Perspektif Seorang Sopir Angkot

UNTUK menghindari panas dan kemacetan, saya memilih malam untuk melakukan perjalanan. Kemarin petang, dengan modal duit Rp. 55.000, saya dapat tiket shuttle bus untuk menuju Semarang, Ibukota Jawa Tengah. Keperluan utama saya adalah bertemu dengan seorang teman yang sudah lama menghilang.

Perjalanan malam dari Purworejo menuju Semarang, tak usah saya ceritakan, karena selain menahan lapar, tidak ada yang menarik. Singkat cerita, saya turun di Sukun, Banyumanik, sebuah pangkalan angkutan umum di Semarang yang memecah jalur transportasi menuju Kota Semarang, Jogja, Solo dan Cilacap.

Di Sukun, saya menuju sebuah warung Tegal di Barat jalan, untuk memenuhi kebutuhan perut yang sudah melilit. Nasi rames lauk tempe goreng dan telur dadar menjadi pilihan saya di malam itu. Tak lupa, teh manis dan pisang ambon saya pesan sebagai penutup makan malam, sebelum akhirnya mengepulkan asap putih ke langit.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, perjalanan saya lanjutkan, menunggu angkot menuju Jl Dr Cipto No 80, Kantor NU Wilayah Jawa Tengah beserta banom-banomnya. Tak lama berselang, sebuah angkot oranye lewat, dan saya pun naik ke kursi paling depan, di dekat sopir.

Meski saya sudah naik, angkot tak jua jalan. Mata sang sopir masih awas melihat kaca spion kanan, kiri dan tengah untuk menggaet calon penumpang. Sang sopir angkot itu sudah kakek-kakek, terbukti dari giginya yang telah ompong. Meski sudah ompong, suaranya masih jelas membaitkan jawaban, ketika saya Tanya: apa benar ini menuju doktor cipto?

Kemudian datang berdiri diluar pintu kiri, seorang bapak-bapak yang mengenakan topi, dan berkata kepada sang sopir, “Ini malam sedang sepi, bang, percuma lama-lama menunggu penumpang,” katanya, sambil mengepulkan asap rokok.

“Biarkan saja, emangnya kalau saya tidak narik, kamu mau kasih saya makan?,” cetus sang sopir. Sejurus kemudian, sang penanya pergi dari pandangan kami.

Entah kenapa, sang sopir kemudian “curhat” kepada saya.

“Orang bisanya ngemis kok komentar pekerjaan orang. Bukannya rizki itu Allah sudah ngatur, kita tinggal berusaha?,” kata sang sopir, saya memberi anggukan tanda persetujuan.

“Memangnya dia pekerjaannya ngemis, Pak?,” tanyaku, mencoba membuka dan mengimbangi obrolan.

“Dia itu rentenir, ngutangin uang ke orang-orang, lalu mengambil hasil ribanya,” kata sang sopir, “itu kan haram,” imbuhnya.

“Berapa persen bunga yang di ambil dari pinjamannya?,” tanyaku.

“10 persen. Kalau ngutangin 100 ribu, bunganya 20 ribu. Kalau 1 juta, bunganya 200 ribu,” katannya.

Kali ini saya diam, mencoba tidak akan meneruskan. Namun ia kembali melanjutkan.

“Sebenarnya saya tidak ada urusan dia rentenir atau apa, yang penting saya makan dari hasil kerja yang halal. Urusan dia mainan riba, jikapun dosa, kan urusan dia. Tapi ngapain, saya kerja dia malah kebanyakan bacot: penumpang sepi, kaya dia aja yang ngasih rizki,” ungkapnya.

Saya hanya diam, mendengarkan.

“Mas, dulu ini sayu aktif di partai politik, mulai tahun 1977. Namun sejak tahun 1997 saya berhenti dan bekerja sebagai sopir angkot ini.”

“Kenapa berhenti, Pak?,” tanyaku, mengimbangi.

“Mereka yang sudah jadi anggota dewan, lupa kepada yang menjadikannya. Kita yang bekerja keras, sesudah mereka naik, tidak dianggap. Kalau mereka sudah naik mobil saja, kita sudah nggak disapa. Pemimpin-pemimpin di atas sana itu cuma memikirkan dirinya sendiri kok, mas. Kita yang dibawah ini tidak pernah dipikirkan,” katanya.

Aku masih diam, hanya sebatas ingin jadi pendengarnya yang setia, meski dalam hati berkeyakinan tak semuanya, masih ada beberapa gelintir yang baik diantaranya.

“Dulu jaman Pak Harto enak, semua dicukupi, tenang, nggak ada kegaduhan. Lha sekarang, mereka menggulingkan hanya untuk gentian korupsi sendiri-sendiri,” imbuhnya.

Aku masih diam, tak ingin menyangkalnya, meski dalam ingatan saya: disisi lain Orde Baru juga berdiri dengan lumuran darah dan nyawa.

Kini beberapa penumpang sudah naik angkot, dan ia menekan rem dan memainkan koplingnya secara perlahan. Matanya tajam mengawasi jalan-jalan licin sisa hujan di depannya. Saya pun kembali membuka.

“Sehari setor berapa, Pak?,” tanyaku, sambil sedikit was-was ia tak mau menjawabnya.

“Setornya 90 ribu, Mas. Nah, tadi pagi sampai siang ini angkot dipinjam tetangga. Yah kalau mobil sendiri, ini kan mobil milik juragan saya. Kalau saya tidak narik, kan nggak nutup setorannya,” jawabnya, sambil memainkan setir kekanan dan kekiri.

“Lha sampai saat ini sudah dapat berapa duit, Pak?,” ketusku, seperti menginterogasi. Untung dia tidak tersinggung.

“Alhamdulillah, ini sudah dapat 160 ribu. Yah, sedikit-sedikit disyukuri, Mas, yang penting halal. Sekarang ini, orang kan sudah jarang yang berpikir soal halal-haram. Iman sudah menjadi barang langka. Hampir semuanya, pejabat, politisi, guru, agamawan, yang dikejar cuma materi. Mereka mungkin lupa kehidupan nanti: akhirat,” katanya.

Saya pun terdiam, merasa sedang dinasehati. Sedangkan mobil terus melaju, sampai kemudian berhenti karena lampu merah. Di depan persis, terlihat, seorang lelaki setengah baya berpakaian wayang sedang ngamen, menari-nari.

Kini sang sopir berkomentar, “Lihat pengamen itu, Mas. Ia menanggalkan malu untuk mencari sesuap nasi. Dirumah, hasil dari keringatnya seharian, mungkin sudah ditunggu anak dan istri,” katanya.

Dan aku diam seribu bahasa, sampai kemudian melangkah turun dari angkotnya.[]

Purworejo,21 September 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: