Kopi memang selalu nikmat untuk diminum setiap saat. Ia banyak di pesan, diminum, dipuji rasanya, menjadi medium berbagai pertemuan yang banyak memunculkan gagasan dan bahkan gerakan.

Namun secangkir kopi tidaklah berdiri sendiri. Ribuan petani kopi yang terlibat dalam luasnya perkebunan yang berhektar-hektar. Ada ribuan buruh di pabrik-pabrik penggilingan kopi. Ada kurir-kurir yang mendistribusikan kopi. Ada korporasi moda transportasi yang melibatkan jutaan orang.

Kopi juga rupannya kurang mampu berdiri sendiri. Ia butuh ribuan hektar kebun tebu, sekaligus semua yang terlibat di dalamnya, untuk mendampingi kopi sebagai pasangan harmonis yang manis.
Kopi juga masih berinovasi untuk memenuhi mulut-mulut orang modern. Ia masih melibatkan ribuan sapi di peternakan dan segala sesuatu yang terlibat dalam prosesnya.

Kopi, gula dan susu kemudian menyatu dalam rasa yang tak biasa. Ada konglomerasi untuk menyatukannya, mengemasnya, menjualnya dan mempromosikannya.

Dan masih ada yang lain. Kita masih butuh beling dari pabrik-pabrik gelas dengan segala sistem yang terlibat di dalamnya, agar minum kita terasa lebih “manusiawi” untuk memperlakukan apa yang kemudian disebut secangkir kopi.

Untuk secangkir kopi itu juga masih butuh kompor dari pabrik-pabrik, dengan segala naik turunnya, segala karyawannya dan segala hal yang terlibat di dalamnya, sampai ia terpajang manis di toko-toko di berbagai penjuru kota.

Alamak, kompor pun terasa kesepian tanpa gas yang menjadikannya menyala. Gas bumi, sumber daya alam yang tak dapat diperbarui itu, butuh sekian ilmuan, teknisi, modal, kariawan dan kebijakan politis, semenjak adanya revolusi industri di Inggris.

Lalu air. Ah, air memang mengucur deras dari dari sumbernya di desa-desa. Dari hujan turun, di serap pohon dan tumbuhan yang kemudian mengalir lewat mata air. Namun bukankah itu jaman dulu, jaman raja-raja. Kini nasib air, yang dilindungi undang-undang untuk hajat hidup rakyat itu, telah diprivatisasi, dikapitalisasi. Kita harus membeli air dari tanah air kita sendiri.

Tapi sudahlah, kita toh mampu membelinya.

Namun itu belumlah cukup. Masih perlu “perselingkuhan” sedikit dengan mesin pompa air, yang kini menjadi PDAM dan korporasi-korporasi besar penjaja air itu. Betapa berharganya air, yang oleh para filsuf Yunani dianggap menjadi sumber kehidupan itu.

Oh, ya. Setelah kompor di pencet dan air tersedia, kita masih butuh ceret atau teko. Kalau itu bangsa kita banyak yang bisa membuatnya. Tapi tetaplah dalam sebuah teko mengandung “kehidupan” banyak orang. Ia hampir pasti ada di setiap rumah yang dijadikan tempat berteduh oleh 240an penduduk Indonesia dan lebih untuk masyarakat dunia.

Hmmm. Segelas kopi yang ada di hadapanku saat ini, ternyata memiliki alur yang panjang dan melelahkan. Biji kopi telah mengalami berbagai siklus dan tempaan: dipanasi terik mentari, ditusuk dingin malam hari, digilas dalam tumbukan untuk dihancurkan dalam kelembutan, lalu dikawinkan dengan pelbagai ramuan dan tangan-tangan banyak orang.

Segelas kopi yang menghangatkanku di dingin hujan kali ini, adalah proses panjang sejarah dan peradaban. Begitu rasa nikmatnya terasa di tegukanku, aku telah masuk dalam sebuah perjalanan panjang, sangat panjang, sampai tertaut kepada Sang Pencipta Kehidupan. Pantas saja, nikmatnya terasa begitu romantis dan menggetarkan, seperti sebuah pelukan seorang perempuan.

Mari ngopi bersamaku di hujan kali ini, sayang. 🙂

Purworejo, 27 September 2016