MAIYAH memang seperti terasa seperti biasanya: dihadiri ribuan pengunjung, pedagang dan suasana khas yang sudah kukenal semenjak tahun 2011 lalu. Namun tidak untuk Macapat Syafaat 17 September 2016 ini. Soalnya sederhana: aku duduk di tempat bersama orang yang salah. Ketika sampai di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul, DIY sekitar pukul 21.00 itu, aku bersama teman-teman menuju rumah hijau di seberang forum, salahsatu rumah yang membuka warung di berandanya.

oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Ketika acara sudah di mulai, sekelompok pemuda di sebelah kami terus bicara ganti-berganti, tanpa henti, seperti suasana di arisan ibu-ibu. Aku yang sudah siap mencatat, tak jelas apa yang perlu kucatat. Sedangkan jika pindah kedepan atau keluar tempat itu, suasana sudah begitu padat. Hatiku semakin lama semakin geram, namun tetap kutahan. Sesekali beberapa jamaah di depan mereka juga menengoknya, ketika semua dalam keadaan hening mendengarkan, dan kelompok pemuda itu tetap nerocos bicara. Jikapun diam hanya sebentar, kemudian lagi-lagi membahas hal yang menurutku tak penting, sama sekali tak penting. Hatiku memberontak, ingin mengatakan kepadanya: “Mas, kita ini dating jauh-jauh dari Purworejo ingin mendengarkan paparan orang-orang di depan panggung sana, bukan anda-anda.”

Aku memejamkan mata, untuk fokus pada apa yang dipaparkan di panggung sana, namun nyatanya sia-sia. Obrolan pria-pria itu seperti suara lebah yang mengganggu tidurku. Sesekali aku mukul-mukul mangkok mia ayam yang baru kumakan secara terus-menerus, agar mereka juga bising. Toh mereka tak paham juga bahwa aku sedang melawan: membatasi kebebasan mereka dengan cara dewasa. Andai itu bukan di forum maiyah, mungkin aku sudah nantang mereka berkelahi. Sial. Hatiku lagi-lagi bicara: “Mbok yao, jika kesini tidak mau atau tidak suka ngaji, minimal jangan mengganggu orang yang mau ngaji”, pikirku sambil terheran-heran, untuk apakah mereka kesini?

Dengan kurang jelas, kudengarkan juga apa yang dipaparkan di depan panggung sana. Dalam sorot LCD besar, terlihat seorang bule bernama Ustadz Walid dari Ismailiyyah, Mesir, duduk di panggung majelis macapat syafaat bersama Cak Fuad, kakak dari Cak Nun. Salahsatu kenapa orang bule itu ke forum ini, sepenangkapanku di malam itu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng (CNKK) pernah tampil di depan publik Mesir pada tahun 2003 dan membuat decak kagum karena menyanyikan lagu Umi Kulsum. Ustadz Walid sangat enjoy, selera humornya pun tinggi. Dia punya lembaga bahasa Arab di Mesir dan sedang mengembangkan cabang di beberapa negara, seperti Turki, Malaysia, dan Indonesia. Ad-Diwaan nama lembaga tersebut. Sejumlah hal tentang pengajaran bahasa Arab Ia kemukakan. Di antaranya, al-Quran menyebut bahasa dengan ‘lisan’ bukan ‘lughoh’. Ini mengungkapkan makna bahasa sebagai alat komunikasi. Karena itu mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi itu sangat penting. Di malam itu, Ustadz Walid juga diberi hadiah oleh KK dengan lagu Al-Athlal yang dipopulerkan oleh Umi Kulsum. Sekilas, aku teringat almarhum kakek yang suka dengan lagu itu, dan juga ibuku yang kadang masih menyanyikannya.

Menurut Ustadz Walid, yang diterjemahkan oleh Cak Fuad di malam itu, musik banyak mengantarkan manusia kepada spiritualitas. Hal ini tentu kubenarkan, terutama pada kata dapat. Banyak pada sufi menggunakan musik sebagai jembatan menggapai-gapai cinta-Nya. Dalam tradisi Sufi, orang memetik mandolin dengan indah, dan Dia-lah yang memetik orang itu. Selain itu, aku juga tidak bias membayangkan bagaimana dunia jika tanpa musik, yang masuk wilayah keindahan, estetika. Dalam music ada filsafat, emosi, fakta dan keindahan bahkan dalam sebuah tangisan. Wajarlah jika para musisi, seniman dan terutama penyair, sampai kini di Tanah Arab selalu dipuja bak pahlawan. Di Majapahit dulu juga seperti itu, mereka mendapat kedudukan tinggi oleh raja. Kalau Indonesia hari ini, sepertinya mereka-mereka itu hanya dibutuhkan openguasa saat musim kampanye tiba.

Kemudian Cak Fuad membahas tentang latarbelakang hadis yang mengharamkan musik: ”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” [HR. Bukhari No 5590]. Cak Fuad pun menjawab: “Hadis ini tidak mengharamkan musik, namun suatu penggambaran pada suatu masa”. Cak Nun kemudian menambahi, munculnya pengharaman musik itu bukan karena dzat-musiknya, tetapi karena efeknya. Memisalkan jika diadakan konser dangdut, menimbulkan maksiat, judi, tawuran, dll, seperti diharamkannya melintasi pantai tertentu, diberi batasan agar anak-anak tidak terseret ombak, bukan karena pantainya. Hal ini, menurutku, sangat logis. Beberapa ulama juga memperbolehkannya, sepanjang tidak menimbulkan madzarat, seperti Ibnu Qutaibah, IbnuHazm, Asy-Syaukani, dll.

Dan obrolan-obrolan pemuda itu masih menggangguku. Banyak hal yang tak dapat kuikuti di malam itu.Tak tahan dengan situasi ini, aku memaksakan diri keluar, mencari celah untuk bias tetap fokus. Aku mencari tempat yang lebih jelas untuk mendengarkan paparan. Namun sayang, ketika sampai ditempat yang kuinginkan, aku lupa membawa alat pencatat. Dengan terpaksa beberapa duiantaranya kucatat di otak.

Kemudian Kiai Muzammil menjelaskan konsep muwajjahah, merespon pertanyaan dari salahsatu jamaah. Beliau menjelaskan ayat: wa lillahil masyriqu wal maghribu, fa ainama tuwallu fatsamma waj-hullah,innallaha wasi’un ‘alim; Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat. Maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah:115). “Perintah Allah menghadap ke kiblat, itu bukan karena Allah ada di kakbah, namun itu hanya soal administrative. Sejatinya, kemanapun kita menghadap, disitulah ada wajah Allah,” ungkapnya.

Cak Nun menambahi, agar Kiai Muzammil menjelaskan ayat: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Kiai Muzzamil kemudian menjelaskan, bahwa awalnya kiblat umat Islam itu menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina. Setelah 16 bulan, kiblat dialihkan ke Kakbah di Makkah. Tatkala ini terjadi, timbullah pada sebagian kaum musyrik, munafiqin, dan ahli kitab keraguan, penyimpangan dari petunjuk, membungkam dan meragukan kejadian. Mereka berkata, “Apa yang telah memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu dipegangnya?” Yakni, apa yang telah membuat mereka kadang-kadang berkiblat ke Baitul Maqdis dan kadang-kadang berkiblat ke Ka`bah? Maka Allah menurunkan ayat: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah Wajah Allah.” (QS. Al Baqarah (2) : 115)

Tambah lagi, Allah menggarisbawahi, laisal birro: kebaikan itu bukan karena kamu menghadap ke Timur atau Baratnya, tetapi orang yang beriman kepada Allah, malaikatnya, hari akhir dan yang menyedekahkan hartanya. Jadi kebiakan itu nilai. “Gula sama manisnya itu penting mana? Kita tidak boleh menyepakati sesuatu, tanpa mengetahui sebelumnya. Yang utama itu manis, meski kita tidak boleh meremehkan gula. Jika melihat sesuatu hanya karena berdasarkan simbol, itu hanyalah gula, bukan manis. Ada kuwajiban menghadap kiblat, tetapi tujuan hidup Adalah Allah. Kiblat ibarat gula. Kalau kita berfikir gula, akan banyak hikmah,” ungkap Cak Nun.

Kiai Muzammil kembali menegaskan: Tuhan kan tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya. Siapapun tidak mampu, Nabi Musa as sudah berusaha ingin membuktikannya: arini andzur ‘alaik. Allah menjawab: Musa, kamu tidak akan mampu melihatKu, tapi coba lihatlah gunung itu. Allah akan bersembunyi dibalik semua yang ada. Jadi, semua yang ada ini adalah wasilah untuk melihat wajah-Nya.

Cak Nun juga mencoba “menghitung” jumlah hidup-mati manusia, sesuai yang diinformasikan Al-Quran, dalamsurah Al-Baqarah: 28: “kaifa takfuruna billahi wa kuntum amwatan, fa ahyakum, tsumma yumitukum, tsumma yuhyikum, tsumma ilaihi turja’un”. Artinya: Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudikan kamu dimatikan, dan kemudian dihidupkan kembali, dan kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.

Cak Nun kemudian menafsir: secara sastra, apakah ini bisa dimaknai berulang-ulang? (tidak hanya ada dua), minimumum hidup dua kali. Dalam retorika, tradisi bahasa Arab, itu berarti tidak hanya dua kali. Misalnya orang, terus jadi orang-orang. Itu hanya sampel, bisa jadi lebih banyak lagi.

Kemudian, saking ngantuk dan capeknya, aku tertidur. Banyak hal baik ilmu maupun kebijaksanaan yang tak kutakngkap, karena tidur, di malam itu. Lalu terbangun ketika acara hampir selesai. Aku kembali bergabung bersama teman-temanku. Tak kunyanya, tiba-tiba, sekelompok pemuda yang sedari awal tadi itu rebut, menawarkan kami berbagai makanan ringan, diantaranya kacang. Kami menerima tawaran baik itu dan memakannya bersama-sama. Dan, dari itu, aku belajar bahwa dunia memang penuh warna dan hal yang tidak kita duga.[]

Purworejo, 18 September 2016.