RIBUAN manusia sudah tumpah-ruah di halaman gedung tua SMAN7 Purworejo, pada kamis 9 September 2016, sekitar pukul delapan malam. Diatas karpet dan tikar, para guru, murid, wali murid dan masyarakat umum itu duduk untuk mengikuti “Tadabbur” Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng. “Pentingnya Akidah, Akhlak dan Akal Sehat dalam Pendidikan,” menjadi topik bahasan di malam yang tak begitu cerah itu.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Kepala Sekolah, Nikmah Nurbaity membuka dengan sambutan. Wanita yang pernah menyabet Guru Teladan Nasional itu menyampaikan maksud dan tujuan acara di Lustrum ke V SMA yang berdiri sejak 1915 tersebut. Ia ingin ada keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam pendidikan. Selain itu, wanita yang fasih berbahasa inggris inipun menyampaikan peran SMAN7 yang memperoleh banyak prestasi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Usai Bu Ni’mah, Kiai Kanjeng dipersilakan untuk dimainkan. Mereka membuka dengan shalawat, sebelum akhirnya Cak Nun memasuki panggung. Ia menggunakan kopiah ala jamaah maiyah dengan baju putih lengan panjang dan celana hitam. Kemudian, ia meminta agar ada beberapa perwakilan murid untuk maju ke panggung.

Usai membuka dengan sapaan dan penghormatan, Cak Nun memberi lambaran: “Yang benar-benar benar hanyalah Allah dan Rasulullah. Selain itu, berkemungkinan salah. Baik sahabat nabi, ulama, profesor, doktor, cendekiawan, sistem negara: ada monarki, demokrasi, khilafah dll semua berkemungkinan salah. Termasuk saya sendiri berkemungkinan salah,” ungkapnya. Ia mengajak hadirin untuk tidak memutlakkan kebenaran apapun, baik seseorang, organisasi maupun lembaga negara, kecuali Allah dan Rasulullah.

Kemudian ia menanyakan kepada salahsatu siswa yang ada di depan: “akidah itu apa?, dan dijawab: ”Akidah adalah temannya akhlak,” jawab siswa tersebut, polos. Beberapa hadirin tersenyum. Cak Nun mengejar. “Kalau saya tanya: mangga itu apa?, jangan kamu jawab: mangga adalah temannya jeruk”, ungkap Cak Nun, mengajari logika. Kemudian sang siswa menjawab: “Akidah adalah keyakinan”. Cak Nun masih mengejar. “Keyakinan dari siapa kepada siapa? Jika kamu belajar bahasa Indonesia, tentu kalimat itu ada Subyek, Objek dan Predikat”, kata Cak Nun, sabar. “Yakin kepada Allah,” jawab siswa. Cak Nun tak kembali mengejar. Ia kemudian menjelaskan bahwa akidah adalah akad atau perjanjian dasar hidup kita untuk mau beribadah hanya kepada Allah.

Lebih lanjut, Cak Nun mengatakan bahwa yang harus jelas dalam pendidikan atau dalam mendidik anak adalah akidah: mu’min atau kafir. Ia juga memberikan perbedaan antara yakin dan percaya. “Yakin itu seperti di depan saya ini ada air putih, saya melihatnya secara faktual, kemudian yakin. Kalau percaya, tidak harus melihat secara faktual. Nah, kepada Allah kita tidak bisa yakin, bisanya percaya,” jelas Cak Nun. Kepada para siswa, ia juga menyarankan untuk tidak takut salah, baik dalam menjawab pertanyaan ataupun menjalani kehidupan. “Salah itu tidak apa-apa, yang penting kita berniat baik,” katanya, menasehati.

“Hidup kita ini abadi. Dunia hanya seperti semester saja sebelum menuju semester berikutnya. Dalam Al-Quran kan jelas: Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (semua milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya. Ilaaihi raajiuun-nya (kembali kepada Allah)nya itu selamanya,” ungkapnya.

Kemudian Cak Nun menjelaskan, bahwa di dunia ini ada banyak benturan. Surga bagi seseorang kadang neraka bagi orang lain. Seperti jika ada seorang wanita yang disukai tiga orang pria, dan satu pria itu yang mendapatkan, maka bagi seorang pria itu adalah surga, dan neraka bagi dua lainnya. “Nah, kelak di surga tidak ada benturan, semua seimbang”, ungkapnya.

Menutut Cak Nun, juara itu tidak ada. Kalaupun ada hanya sebentar. Misal kali ini bertanding dan menang, belum tentu beberapa kemudian kembali menang.

Dalam kaitan tema malam itu, nanti akan banyak bicara soal akal. “Al-Quran, atau apapun nilai dalam kehidupan ini, tidak ada gunanya jika tidak menggunakan akal sehat,” ungkapnya. Cak Nun pun menantang: “Silakan saja, Al-Quran dibaca di depan kambing, lak pastinya semua orang menganggapmu gila!”, selorohnya diikuti gelak tawa hadirin.

Dua nomor Turi Putih dan Sebelum Cahaya yang dinyanyikan oleh siswa dan siswi kemudian menghangatkan suasana di malam itu. Alunan gamelan, seruling, gitar, drum, piano dan gendang menebar semerbak ke arena. Perpaduan antara musik Jawa tradisional dengan modern membuat gairah hadirin seakan bangkit kembali. Banyak diantara mereka yang hanyut dan ikut bernyanyi dalam lagu yang dipopulerkan oleh grup band Letto tersebut.

Usai rehat, Cak Nun kembali melanjutkan. “Ilmu itu tentang benar dan salah, sedangkan akhlak adalah tentang baik dan buruk. Untuk baik, harus benar. Kalau benar, menjadi baik, kemudian menjadi akhlak,” ungkapnya.

Kemudian suami Novia Kolopaking tersebut juga mendorong agar para siswa kreatif, inovatif dan banyak menemukan hal baru. “Allah itu Maha Bid’ah: badiius samaawaati wal ardl, Allah membuat langit dan bumi seisinya dari tidak ada sebelumnya menjadi ada. Jadi, bid’ah itu membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada,” ungkapnya. Ia menggambarkan bagaimana proses padi menjadi nasi yang melalui berbagai tahap karena akal manusia. “Manusia disebut manusia karena dia mengguakan akalnya,” ungkapnya.

Kali ini Cak Nun kembali bertanya kepada salahsatu siswi yang ada di depan. “Kenapa kita harus beribadah kepada Allah?,” tanyanya, kritis. Semua hadirin diam, menyimak dengan seksama. “Karena itu merupakan bentuk rasa syukur,” jawab sang siswi, dalam. Cak Nun membenarkan, dan kembali bertanya: “Seandainya Allah tidak memerintahkan kamu beribadah, apakah kamu tetap akan beribadah?,” katanya, menggoda. Siswi itu diam agak lama, sebelum akhirnya Cak Nun menjawabnya: tetap beribadah, karena siswi tadi beribadah berdasarkan rasa syukur, terima kasih kepada Allah. Lebih lanjut, Cak Nun menjelaskan: “Tanda agama adalah memiliki ibadah mahdlah-nya, yaitu ibadah yang ditentukan Allah kepada makhluk-Nya. Allah punya hak menyuruh kita beribadah kepada-Nya karena semua yang ada di dunia dan semesta ini adalah ciptaan-Nya”. Kemudian, Guru Bangsa yang banyak menelurkan buku ini memberikan permisalan ibadah sebagai manifestasi rasa syukur dengan relasi anak dengan orang tua. “Ibu atau Bapakmu punya hak tidak menyuruh kamu melakukan sesuatu?”, tanya Cak Nun kembali, kepada siswi di depannya. “Punya,” jawab sang siswi. “Kenapa?,” tanya Cak Nun. “Karena saya hidup, dibesarkan dan disayangi oleh mereka,” jawabnya. “Seandainya kamu tidak disuruh oleh orang tua anda, apakah kamu tetap mau membantu mereka?,” tanyanya untuk terakhir kalinya. “Iya,” jawab sang siswi. Dialog Cak Nun dengan siswi itu, mengajarkan sekaligus menjelaskan mengapa manusia perlu beribadah kepada Tuhannya dengan logika sederhana.

Kemudian Cak Nun membahas banyaknya kata adopsi yang rancu ketika menjadi bahasa Indonesia. Akal (dari bahasa Arab ‘Aql), misalnya, dalam kata kerja bahasa Indonesia menjadi ngakali atau mengakali, yang berkonotasi buruk. Padahal, hemat Cak Nun, mengakali adalah perintah Allah atas apa-apa yang kita temui dalam kehidupan ini. Juga kata Amal, yang dalam bahasa Arab berarti perbuatan, disini menjadi kotak amal dan term kebaikan. “Kalau amal itu tindakan, perilaku kita, baik makan, kencing atau apapun. Makanya dalam Islam Allah tidak menyuruh ber-amal saja, tetapi juga yang shaleh (‘amalan shaliha),” jelasnya. Cak Nun lalu menawarkan diri ikut mendorong seandainya siswa dan siswi meneliti kata-kata yang kurang pas kemudian diajukan ke pusat bahasa untuk dirubah.

“Sila pertama juga bunyinya Ketuhanan. Ini mungkin Tuhan akan berkata: yang kamu mau kan bukan Aku to, tetapi hanya sifat-sifatku,” jelas Cak Nun. Menurutnya, lebih baik sila pertama itu bunyinya: Tuhan. Titik. “Namanya Tuhan ya Maha Esa. Namun Maha Esanya baiknya tidak usah dicantumkan, karena malah justru membuka kemungkinan ada Tuhan yang Tidak Esa. Kalau ada kalimat: mangga yang manis, berarti menungkinkan ada mangga yang pahit,” ungkapnya, diiringi senyuman hadirin. “Namun, Pancasila yang ada hari ini juga ndak apa-apa, karena dari berbagai negara, hanya Indonesia yang mencantumkan tuhan sebagai dasar negra,” ungkapnya, mengkritisi sekaligus menghargai.

Kedepan, lanjut Cak Nun, Indonesia harus ada pembedaan antara negara dengan pemerintah, tidak seperti sekarang yang rancuu. Presiden memanggil MK itu tidak boleh, dilarang, baik oleh hukum maupun oleh etika. MK adalah Lembaga Tinggi Negara. “Hari ini sistemnya kita masih kalah dengan Majapahit. Dulu Majapahit ada pemimpin negara, yaitu Prabu Hayam Wuruk dan pemimpin pemerintah yaitu Gajah Mada. Jadi, Sumpah Palapa itu dibikin oleh Gajah Mada dan mendapat persetujuan dari Sang Prabu,” jelas Cak Nun. “Kurikulum juga. Negara yang bikin, beserta standarisasinya, sehingga tiap kali ganti menteri tidak diubah. Masak, baru duduk jadi menteri dua hari sudah mau nggagas full day school. Tidak sesederhana itu, banyak sekali yang harus dirundingkan, bagaimana waktu guru, gaji guru, siswanya dan lainnya,” jelas Cak Nun.

Meski demikian, melihat generasi muda yang ada di depannya, Cak Nun optimistis melihat masa depan Indonesia. “Saya tanya, Bu,” kata Cak Nun, kali ini diajukan kepada sang wanita strong itu: Bu Ni’mah. “Berapa pelajar disini yang memakai jilbab?,” tanyanya. “Yang muslimah semuanya berjilbab. Itu memang regulasi sekolah,” jawabnya. “Lalu berapa persen yang Islam,” balas Cak Nun. “Dari tahun ke tahun fluktuatif, sekarang sekitar 95%,” jawabnya. Menanggapi hal itu, entah dirumah dipakai atau tidak jilbabnya, menurut Cak Nun sudah bagus. Generasi muda Islam hari ini, menurutnya, mulai memiliki kesadaran keagamaan sendiri. Ini beda dengan beberapa Negara lain yang kebebasannya terlalu dikekang oleh negara. Dan ini, menurutnya, tidak hanya peran sekolah tetapi juga tokoh agama di lingkungannya. “Wanita di Arab banyak yang dendam dengan sistem disana. Di mall-mall dan toko banyak yang menyediakan baju you can see, celana pendek dan pakaian minim sejenisnya. Setiap minggu, mereka pesta buka-bukaan di sebuah rumah untuk meluapkan kebebasan atas keterkekangan memakai cadar dan pelbagai regulasi lain yang tidak menguntungkan perempuan,” ungkapnya. Cak Nun sendiri mengatakan, bahwa putrinya, Hayyaa, baru beberapa pekan ini memakai jilbab. Ia tidak pernah menyuruh-nyuruhnya. Ia ingin putrinya memakai jilbab memang atas kemauan dan niat baiknya sendiri. “Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memang perlu membuat regulasi seperti itu dalam rangka melatih dan membiasakan,” ungkapnya.

Kemudian, Cak Nun menghimbau kepada segenap hadirin untuk menatap optimis masa depan dengan merenungi Al-Quran dalam Surat Al-Hasr [59] ayat 18: Yaa Ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha wal tangdzur nafsum ma qaddamat lighaddin, wattaqullaaha, innallaaha khabirum bima ta’malun. Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang pernah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kemudian rintik hujan mulai mengguyur arena yang tak bertenda itu. Beberapa hadirin gelisah antara tetap diam ditempat atau pindah. Namun kebanyakan dari mereka tetap setia mengikuti pengajian. “Untuk ibu yang membawa anak, saya persilakan naik ke atas panggung. Hanya ibu dan anak yang punya hak lebih untuk naik ke atas panggung,” ungkap Cak Nun, yang menunukkan kebijaksanaannya dalam membaca situasi dan kondisi. Cak Nun tetap mengajak para hadirin untuk selalu berprasangka baik (khusnudzan, positif thingking) kepada Allah, termasuk guyuran hujan di malam itu, agar menjadi berkah.

Sambil menunggu transisi beberapa ibu dengan anak mereka yang naik ke atas panggung, Cak Nun menyilakan Kiai Kanjeng untuk mendendangkan lagu. Nomor Ruang Rindu karya Letto kemudian dilantunkan secara bersama-sama, dan berhasil menghipnotis hadirin. Hujan yang membasahi tubuh mereka pun tak dirasakan, sampai lagu selesai. Seakan menggoda, begitu lagu syahdu itu selesai diyanyikan, hujan mereda dan forum kembali fokus.

Kini Cak Nun membuka pertanyaan. Pertanyaan pertama, adalah curhat seorang pelajar (bukan dari SMAN7) yang membolos sekolah demi mengikuti pengajian Cak Nun. “Itu bagaimana? Apakah tindakan saya ini dosa, Cak?,” tanyanya. “Kamu salah nanyanya. Harusnya itu ditanyakan kepada kepala sekolahmu. Lha wong saya ini dulu juga suka mbolos kok!,” Jawab Cak Nun, diiringi riuh tawa hadirin. “Dosa atau tidak,” lanjut Cak Nun, “itu tergantung efeknya: ada madlaratnya atau tidak kepada Allah dan sesama manusia. Kalaupun dosa, dosammu karena membuat wali kelas atau kepala sekolah sakit hati. Sebaiknya, itu bisa di rembug (diskusikan) secara baik-baik kepada kepala sekolah. Kalau kamu berani begitu, bisa jadi kamu malah di-sangoni,” seloroh Cak Nun.

Pertanyaan kedua dari seorang siswa adalah, apakah mengkritik guru itu boleh? Dan Cak Nun menjawab teori kritik yang ada dalam Al-Quran: wajaadilhum billati hiya achsan. Pertama dengan jalan dialog yang terbaik. Mengkritik juga harus menghindarkan diri dari kemungkinan menyakiti orang lain. “Demo itu jalan terakhir,” ungkap Cak Nun, “jangan sedikit-sedikit demo,” imbuhnya. “Kalau ada orang yang menagih hutang ke saya dengan langsung demo di depan rumah, sehingga saya malu kepada tetagga, hutangnya malah tidak saya bayar,” seloroh Cak Nun, menasehati.

Pertanyaan ketiga, adalah tentang ayat dalam Al-Quran: Lakum dinukum waliyadin (terjemahan bebas: bagimu agamamu, bagiku agamaku – pen), apakah maksudnya? Menanggapi pertanyaan itu, Cak Nun “memperingatkan” terlebih bahwa ayat itu adalah ayat sensitif, soal keyakinan. Menurut Cak Nun, ayat itu maksudnya: “Kalau menurutmu itu agama, silakan, tetapi itu bagiku bukan agama, yang menurutku agama adalah (Islam) ini,” Jelasnya. Dalam hal ini, ia menambahkan bahwa dalam agama lain itu tidak ada ibadah mahdlahnya: ibadah yang langsung dirumuskan dan diperintahkan Tuhannya. Ritual yang ada pada mereka sekarang ini hanyalah kreatifitas dan ibadah sosial, yang dalam agama kita namanya ibadah muamalah. Cak Nun juga menekankan, bahwa dirinya tidak suka memperdepatkan akidah kepada orang lain. “Dengan umat agama lain, saya lebih suka bicara masalah-masalah sosial seperti kesehatan, lingkungan hidup dll, bukan soal akidah. Sering saya mengibaratkan, akidah ini seperti istri. Kamu tidak usah menjelek-jelekkan istri orang lain kalau menurutmu ia kurang cantik,” ungkapnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Kenapa di Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman, tertulis “disanalah” aku berdiri, bukan “disinilah”, disana itu dimana? Dan hadirin pun tertawa. Cak Nun mengapresiasi pertanyaan siswa tersebut. Ia menilai, siswa itu memiliki lintas kecerdasan. “Orang harus punya lintas kecerdasan dalam melihat langit, pohon, cewek dsb, sehingga melihat langit tidak hanya langit saja yang terlihat, pun begitu seterusnya dalam melihat apapun,” ungkapnya. “Kamu punya bakat untuk jadi orang kuliah,” kata Cak Nun kepada sang siswa penanya. Hadirin pun tertawa. Namun Cak Nun segera meneruskan, ”Kuliah itu, mempelajari sesuatu secara menyeluruh (jangkep, komprehensif), kebalikan dari juziyyah,” ungkapnya, “Bukan kuliah di Universitas. Kalau kuliah di Universitas sekarang ini, bukan kuliah namanya, tetapi juziyyah, karena yang dipelajari hanya dari jurusan dan satu fakultas saja. Jadi, sekarang sebenarnya tidak ada sarjana Universitas, adanya sarjana fakultas. Karena Universitas sekarang ini adalah kumpulan dari fakultas,” ungkapnya.

Menaggapi pertanyaan lagu kebangsaan tersebut, sekali lagi Cak Nun menyatakan bahwa semua berkemungkinan salah, termasuk lagu itu. “Sebenanya ada tiga versi di lagu itu. Mbok kapan-kapan dinyanyikan ndak apa-apa di sekolah ini, misalnya sebulan sekali. Menurut saya, itu tidak melanggar undang-undang. Jika, negara mengubah lirik lagu itu tidak apa-apa, asal dicarikan regulasinya,” tutur budayawan yang masih rajin menulis di caknun.com ini.

Seperti halnya lambang Garuda Pancasila, imbuhnya. Bagaimana mungkin Ketuhanan Yang Maha Esa disimbolkan dengan bintang? “Ini Tuhan sendiri bisa tersinggung,” celetuknya, diikuti gelak tawa hadirin.

Pertanyaan selanjutnya datang dari seorang wali murid. Pertama, tentang tayangan televisi yang kurang mendidik anak; kedua, orang tua perlu merogoh kocek dalam-dalam jika anaknya mau masuk polisi atau tentara, dan; ketiga, kesenjangan dalam kurikulum pendidikan, antara dunia dan akhirat yang ada pendikotomian begitu dalam.

Menaggapi pertanyaan-pertanyaan itu, Cak Nun mengelaborasi jawabannya. “Semenjak 1999, saya tidak tidak mau masuk TV nasional,” ungkapnya. “Sekarangpun saya maunya di TV-TV lokal, itupun sifatnya kita sedekah. Pihak TV datang ke kita untuk merekam, kemudian diedit, menyerahkan ke kita untuk disetujui, baru disiarkan. Dan sifanya kita tidak transaksional,” ungkap Cak Nun. Dalam berbagai kesempatan, Cak Nun menjelaskan jika TV-TV nasional hanya soal kepentingan dan duit, tidak ada upanya untuk mendidik dan mencerdaskan. Biar rusak-rusak sekalian, agar masyarakat tahu dan bisa membedakan. Menurut Cak Nun, upaya yang harus dilakukan orang tua adalah memberi bekal kepada anak agar memiliki daya filter. “Anak saya yang masih SD, Rampak, kemarin sempat nesu-nesu melihat TV. Ketika salahsatu artis terkena narkoba dan wartawan meminta pendapat kepada artis lain, menjawab: ‘ya dia sedang terkena musibah, semoga saja bisa kuat menghadapinya’. Anak saya langsung misuh: guuoooblllokkk!!!, iku ki dudu musibah,” cerita Cak Nun, diikuti gelak tawa hadirin. Menurut Cak Nun, musibah itu adalah seperti ketika ketika kita naik motor tiba-tiba ditabrak dari belakang. Nah, hal-hal detil tentang istilah, nilai dan batas seperti ini orang sudah mulai tidak tahu. “Mana ada ada anak pulang membawa prestasi lalu ingin memeluk ibunya kok malah dikatain: ketekmu bau. Ini ibu apaan,” seloroh Cak Nun, diikuti riuh tawa hadirin, sambil membayangkan sebuah iklan TV.

Merespon pertanyaan tentang banyaknya suap di Indonesia dalam soal pangkat dan jabatan, selanjutnya Cak Nun memberi amsal. “Jika diibaratkan, kita ini kapal besarnya sedang goyang, sehingga kamar dan kabin di dalamnya pun ikut goyang. Jika yang atas-atas goyang, kita yang dibawah pun tentunya terseret”. Cak Nun berpendapat, hal ini hanya bisa diatasi oleh munculnya pemimpin nasional yang kuat, yang memiliki kapasitas: satrio pinandito sinisihan wahyu.

“Namun itu tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sekarang saya tanya: Lebih banyak mana, setiap hari, yang perlu anda semua syukuri atau keluhkan?” Tanya Cak Nun. “Kita syukuri,” jawab hadirin. “Banyak hal diluar negara dan pemerintah yang bisa kita akses dan rasakan manfaatnya. Jika yang kita tahu jalan itu ada tiga, misalnya, Allah melebihi itu semua, memiliki banyak jalan,” imbuhnya memberi optimisme.

Menaggapi pertanyaan dikotomi dalam kurikulum, Cak Nun berpandangan bahwa Ilmu eksak itu ya ilmu agama yang tunduk kepada Allah. “Semua yang kita lihat adalah syariat Allah. Bangunan, gedug-gedung apapun takkan bisa tegak tanpa mengikuti sunnatullah, syariat Allah,” ungkapnya.

Hari ini, lanjut Cak Nun, kurikulum yang tiga tahun diajarkan di sekolah itu, sebenarnya sudah bisa diakses, download, hanya dengan sehari. “Jadi sebenarnya, sekolah itu bukan tentang angka-angka nilai saja, tetapi juga soal akhlak. Kalau hanya soal nilai tidak perlu sekolah, langsung saja suruh belajar kemudian mengikuti UN. Menurut saya, UN itu tidak perlu diadakan.”

Pertanyaan selanjutnya: bagaimana cara berpegang teguh kepada Allah (wa’tashimu bihablillaah) secara riil. Menaggapi pertanyaan itu, Cak Nun mengatakan, bahwa yang ditagih Allah itu adalah istiqamah (kekonsistenan) kita dalam memperjuangkan kebenaran, bukan hasilnya. “Yang perlu kita buktikan kepada Allah bukan kehebatan kita, tetapi perjuangan yang terus menerus,” terangnya.

Kemudian juga ada yang meminta penjelasan mengenai guru yang memukul murid atau murid dan wali murid yang memukul guru yang banyak terjadi dewasa ini. Menanggapi hal ini, Cak Nun menilai kurang perlunya regulasi dalam hal itu. “Anti-violen yang diadopsi dari luar negeri dan diartikan anti kekerasan itu salah secara budaya. Kekerasan itu boleh, yang tidak boleh adalah kekejaman. Nylentik itu bukan kekejaman dan budaya kita sebenarnya mewajarkan. Dan perilaku kasar itu kadang adalah bentuk kasih sayang untuk mendidik. Anehnya, yang dipasalhukumkan hanya yang soal fisik, tetapi tidak kekejaman, kekerasan atau penindasan verbal. Misalnya, saya menghina bapak anda, itu kan kekerasan juga, dan tidak ada pasalhukumnya,” ungkap Cak Nun.

Menurut Cak Nun, solusi yang terbaik adalah, sekolah memiliki “orang tua” yang mamiliki kearifan. “Kita ini kadang lebay, sedikit-sedikit polisi. Mbok yao itu diselesaikan dengan kearifan budaya. Misalnya, dirembuk melalui forum wali murid. Hal-hal seperti itu tidak perlu dibuat regulasinya, biarlah sangsi sosial berlaku jika ada melaggarnya. Tidak semua harus dipasal hukumkan. Kita punya kearifan kebudayaan yang harus dipakai. Ojo sithik-sithik polisi, koyo polisine wis mesti resik wae!,” jelas Cak Nun, diikuti ggggggrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!! dari para hadirin.

Pertanyaan selanjutnya: lebih penting manakah skill atau ijasah? Lebih jauh sang penanya mengadukan kegundahannya, yang punya hobi dan passion di dunia fotografi, namun orang tuanya meminta masuk di fakultas kedokteran. Menjawab hal ini, Cak Nun mengatakan bahwa hari ini memang semua lembaga dan institusi menggunakan ijasah sebagai standar rekruitmen. Belum ada lembaga atau institusi yang memiliki mekanisme skill sebagai standar diterima bekerja atau ditolak. “Saran saya, masuk saja di kedokteran, dengan niat membahagiakan kedua orang tuamu. Kamu di fotografi, juga kedepan belum tentu menjamin, kamu masuk kedokteran juga belum menjamin, fifty-fifty. Jika kamu niat membahagiakan orang tua, Insya Allah nanti memiliki banyak akses yang tak pernah kamu sangka,” jelas Cak Nun panjang lebar.

Terkait dengan pertanyaan: bagaimana jika ingin membalas tindakan buruk seseorang, Cak Nun memiliki pandangan tersendiri. “Ingin membunuh itu tidak apa-apa, tidak dosa. Yang tidak boleh adalah membunuh. Itu makanya kamu harus punya sistem kontrol diri. Saya sendiri selalu catat secara detail siapa-siapa yang menghina saya, melecehkan saya dan membuat emosi saya. Dendam, emosi, marah, itu adalah energi jika disalurkan kepada hal yang benar. Dari data cemoohan-cemoohan itu, saya tidak pernah membalasnya, malah saya jadikan energi dan motivasi untuk lebih baik lagi kedepannya,” terang Cak Nun.

Menjawab pertanyaan salahsatu penanya yang emosi dengan orang yang selalu sibuk dengan pencitraan, Cak Nun memberi pandangan. “Orang yang melakukan pencitraan itu sebenarnya menghinakan dirinya sendiri. Kita tidak perlu mencitrakan diri. Pencitraan, kemayu, kegantengan, malah kasihan, karena orang yang sudah ayu tak perlu kemayu. Tapi memang seperti itulah isi dunia. Lalu, jika dia memang selalu mencitrakan dirinya, apa ruginya kamu? Mbok santai saja, tinggal di batin: ah, paling kamu sok-sokan!, ndobos!, omong kosong!, tetapi jangan dikeluarkan. Kamu harus punya pertahanan diri yang kuat,” jelas Cak Nun.

Cak Nun mengharapkan agar apa saja yang kita semua temui di dunia ini, syukurilah. “Misalnya kamu diajak temanmu Sekatenan di Jogja dan kamu tidak suka. Lalu karena ndak enak sama temanmu kamu ikut saja. Sampai disana, ikut desak-desakan dan kamu hilang, terpisah dengan temanmu, kamu marah. Tapi di kesempatan itu kamu malah justeru bertemu dengan seorang cewek, lalu kemudian kamu lamar dan sebagai istrimu. Saya tanya: kamu diajak temanmu ikut Sekatenan itu baik atau tidak?,” jelas Cak Nun memberi cara pandang dalam menyikapi setiap kejadian. “Jika ada sesuatu apapun, kembalikanlah semua kepada Allah,” pintanya, sambil mengutip surah Al-Anfal ayat17″..wama romaita iz romaita wala kinnallaharama; bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar..”.

Kemudian Cak Nun juga berpesan kepada para siswa agar apapun gelarnya, seberapapun banyak gelarnya kelak, akan kalah dengan kepastian nasib dari Allah. “Di Jatim ada sebuah kisah: satu orang dulunya selalu juara di kelas, sedangkan satunya selalu dibully dan tak pernah dapat prestasi. Beberapa tahun kemudian, sang juara jualan nasi goreng di depan pendopo kabupaten. Ketika esok harinya ada pelatikan bupati, ternyata yang jadi bupati adalah temannya yang dulu sering ia bully. Inilah kehidupan,” cerita Cak Nun, mengajak untuk jangan pernah meremehkan seseorang.

Pertanyaan terakhir, adalah seseorang yang galau mau menjadi guru, karena sistemnya sudah seperti comberan, katanya. Dengan tegas Cak Nun mengklarifikasi, kata “comberan” terlalu kasar. Seberapapun kurang baik sistemnya, banyak hal yang terlibat di dalamnya. “Saya banyak tahu soal ini. Dan yang lebih banyak tau istri saya, Mbak Via, karena bergelut langsung di dalamnya. Saya tahu bagaimana nasib guru, gajinya, apalagi yang belum masuk sertivikasi. Ngenes. Ini malah tambah kamu bilang comberan. Ya jangan begitu-begitu amat. Kalau kamu ingin membangun, jangan dengan meghina,” jelas Cak Nun.

Dalam sesi-sesi akhir, Cak Nun bertanya kepada audiens, “kenapa negara kita yang sedemikian bobrok kok tidak di adzab? Padahal Allah mengadzab kepada mereka yang menyakiti nabi Nuh as”. Semua hadirin terdiam. Lalu Cak Nun mereka-reka sendiri pertanyaannya, bahwa ia khawatir jika Allah tidak punya “kekasih” lagi di negeri ini. “Dulu Allah mengadzab umat Nabi Nuh karena mereka menyakiti hatinya dan Allah tidak terima. Nah, sekarang ini sudah tidak ada nabi lagi. Allah seakan tidak ada alasan untuk mengadzab, “; terangnya. Di penghujung acara, sekitar pukul 01.00 dinihari itu, Cak Nun memberikan kesempatan kepala sekolah merespon apa saja.

Bu Ni’mah mengucapkan terima kasih kepada Cak Nun dan Kiai Kanjeng serta seluruhnya yang terlibat dalam suksesi acara tersebut. Kemudian Cak Nun berdoa dan mendoakan seluruh jamaah yang hadir. Tadabbur ini dipungkasi dengan nomor Tombo Ati dan Chasbunnallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir. Ribuan orang pun bubar, bagai lebah yang keluar dari sarangnya. Sementara di panggung, Mas Doni sang vokalis Kiai Kangjeng, masih sibuk diajak foto-foto oleh para penggemarnya.[]