Oleh: KH. Achmad Chalwani Nawawi Nawawi

SUATU persoalan yang tak habis-habisya dan tak berkesudahan yang bayak terjadi dikebanyakan pondok pesantren adalah bagaimana sistem santri dalam menggali atau memperdalam suatu ilmu. Sebab, hal ini penulis banyak melihat: para santri hanya mengandalkan sah-sahan yang sudah penuh, ngotong-ngotong kitab besar, banyaknya pengajian-pengajian bandongan yang diikuti lewat korik-korik dengan tanpa usaha mendalaminya. Padahal, mengaji itu tidak cukup mengandalkan yang begitu saja, akan tetapi juga harus dengan lewat pemahaman.

Pemahaman yang dimaksud mencangkup berbagai aspek, antara lain: pertama, aspek membaca; kedua, aspek makna (memberi makna); ketiga, aspek megartikan; keempat, aspek memaham(i); kelima, aspek mencari ke-musykil-an; keenam, aspek menyimpulkan, dan; ketujuh, aspek membanding.

Pertama, aspek membaca. Dalam membaca kitab, persoalan tarkib harus sungguh-sungguh diperhatikan, sebab dari sinilah akan keluar suatu kefahaman yang nyata, misalnya: masalah ta’aluq, muta’alaq bih, na’at, ‘aid, maushul dan shilah-nya harus dibaca sekomplit-komplitnya. Dengan demikian kita akan tahu masing-masing kedudukan kalimat.

Kedua, aspek makna. Sistem makna ini hanya berlaku di Tanah Jawa (walaupun ada di sementara daerah), karena makna itu erat sekali hubungannya dengan aspek yang pertama diatas, dan lebih-lebih dengan aspek yang ketiga nanti. Maka, dalam memberi makna harus diperhatikan kandungan dari lafadz itu sendiri. Disinilah Imu Shorof sangat berperan. Untuk itu, bab-bab dalam Ilmu Shorof misalnya tentang faedah takalluf, tholak, taksir dsb, ini harus dimatangkan. Tentu saja ini karena ini hanya berlaku di Pulau Jawa; makna aken pada  kata ndadosaken, makna olehe dalam takwil masdar, makna dadi pecah dalam lafadz takatsaro, serta makna malih waktu apa lendut dalam istahjara thinu, harus kita turuti semua.

Kemudian yang perlu diperhatikan lagi akhiran aken di dalam kata diliger-aken, akhiran ne dalam kata diligerne, akhiran i di dalam kata diliger-i, tentu saja kita harus paham betul kedudukan huruf jar ’an, ba’, ila, fi, kesemuanya.

Ketiga, aspek mengartikan. Mengartikan Bahasa Arab dari kitab-kitab yang ushul-nya masih amat kuno kedalam Bahasa Jawa, sungguh amat memusingkan kepala. Oleh karena itu, dalam tahap pertama kita harus mengartikan secara mbluju atau apa adanya(menurut mantuq-nya), walaupun disitu telinga kita tidak terasa enak mendengar. Maka dengan demikian, akhirnya kita akan lebih mudah memahami.

Contoh soal:

  1. “Warfa’ bidhommin wanshiban fathan wajur – kasron kadzikrullohi ‘abdahu yasur.”

Kita mengartikan: “Rafa’-kanlah dengan dhommah dan nashab-kanlah dengan fathah dan jar-kanlah dengan kasroh pada lafadz-lafadz dzikrullohi, ‘abdahu, yasur”.

  1. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr ayat 9, yang kalau kita artikan apa adanya: “Sesungguhnya kami, Kami dimana Kami menurunkan dzikro (Al-Quran) dan sungguh Kami kepada Al-Quran mesti akan menjaga.”

Cara mengartikan apa adanya itu semata-mata hanyalah untuk menuntun kita agar faham betul akan kedudukan dari masing-masing lafadz, yang selanjutnya nanti kita akan dapat mengartikan dengan baik (dengan susunan kalimat yang matang atau bisa difaham), misalnya, kita mengartikan contoh-contoh diatas tadi dengan:

  1. Isim mufrod ketika (ber)kedudukan rafa’ bertandakan dhommah, nashob dengan fathah dan jer dengan kasroh, seperti lafadz: dzikrun, Allohi, ‘abda dalam kalimat dzikrullahi ‘abdahu yasur.
  2. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan pasti Kami menjaganya.

Keempat, aspek memaham. Setelah kita benar-benar berhasil didalam tiga aspek diatas, maka barulah kita mencoba untuk memahami suatu bab dari kitab yang dipelajari, misalnya bab Ligeran (hiwalah).

Kelima, aspek mencari ke-musykil-an. Sesudah kita berhasil didalam empat aspek diatas, sampailah kita pada taraf mencari ke-musykil-an suatu bab dari kitab yang sedang kita pelajari, dimana ke-musykil-an tersebut mencangkup: a. tarkib; b. makna gandul, dan; c. arti murad.

Keenam, aspek menyimpulkan. Dalam aspek ini, kita sudah berani menyusun kata sendiri dalam mengartikan suatu bab dengan bahasa yang baik, tentu saja setelah kita dapat menyimpulkan.

Ketujuh, aspek membanding. Aspek ini terutama buat santri yang tingkat muntahi. Bila ingin sungguh-sungguh memperdalam suatu bab tentu saja kita harus benar-benar paham bab tertentu dari suatu bab, yang mana memahami suatu bab dari suatu kitab adalah suatu dasar untuk membandingkan. Sebab tanpa demikian, jika kita langsung saja membandingkan mesti akan kabur dalam pengertian. Misalnya, kita belum mampu memahami dengan sungguh-sungguh kitab Fathul Qorib, tapi kita sudah memulai membuka-buka kitab fiqih yang lain, maka tentu akan kita rasakan bingung, walaupu kitab satu dan lainnya adalah sama dasarnya, hanya berbeda ta’bir atau susunan kalimatnya. Harus diperhatikan bahwa membandingkan itu harus lewat proses yang tidak mudah.

Cara-cara ditas tadi bisa dilaksanakan untuk bermacam-macam fan ilmu, misalnya Ilmu Nahwu, kita tidak perlu harus megaji seluruh kitab Nahwu yang begitu banyak, fahami saja satu kitab, seumpama ‘Imriti (bagi yang agak mampu Ibnu ‘Aqil), insya Allah lewat kitab itu saja (yang sebagai dasarnya), kita tidak akan kesulitan membaca syarah-syarah Alfiyyah yang begitu banyak.

Kemudian untuk fan Fiqih, kitamendalami Fathul Qorib (bagi yang sudah mampu Fathul Mu’in). Kedua kitab tersebut, terutama yang terakhir, adalah kitab yang paling memusingkan tarkib-nya. Maka insya Allah dengan memahami kitab ini kita akan mudah memahami kitab-kitab Fiqih lain semisal Fathul Wahab.

Ketujuh aspek yang kami kemukakan diatas harus lewat kesungguhan berusaha atau usaha sekuat tenaga. Hal ini sesuai dengan ayat suci Al-Quran, yang artinya:

“Alangkah baikya jika sebagian dari tiap-tiap golongan dari orang-orang mukmin itu pergi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, lalu mereka memberikan peringatan (pelajaran) kepada kaumnya jika mereka telah kembali ke kampung mereka, agar mereka bisa berhati-hati.” (Q.S. At-Taubah: 122).

Di dalam ayat tersebut terdapat kata: “liyatafaqqohu” yang merupakan fiil mudhari’ dari madhi tafaqqoha yang mashdar-nya adalah tafaqquh. Kita lihat, bahwa penambahan ta’ muthowa’ah pada awal kata dan dobelnya ain fi’il disitu¸menurut Ilmu Shorof adalah berfaedah takalluf, yaitu: mu’anatul fa’il al-fi’la liyahshula, yakni: usaha seseorang dengan sekuat tenaga (olehe merdi-merdi kangelane wong suwiji) akan sesuatu hal supaya berhasil. Seseorang – fa’ilthalib (penuntut ilmu). Sesuatu hal – al-fi’la – ilmu. Berhasil – liyahshula – ilmu yang bermanfaat.

Setelah kita mampu melakukan cara-cara diatas, sampailah kita pada usaha batin. Ilmu manfaat serta masuknya ilmu pada lubuk hati tidak akan didapat kecuali didasari ikhlas.

Kita lihat bagaimana Mbah Dalhar Watucongol Magelang, Mbah Abdul Krim Lirboyo, misalnya, di dalam beliau mengajar suatu kitab tanpa ada keterangan sedikitpun, tapi kenapa mudridnya jadi ‘alim-‘alim? Ini tidak lain karena rasa ikhlas yang dimiliki oleh beliau-beliau benar-benar ada. Maka “imbalannya”, santri-santri beliau keduanya juga dengan ikhlas lekas menerimanya. Karena dari kedua belah pihak guru dan murid (mufid dan mustafid) sudah sama-sama ada rasa ikhlas, maka dengan segera Tuhan membuka kepahaman dihati murid-murid (walaupun ketika diterangkan mereka belum paham).

Untuk yang terakhir, penulis ingin menyampaikan sebuah pesan dari guru penulis, yaitu Hadrotusy Syekh K.H. Mahrus ‘Aliy: “Laabudda lithoolibil-‘ilmi an-yakuuna lahu syaikhun fattahun wakutubun shihhaahun wa’aqlun rajjaahun”.

Artinya: bagi seorang santri harus memiliki tiga syarat mutlak untuk berhasilnya ilmu manfaat, yaitu: pertama, guru yang bertanggungawab (lahir batin); kedua, kitab-kitab atau buku-buku yang sehat. (misalnya, tidak bercampur –baur dengan buku-buku cabul), dan: ketiga, akal yang tinggi. (pengertian tinggi disini sasarannya adalah akal yang punya kreasi dan tentu saa tidak harus memasukkan faktor cerdas).

Cukup sekian dulu, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Lirboyo, 5 Dulhijjah 1398 H.


KH. Achmad Chalwani Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren “An-Nawawi” Berjan, Purworejo, Jawa Tengah. Tulisan ini diambil dan ditulis ulang oleh Ahmad Naufa Kh. F. dari Buletin APIMU No 1 / Th 1 yang diterbitkan di Purworejo bulan Muharram 1399 H/ Desember 1978 M dengan judul asli Marilah Kita Lihat Cara Mengaji, koleksi pribadi Kiai Achmad Mahin (Mustasyar MWC NU Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah).