Pagi itu Bejo seperti biasanya, membuat dua gelas kopi, satu untuk gurunya Ki Sudrun dan satu untuk dirinya sendiri. Setelah jadi, Bejo menaruhnya diatas nampan bersama sepiring singkong goreng. Kemudian ia membawa ke sebuah joglo di belakang rumah.

“Cepet bener, Jo, kopinya…,” kata Ki Sudrun sambil memperhatikan langkah hati-hati Bejo.

“Iya dong, Ki. Siapa dulu, Bejo…,” balasnya dengan senyum lepas.

“Kalua kerjanya seperti ini, biasanya kamu ada maunya”

“Ah, Ki, mulai kapan jadi peramal…”

“Ndak perlu jadi peramal untuk lihat gerak gerik orang seperti kamu itu…”

Bejo merasa kalah. Ia tak meneruskan.

“Silakan guru, ini ketela jenderal, pulen banget rasanya.”

“Taruh saja dimeja, nanti untuk salit-salit rokok.”

Bejo meletakkannya di atas meja di depan gurunya.

Kemudian mereka pun menyulut rokok kretek sambil melihat ikan-ikan yang berenang kesana-kemari di kolam di bawah joglo. Suara burung prenjak terdengar nyaring bersiul. Sebuah induk ayam memimpin rombongan anak-anak kecilnya yang lucu dan imut-imut mencari makanan, tanpa di dampingi sang jantan yang sudah mencari pasangan baru. Kelelawar-kelelawar sudah tidur pulas di dalam gulungan ranggas daun pisang.

Dari kejauhan, asap nampak mengepul dari atap joglo itu. Di dalamnya, dua orang yang sudah terpaut umurnya memulai hari dengan sebuah obrolan.

“Ki….” sapa Bejo.

“Tuh, kan, ada maunya. Ada apa, Jo?”

“Saya resah, Ki…”

“Kamu ini, dikit-dikit resah. Memangnya kenapa? Mbok yao apa-apa jangan terlalu dipikir dalam-dalam, nanti kamu stress sendiri”

“Begini Ki. Apa guru ingat dengan Marijem?”

“Marijem? Bentar-bentar, saya akrab dengan nama itu. Tapi siapa…ketemu dimana ya….”

“Itu Ki, temen ngajiku dulu”

“Oh, yayaya, yang sekarang kerja di luar negeri itu tho….yang kata kamu namanya dirubah jadi Mary itu tho..”

“Betul Ki, dulu kan guru yang mengajarnya juga. Tapi mamang sudah lama sih dia tidak pulang kampung”

“Gimana kabarnya dia? Dulu dia paling rajin di madrasah, selalu datang paling awal, nyapu, menghapus papan tulis dan mengambil kapur di rumah…”

“Sekarang dia jadi pegawai kafe plus-plus, Ki”

“Pegawai pegawai kafe plus-plus? Bukanya kerja disana pakaiannya harus mini-mini gitu ya?”

“Betul Ki, bahkan bisa lebih dari hanya sekadar ditonton. Dia juga sekarang seksi banget pakaianya. Mungkin dia sudah bosan menjadi orang salehah”

“Hust, kamu ini kalau bicara…”

“Emang begitu, Ki…”

“Begitu gimana?”

“Orang kalau terlalu serius dengan sesuatu, kadang ia jadi bosan. Orang yang selalu rajin, dalam pengamatanku, lama-lama ia akan liar ketika dewasa. Sebaliknya, banyak orang bejad secara total, tapi ketika sudah tua bosan dengan kebejatannya, ia tobat”

“Ya, nggak begitu juga. Kamu nggak bisa nggebyah-uyah seperti itu”

“Maaf, Ki….”

“Begini, Jo. Kamu jangan mudah menghakimi orang lain, kamu ii pemain, bukan wasit. Semua manusia, termasuk kita ini, sedang ada dalam suatu kompetisi atau permainan. Kita tidak tahu masa depan seseorang. Yang paling bisa kita tahu adalah apakah kelak meninggalnya dalam keadaan baik apa tidak. Jikapun baik di mata kita, belum tentu baik menurut Sang Pencipta,”

“Iya guru. Tapi saya sulit untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain.”

“Itulah, Jo. Kebanyakan orang sibuk mencari kejelekan orang lain, hingga sibuk memperbaiki kejelekan dirinya sendiri”

“Mohon bimbingannya, Ki..”

“Orang itu siapa sih yang bisa menebak masa depan seseorang? Ada yang sekarang miskin, eh besok dia kaya. Ada yang sekarang di aniaya, eh besok-besok berkuasa. Ada yang sekarang penjahat, eh besok-besok jadi giat beragama. Ada yang sekarang taat beribadah, eh besok-besok dia murtad. Ada yang dianggap pahlawan, padahal pecundang. Ada pecundang tapi dianggap pahlawan. Kadang terbolak balik, baik ke buruk, buruk ke baik atau sekaligus dia baik menurut orang, buruk menurut sebagian yang lain. Dan itu baru menurut orang, belum menurut Allah”

“Iya, Ki. Dunia ini memang seba misteri. Kadang sulit dipahami.”

“Saranku, Jo,” kata Ki Sudrun, “kamu jangan mudah menghakimi orang lain. Memang, khusnudzon, positif thinking, berprasagka baik di jaman eternit ini…”

“Internet, Ki…,” kata Beo sambil nyeruput kopi.

“Iya, itulah maksudnya. Begini, Jo. Ini jaman kebalikan dulu. Kalau dulu apa –apa serba ada batasan, nah sekarang semua serba kebablasan. Dulu bica dilarang, sekarang semua orang bicara apa saja dengan lantang, dan belum tentu berbekal pengetahuan. Kamu harus pintar-pintar mencari mutiara di dalam lumpur jaman ini, Jo..”

“Iya, Ki. Mohon doanya. Sekuat mungkin saya melaksanakan pesan Ki guru”

“Baguslah. Kamu tak usah menilai Marijem gimana-gimana. Mungkin dia sedang menyelam seuasana baru. Jika ada waktu, pasti kelak ia merindukan hal yang seperti dulu, lebih tenang dan menenteramkan. Dan kalau bisa, kamu juga jangan sampai keluar track seperti dia…”

“Amin, semoga saya kuat, Ki…”

“Ingat baik-baik, Jo. Orang yang keluar dari track syariat itu lama kemaan nggak akan kuat. Karena semua kesenangan selain dari apa yang digarikan oleh-Nya hanyalah sesaat dan menipu. Buktikan saja kalau kamu tidak percaya…”

“Buktikan bagaimana makudnya, Ki?”

“Ya langgar saja apa yang dilarang agama, misal kamu Molimo. Mabok, misalnya, lama kelamaan badanmu akan hancur sendiri, karena adanya larangan mabok dari Allah itu pasti memiliki alasan. Begitu juga dengan berhubungan di luar pernikahan, lama kelamaan kamu akan hancur sendiri. Dunia ini itu memiliki keseimbangan, Jo.

“Baiklah, Ki, sekarang saya lebih paham, semoga ilmu ini bisa saya terapkan: tidak mudah menghakimi orang lain, namun lebih penting menghakimi diri sendiri”

“Bagus. Kalau begini kan aku jadi semangat ngasih uang jajan kamu, Jo.”

“Aduh, Ki, kok adi enak gini ya…”

“Kamu ini, dipuji dikik GR. Lho…lhoo…ngomong-ngomong, kopiku kok sudah tinggal separuh?”

“Oh, maaf…maaf, Ki. Saya salah ngambil kopi, saking asiknya, ini sudah saya sruput je…”

“Oaaalllaahhh….jian, berarti uang saku batal”

“Ampun, Ki, jangan. Besok ada konser Iwan Fals di alun-alun kota.s..”

“Tapi kuras dan bersihkan dulu kamar mandi sampai bersih…”

“Hmmmm, mau deh, demi Ki Sudrun yang paling bijak, eh salah: maksudnya demi nonton Sang Legenda Musik Indosia…haha”

“Hooooo dasar…Bocah Edyan!!!!”

Purworejo, 3 Oktober 2016