KECUALI di medsos, saya akhir-akhir ini memang jarang sekali silaturrahmi, sowan atau nyambung paseduluran secara offline. Wajar ketika kemarin seorang teman mengajak untuk silaturrahmi ke seorang kepala desa, langsung saya jawab: “Ya!”. Dengan Kijang Super, kamipun berlari menuju rumah kades yang masih lumayan muda tersebut. 

Sampai disana, ia sudah menunggu di ruang tamu menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Sejurus kemudian,  kopi hitam dan beberapa bungkus rokok tersaji di depan kami, melengkapi aneka makanan ringan dalam toples. Setelah bertukar kabar, obrolanpun mengalir kesana-kemari, tanpa tema.

Tak ada yang menarik sebenarnya dari silaturahmi itu, kecuali tiga hal. Pertama, adalah silaturrahmi itu sendiri. Tentang ini, sudah banyak rekomendasi nabi, bahkan kata beliau dalam suatu hadisnya, dapat memperlancar rizki. Kita sudah maklum bersama. Kedua, obrolan kami tentang Tanda Ksatria dalam pandangan orang Jawa. Tentang hal ini, saya sudah tahu sebelumnya dari novel Pramoedya Ananta Toer: Arus Balik, kalau tidak salah (maklum, bukunya banyak), dan saya tidak akan menulisnya disini saat ini.  Mungkin lain kali. Ketiga, yang menarik dari obrolan itu, adalah soal narapidana. Dan ini tentu terkait atau berkaitan dengan hukum positif, sesuatu yang kurang saya mengerti, namun sepertinya menarik.

Begini ceritanya.

Di tengah obrolan kami tentang pelbagai hal, sang Kades mendapat pesan via WhatsApp, kemudian berkata kepada salah satu dari kami:

“Nanti kalau pulang tolong nitip transfer uang, ya?,” katanya.

“Oh, bisa, Pak,” jawab salah satu dari kami.

“Ini nomor rekeningnya,” kata sang Kades, sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomor rekening BCA.

Secara sadar, sebelum kami bertanya untuk apa dan siapa uang itu, sang Kades menjelaskan.

“Uang itu untuk teman SMA ku yang kini sedang di penjara. Ia tersandung kasus korupsi, dan dihukum dua tahun penjara. Biasanya ia hanya minta pulsa seminggu sekali kepadaku, tapi kali ini untuk biaya kamarnya,” Katanya menjelaskan.

“Ha, Penjara mana?,” sahutku, ingin mengejar lebih dalam.

“Di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Semarang,” jawabnya.

“Memangnya boleh bawa ponsel disana?,” tanyaku.

“Anas Urbaningrum saja status twitter-nya update terus kok!,” cetus sang kades.

“Berapa harga kamarnya?”

“Sebulan 1 juta. Isinya empat orang, jadi per orang Rp 250.000,” ungkapnya.

Saya jadi mengerti, bahwa uang memang bisa melakukan banyak hal, meski tak semuanya. Saya jadi ingat, ketika salah satu televisi memberitakan Denny Indrayana yang ketika itu jadi Wakil Menteri Hukum dan HAM, memperlihatkan betapa uang bisa membeli banyak hal, diantaranya “membeli” hukum. Bilik-bilik penjara itu, disulap oleh para koruptor, menjadi kamar yang mewah dengan segala fasilitas yang komplit. Kamar itu berubah menjadi seperti kamari di hotel mewah.

Dengan uang, mereka juga bisa berinteraksi ke dunia luar, melalui hand phone, dan jejaring social di internet. Pantas saja, para gembong narkoba atau bahkan koruptor kelas kakap, bisa tetap mengendalikan bisnisnya dibalik sebuah lapas. Di tahun-tahun lalu, tahanan yang kedapatan membawa ponsel, hanya dihukum tidak diberi remisi. Inilah salah satu bentuk hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Sangat jauh berbeda dengan maling kecil di desa yang mencuri ayam, digebuki sampai babak-belur bahkan ada yang mati. Juga, masih ingat di benak kita bagaimana seorang nenek mau dipenjarakan hanya karena mengambil beberapa kayu untuk melanjutkan makan.

Bukan hanya itu, wajah hukum di Indonesia semakin diperburuk dengan mudahnya para tahanan keluar dari sarang, seperti yang terjadi pada kasus Gayus Tambunan, dan tentu banyak kasus lain yang sudah diamankan oleh media. Mereka bisa terbang bebas kemana saja mereka mau, dengan membayar “orang dalam” yang miskin integritas dan tanggungjawab jabatan.

Persolan ini, tentu sedikit dari seabrek porsoalan di Indonesia. Saya menulisnya disini tidak untuk menambahi beban, hanya sekadar sebagai pengetahuan. Kasus-kasus tersebut ada dan muncul tentu tidak dengan sendirinya, namun sistemik, tidak hanya soal hukum tetapi juga berbagai aspek lainnya.

Dan, akhirnya teman saya pun membantu sang kades yang ingin membantu teman SMA-nya: mengirimkan uangnya melalui nomor rekening seorang sipir penjara.[]

Purworejo, 23 September 2016