Sore itu matahari hampir tenggelam. Orang-orang mulai pulang menanggalkan pekerjaannya. Mereka menuju rumah, membersamai keluarganya masing-masing, berbagi kehangatan dengan orang-orang yang dicintai.

 

Di tempat lain dan diberbagai media, orang-orang juga tengah sibuk mendiskusikan tentang Habib Rizieq dan Ahok. Kedua orang itu sedang menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Tak bisa kubayangkan jika Tuhan memberi 10 orang yang seperti mereka. Pastinya dunia bertambah asik. Tapi kali ini, sejenak riuh itu kutinggalkan.

 

Aku baru saja membersamai rekan dan rekanita dalam acara pengkaderan: Pelatihan Kader Muda (Lakmud) IPNU-IPPNU Purworejo. Kemudian, dengan diantar Adikku, aku menuju Terminal Purworejo. Tujuanku adalah untuk menghadiri acara Pelatihan Fasilitator (Latfas) di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.

 

Sampai di beranda terminal, aku menunggu bus di depan sebuah warung. Dua ibu-ibu sedang asik ngobrol tentang kehidupan. Yang satu, sepertinya, sang pemilik warung, sedangkan satunya lagi adalah penjual asongan. Yang terakhir sempat menawariku, “Salaknya, Mas, lima ribuan, untuk oleh-oleh,” tawarnya. “Tidak, Bu, terima kasih,” jawabku, sambil melihat ibu berbadan subur itu menunjuk kardus berisi bungkusan salak dan jeruk yang ada didekatku.

 

Lama aku menunggu bus jurusan Cilacap, namun tak jua datang. Kuputuskan untuk ngopi sambil merokok dulu biar tak jenuh.

“Kopi hitam sama Gudang Garam Filter, Bu,” pesanku pada wanita berbaju merah itu. Ia meladeni.

“Maaf, Bu, bus menuju Cilacap, jam berapa, ya?” Tanyaku.

“Wah, baru tadi jam empat, Mas. Ada lagi nanti jam setengah delapan,” jawabnya.

“Oh, ya, makasih, Bu,” kataku. Gila, lama amat, batinku dalam hati.

“Sekarang bus yang lewat sini kok sepi ya Bu,” kataku, sambil mengecek panas gelas kopi.

“Iya, Mas, sepi banget. Semenjak Jalan Deandels bagus, bus-bus dari Jogja banyak yang lewat sana,” jawab salah satu dari mereka. Kemudian, bergantian mereka bercerita tentang menurunnya omzet dagangan. Aku mendengar sambil menikmati kepulan asap Gudang Garam Filter yang mengepul.

 


 

Kemudian, dari arah barat, datang berjalan kaki, seorang kakek lusuh. Ia memakai baju batik, celana krem dan sepatu hitam. Tangan kanannya membopong anak kecil, sekitar tiga setengah tahun. Punggungnya menggendong tas gunung besar berwarna kuning muda berpleret hitam. Di tangan kirinya, menuntun wanita kecil, sekitar empat setengah tahun, dengan dua kuciran rambut dan baju lekton panjang kebawah.

 

Ia menuju kami bertiga, kemudian meletakkan tas, melepas pegangan atas kedua anak kecil yang dikuasainya. Anak-anak itu bermain laiknya anak-anak seusianya. Dalam hati, aku bertanya, kemana bapak dan ibunya?.

 

Ibu pedagang asongan membuka, “Momong cucu, Kek,” tanyanya.

“Iya ini, mau ke Tempat Adikku di Cilacap,” jawab sang kakek.

“Bapak dan Ibunya ndak ikut?” Sambung pemilik warung.

 

Lelaki tua itu diam sejenak. Matanya tajam menerawang ke depan. Ia bernafas dalam-dalam, sebelum akhirnya menjawab secara perlahan.

 

“Kedua orang tuanya telah tiada, termasuk istriku, neneknya. Mereka meninggal ketika terjadi longsor di Banjarnegara. Hanya aku yang tersisa. Ayahnya dari Jawa Barat, sedangkan ibunya, anakku satu-satunya. Ketika itu, yang lelaki kecil ini sedang berumur 13 bulan. Sedangkan kakaknya, sedang berumur 2,4 bulan,” tutur lelaki tua itu. Ia bernafas sejenak.

 

“Anda mengasuhnya sendiri?” serobot penjual asongan.

“Ya, saya asuh sendiri.”

“Kalau pas kerja, gimana?”

“Saya kunci mereka di rumah. Saya kerja berdagang dan membetulkan kompor rusak.”

“Keluarga pihak lelaki, menantu anda, apa tidak peduli?”

“Boro-boro peduli. Ketika mereka takziah dulu, pulangnya malah minta sangu, ongkos pulang.”

“Ohhh….dasar nggak tau diri,” ketus pemilik warung.

“Tapi Alhamdulillah, Pak Lurah, Bu Lurah dan Pak Kiai di desa begitu peduli. Mereka selalu perhatian kepada kedua anak ini. Termasuk masyarakat. Mereka memaklumi kalau saya tidak berangkat kenduri. Pak Lurah juga pernah membantu dengan mengirim PRT, tetapi saya lepaskan karena masih kecil, baru lulus SMP. Jadi saya asuh sendiri,” jawab sang kakek.

 

Aku penasaran untuk ikut terlibat dalam obrolan. “Dari pemerintah, bagaimana, Pak? Apa ada bantuan?” tanyaku.

“Ada, Mas. Dulu Pak Jokowi turun langsung dan memberi intensif. Sebulan diberi jatah beras 25 kg. Selain itu, semua anak-anak yang ditinggal orang tuanya juga diberi tabungan 45 juta. Mereka juga diberi beasiswa pendidikan, bisa melanjutkan sekolah dimanapun dan setinggi apapun. Tapi uang itu tak pernah saya ambil. Ketika keuangan saya menipis, hendak mengambilnya, selalu terbayang orang tua mereka. Biarlah itu untuk masa depannya,” tuturnya.

 

“Gusti Allah pancen adil. Kakek bisa mengasuh sampai sejauh ini,” ketus penjual asongan.

“Coba kalau orang lain, uangnya tentu sudah habis dipakai,” imbuh pemilik warung.

“Apa anak-anak ini nggak pernah tanya Ibunya dimana?” Tanya pedagang asongan.

“Tidak. Paling kalau lihat anak sedang menyusui, tatapannya selalu nyinyir. Namun kemudian mereka terbiasa. Ada Ibu Lurah dan ibu-ibu desa juga. Maka kalau mereka ditanya dimana ibu? Mereka jawab: ibu yang mana? Karena semua wanita dewasa di desa dipanggilnya ibu,” terangnya.

 

Kedua anak itu masih kesana-kemari bermain. Sesekali sang kakek menegur, agar menjauh dari jalan, karena banyak kendaraan. Mereka taat kepada kakek yang disebutnya dengan kata “Bapak” tersebut. Sang kakek meneruskan cerita.

 

“Suatu ketika, uang saya tinggal 15.000. Saya pusing bukan main. Padahal mereka kalau ada penjual keliling selalu minta jajan. Bagaimana besok, saya pusing. Kemudian, saya bilang pada yang kecil: Nak, tolong Bapak doain, ya, agar besok dapat rejeki banyak. Ia menurut: iya, Pak, saya doain. Tanpa saya nyana, esok harinya, banyak yang nyervis dan kompor saya banyak yang laku. Hari itu rejeki melimpah,” terang sang kakek.

“Subhanallah, Allah itu memang Maha Adil,” kata pedagang asongan, spontan.

“Anak yatim piatu memang makbul doanya,” imbuh pemilik warung, sambil manggut-manggut.

 

Kedua ibu-ibu itu kemudian memanggil sang anak. Kami menggodanya. Pedagang warung memberi aneka minuman dan jajan. Pedagang asongan memberikan salaknya dan jeruknya. Kedua anak itu sumringah. Mereka membuka dan memakannya secara manja.

 

“Itu yang cewek kelak cantik. Sudah terlihat pancarannya,” kata pemilik warung, sambil membukakan minuman kemasan untuknya.

“Yang cowok juga ganteng, mungkin seperti bapaknya,” sahut penjual asongan.

 

Mereka makan dan minum dengan manja. Sesekali mereka kugoda. Kemudian mengelak dengan manja, seakan-akan – meminjam istilah Sujiwo Tejo – lari untuk dikerjar, ia mendarat di pelukan ayah angkatnya. Begitu seterusnya.

 


 

Ditengah tenggelam dalam suka melihat lucunya, dan empati akan nasibnya, sang pemilik warung nyemplong: “Ibu ini juga nasibnya sama: banyak mengasuh anak. Sembilan.”

“Sembilan???” Kataku terheran.

Ibu pedagang asongan itu tersipu. Dan tak kuasa menyembunyikan sesuatu.

“Saya menikah dengan seorang duda. Ia sudah beranak lima. Dan dari hasil pernikahan, saya mendapat anak empat. Sejak anak saya yang terakhir, suami saya pergi entah kemana,” terangnya.

“Anak bawaan suami ibu juga ditinggal?”tanyaku.

“Iya, semenjak mereka SMP dan SMA. Kini mereka sudah pada kerja dan nikah,” jawabnya.

“Ibu tak mencari suami ibu?” Tanyaku.

“Untuk apa, Mas. Kalau sibuk ngurusin itu, nanti anak-anak nggak bisa makan. Saya lebih baik kerja dan kerja,” katanya.

 

Ibu pemilik warung nyambung, “Tapi yang anak bawaan ayahnya pengertian, Mas. Mereka sadar kalau ibu tirinya ini yang ngasuh. Jadi, meski sudah pada nikah dan kerja diluar kota, tiap tahun mereka sowan,” jelasnya.

“Mereka juga kadang mengirim uang untuk kita,” imbuh ibu pedagang asongan.

“Sekarang yang masih sekolah berapa, Bu?” Tanyaku.

“Tinggal dua. Yang lain sudah kerja. Tapi Alhamdulillah lho, Mas, sepanjang pengalaman saya, Allah itu Maha Adil. Ndilalah ada saja kemudahan. Anak-anak saya diterima di SMA favorit dan mendapat beasiswa, sehingga tak perlu bayar SPP dan uang gedung. Uang saku dari saya juga mereka tabung. Saya ngasih uang saku keduanya masing-masing 15.000. Jadi sekarang ini pengeluaran saya setiap hari untuk sekolah mereka 30.000. Jajan dan untuk ngangkotnya masing-masing dari mereka cuma 10.000, sisanya 5.000 ditabung,” tuturnya.

 


 

Kemudian tak terasa, pekat malam telah menggulung senja. Aku berniat menjamak ta’khir shalat maghrib dengan isya. Lalu-lalang kendaraan silih berganti, memuntahkan polusi. Bus yang kami – aku dan kakek – tunggu telah datang. Kami berpamitan pada kedua wanita itu, lalu masuk bus. Penumpang agak penuh. Kakek beserta cucunya itu duduk ditengah. Banyak penumpang yang perhatiannya tertuju pada kakek dengan dua cucu itu, menatap aneh seakan memendam pertanyaan.

 

Sementara aku kebagian duduk dibelakang. Di awal-awal, kedua anak itu menunjuk-nunjukku, orang yang baru dikenalnya, dengan sebutan: “itu orangnya, itu orangnya, itu orangnya,” kata mereka sambil bercanda. Akupun meladeninya dengan menjulur-julurkan lidah, dengan menyadari perhatian mata beberapa penumpang. Tak lama kemudian, mereka tertidur. Akupun tertidur, sampai gemuruh hujan di Karanganyar, Kebumen, membangunkanku.

 

Menjelang Buntu, perempatan yang membelah kota Cilacap dengan Purwokerto, aku terbangun. Aku kedepan, menemani sang kakek. Kulihat, penumpang hanya tersisa beberapa. Sang anak lelaki kecil tidur dengan balutan jarit batik warna cokelat di samping sang kakek. Si kakak tidur disebelahnya hanya dengan baju lekton panjang kebawah. Jaketku hendak kupinjamkan untuk selimut, namun sayang basah karena hujan yang menetes dari atap bus ketika aku tidur. Kami ngobrol seperlunya.

 

Ketika kernet berteriak, “Buntu, Buntu, Buntu,” kami bergerak. Sang kakek membopong si kecil. Aku menuntun yang besar. Sementara tas diturunkan oleh sang kernet bus. Kami turun di utara masjid Buntu.

 

Kemudian ojek-ojek datang menghampiri. Bapak itu ditawari, namun entah mengapa mengelak. Ia malah santai sejenak, mengeluarkan bungkusan rokoknya. Para ojek masih mengerubungi sambil bertanya-tanya. Si kecil di gendong, yang besar berdiri sambil menghilangkan sisa-sisa kantuknya. Mereka berdua, sejak kecil telah terlatih “melawan” keadaan, seperti dingin tanpa jaket diwaktu malam.

 

Tak lama berselang, temanku menjemput dengan sepeda motor. Di suatu tempat aku sudah di tunggu puluhan kader IPNU-IPPNU. Kami harus berpisah. Itulah saat yang berat bagiku, khususnya kepada kedua anak kecil itu.

 

“Maaf, Kek, saya duluan,” kataku sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman. Ia membalas uluran tanganku sambil berkata, “Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama, Kek,” kataku.

“Ayo, salim dulu sama Om,” katanya menyuruh si kecil. Aku bersalaman, sambil mengelus-elus pipi anak itu.

 

Kemudian starter motor dinyalakan. Aku naik. Gas dinaikkan. Perlahan motor berjalan. Tatapanku kepada gadis kecil itu tak kunjung lepas. Ia juga menatapku. Kemudian jarak dan malam benar-benar memisahkan.

 

Aku berharap, suatu saat aku dapat kembali menjumpai ketiganya, di Banjarnegara atau dimana saja. Entah mengapa, bagiku, mereka begitu gagah berani menghadapi dunia. Dunia manusia yang sementara.

 

Ketika banyak orang di tempat, ruang dan waktu yang lain sedang sibuk atas statemet Ahok, Gubernur DKI Jakarta itu, kakek dengan kedua cucunya tetap berjuang untuk hidupnya, martabatnya dan masa depannya. Dan Allah tetaplah “bertanggungjawab” atas apa yang telah diciptakan-Nya. Kasih sayang, rizki dan keadilannya berlaku kepada seluruh makhluk-Nya. Semoga ketiganya istiqamah dan mendapat tempat terbaik dihadapan-Nya, hari ini, kelak dan di hari kemudian. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Kamar 508, Hotel Semesta, Semarang, 2 November 2016.