agama dan menghargai perbedaan. Di tangan beliau, agama tidak menjadi api permusuhan, penghambat kemajuan, dan jurang perbedaan, namun justru menjadi perekat kemanusiaan, alat pembebasan dan solusi atas problematika kemasyarakatan”, ungkapnya. Kemudian, ia banyak mengungkap kebijakan Gus Dur yang banyak membawa kemajuan bagi bangsa, khususnya dalam membela hak-hak kaum minoritas. Obrolan berlagsung lama, sampai tak terasa, malam menjadi semakin malam, dan persoalan harga pun perlu di selesaikan.

“Karena kalian-kalian kedepannya akan mewarisi pemikiran dan perjuangan Gus Dur, cukuplah membayar 1,5 juta saja pertahun.”, ungkap sang empunya rumah biru langit itu. Kedua pemuda yang ada di depannya langsung saling berpandangan, dalam hati diam-diam girang. Sejenak kemudian berkata salahsatu diantaranya: “ terima kasih banyak, pak”. Dan bulatlah kesepakatan.

Sampai kini, tahun 2016, rumah itu dirawat dan dihuni oleh para aktivis IPNU. Rumah itu menjadi rumah budaya yang didatangai berbagai usia, latar belakang pendidikan dan berbagai macam orang. Sesekali dibuat rapat IPNU. Dikali lain dibuat kumpul komunitas musik, geng motor sampai jamaah maiyah. Kadang dipakai untuk diskusi, presentasi, membahas pekerjaan, tempat kumpul wartawan, posko penggalangan dana musibah, sampai menjadi sebuah poros yang mempertemukan jodoh beberapa diantara mereka.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tempat yang kini di cat hijau itu adalah tempat bersejarah bagi sebagian orang yang pernah berproses di dalamnya. Dan adanya tempat itu, selain kebaikan empunya rumah sendiri, adalah peran ajaib Gus Dur yang meskipun sudah wafat, masih “membantu melobikan”, dengan masuk ke relung hati, otak dan segenap kesan sang tuan rumah rasakan sehingga harga menjadi jauh lebih murah dari kebanyakan kontrakan. Wajarlah, kalau sampai hari ini, makam beliau terus ramai dibanjiri peziarah. Orang-orang NU masih selalu ingat jawaban Gus Dur ketika suatu kali ditanya alasannya berziarah: “Karena orang yang mati sudah tidak punya kepentingan”.

Untuk selalu mengenang, selain juga terus mempelajari pemikiran dan tindakan Gus Dur, persis di tembok depan gerbang rumah tersebut, digambarlah wajah sosok yang kotroversial itu. Dialah guru bangsa yang banyak dipuja sekaligus dihina. Seorang ulama, negarawan, budayawan, intelektual, yang banyak berkontribusi untuk anak bangsa, mulai dari pemikirannya tentang pribumisasi islam, islam kosmopolitan, pluralisme, humanisme, sampai kebijakan riilnya membuat kementerian kelautan pertama (setelah sekian lama tokoh negeri ini lupa akan bangsa maritim), mengakui eksistensi orang keturunan Tionghoa, melambaikan tangan keluar istana menggunakan celana pendek seakan mengacuhkan kekuasaan ketika dilengserkan untuk menghindari perang saudara, dan seabreg pemikiran dan kebijaksaan yang sampai kini tak habis dianalisis.

Meski hanya sebuah gambar, seolah-olah para aktivis IPNU itu ingin berkata kepada sang guru bangsa: “Matur suwun, Gus, sudah mau membantu kami. Semoga kami dapat meneladani perjuanganmu, meski hanya seujung kuku.”[]

Purworejo, 02 September  2016