Baru-baru ini, seorang aktivis NU meminta saya – yang ada di penghujung kepengurusan PW IPNU Jateng ini – untuk mengisi materi sebuah acara pengkaderan. Bagi saya, ini soal wajar dan biasa, mengingat saya memang diamanati menjadi wakil ketua pengkaderan di organisasi yang berafiliasi pada NU tersebut. Yang menjadi luarbiasa adalah materinya: Pengantar Wacana Global. Sebuah materi yang secara akademik dan diskursus berat, karena diluar bidang dan kemampuan saya.

Saya waktu itu menolak dan mengatakan, “Mbok cari yang lain, yang lebih mumpuni dari pada saya.” Namun dia membalas, “Pokoknya maunya njenengan, Mas.” Saya tak bisa berkilah, menyanggupi saja. Idep-idep ini adalah tugas terakhir saya sebelum pensiun secara formal-organisatoris dari kepengurusan IPNU di Konferwil Desember mendatang.

Saya memang suka mempelajari apa saja, termasuk materi yang akan saya sampaikan ini. Namun suka mempelajari bukan berarti ahli, memiliki kapasitas dan kapabilitas, apalagi otoritatif. Penikmat kopi belum tentu bisa membikin kopi yang nikmat. Namun, paling tidak, pikir saya, minimal penikmat kopi sedikit tahu bagaimana membikin kopi, meski belum tentu rasanya nikmat.

Semenjak SMA, sebenarnya saya memang tertarik dengan isu-isu global, selain juga tertarik berorganisasi di OSIS, Pramuka dan IPNU. Dengan memanfaatkan perpustakaan milik senior ketika itu, saya mulai membaca diskursus filsafat antara Imam Ghazali dan Emmanuel Kant. Namun SMA toh tetap saja SMA, apalagi bagi orang seperti saya, membaca buku semacam itu belum kelasnya. Akhirnya tak satupun yang nyangkut dari buku itu.

Meski begitu, berpegang pada Kamus Ilmiah Populer, saya mulai mendapati kesulitan membaca istilah-istilah ilmiah ala Barat yang banyak bertebaran di buku-buku. Minimal saya jadi tahu beberapa istilahnya. Dan dengan kamus itu pula, saya bisa sombong untuk berkata-kata dengan istilah-istilah ilmiah kepada teman-teman, biar dianggap pintar. Hal ini saya bawa sampai pada masa-masa awal kuliah, sebelum akhirnya berhenti karena buku-buku tasauf.

Di awal kuliah, saya suka dengan pemikiran-pemikiran Islam Kontemporer yang dikenalkan Ahmad Baso dalam NU Studies, Harun Nasution dalam Islam  Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jalaludin Rahmat dengan Islam Aktual-nya dan beberapa pemikiran Gus Dur sampai Adian Husaini dengan Wajah Peradaban Barat-nya. Selain itu, saya juga tertarik dengan wacana Modernisme Islam yang digaungkan oleh pemikir-pemikir Timur Tengah seperti Muhammad Iqbal, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afgani sampai Muhammad Abduh.

Pasca bulan madu dengan pemikir-pemikir itu, saya dimainta Om saya untuk masuk PMII. Kebetulan waktu itu PMII hendak mengadakan PKD (karena Cabang Purworejo baru atau diperbarui waktu itu, belum ada Mapaba, langsung PKD). Disitulah, saya mulai mengenal sedikit apa itu – minimal yang saya sebut sebagai – Wacana Global, ketika mengikuti materi yang disampaikan Kiai Muwaffiq dari Jogjakarta. Meski beliau membawakan materi Aswaja, namun saya kira penjelasannya melampaui semuannya, sehingga wacana globalpun masuk disitu. Dari jam delapan malam sampai dua pagi, beliau membahas bagaimana Allah menciptakan bumi dan manusia, perjalanannya, masa nabi-nabi, sampai kondisi politik, ekonomi dan budaya saat ini. Meski tidak nyantel semuanya waktu itu, minimal saya punya gambaran dan atau bayangan tentang silsilah ideologi, sejarah dan pertarungan global yang terjadi.

Ditengan kebuntuan itu, saya mewakili BEM untuk mengikuti seminar di Jogjakarta di pertengahan 2008, dan diisi oleh pemateri yang sama: Kiai Muwaffiq. Disitu kembali mengingatkan kelupaan saya.

Berangkat dari situ – karena keterbatasan buku referensi – saya tak mengembangkannya. Ditambah lagi karena beberapa hal – yang tak perlu saya sebut disini – saya keluar dari kuliah. Hal-hal itu kemudian menghampat proses pengembaraan intelektual saya yang baru seumur jagung.

Meski begitu, semampu saya tetap belajar, baik memalui buku yang saya bisa beli maupun pinjam teman-teman. Namun itu sungguh sangat sedikit dan lambat. Dan itu tak meredamkan cita-cita saya untuk memiliki koleksi buku banyak, semacam perpustakaan pribadi yang besar.

Dan babak baru hadir dalam kehidupan saya yaitu ketika hadir pertama kali di majelis Maiyah Cak Nun. Entah mengapa, semenjak mengenal beliau, saya tidak ingin terlalu ribet kepalanya oleh urusan dan wacana tetek bengek.

Ditengah keterbatasan dan keterlambatan saya, selangkah demi selangkah, saya tetap belajar dan mempelajari apa yang saya suka, termasuk beberapa wacana global. Jikapun beberapa waktu lagi saya mengisi materi itu, semoga, paling tidak, saya bisa menjadi pemantik, pemercik dan provokator dalam memediasi intelektual, agar mereka bisa lebih baik pemahamannya dari saya. Kalau soal memprofokasi, sedikit banyak saya punya pengalaman untuk dibagikan.

Purworejo, 26 Oktober 2016