RIBUAN orang, jumat dua pekan lalu, berdemonstrasi di depan balai kota dan beberapa titik di Jakarta. Tujuan mereka adalah menutut agar supaya penegak hukum, memeriksa Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang mereka duga melakukan pencemaran agama, yang terekam dalam sebuah video ketika berkunjung ke kepulauan seribu. Meski diikuti oleh ribuan massa, demo itu berjalan tertib tanpa anarki.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Ada yang menarik dari fenomena ini. Bukan tentang benar-salahnya, namun efek medianya. Bayangkan, hanya karena sebuah video beberapa menit yang diunggah dalam akun jejaring sosial facebook seseorang yang bernama Buni Yani, berhasil menggerakkan ribuan massa. Tak hanya itu, beberapa pihak yang berkepentingan dengan medianya masing-masing pun menggoreng isu tersebut untuk kepentingan politik tertentu, sehingga menimbulkan “kegaduhan nasional”.

Hal ini, tentu mengingatkan kita kepada kasus Cicak vs Buaya dulu sekaligus menegaskan kepada kita, betapa perkasanya kekuatan media di era teknologi-informasi ini. Untuk membuat sebuah gerakan sosial, hanya dengan satu akun facebook, seakan-akan sudah mampu menggantikan peran ratusan mahasiswa. Ini fenomena yang tentu tak ada di jaman Orde Baru.

Di era media sosial yang begitu marak, kaidah-kaidah kebenaran kini menjadi kabur dan buram. Banyak berita atau informasi yang sulit dilacak kebenarannya. Semua pengelola media, khususnya media hitam – media yang berisi fitnah, cacian dan kebencian – seakan  hanya mencari rating agar mendulang ekonomi dan kepentingan politik, tanpa berpikir atau mempertimbangkan efek yang ditimbulkan dari informasi tersebut. Mirisnya lagi, ketika kegaduhan terjadi, banyak pihak yang justeru senang, seakan itu adalah pertujukan topeng monyet yang layak ditepuk tangani dan diambil keuntungannya.

Dalam Kode Etik Jurnalistik PWI Pasal 2 dijelaskan, “Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang”.

Melihat dunia pers hari ini, khususnya media online yang begitu banyak, dan tak terkendali, sungguh mengkhawatirkan. Berbagai fitnah, caci maki dan penghakiman bertebaran dimana-mana; saling serang tanpa mempedulikan perasaan kelompok lain. Masyarakat terpolarisasi dalam isu tertentu dan dapat diledakkan kapan saja. Melihat hal ini, wartawan dan penulis sebaiknya merenungkan kembali, apa niatnya ketika ia pertama kali merangkai kata?

Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara berdasarkan hukum sebagaimana diamanatkan dalam penjelasan Undang-undang Dasar 1945, maka seluruh wartawan dan atau jurnalis Indonesia mwajib enjunjung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab. Selain itu, juga perlu mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan perdamaian dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila.

Membangun Jurnalisme Santun

Dalam medio 90-an, Nasida Ria, sebuah grup orkes musik Islami dari Semarang, pernah merilis lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia. Salah satu yang menarik dalam lirik lagu tersebut adalah: “…apa saja kata wartawan, mempengaruhi pembaca koran. Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji. Bila wartawan mencaci, dunia ikut mencaci. Wartawan dapat membina pendapat umum di dunia…”. Melihat fenomena media hitam hari ini, khususnya media online dan jejaring sosial, lagu terebut sungguh tak berlebihan.

Untuk itu, kiranya perlu beberapa langkah taktis untuk membendungnya. Pertama, kita harus selektif membaca berita apapun. Mengapa disini justru penbaca yang harus lebih cerdas? Oleh karena jika pembaca cerdas, memiliki daya kritis, tentu sebobrok apapun beritanya, tidak akan dimakan mentah-mentah, minimal di kunyah. Kita harus tahu dari mana sumber berita itu? Siapa penulis atau medianya? Apa kepentingan atau ideologi sang penulis? Termasuk pertanyaan ribuan video tokoh-tokoh tertetu di youtube yang di potong sedemikian rupa dan dijadikan bahan bakar untuk menggiring kepada tujuan tertentu. Harus punya filter dan pertahanan diri yang baik.

Kedua, menjauhkan jarak. Kita jangan sampai terfokus kepada sosok yang sedang naik daun atau menjadi pusat perhatian, misalnya. Namun coba kita sedikit menjauh dari fokus itu,dan melihat dengan spektrum yang lebih besar dan luas: siapa saja dibelakangnya? siapa aktornya? apa kepentingannya? Yang terus tersambung dan terkait dengan negara-negara pertama. Dengan demikian, kita bisa melihat secara jernih apa itu daun masalah, pohon masalah, akar masalah, sampai siapa penanam dan pemilih pohon itu.

Ketiga, tidak asal share. Fenomena like and share adalah fenomena baru di jaman gadget ini. Meski demikian, tak selamanya nge-share sesuatu itu baik. Jika apa yang di share itu konten yang buruk, misalnya, atau berbau fitnah, justru kita adalah bagian dari pengahancur itu, tak ada bedanya. Ini sama seperti dosa pembantu pencuri, dalam perspektif fiqh,  yang dihukumi sama dengan pencuri, meski beda status pidananya.

Keempat, perlu adanya perhatian dari semua elemen, baik swasta dan khususnya pemerintah, untuk secara sistematis menyelenggarakan pelatihan jurnalistik online dan kampanye memproduksi konten positif kepada siswa, santri dan mahasiswa, sebagai elemen penting yang akan meneruskan cita-cita bangsa. Ini mengingat hari ini jurnalistik bukan hanya monopoli wartawan saja. Jangan sampai, generasi muda menjadi korban ganasnya media hitam yang berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa, yang dengan darah dan nyawa telah dibangun oleh para founding fathers Indonesia.

Purworejo, 19 Oktober 2016