PADA suatu Rabu di tahun 2000, Bapak hendak mengantarku mendaftar di sebuah pesantren di Purworejo, Jawa Tengah. “Dalam Kittab Ta’limul Muta’aim, hari rabu adalah hari yang baik untuk menuntut ilmu,” kata Bapak, waktu itu. Aku yang belum mengetahui hal itu, menurut saja. Laiknya orang yang hendak merantau, akupun pamitan dengan segenap keluarga, tak terkecuali Kakek. Waktu itu, beliau sedang terbaring lemas di atas ranjang karena sakit. Aku menyampaikan maksud dan tujuan dengan bahasa kromo inggil, lalu bersalaman, dan mencium tangan beliau. “Di pondok yang prihatin, ya” pesan beliau waktu itu, singkat, sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan bergambar Presiden Soeharto tersenyum.

Dengan bus umum, aku dan Bapak menuju pesantren, dengan membawa tas berisi baju dan kardus berisi jajan, beras dan sayuran. Setelah sejam melewati perjalanan, akhirnya kami sampai di komplek pondok pesantren dengan bangunan tiga laintai. Di kantor pondok, aku mengisi formulir pendaftaran lalu diarahkan memasuki sebuah kamar. Di kamar, aku diberi jatah dua kotak kecil almari, satu untuk baju dan satu untuk kitab dan buku. Setelah itu, Bapak berjalan menuju jalan raya, menyetop angkutan umum untuk pulang.

Seorang senior kamar kemudian mengajakku keliling-keliling di seputar komplek pesantren. “Ini kamar mandinya. Kamu bisa mandi disini, tapi biasanya antri,” katanya, sambil mengajakku ke tepi sungai sekitar 300 meter dari pesantren. “Kalau kamar mandi antri, kamu bisa mandi dan nyuci baju di sungai ini,” katanya. Kulihat, dengan memakai celana, banyak santri-santri mandi di sungai yang berwarna cokelat itu. Kemudian aku di ajak ke tempat lain. “Ini dapurnya, kamu bisa masak disini,” katanya. Kulihat puluhan almari berukuran sedang berjejer, diantaranya terbuka dan berisi beras dan aneka bumbu-bumbu. “Kalau pas malas memasak nasi, atau sekadar beli sayur, kamu bisa ke sebelah, itu warung langganan santri,” imbuhnya. Kulihat warung itu ramai oleh santri yang sedang makan dan beberapa ngopi sambil merokok. “Disini, makan Rp. 400, Teh Rp. 50. Kalau sayur sepiring Rp. 200,” terangnya. Akupun mengangguk, sambil melihat-lihat lingkungan baruku.

Sampai di suatu malam, semua santri di kumpulkan oleh pengurus pondok di serambi masjid. Dalam pengumunan, akan ada lailatut ta’aruf atau malam perkenalan. Acarapun berjalan. Kepala pondok menyampaikan qanun atau tata-terbib menjadi santri, lengkap beserta sangsinya, kemudian mengenalkan pengurus pondok satu persatu, lengkap dengan jabatannya. Acara itu di puncaki oleh mau’idlah chasanah dari Romo Kiai. “Anda datang kesini itu bukan undangan dari saya, tatapi undangan dari Allah SWT,” kata beliau waktu itu. “Saya minta, seluruh santri untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah. Ini sebagai perekat agar ilmu cepat masuk. Aljamaa’atu ummur riyadlah, shalat berjamaah itu induk dari segala keprihatinan. Semua amalan riyadlah kalah dengan shalat berjamaah,” nasehat beliau, yang masih kuingat. “Kamu mondok disini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah. Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafal nadzaman kitab dan shalat berjamaah. Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan, Jakarta. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah. Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah SWT. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu. Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip!, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip!,” kata beliau, panjang lebar. Usai ceramah, kami seluruh santri antri untuk bersalaman dengan beliau beserta seluruh pengurus.

Awal menjadi santri, aku harus menyesuaikan jadwal yang dibuat oleh pengurus pesantren. Tidur kami “terganggu” di jam 04.00 pagi oleh suara tartil dari corong masjid. Kami semua (di)bangun(kan) oleh sebuah kentongan dan bedug yang dipukul dengan keras oleh petugas piket. Selain itu, para pengurus komplek juga “operasi” dari kamar ke kamar untuk membangunkan seluruh santri. Kami digiring ke kolam depan pondok untuk berwudlu, lalu usai mendengarkan gema adzan, berdoa dan shalat sunnah qabliyyah atau tahiyyatul masjid, kemudian melantunkan puji-pujian Baqiatush Shalihah:

Subhānallāhi walhamdulillāhi walā ilāha illallāhu wallāhu akbaru lā haula walā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘adhīmi. Āmantu billāhi wamalāikatihi wakutubihi warusulihi wal yaumil ākhiri wabilqadari khairihi wasyarrihi minallāhi ta’ālā.

Sang Imam kemudian masuk, shalat sunnah dan berdiam diri (i’tikaf), sambil menunggu satu-persatu jamaah yang memasuki masjid. Ketika sang imam sudah menganggap cukup pujiannya, ia akan memberi tanda dengan bertepuk tangan sekali: “plok!” Kemudian sang muadin melantunkan iqamah, dan petugas piket memukul kentongan sebanyak dua kali: “thung!-thung!”, sebagai tanda bahwa shalat berjamaah sudah dimulai.

Usai shalat dengan doa qunut di rekaat kedua setelah rukuk itu, kami seluruh santri masih duduk ditempat untuk membaca wirid (wiridan): membaca istighfar, tashbih (subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) masing-masing sebanyak 33 kali. Kemudian dzikir membaca Laailahaillallah. Khusus di shalat jamaah shubuh, dzikirnya dibaca 700 kali. Tak ayal, hal ini membuat para santri yang tidak kuat, khususnya yang masih kecil, satu persatu bertumbangan, tertidur. Di jumlah ke 400-500, hanya tinggal beberapa santri saja yang membacanya dengan lantang. Usai dzikir, kami para santri masih membaca wirid Sunan Ampel: Ya Chayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha Illa Anta sebanyak 41 kali. “Wirid ini membuat kita mandiri. Orang kalau banyak berdzikir, banyak membaca nama Allah dan nama-nama nabi, pikirannya hidup, punya banyak kreasi. Orang kalau jarang membacanya, beku pikirannya,” kata Romo Kiai. Setelah itu, kemudian membaca Fatihah bersama-sama, dan ketika sampai pada ayat Iyyaka Na’budu Wa Iyyaaka Nasta’in, di ulang 41 kali. Kemudian sang imam berdoa dan diimami seluruh santri. Selain itu, kami juga masih diwajibkan  membaca Ya Fattahu Ya ‘Alim 41 kali, sendiri-sendiri. Biasanya, jamaah subuh ini baru selesai pada pukul 05.30 WIB, ketika mentari telah terbangun dari tidurnya.

Usai shalat berjamaah, para santri keluar dari masjid secara tertib menuju kamar masing-masing. Tak lama kemudian, dari kamar-kamar itu terdengar gemuruh suara mereka yang tadarrus Al-Quran sendiri-sendiri. Pukul 05.30, mereka hilir mudik sambil membawa kitab menuju ruang kelas masing-masing. Ada yang di serambi masjid, ada yang di depan kamar dan ada pula yang di ruang kelas. Untuk santri kelas Awwaliyah, biasanya mengaji Al-Quran. Sang Ustadz membacakan ayat dan diikuti secara serempak, kemudian santri membaca satu per-satu atau per-kelompok. Untuk santri yang di kelas Wustho dan Ulya, mengaji kitab kuning. Ngaji pagi ini akan berakhir ketika lonceng dibunyikan sebanyak tiga kali: “thing!thing!thing!” pada pukul 06.00 WIB.

Usai ngaji, aku menyalakan kompor minyak untuk menanak nasi dan pergi untuk mandi. Di awal-awal masuk pesantren ini, aku lebih memilih sungai sebagai tempat untuk membersihkan diri. Banyak anak-anak yang seusiaku juga menceburkan diri ke air mengalir itu disertai dengan bermain ciprat-cipratan. Ketika air mengenai muka santri senior, tak jarang kami di pelototin. Dengan wahana bermain air seperti itu, aku mulai banyak kenalan teman sepantaran, dan tentu saja membuatku bisa berenang.

Selepas mandi dan sarapan, kami – yang mendaftar sekolah formal – menyiapkan diri untuk kembali belajar. Aku masuk MTs, bersama banyak teman seusia yang baru lulus dari SD. Banyak juga santri yang masuk SMA, MA atau SMK. Sedikit diantara mereka yang masuk kuliah, waktu itu. Di sekolah, kami di ajari berbagai ilmu, dari aqidah, matematika, fisika, biologi sampai sejarah. Ketika waktu seudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, lonceng berbunyi tanda kegiatan belajar mengajar selesai.

Sehabis pulang sekolah, makan siang untuk menyambung energi, kemudian ke masjid untuk shalat dzuhur berjamaah. Di wahtu dzuhur, jadwal adzan adalah pukul 13.00 WIB dan melantunkan puji-pujian sampai iqamah pukul  13.30 WIB. Jadwal ini sengaja dibuat untuk menunggu santri yang bersekolah telah pulang. Di waktu dzuhur ini, puji-pujian sebelum shalat adalah shalawat Auqatil Asyjar: Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin ‘adada aurāqil asyjāri wa ‘alā ālihi wa ashhābihi almuhājirīna wal anshāri. Menurut Romo Kiai, apabila kita membaca shalawat ini sekali saja, pahalanya seperti membaca shalawat yang jumlahnya seperti jumlah seluruh daun-daun di dunia, baik yang masih basah, kering atau rontok.

Usai shalat dzuhur berjamaah, agenda selanjutnya adalah ngaji luar madrasah. Masing-masing kelas beda kitabnya. Ngaji ini berakhir setelah lonceng berbunyi pada pukul 15.00 WIB. Waktu setelah jam-jam ini, biasanya kugunakan untuk istirahat – tidur siang – sampai pukul 16.30 WIB. Setelah suara kentongan dan bedug membangunkan untuk shalat asar, kami berwudlu dan menuju masjid untuk shalat berjamaah. Setelah itu kami ngaji lagi sampai adzan maghrib. Puji-pujian di waktu maghrib kadang memakai syair, seperti nadzaman kitab Aqidatul Awam, Imrithi dan Alfiyyah Ibnu Malik. Terkadang juga syair Khosoisun Nabi: Lam Yahtalim.

”Kalau kamu hafal lam yahtalim, yang barisan ke-enam disebutkan: Hâdzihil khoshô-ishu fahfadh-hâ takun âminân, Min syarri nârin wa surrôqin wa min mihani. Barangsiapa yang hafal khushushiyyah nabi yang 10 ini, aman dari kebakaran dan pencurian, termasuk kecopetan dan selamat dari semua ujian. Saya sejak kecil seudah hafal Lam Yahtalim. Saya minta semua santri hafal. Soal lagunya bebas,” ungkap beliau, di malam ta’aruf.

Selepas shalat maghrib, kami biasanya para santri berderet antri untuk bersalaman (mushafahah) dengan Romo Kiai. Sebelum bersalaman, biasanya beberapa santri sudah berebut menata sendal Romo Kiai. Setelah itu, kami membaca Al-Quran di kamar masing-masing dengan dibimbing pengampu kamar, sampai waktu isya’. Setelah shalat isya itulah, kami semua pergi untuk madrasah sampai pukul 22.00 WIB, dengan jeda istirahat 15 menit.

Selesai madrasah, kami santri-santri kecil hanya wajib meneteng kitab atau buku selama satu jam dalam “jam wajib belajar”. Boleh sambil makan, duduk, atau gaya apa saja, bebas. Terkadang, ada yang tengkurap sambil menghadap buku, setelah dilihat, ternyata santri itu tidur. Sementara santri-santri senior kembali ngaji kitab Muhadzab pada pukul 23.00 sampai 00.00 dan kadang 01.00 WIB. Setelah jam wajib belajar, aku kembali masak di dapur, baru kemudian tidur lelap menuju alam mimpi.

Itulah, sepenggal pengalamanku beberapa tahun lalu di awal-awal masuk pesantren. Semenak tahun lalu, pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Aku jadi teringat pesan Romo Kiai beberapa waktu lalu, dalam sebuah pertemuan alumni: “Seluruh alumni untuk bisa merapat ke Nahdlatul Ulama di daerahnya masing-masing. Ini salah satu cara kita untuk melanjutkan perjuangan Islam dan Indonesia…,” kata beliau, waktu itu, dalam merespon maraknya paham Islam trans-nasional, puritan, radikal dan liberal. Selamat Hari Santri, pengawal Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI!

Purworejo, 20 Oktober 2015