Forum Wolulasan Jamaah Maiyah Purworejo (JMP) terasa agak berbeda dari biasanya. Bukan tempat, waktu atau suasananya, namun pemantiknya. Kali ini, sedulur-sedulur kedatangan Mas Suryokoco Suryoputro, seorang pegiat isu-isu tembakau dan desa yang telah menasional. Kali ini, dengan menggunakan kaos merah dan celana hitam, ia duduk ditengah-tengah kami yang melingkar. Kemudian dari sebuah tas hitam, ia mengeluarkan kaos hijau bertuliskan NEGARA BUTUH CUKAI ROKOK, dan ia berikan kepada salah satu dari kami. “Ini untuk kamu, Yok, sebagai hadiah kopdar. Perlu temen-temen ketahui, saya itu kenal bertahun-tahun dengan Doyok hanya memalui media online. Hari ini baru bisa tatap muka, silaturrahmi. Kemajuan teknologi ini, sebenarnya tinggal bagaimana kita menggunakannya, ia hanyalah alat,” ungkapnya.

Mengawali obrolannya, pencertus tv desa tersebut memperkenalkan dirinya dan beberapa momentum yang berkesan dalam hidupnya. “Ketika kecil dulu, semenjak sunat, saya sudah boleh merokok. Itu hadiah dari orang tua saya, sebagai tanda bahwa saya sudah dewasa. Namun paska itu saya dinasehati orang tua: kamu boleh merokok, asal tidak mencuri dari bapak, atau mengambil uang dari itu untuk membelinya,” kenangnya. “Sejak itu, saya mulai berpikir bagaimana menghasilkan uang sendiri,” imbuhnya. Hal ini, menurutnya, merupakan kearifan sekaligus pembelajaran yang hari ini banyak dilupakan. “Dulu ukuran dewasa itu sunat, itu kan jelas. Kalau sekarang ukuran dewasa mengikuti standar barat: 18 tahun, ini jadi rancu,” imbuhnya.

Lebih lanjut Mas Koco menjelaskan tentang salah satu hal yang digelutinya, merokok dengan bijak. Ia berkampanye di situs perokokbijak.com. “merokok itu soal pilihan, dan secara hukum dilindungi undang-undang.” katanya. Selain itu, menurut Mas Koco, seorang perokok yang bijak tidak menawarkan rokok kepada orang yang tidak merokok. Ini, menurutnya, adalah sebuah etika yang harus dipegang. “Kalau saya datang di suatu tempat, di taman misalnya, dan sudah ada orangnya, jika ingin merokok, saya ijin dulu karena sudah ada yang datang duluan. Tetapi kalau saya yang datang duluan, saya bebas langsung merokok. Ini etika,” terangnya. “Saya juga tidak merokok di tempat atau rumah yang tidak ada asbaknya. Tetapi kalau ada asbaknya, langsung saja, karena itu tanda dibolehkan merokok,” imbuhnya.

Kemudian, Mas Koco juga mengungkap beberapa “fatwa-etik” menjadi perokok yang bijak. “Kalau korek api kok diletakkan diatas bungkus rokok, itu berarti tidak boleh dibagi. Korek itu posisinya sebagai tameng, benteng penutup. Dan perlu rekan-rekan pahami, bahwa batang rokok pertama dan terakhir (dari sebungkus rokok) itu adalah hak pemilik,” katanya menjelaskan.

Kemudian Ahmad Naufa selaku moderator menerangkan tentang muqaddimah yang telah dibuat sebelumnya: “Sampah Pemuda”. Menutur Naufa, tema ini sudah dibahasa sebelumnya. “Kita ingin mengulang kembali tema ini; bagaimanakah seharusnya pemuda itu? Nah, dari Mas Koco ini kita bisa sharing kembali tentang pengalamannya. Bagaimana kiprahnya dari dulu ketika muda sampai hari ini yang telah banyak berbuat,” ungkapnya. Menurut Naufa, tantangan pemuda dulu dan kini itu berbeda dan butuh penyikapan yang berbeda pula.

Kemudian Mas Koco dipersilakan. Ia mengatakan, bahwa sejarah Sumpah Pemuda 1928 itu perlu dikaji ulang oleh pemuda hari ini. “Sumpah pemuda itu belum pernah terbukti diikuti oleh mereka yang bukan pribumim,” ungkapnya memancing. “Dan satu hal lagi, proses sejarah kita mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966, sampai Reformasi 1998 tak ada yang murni dari sendiri, semua itu melibatkan ‘orang lain’,” imbuhnya. Salah satu tandanya, katanya, adalah Naskah Proklamasi yang dibuat bukan di rumah pribumi.

Dan yang perlu dicermati, imbuhnya, Indonesia sekarang itu berbeda dengan Indonesia yang dulu. “Hari ini Sila ke-4 kita tidak ada perwakilan. Siapa yang punya duit ya dia yang menang. Hal ini berdampak luas, dimana duit Negara kita habis banyak untuk biaya berdemokrasi,” imbuhnya.

Menasehati puluhan pemuda yang hadir, Mas Koco juga mengutip pesan yang disampaikan ayahandanya: nek arak opo-opo ojo golek jenang, tapi goleko jeneng (kalau mau berbuat sesuatu jangan mencari jenang, tapi carilah nama. “Kalau kita sudah punya nama, apapun akan dibeli. Jadi yang penting bagaimana kita berbuat dengan sungguh-sungguh, berkualitas, sehingga dikenal. Kalau kita sudah dikenal, nanti semuanya datang ke kita, jadi mudah,” tutur alumnus Undip yang pernah membikin Partai Parade Nusantara ini. “Kalau kamu sudah yakin dengan sesuatu, jalan hidupmu, jangan berhenti. Karena jika berhenti, bisa jadi keberhasilanmu hanya tinggal selangkah lagi,” imbuhnya.

Kemudian ia bercerita tentang tembakau dan industri rokok, di depan pemuda yang hampir semuanya perokok. “Ketika Indonesia merdeka itu, 70% rokok disini adalah rokok putih dari luar negeri, seperti Marlboro. Hari ini rokok putih hanya 8% disini,” ungkapnya. Ia juga mempertegas definisi apa itu rokok kretek. “Rokok kretek itu yang ada cengkihnya. Rokok putihan dari luar negeri itu kan tidak ada. Lagi, kalau benar-benar ingin bicara soal buruh, mestinya merokoknya yang kretek dan tidak ada filternya karena itu buatan tangan dari para buruh yang semuanya wanita. Kalau rokok filter, produksinya, satu mesin sama dengan hasil lima ribu buatan orang,” katanya menyajikan fakta sekaligus alasan mengapa ia memilih merokok kretek.

255 juta x 3000 x 12=98 t. rokok, 195 trilliyun.

Kemudian satu lagu dari Iwan Fals dibawakan oleh Dimas Adika Kimala Putra. Petikan-petikan gitarnya mencairkan suasana di malam itu. Para jamaah pun santai merokok sambil menikmati kopi dan snack yang ada di depannya.

Ketika lagu selesai dinyanyikan, pertanyaan datang dari Adhi, yang mengeluhkan tak ada potensi di desanya untuk digarap. Menaggapi hal ini, Mas Koco menyatakan bahwa berpikir tidak ada potensi di desanya itulah kesalahan pertama.  “Kamu harus mengenali desamu dulu. Kalau belum kenal, akan sulit melihat potensinya.” Ia juga mencontohkan beberapa desa yang sebelumnya tidak ada apa-apanya,  maju karena pemikiran progressif kepada desanya.

Mas Koco kemudian menyilakan rekannya, Agus Munajat untuk berbicara. Ia mengawali perkenalannya dengan para peserta. “Kini saya menjadi kepala desa di  Talunombo, Sapuran, Wonosobo. Saya dulu belajar organisasi di IPNU dan Karang Taruna,” ungkap orang yang masi muda untuk ukuran kepala desa itu memperkenalkan diri. Sejurus kemudian, ia menceritakan tentang perubahan yang telah ia lakukan untuk desanya. “Suatu ketika, saya melihat ada ibu yang bisa membatik. Saya berpikir itu adalah potensi. Sayakemudian menggerakkan ibu-ibu PKK untuk belajar batik di Purworejo. Alhamdulillah kini desa kami menjadi sentra batik Wonosobo. Ini potensi yang bagus mengingat batik telah diakui sebagi warisan dunia,” katanya. Selain itu, di desanya ia juga mengembangkan pembibitan ikan, membuat grup music untuk pemuda-pemudi dan membuat film documenter. Sekarang, kata Agus, akses jalan yang dulu rusak dengan sendirinya dibangun oleh pemerintah daerah. “Kita juga kerjasama dengan ISI untuk KKN di desa saya. Saya waktu itu ingin agar pemuda dan pemudi memiliki kesenian. Alhamdulillah, kesenian pemuda-pemudi di desa Talunombo sudah sering diundang kemana-mana. Ini juga merupakan pemberdayaan,” imbuhnya.

Mas Sapto, dari Komangjo Faoundation juga mengeluhkan pemdanya yang kurang refsonsif terhadap adanya bandara di Kulon Progo. “Kita seakan belum nyiapin apa-apa. Padahal Jogja sudah banyak memindah segala sesuatunya untuk menghadapi adanya Bandara. Mereka juga membangun jalan trans dari Jogja melewati Kaligesing menuju Magelang yang melewati bukit menorah,” ungkapnya. Selain itu, Mas Sapto juga menanyakan bagaimana cara membuat Badan Usaha Mandiri Desa (BUM-Des).

Menanggapi hal itu, Mas Koco fokus pada BUMDes. Ia menyatakan, BUMDes prinsipnya bahwa setengah lebih asset harus dimiliki oleh masyarakat desa. “Minimal 55% asset atau modal milik desa, selebihnya boleh bekerjasama dengan pihak luar. Namun lagi-lagi ini timbul kerancauan, seperti yang terjadi di Jakarta. BUMDes memang atasnama masyarakat desa, tetapi mereka sudah dibeli oleh para pengusaha Cina. Inilah kalau panglima Negara kita adalah hokum, semua jadi kacau, bisa diubek-ubek semau pemodal. Harusnya panglimanya adalah etika dan moral,” tegasnya. “Belum lagi yang pasal 32 UUD 1945, dengan adanya klausul “demokrasi ekonomi”, itu membuat hak pengelolaan dan pemanfaatan SDA bisa diambil pihak luar. Ini memang disetting sedemikian rupa, dengan memanfaatkan anggota DPRRI dan pejabat yang miskin nasionalisme. Mereka dibayar besar untuk memuluskan agenda-agenda asing. Harusnya panglima tertinggi Negara ini bukan hokum, tetapi etika,” jelasnya.

Kemudian forum rehat sejenak untuk mendengarkan musik. Dika membawakan beberapa lagu tentang cinta dan perjuagan. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB dinihari, setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan berbagai hal yang tak mungkin semuanya bisa ditulis disini.

Di akhir sesi, Lukman masuk memberi statement. Ia mengatakan bahwa banyak sampah sejarah yang dikonsumsi oleh pemuda hari ini. Hal itu karena produk sejarah yang selalu si pemenanglah yang menulis. “Kemarin saya ketemu seorang dalang dari Kutoarjo. Ia menyatakan, bahwa sebenarnya Diponegoro itu makamnya tidak di Makassar, melainkan Temanggung. Tentu ini perlu diteliti kembali. Namun, menurut saya, kok itu malah cerita yang logis. Dikala pasukan Diponegoro yang masih memiliki semangat perlawanan di daerah Kedu, khususnya Bagelen, Belanda bikin ontran-ontran seperti itu. Kalau orang tahu Diponegoro dibunuh di daerah sini, tentu itu hanya menyulut api perlawanan. Al-kisah, untuk menaklukkan Diponegoro itu tidak mudah. Yang tahu caranya adalah salah satu teman ngajinya dulu. Ia tahu, kelemahan Diponegoro – atau ia hanya mau tunduk – pada Ibunya. Kemudian Ibunya disandera. Jadi tidak benar kalau Diponegoro itu menyerah. Kemudian di Temanggung-lah Diponegoro di eksekusi, lalu untuk mengecoh, Belanda membuat odho-odho bahwa beliau di buang ke Makassar. Secara ilmiah, ini memang sulit untuk dibuktikan, khususnya secara arkeologis. Namun kebanyakan ahli supranatural menyatakan, yang di Makassar itu bukan Diponegoro. Inilah tugas kita untuk meneliti lebih jauh, “ungkapnya.

Kemudian Cemplon masuk dan bertanya. “Berarti sejarah yang selama ini saya baca adalah bohong?” katanya. Merespon hal itu, Naufa mengatakan untuk tidak memutlakan kebenaran sesuatu. “Cak Nun pernah mengatakan, hanya Allah dan Rasulullah yang benar-benar benar, semua berkemungkinan salah. Jadi, kalau baca buku atau apapun, perlu adanya filter dan jangan ditelan tanpa dikunyah. Apalagi banyak buku-buku sejarah itu karangan orang luar. Memang, ada beberapa orang luar yang pro terhadap pribumi waktu itu. Tapi kebanyakan kan mereka punya misi, sama dengan misi para penjajah itu. Mereka banyak menggubah buku sejarah palsu, seperti Kitab Pararaton, yang sampai hari ini masih dijadikan referensi para akademisi dan sejawaran. Makanya, saya lebih percaya kepada Agus Sunyoto bahwa Kebangkitan Nasional itu bukan mulai 1908 yang kebanyakan berisi kaum borjuis hasil didikan barat, tetapi mulai dari Perang Jawa (1825-1830). Berdasarkan penelitian Ketua Lesbumi PBNU itu, Perang Jawa tidak hanya diikuti oleh orang Jawa, tetapi ada Cina, Arab, bugis, dan berbagai etnis dan suku di Nusantara. Jadi, sebagai pemuda, kita perlu kritis terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya,” ungkap Naufa panjang lebar.

Naufa, mengutip kata KH Wahid Hasyim, mempelajari sejarah memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah membuat sejarah. “Dalam buku Membaca Sejarah Nusantara karya Gus Dur itu menarik sekali. Disitu beliau mempelajari sejarah tidak hanya angka-angka, tetapi juga ditarik ke peristiwa hari ini. Pemaknaan seperti itulah yang perlu kita belajar, karena sejarah akan terulang,” imbuhnya.

Kepada Mas Koco, keluarga Maiyah Purworejo mengucapkan terima kasih dan berharap di lain kesempatan dapat bersua kembali. Mas Koco pun tak keberatan bila ada kesempatan. Ia tertarik dengan lontaran Lukman, bahwa Makam Diponegoro ada di Temanggung. “Itu perlu diteliti lebih dalam lagi. Ini menarik bagi saya yang punya sejarah dan kesan tersendiri tentang Temanggung,” ungkapnya.

Kemudian forum ditutup dengan pembacaan chasbunnallah wanni’mal wakil dan duh gusti secara bersama-sama.Para jamaah maiyah bubar ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB dinihari. Puluhan pemuda itupun bergegas sesuai kehendaknya masing-masing: ada yang pulang, ada pula yang mencari bantal dan papan untuk tidur.

Purworejo, 24 Oktober 2016