DALAM masyarakat santri di pesantren, ada banyak istilah yang sering digunakan baik untuk berkomunikasi maupun mengaplikasikan suatu tindakan. Istilah tersebut kadang tidak begitu dimengerti oleh orang yang tidak pernah hidup pesantren. Berikut adalah sembilan istilah yang akrab bagi santri atau para alumnus pesantren. 
1. I-N
Banyak riwayat dan versi mengenai asal-usul dua huruf ini. Namun yang jelas, kata ini akan selalu terucap ketika ada santri yang baru datang dari rumah: “Mana IN-nya?”. Dalam bahasa yang lebih membumi, IN bisa diartikan dengan oleh-oleh. Riwayat yang populer mengatakan, IN adalah singkatan dari: Insya Allah Ni’mat.
Tradisi di pesantren, usai pulang liburan dari rumah, santri akan kembali dengan membawa IN ini. IN sendiri bentuknya tidak ditentukan, namun kebanyakan makanan. Wajar kalau IN bervariatif, sesuai dengan makanan khas daerah masing-masing. Ketika santri datang dari rumah dan IN disajikan, dijamin akan langsung diserbu apapun makanannya.

Bagi santri yang “nakal”, kadang berlari membawa bungkusan sambil teriak: “I.N……I.N….I.N…..!!!”. Sontak, banyak yang mengerubuti. Setelah dilihat, ternyata isinya cuma platik kosong. Kecewalah semua calon penikmat IN. Tradisi berebut IN ini masih lestari sampai sekarang, khususnya di pesantren-pesantren salaf.
2. TA’ZIR
Ta’zir adalah hukuman bagi santri yang melanggar aturan pesantren. Adapun mecam ta’zir bertingkat, sesuai dengan kelas “kejahatan” dan pelanggaran yang dilakukan oleh santri. Ta’zir ringan biasanya hanya disuruh berdiri di kelas, depan pesantren atau dipinggir jalan. Ta’zir sedang ialah dicukur gundul atau diceburkan ke kolam. Ta’zir yang paling berat biasanya santri dikeluarkan dari pesantren. Ta’zir sendiri biasanya dilakukan oleh orang yang paling ditakuti oleh seluruh santri: kepala keamanan.
3. GHOSOB
Ghosob adalah menggunakan barang orang lain tanpa seijin pemilik. Memakai pakaian, bantal, sarung dan yang paling sering adalah sendal tanpa ijin, sudah menjadi tradisi “buruk” para santri. Ghosob ini marak dikalangan santri, menurut saya karena dua hal: pertama, santri satu dengan lainnya merasa seperti keluarga sendiri. Kedua, karena orang yang ghosob tidak memiliki. Misalnya, ia ingin pergi ngaji tapi tidak punya sendal, akhirnya ia ghosob milik temannya. Karena sudah sama-sama saling mengerti, para santri biasanya memakai dalil’ulima ridlouhu (sudah diketahui kerelaan pemiliknya) untuk ghosob. Meski begitu, kadang jengkel juga sang pemilik jika barang yang sedang dighosob sedang dibutuhkan olehnya.
4. NDALEM
Ndalem adalah istilah khusus bagi santri untuk menyebut kediaman pengasuh pesantrennya. Ndalem sakral bagi santri, tidak semua bisa seenaknya keluar masuk. Ada perasaan rikuh yang kadang lewat depan Ndalem pun sampai menunduk. Di ndalem ini, biasanya banyak santri yang ikut membantu sang kang kiai atau ibu nyai dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Santri ini disebut Cah Ndalem. Cah Ndalem ini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan ndalem mulai melayani tamu, memasak, mencucikan pakaian kiai dan sebagainya. Mereka memiliki hak previllege untuk tidak ikut mengaji dan menaati aturan yang berlaku di pesantren. Meski begitu, banyak Cah Ndalem ini yang justru rajin mengaji, memiliki prestasi di kelas atau menjadi tokoh masyarakat setelah pulang dari pesantren.
5. NGROWOT
Ngrowot adalah istilah yang dipakai santri yang tidak makan nasi, tepatnya menghindari makanan yang berbahan beras. Ngrowot merupakan salahsatu cabang dari riyadlah atau lelaku yang dilakukan kaum santri sebagai bentuk membersikan hawa nafsu (tazkiyatun nafs) dan mendekatkan diri kepada Allah, selain puasa, mujahadah, shalat berjamaah dan atau menjalankan amalan tertentu lainnya dari kiai.
Sebelum mie instan populer, santri yang ngrowot ini memakan thiwul, oyek atau nasi aking, yaitu sejenis makanan yang terbuat dari ketela pohon. Jika santri pelaku ngrowot tersebut mendapatkan atau ingin membeli makanan dalam kemasan, mesti memastikan apakah ada tulisan “beras” atau “rice” dalam komposisinya atau tidak? Jika tidak, baru boleh dikonsumsi. Ngrowot dan amalan riyadlah lainnya, semisal puasa dawud, kebanyakan dilakukan selama bertahun – tahun, sesuai petunjuk kiai.
6. GOJLOGAN
Gojlogan atau Gojlok – Menggojlok, adalah istilah santri untuk ketika mengerjai atau istilah sekarang mem-bully santri lain. Gojlogan ini hampir merata dan ada disemua pesantren. Gojlogan ini paling marak terjadi ketika ada santri baru, dan momentum kegiatan pesantren seperti lomba berpidato dll.
Sekadar contoh, santri baru yang belum mengerti kitab kadang ia oleh santri-lama disuruh beli kitab orang dewasa, misal fatkhul izar (cara membuka sarung), sebuah kitab untuk suami istri. Tentu penjual kitab yang juga seorang pengurus tahu tindakan itu, sehingga kitab yang belum kelasnya itu tidak dikasih. Usai balik ke kamar, santri baru akan ditertawakan bersama-sama. Tes mental pertama.
Gojlogan juga terjadi ketika forum khitobah, muhadloroh atau lomba pidato antar daerah. Santri yang berani berorasi di panggung akan dibully habis-habisan, dengan sorakan, teriakan, bahkan kadang ada yang kelepas iseng disuguhi menuman di depan panggung, laiknya pendakwah yang disuguh masyarakat. Setelah diminum, akan ditertawakan bahwa air itu mengambil dari kolam. Dan banyak lagi jenis gojlogan.Wajar kalau para dai yang terjun di masyarakat, kebanyakan memiliki mental yang teruji, karena atmosfir di pesantren juga keras dalam soal bully-bullyan.
7. SETORAN
Lain lubuk lain belalang, lain komunitas lain pula tradisi dan budayanya. Dan termasuk istilah setoran. Bagi sopir istilah ini dipakai untuk mengatakan jumlah setoran uang kepada juragannya. Namun bagi santri, setoran adalah kegiatan menyetorkan hafalan nadzaman kitab-kitab. Biasanya, seminggu sekali santri menyetorkan hafalannya yang berbentuk syair itu kepada ustadz atau wali kelas. Jika jumlah hafalah tidak sesuai target, alamat akan mendapat ta’zir berupa mengikuti pelajaran sambil berdiri. Bahkan jika hafalan buruk, bisa jadi santri tidak lulus atau naik kelas.
8. UTAWI IKI IKU – ZAID
Utawi iki iku, adalah salahsatu istilah dalam ngesahsahi atau memaknai kitab kuning (kitab gundul). Konon, pemaknaan ini diperkenalkan pertama kali oleh Syeikhona Cholil Bangkalan. Model pemaknaan dengan metode ini menarik, karena memudahkan dan menyederhanakan. Kalimat dan arti yang panjang cukup ditulis dengan huruf hijaiyyah dan simbol tertentu.
Adapun kata atau nama Zaid, adalah nama yang paling populer di pesantren. Entah kenapa dan siapa yang pertama kali mengawali, nama ini dipakai oleh ustadz di hampir semua pesantren di Jawa untuk contoh kalimat, khususnya dalam ilmu nahwu. Konon, kata itu populer dan tetap lestari karena Zaid bermakna tambah, sehingga harapannya tiap kali pelajaran bertambah ilmunya.
9. LENGSERAN
Lengseran adalah makan bersama menggunakan lengser atau nampan. Dalam hal makan ini, biasanya santri memiliki kelompok atau komunitas sendiri dengan berbeda menu dan aturan. Dalam “klub masak” itu, mereka membuat jadwal giliran belanja dan masak, menentukan iuran anggota dll. Makan bersama menggunakan nampan, sekilas terlihat “jorok” bagi yang tidak terbiasa. Namun tahukan anda, senikmat-nikmatnya makan adalah makan bersama-sama. Selain itu, makan bersama juga dicontohkan oleh Baginda Nabi dan bahkan dapat membawa keberkahan makanan. Mau coba?[]