Dalam istilah Jawa, kita mengenal peribahasa Anget-Anget Mbelek Lencung, yang berarti hangat-hangat kotoran ayam. Sebagaimana kita maklumi bersama – atau maaf jika ternyata anda hidup di kota dan tak pernah kenal dengan yang namanya kotoran ayam – hampir semua kotoran ayam itu baunya, ketika baru saja keluar dari pantat ayam, hangat dan menyengat. Setelah kotoran ayam atau termbelek itu kering, ia tak lagi bau dan tak lagi mengganggu.

Diantara yang paling kotoran ayam itu, ada varian yang paling menyengat, namanya tembelek lancung atau lencung, yaitu tai ayam babon yang sedang mengerami atau mengasuh kuthuk-kuthuk, anak-anaknya.  Bau itu perlahan hilang seiring dengan mengeringnya tembelek itu, kecuali jika kita membersihkannya.

Jika anda tidak percaya, boleh mencari kotoran ayam babon yang baru saja keluar dan menelitinya, untuk membuktikan benar-benar hangat dan bau menyengat apa tidak. Jika jijik, lebih baik anda percaya saja pada saya.

Ini pengetahuan empirik. Saya dulu sering mengalaminya sendiri: midek mbelek, menginjak kotoran ayam, yang biasa mengotori beranda rumah atau serambi masjid. Selain jengkel karena bau dan tentunya disoraki teman-teman yang melihat peristiwa ntersebut, yang paling nahas adalah mendapat beban tanggungjawab membuang (baca: menyucikan) tempat yang terkena tembelek tersebut dari masjid, rumah Allah.

Sekadar informasi biar tambah mengsol tulisan ini, dalam tradisi dan doktrin Islam di desa kami dulu, barangsiapa melihat tembelek di masjid pertama kali, dialah yang berkewajiban membuangnya. “Jika kamu melihat tembelek di masjid dan tak membuangnya, kemudian ada jamaah yang hendak shalat menginjaknya, tidak mengetahuinya, kemudian shalat, maka batallah shalatnya, dan maka kamu yang berdosa. Apalagi jika kemudian tembelek itu terinjak dan menyebar kemana-mana, seluruh jamaah bisa batal semua shalatnya,” nasehat Ibu waktu itu, yang juga mengajar fashalatan di madrasah, sebuah kitab dasar tentang juklak dan juknis melaksanakan shalat. Pesan itu, seiring dengan banyaknya orang yang memelihara ayam di desa kami dan meningkatkan kuantitas tembelek, selalu ada dalam memori kolektif kami para santri madrasah.

Menyucikan tembelek ini, secara praktis dan mudah para ustaz dan ustazah mengajari kami. Pertama-tama, membuang tembelek-nya dengan kertas, kemudian menggosok-gosoknya sampai tidak ada warna dan baunya, baru kemudian di gebyur dengan air secukupnya. Belakangan saya tahu, hal itu dijelaskan dalam bab thaharah dalam kitab Fathul Qarib.

Meski begitu, ibu saya tidak pernah membersihkan atau mensucikan tempat yang kena tembelek menurut kitab itu. Ibu memiliki cara tersendiri. Pertama, membuangnya dengan kertas dan menggosoknya sampai bersih. Kemudian, beliau mengambil kain lalu dicelupkan ke air bersih dan diperas. Dengan kain basah itu, ibu membersihkan bekas tempat yang terkena tembelek itu, minimal tiga kali. Cara-cara ibu itu juga saya saya contoh dan praktekkan.

Oke, kita kembali ke topik pembahasan. Jika kita tafsiri lebih dalam, adagium Anget-Anget Mbelek Lencung ternyata memiliki nilai filosofis yang tinggi. Kata-kata ini biasanya diucapkan dalam menyikapi peristiwa yang sedang booming  secara skeptik: “Ah, paling Anget-Anget Mbelek Lencung!”. Maksudnya: Ah, paling itu cuma ramai-ramai sesaat. Setelah itu, akan ganti ontran-ontran, topik, isu, wacana yang lebih rame lagi. Secara epistemik, ini merupakan sebuah frame manusia Jawa untuk tidak mudah terbuai dengan hal-hal yang sedang bergolak, ramai dan menjadi trending topik, tanpa tahu duduk persoalannya. Nenek moyang kita seakan telah merumuskan secara sosiologis, bahwa masyarakat kita adalah masyarakat pelupa dan atau mudah lupa.

Secara aksiologis, makna atau kandungan skeptik dalam ungkapan tersebut tidak menghasilkan sebuah perilaku apriori, melainkan sebuah tindakan yang tidak mudah larut, terbuai dan terbawa suasana. Sambil menyimak, orang Jawa akan tansah eling lan waspodo, selalu ingat dan waspada.

Term Anget-Anget Mbelek Lencung ini benar-benar menunjukkan faktanya, bagaimana sebagian masyarakat kita mudah terbuai dan lupa. Hari ini ribut soal boleh-tidaknya pemimpin perempuan, besoknya riuh soal kasus Freeport. Hari ini ribut soal Syiah atau Ahmadiyah, besoknya riuh soal wacana munculnya paham Neo-Komunis. Hari ini ribut soal pejabat korupsi, esoknya riuh soal impor pangan. Hari ini ribut soal eksekusi mati untuk pengedar narkoba ataukah koruptor, besoknya riuh soal tato dalam tubuh seorang menteri. Hari ini ribut soal pimpinan dewan yang sowan Donald Trump, besoknya riuh soal gubernur tandingan. Hari ini ribut soal bolehkan pemimpin non-muslim, besoknya ribut soal reklamasi. Demikan selanjutnya: esok dan seterusnya.

Hari ini, semua orang baik di Istana Negara sampai warung angkringan, sedang membicarakan tentang Pilkada DKI, khususnya fenomena Ahok. Semua ribut, semua riuh. Semua orang dapat dan bisa bicara, meski tak semua tahu duduk persoalannya. Parahnya lagi, banyak yang saling mengutuk, menjustifikasi, menyalahkan, seakan hanya pada dirinya-lah letak stempel kebenaran. Dan paling parah – ini yang paling parah – mempolitisasi ayat-ayat Tuhan untuk menjatuhkan lawan. Media dipenuhi fitnah dan kemunafikan.

Anget-Anget Mbelek Lencung mengajarkan kita untuk berpikir jernih, rasional dan bertindak secara proporsional. Bagaimana konteks proporsional itu? Yang paling mudah, jika ada orang (atau segolongan orang ) yang menganggap Ahok lah yang paling benar laiknya Nabi, atau sekelompok lain yang menganggap Anies Baswedan suci laiknya Yesus, maka ambillah jarak dari keduanya: mereka semua manusia. Manusia tetapilah manusia: tempatnya salah dan lupa. Ada baiknya kita “berdiri” di “pihak ketiga”, ambil, dukung dan baik apa yang keluar darinya; serta tetap kritis apa yang kurang baik atau salah darinya. Pesan Kanjeng Nabi, jangan mencintai orang dengan terlalu, atau membenci orang dengan terlalu. Bukankan yang sudah-sudah, seringkali dalam sejarah para penonton selalu dikecewakan? Ini merupakan bentuk dari eling lan waspodo.

Fenomena Ahok, sekali lagi, hanyalah Anget-Anget Mbelek Lencung, yang seiring waktu akan hilang dan berganti. Runtutan peristiwa yang antri dan belum – atau tidak  dan tidak akan pernah– kita ketahui, akan menjadi bom waktu, baik soal keagamaan, keadilan, penindasan, kesejahteraan, sampai tangan-tangan politik dunia pertama dari berbagai blok yang selalu bernafsu untuk mempengaruhi dan menguasai. Apa-apa yang riuh dan kita lihat itu, kebanyakan kita tidak tahu akadnya, prosesnya, aktor belakangnya dan kebenaran sejatinya.

Sebenarnya, saya sendiri tidak ingin ikut-ikutan bicara soal tetek bengek yang menjadi pemberitaan di berbagai media. Lebih baik saya mengerjakan hal-hal konkrit yang langsung berkaitan atau menjadi kebutuhan saya, misalnya bagaimana setiap hari di kantong saya ada uangnya dengan usaha, mencari orderan yang halal dan tidak mengikat. Namun, banyak info dan berita abal-abal yang menyesatkan: fitnah, agitasi, pembunuhan karakter sampai menunggangi agama untuk kepentingan tertentu. Dan itu terus menembaki saya: lewat koran, televisi, dan media sosial. Meski belum tentu mengubah apapun dari kondisi itu, meminjam istilah Pram, setidak-tidaknya saya telah melawan, lewat tulisan.

Anget-Anget Mbelek Lencung adalah fenomena di Indonesia dan berbagai kehidupan anak manusia di alam semesta. Ia mengajarkan untuk tidak menunjuk-nunjuk dan menjustifikasi kesalahan dan kebobrokan orang lain dengan membabi buta. Dan jangan lupa, ketika kita menunjuk orang lain, jari tengah, jari manis dan jari kelingking kita menunjuk diri kita sendiri.

Purworejo, 09 Muharram 1438 H.