“Nak, ini jamannya teknologi informasi, kamu harus hati-hati!”
“Hati-hati dengan apa, guru? konten porno?”
“Iya, itu salah satunya. Tapi yang lebih berbahaya adalah media penebar fitnah.”
“Media penebar fitnah?”
“Sekarang ini, kamu harus hati-hati baca berita di facebook maupun website. Bikin website kan murah, banyak juga yang gratisan. Semua orang bisa bikin. Lalu website yang mahal, mereka juga beli untuk kepentingan propaganda, agitasi dan meneror lawan mereka”
“Lawan? lawan apa, guru?”
“Banyak, Nak. Ada muncul lawan ideologi, ekonomi dan juga politik. Kadang mereka tak peduli isinya, yang penting orang yang baca, yang melihat, jadi tertarik”
“Oh, begitu, jadi mereka merubah mindset dan empati kita, guru?”
“Iya, kita jadi tertarik, terpesona, membenci, mengidolakan, bankan main ngeshar-ngesher, itu kan bahaya”
“Bahayanya besa, guru?”
“Yah, kalau itu berita BAIK dan BENAR. Kalau salah gimana? kalau fitnah gimana? Nanti yang baca dan terpengaruh kan bisa ikut-ikutan dosa. Itu sama saja kamu mereproduksi dosa?”
“Dosa, guru? Ah, dosanya nggak keliatan, guru? Nggak bisa dilacak pake mikroskup”
“Kamu ini aneh-aneh saja. Ya ndak bisa lah, berita seperti itu pembuktianya dengan fakta ilmiah, dengan konfirmasi, klarifikasi, kroscek kepada sumber berita”
“Wah, itu sulit guru…”
“Makanya, kamu jangan lantas percaya dengan berita, jangan langsung main share..”
“Baik guru, mulai sekarang, saya akan saring apa-apa yang masuk ke otak, biar nggak dipenuhi wacana sampah, juga tidak mudah ngeshare informasi”
“Baguslah, Nak. Kamu harus selalu pegang pesan kitab sucimu: jika datang orang fasik membawa berita, maka klarifikasilah, tabayyun, kroscek, agar tidak jadi malapetaka yang lebih besar. Alquran sudah memberi kisi-kisi itu sejak 15 abad lalu…”
“Baik guru, terima kasih sudah diingatkan. Sejatinya saya memang tidak benar-benar tahu yang sesungguhnya dari sebuah berita”
“Iya, jika ada berita buruk tentang seseorang, angan lantas percara. Memang itu sebuah fakta, angan lantas menghakiminya dengan kebencian. Bisa jadi itu upaya Tuhan untuk mengingatkannya. Kalau di dunia, di akhir hidupnyalah pembuktian semua manusia, apakah nanti dia baik atau buruk.”
“Lalu kalau megkritisi kan boleh, guru?”
“Iya, kritisi kebijakannya, perbuatannya dan jangan benci orangnya. Semua orang bisa berubah.”
“Terima kasih guru. Boleh saya join rokoknya?”
“Oooo…bocah sempruuullllllllllll…!!!!”