SETELAH membaca tulisan salahsatu novelis muda Indonesia, Okky Madasari berjudul Catatan Naif tentang Politik yang dimuat di Jawa Pos 6 Agustus 2016 lalu, entah kenapa membuat saya juga ingin menuliskan hal yang sama: pengalaman dan pandangan pribadi tentang politik. Selain sekadar refleksi, catatan ini terlahir juga karena saya memiliki sedikit “pandangan lain” dengan Mbak Okky.

 
Berbeda dengan Mbak Okky yang ingatannya tentang politik: “hanyalah serentetan kemuakan, kekecewaan dan ketakutan,” ingatan saya tidaklah demikian. Meski saya juga pernah merasakah hal tersebut, namun juga tidak mengiyakan bahwa politik hanya berisi itu sepenuhnya.
 
Pertama kali saya memiliki ingatan tentang politik, adalah papan kayu di atas kepala truk. Ketika itu, menjelang pemilu 1997, dimana partai politik masih dibatasi tiga: PDI, PPP dan Golkar, kampanye sedang riuh-riuhnya. Entah kenapa, melihat arak-arakan mobil, geber-geberan gas motor serta sorak-sorai yel-yel dari para simpatisan itu, membuat hati saya mengaguminya. Dan kekaguman saya itulah, yang mungkin dimanfaatkan oleh para pencari massa kampanye ketika itu, untuk mengajak saya yang masih SD ikut berkampanye. Dengan bangga dan menghirakukan peringatan, saya duduk diatas papan kayu diatas kepala truk, sambil mengibarkan bendera dan bersorak sorai penuh kebanggaan, meski tak tahu apa yang diperjuangkan. Kemudian membeli slayer bergampar partai yang banyak dijual di area kampanye seharga Rp. 2000,- untuk ikut memenuhi lapangan, berjingkrak dengan artis dangdut serta mendengar orasi yang saya tak mengerti. Ini berarti saya bahagia, atau jujurnya politik membuat saya bahagia.
 
Kedua, ingatan saya tentang politik tersangkut diatas gedung DPR/MPR. Di awal 1998, setelah demo berhari-hari, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah itu menduduki gedung wakil rakyat itu. Apa yang mereka tuntut kemudian “lumayan” berhasil: reformasi. Pemimpin otoritarianisme Orde Baru itu tak kuasa melawan mahasiswa, mundur. Kedigdayaan Soeharto yang memimpin negeri dengan 17.000 pulau lebih selama 32 tahun itu lengser. Pemimpin berganti, dan harapan pun bersemi. Pasca reformasi itu, jarang saya dengar lagi ada orang hilang, penyembelihan HAM, teror ninja, penembak gelap petrus dan segenap fakta dan mitos Orde Baru. Meski banyak yang menyatakan reformasi belumlah sepenuhnya berhasil, dan bahkan penguasa baru justru menjadi Soeharto-Soeharto kecil, namun saya yakin bahwa nyawa yang melayang itu tidaklah sia-sia, karena membuka era baru yang tak ada di era sebelumnya: kebebasan, meski banyak yang justru tak mengenal batasan. Dalam menilai hal ini, saya sangat sepakat dengan statemen Gus Dur: “Pak Harto itu orang hebat, jasanya besar bagi bangsa Indonesia, walaupun dosanya uga besar!,” ujarnya, ketika diwawancarai Andi F. Noya di Metro TV. Mungkin sekali-kali, generasi yang lahir menjelang dan paska reformasi juga harus mendata apa saja jasa Pak Harto bagi bangsa ini, jika tidak ingin muak karena selalu dijejali keborokannya. Beasiswa Supersemar, Ribuan Masjid, TMII, Pembuatan pesawat anak negeri pertama dan pelbagai kebijakan Bapak Pembangunan yang sampai sekarang masih banyak terasa meski tak kita sadari, adalah juga sebagian jasa besar Pak Harto yang dinilai Gus Dur itu.
 
Ketiga, ingatan politik saya adalah sosok Gus Dur. Dengan politiklah, orang yang secara lahir cacat pada pengelihatannya itu, terpilih menjadi presiden dan membuat perombakan secara besar-besaran. Negara dengan beribu-ribu pulau dan sejarah panjang kejayaan maritim ini baru memiliki Kementerian Kelautan di era Gus Dur, setelah sekian lama bernegara. Dengan politiknya, Gus Dur juga membela segenap anak bangsa tanpa pandang suku, ras, budaya dan agama. Kaum Tionghoa dibebaskan menjalankan agamanya. Nama Irian Jaya dijadikan Papua. Pluralisme agama yang selama ini menjadi konflik diredam, sehingga dengan semua pemimpin agama pun beliau berteman. Istana Negara dibuka untuk rakyat: dari sandal jepitnya warga nahdliyyin sampai sepatu kinclongnya para pejabat, semua boleh masuk tanpai berbagai syarat. Kepergiannya ditangisi oleh jutaan orang, berbagai agama dan makamnya – silakan bisa disaksikan sendiri – sampai kini tak pernah henti diziarahi, setiap hari.
 
Kini saya tahu, bahwa manusia adalah makhluk politik. Pemimpin besar umat manusia, pembangun Negara Madinah, yaitu Nabi Muhammad saw adalah juga berpolitik. Ia menyatukan berbagai suku, budaya dan agama dan membangun peradaban bersama. Banyak penyelamatan-penyelamatan sejarah terjadi karena politik, seperti yang dilakukan Mahatma Gandi di India, Che Guevara di Kuba, dan juga Bung Karno dkk di Indonesia.
 
Selain kejayaan, kerutuhan, kebahagiaan, kemakmuran, tentu saya mengerti dalam politik ada kekejaman, pembantaian, pembunuhan, dan berbagai kengerian. Itu bukan soal politiknya, namun manusianya. Disitulah ladang perjuangan terbuka luas, bagi siapa saa yang ingin menegakkan keadilan, kebenaran dan nilai-nilai kebijaksanaan. Ini seperti yang dikatakan sang pintu ilmu, Sayidina Ali kw, bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilah yang teorganisir. Adakah pengorganisasi di dunia ini tanpa adanya politik? Tidak ada.
 
Biasa – Biasa Saja.
Memang, saya bukan orang yang begitu suka dengan politik, atau orang yang membenci politik. Jika hari ini saya belum terlibat langsung denganya, itu semata bukan karena saya membencinya, namun karena memang rasa-rasanya saya tidak memiliki bakat yang cukup baik disana. Saya hanya bisa mencoba untuk berpikir dan menilai seadil-adilnya, minimal menurut subyektivitas saya. Karena, tak mungkin kita hidup tanpa politik. Meski kita tidak memikirkan politik, politik akan selalu memikirkan kita. Bahkan, tidak berpolitikpun adalah juga berpolitik, seperti halnya kata Gus Dur bahwa tidak memilih adalah juga pilihan. Jadi, saya mengambil sikap politik yang biasa-biasa saja, wajar-wajar saja. Senang disaat senang, dan sedih ketika sedih. Bahagia melihat kemakmuran, dan mengutuk sejadi-jadinya ketika ada penindasan.
 
Jadi, setelah membaca catatan Mbak Okky yang cukup cerdas dan menyentuh itu, saya juga menawarkan agar kemuakan, kekecewaan dan ketakutannya sedikit demi sedikit, dikurangi – atau di proporsionalkan. Selain akan menjadi racun yang terus tumbuh di dalam hati dan pikiran, hal semacam itu hanya akan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang belum tentu kesejatian dari sebuah kebenaran. Realitas politik yang kita lihat hari ini hanyalah sebuah resepsi, dari akad yang sudah disepakati tanpa kita ketahui, kadang malah sudah jauh-jauh hari. Dan satu hal lagi, apa yang dilakukan oleh Mbak Okky, adalah juga berpolitik: mempengaruhi. Dari tulisannya, pengaruh pemikirannya, media tempat mempublikasikannya, serta banyak struktur lain yang terlibat di dalamnya, semua terjadi karena perselingkuhan korporasi dengan politik. Tanpa politik, rasa-rasanya manusia tak bisa hidup di dunia, meski dengan politik juga, banyak manusia yang sakit hatinya, terpenggal hartanya, martabatnya dan bahkan nyawanya.[]
Purworejo, 8 September 2016