Entah kenapa, ketika tubuh ini kurebahkan sebelum benar-benar terlelap dalam dingin malam, sesosok bayangan seringkali datang. Dialah bayangan ibuku, wanita yang melahirkanku menuju alam dunia.

Senyumnya begitu lembut dan selalu melekat di hatiku. Matanya teduh dengan kasih sayang penuh. Tutur katanya lembut, selembut sutera. Di kali lain, marah cintanya juga menghenyak jauh ke dalam dada.

“Kamu yang rajin dalam menuntut ilmu, karena orang yang paling sengsara di dunia ini adalah orang yang tak berilmu,” katanya, suatu ketika padaku. Kata-kata yang sampai kini masih selalu terngiang di kupingku. Ia seringkali hadir dan menjelma bagaikan hantu. Kekuatanya seperti kutukan. Tajamnya seperti belati yang setiap saat bisa saja menikam. Oh, kata-kata itu, selalu mengganggu tidur nyenyakku.

Kadang, ketika kata-kata itu datang dan mengganggu, aku merasa berdosa karena belum jua menjadi yang seperti yang ibu mau: orang berilmu.

Kemudian kuingat-ingat lagi apa kata-kata guruku atau kitab yang pernah mempengaruhiku. Kuingat sebuah kitab syair kecil bernama Syiir Alala, yang digubah oleh KH Maftuh Batsul Birri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Dalam kitab tersebut, bait pertama dan kedua berisi resep dan atau syarat untuk menjadi orang berilmu, seperti yang ibu mau. keenam syarat itu adalah: cerdas, ulet, sabar, bekal, arahan guru dan waktu yang lama. Dan rasa-rasanya, keenam-enamnya telah kujalani. Ah, jangan-jangan ini cuma rasaku, perasaanku saja?

Cerdas. Kukira aku bukanlah orang yang terlalu cerdas, seperti otak Habibi, Najwa Shihab, Dian Sastro atau Tukul Arwana, misalnya. Namun, kukira otakku juga tidak chunthel-chultel amat, kecuali di bidang matematika, fisika dan kimia. SD aku masuk lima besar dari tigapuluhan siswa. MTs aku masuk seratus empat belas besar dari tiga ratusan siswa. Di MA, kalau tidak salah, aku masuk sembilan besar dari dua puluh enam siswa.

Lagi pula, kata ustadz waktu itu, yang di maksud cerdas adalah memiliki akal-fikiran yang sehat, tidak gila. Kalau begitu, bukankan semua orang itu cerdas? Persetan dengan angka-angka dan rangking itu. Akan kusimpulkan saja: aku seorang yang cerdas. Syarat pertama terpenuhi.

Menuju syarat yang kedua: ulet, gigih, bersungguh-sungguh. Nah, ini mungkin aku merasa mulai trouble. Kegigihanku, hanya terjadi di waktu-wektu tertentu. Aku aku tak kuasa untuk menutupi kemalasanku. Kali ini aku akan jujur bahwa aku memang pemalas. Kegigihanku berbatas waktu. Akan kucatat ini sebagai kesalahan pertamaku: malas.

Sabar menempati urutan ketiga dalam bait yang berbahasa Arab dan Arab Pegon itu. Kalau harus menilai diri sendiri, tentu aku akan mengatakan bahwa aku memanglah orang yang memiliki bakat sabar. Bisa jadi ini kukatakan dengan kesombongan. Maafkan jika itu sebuah kesombongan. Namun lagi-lagi kesabaranku juga berbatas waktu. Ia seperti paket internet yang bisa habis kapan saja ketika aku sudah memakainya. Sial.

Dalam hal kesabaran ini, dengan segenap subyektivitasku, aku ingin obyektif menilainya dengan adil: fifty-fifty. Ini catatan untukku yang kedua. Sebisa mungkin setengah dari kesebaranku yang hilang atau belum kutemukan, akan kucari di hari-hari setelah ini.

Keempat, memiliki bekal. Bicara soal bekal, bekalku memang tidak banyak namun cukup. Tapi memabg lebih tepatnya dicukup-cukupkan.

Kelima, arahan guru. Poin ini sudah fix. Kuanggap tak ada masalah.

Keenam, lama waktunya. Inilah point yang cukup berat. Tak ada tafsir yang pasti berapa jarak “lama” itu. Bahkan, sebuah hadits menyatakan: tuntutlah ilmu dari dalam kandungan sampai ke liang kubur. Huh, betapa hidup ini habis untuk menuntut ilmu. Ini artinya hari-hari kita adalah pembelajaran. Di kelas, di kantor, di masjid, di pasar, di laut, di pesawat, di hutan, di gunung, dimanapun berada kita harus selalu menjadi seorang siswa. Bahwan dosen harus mau menjadi siswa bagi mahasiswanya.

Waktu yang lama. Padahal hidup pun katanya tidak lama, seperti mampir minum, katanya – atau mampir ke beranda mantan, boleh-boleh saja. Betapa ilmu itu tidak ada habisnya.

Untuk yang syarat ini, kukira memang tidak masalah, namun bukan berarti itu mudah. Dengan segenap daya dan upayaku yang diberi oleh Tuhan, aku akan terus menuntut ilmu, dimanapun, kapakpun dan kepada siapapun. Tentang hasil, itu tidak penting. Aku masih percaya kata-kata Cak Nun, bahwa yang penting bagi kita itu berjuang, belajar  dan terus berusaha. Allah menilai niat baik dan usaha kita itu, bukan pada hasilnya.

Kini, seandainya bayang-bayangmu ibu, kembali menghantuiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghujam dadaku itu, aku takkan gentar. Selama perjalanan menuju kepada Yang Maha Ilmu, apapun rintangannya akan kulakuka – dan   semoga aku mampu melakukan – termasuk jika sengsara membelengguku di dunia.

Maaf, Ibu.

 

Purworejo, 28 September 2016