Sub-Judul di atas adalah pertanyaan yang dilontarkan seorang teman kepada saya. Konteksnya adalah membedakan mana yang benar-benar ulama dengan orang yang “berjubah ulama”, yang terjadi pembelahan dalam wacana Pilkada DKI, baik dari riuhnya penistaan agama oleh Ahok, sampai kontroversi Mas Nusron di ILC yang dianggap oleh Yusuf Mansyur tidak menghormati ulama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ulama adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Kata ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fa’il dari kata dasar: ’ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu.

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Menurut Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab, salah satu mufassir terbaik Asia saat ini, “Ulama ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyahmaupun Quraniyah, dan mengantarnya kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasyah (takut) kepada-Nya”

Dalam hal ini, Wikipedia memiliki definisi yang hampir sama. Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Memilih Ulama

Dalam memilih ulama sebagai panutan, berdasarkan beberapa defiisi diatas, pengalaman empirik dan sedikit ilmu yang saya miliki, saya men-tadabburi dan menarik kesimpulan.

Pertama, berilmu. Pertama, kita harus mengecek latar-belakag ulama itu, dulu belajar, mondok dan kuliah dimana? Hal ini agar kita tidak serta merta menganggap seseorang itu ulama hanya gara-gara sering posting terjemah ayat Al-Quran atau kesana-kemari menganjurkan orang untuk berbuat baik.

Dalam hal ini, (sebagian) orang Indonesia kadang mengulamakan seseorang bukan karena prosesnya bertahun-tahun menuntut ilmu di pesantren, tetapi karena menjadi “muslim dadakan” atau “taubat dadakan”. Ini bukan berarti beliau-beliau itu bukan orang baik, hanya saja, ada baiknya tahan dulu hasrat untuk menyebutnya ulama.

Kedua, Takut kepada Allah (yakhsyallah). Menurut Kiai Ahmad Muwaffiq,  takut kepada Allah bagi seorang ulama itu menjadi kunci. Dengan ini, praktis, orang-orang orientalis seperti Snock Hurgronje tidak masuk kategori ulama, meski ia hafal Al-Quran, Hadits, Sahih Bukhari, Muslim karena tidak ada rasa takut kepada Allah. Para orientalis itu hanya menjadikan Islam sebagai objek kajian penelitian ilmiah, bukan sesuatu yang juga untuk diimani dan diamalkan.

Ketiga, ikutilah pendapat mayoritas ulama (as-sawad al-a’dam), kata nabi. Ulama Islam yang paling banyak dianut, hari ini adalah Imam Madzhab yang empat itu (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali). Dalam konteks Indonesia, silakan di cek sendiri, ulama mayoritasnya di organisasi apa dan dimana. Setelah ketemu, ikutilah mereka-mereka.

Keempat, ber-akhlakuk karimah, tidak provokatif. Ulama sejati itu tidak provokatif: membenturkan satu kekuatan dengan kekuatan lain, tetapi menghimpun kekuatan untuk menegakkan Islamrahmatan lil ‘alamin. Kalau yang sering mengadu domba, memfitnah, berprasangka buruk, menuduh-nuduh dan menyalahkan orang lain, lebih-lebih tanpa klarifikasi, bisa anda nilai sendiri.

Keempat, mau bersama dengan orang yang tak sama. Para ulama tentu sudah tidak alergi dengan perbedaan. Mereka sudah paham betul bagaimana Nabi Muhammad membangun Negara Madinah degan sebuah konstitusi negara modern pertama (jauh sebelum lahirnya Magna Charta), yang menyatukan dan melindungi semua agama, suku, klan, etnis dalam sebuah negara. Konstitusi ini dikenal dengan nama Piagam Madinah, sebuah teks yang menurut Sayyidina Ali, sahihnya dibawah Al-Quran.

Dengan demikian, ulama tidak alergi dengan perbedaan. Musuh mereka adalah orang-orang yang dhalim. Mereka sudah sangat hafal Ayat Al-Quran yang seringkali dipakai oleh para khatib saat khotbah jumat: Walaa ‘udwaana illa ‘ala dhalimin; tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang dhalim. Dalam kata lain, ulama akan marah ketika ada kedhaliman, seperti pembunuhan, penindasan, pemerkosaan, perampasan hak-hak warganegara dan sebagainya, bukan memusuhi atau marah atas dasar perbedaan agama, suku, golongan atau kelompok tertentu.

Dalam konteks Islam Jawa, kini apa yang disebut ulama itu adalah kiai. Di Aceh disebut Tengku, di Tanah Sunda disebut Buya, demikian seterusnya, berbeda-beda satu daerah dengan lainnya. Namun dalam konteks Indonesia kebanyakan menyebut kiai, meski tidak semua kiai bisa dikategorikan ulama.

Siapa itu kiai? Menurut guru saya – KH Achmad Chalwani Nawawi – definisi kiai dan atau gelar yang sepadan (tengku, buya, dll) dengan: huwa-lladzi yangdzuru ila-l-ummah bi’aini-rahmah. Kiai adalah orang yang melihat umat dengan mata kasih sayang. Dalam mendefinisikan, kiai saya menempatkan kata “kasih sayang” menjadi kata kunci.

Meski demikian, kiai itu berbeda-beda tingkatannya. Ada kiai sepuh yang dikenal mu’tamad, otoritatif di bidangnya dan diakui banyak orang sebagai ulama rujukan, semisal KH Maemoen Zubair dan KH. Ma’ruf Amin. Namun ada juga “kiai langgar” yang sehari-hari memandu anak-anak kecil kita membaca huruf hijaiyyah: alif, ba, ta. Banyak sekali variannya. Kata kunci kiai-kiai itu adalah kasih sayang, baik dalam mengajarkan ilmu, melayani, maupun mengayomi masyarakat, tidak dengan jalan kekerasan, caci maki atau fitnah, namun dengan cinta dan keteladanan.

Kelima, jangan tertipu penampilan. Dalam point ini saya akan mengisahkan suatu cerita yang menarik. Suatu ketika, konon ada serombongan jamaah haji yang sedang jalan di sekitar Makkah. Kemudian mereka bertemu dengan orang Arab berjubah dan melafalkan kata-kata Arab. Sontak, seluruh jamaah haji menyadongkan tangan mereka, seraya bilang: amin, amin, amin. Mengetahui hal itu, pemimpin rombongan yang seorang kiai menegur, bapak-bapak, ibu-ibu, orang tersebut bukan sedang berdoa atau mendoakan, tetapi sedang menawar harga.

Seringkali penampilan memang menipu, dan kita tertipu penampilan. Kata bijak dont judge a book by its cover, dalam hal ini menjadi sangat relevan. Penampilan dengan sedikit trik-lah yang membuat uang ratusan (mungkin ribuan) orang jatuh ke kantong Taat Pribadi sang “pengganda” uang.

Penampilan ini sekarang menjadi penting, bagi mereka yang punya kepentingan politik untuk menjadi lipstik dalam kampanye. Jadi, jangan heran kalau ada ormas atau parpol yang “kelihatan” shaleh.

Keenam, jangan mudah terpengaruh media. Secara langsung memang ini tidak ada kaitanynya dengan ulama. Namun mengingat teknologi informasi seperti gadget, laptot, android menjadi hal primer saat ini, menjadi penting untuk memfilter informasi, khususnya terkait ulama. Mana yang benar-benar ulama dan mana yang penceramah yang “dilantik” media. Banyak media yang menyebar berita hoax, fitnah dan pembunuhan karakter secara viral dan massif. Jangan sampai kita masyaraklat yang menonton, bukan pemain, menjadi korban.

Ketujuh, terakhir, kiai saya pernah berpesan: ikutilah organisasi yang dipimpin kiai. “Karena sekarang banyak organisasi-organisasi Islam yang dipimpin oleh bukan ulama,” kata beliau, memberi alasan. Ini menurut saya menjadi penting ketika kita mencari referensi, khususnya soal masalah-masalah keagamaan.

Nah, itulah tujuh tips dari saya dalam rangka memilih ulama untuk panutan secara praktis, ditengah gelombang fitnah dan badai hoax ini. Semoga dengan ini, pertanyaan dari teman saya terjawab, meski belum memuaskannya. Maklum, saya bukan alat pemuas.

Dalam melihat kasus Mas Nusron di ILC beberapa waktu lalu, saya melihat dia marah pada situasi, kondisi dan alamat yang tepat: orang-orang yang memanfaatkan agama sebagai “kendaraan” dalam meraih jabatan politik, bukan dengan perang gagasan logis, kaidah tepat dan dengan kontek Indonesia. Lalu statemet itu disesali dengan tangisan dan penggiringan opini publik oleh Yusuf Mansur yang menjadi viral: menganggap Mas Nusron tidak menghormati ulama. Sebuah tangisan yang menunjukkan ketidak berdayaan menjawab secara logis dan argumentatif, sehingga dengan perasaan, namun salah sasaran.

Adapun kriteria ulama menurut Imam Al-Ghazali, sebagaimana ditulis oleh Syaikh KH Achmad Siddiq, mantan Rais Aam PBNU, adalah sebagai berikut:
a. Giat melakukan ibadah (عابدا), b. Menerapkan sikap zuhud dalam kehidupannya (زاهدا), c. Luas dan mendalam mengenai ilmu akhirat (عالمابعلوم الاخره), d. Cukup pengetahuannya tentang kemaslahatan ummat manusia mengenai hidup duniawiyah (فقيها فى مصالح الخلق), e. Dengan ilmu dan pengetahuannya, mengerahkan diri hanya kehadapan Alloh, dengan kemurnian niat (مريدا بفقهه وجه الله)

Terakhir, semoga Yusuf Mansyur yang ahli dan gencar kampanye sedekah dan bisnis itu, perlahan memahami koteksnya. Saya percaya, niat beliau tulus ingin melihat umat Islam maju, namun sebagian (kecil atau kecil sekali) dari mereka salah dalam menempuh jalannya: dengan fitnah, permusuhan, dendam dan kebencian. Saya doakan, semua yang berselisih, salah faham, seiring dengan waktu, saling mengerti dan memahami. Saya cinta dengan semuanya, semua makhluk Allah di muka bumi ini yang diberi keunikan cara berpikir dan memahami, termasuk perbedaan agama, suku dan budaya di Tanah Air kita tercinta: Indonesia.