Menghapus Kebencian

Dulu saya pernah memiliki kebencian atau rasa benci kepada seseorang, yaitu ketika saya awal memasuki pesantren. Ia, seorang senior di kamar, selalu melihatku sinis, judes dan bengis.

Suatu ketika, di kegiatan kamar di malam jumat adalah muhadlarah, yaitu latihan pidato. Karena belum pernah ngomong di depan umum sebelumnya, semenjak dhuhur saya deg-degan menghadapi malam itu. Dan sejak sore atau asar, saya sudah menghabiskan banyak kertas untuk membuat teks pidato yang berulangkali salah. Akhirnya jadi, sekitar dua lembar.

Malam pun datang. Teman sekamar, yang jumlahnya hanya puluhan itu sudah berkumpul meghadap sudut ruangan. Di sudut ruangan, berdiri podium buatan dari dampar atau meja yang dibalut sajadah. Itulah mimbar latihan berorasi atau berpidato di depan publik.

Singkat cerita, ketika giliran saya dibacakan oleh MC, saya maju ke mimbar. Salam saya lemparkan. Pembukaan saya ucapkan. Ketika baru mulai berbicara tema, senior saya itu langsung memprovokasi: “Huuuuuu……!” Katanya sambil mengacung-ngacungkan tangan ke hidung saya. Diikuti teman dan senior lainnya. Mereka meledek, tertawa dan seakan tidak menggubris saya. Inilah yang dalam term teman-teman santri dulu disebut “gojlogan”. Setiap santri, terutama di pondok salaf, hampir semua pernah digojlok.

Praktis, pikiran saya kacau-balau. Teks yang ada di depan jadi buyar. Pikiran saya melayang entah kemana. Hati saya panas terbakar, sampai akhirnya saya tak bisa melanjutkan kata-kata. Akhirnya saya putuskan menyudahi dengan salam: wassalamu’alaikum wr. wb. Saya turun.

Kebencian saya kepada salah satu senior itu semakin dalam. Hati saya semakin benci ketika melihatnya. Muak. Sampai-sampai, saya yang ketika itu baru lulus SD, berdoa di suatu malam: “Ya Allah, mohon orang itu supaya cepat-cepat angkat kaki dari pondok.” Aku tak kuat melihat mukanya.

Namun detik waktu terus berlalu. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Karena “hinaan” itu, ternyata saya lebih kuat berbicara di depan umum dengan tanpa ada suatu “hinaan” atau halusnya gojlogan. Keberanian dan mentalku semakin terasah, untuk berani menghadapi makian. Saya mulai berani ngemsi (menjadi MC), berorasi dan tampil di depan publik.

Semenjak itu, kebencian saya sirna dan berubah jadi cinta. Ternyata, kehadiran “musuh” senior saya itu menjadi motivasi dan “jalan” bagi saya untuk naik ke tangga berikutnya. Gojlogan dan cercaannya itu bagai vitamin yang terus menguatkan dan mengoreksi saya. Tak ayal jika kini, sepatutnya, malah saya berterima kasih kepadanya.

Dan dunia terus bergerak. Ada cercaan, hinaan dan tantangan lain di hidup saya. Itulah hidup. Selalu ada pertentangan, yang dalam bahasa Hegel disebut dialektika. Dengan dialektika itulah, kita bisa menikmati beras setelah ia berdialektika, ditumbuk selipan dan bergesekan dengan sesamanya. Dengan dialektika pula, sebuah gandum dipangkas, diurai, digiling, ditumbuk halus, dibakar dalam api kesucian, dan lahirlah roti.

Dialektika, pergesekan, pertentangan, selalu melahirkan “varietas”, “pemahaman”, “golongan”, atau hal lain yang baru atau hal lama yang diperbaharui. Hal yang baru itu pun kemudian akan dihadapkan kepada realitas baru, kembali berdialektika, dan seterusnya.

Dalam hal ini, kita mesti bijak – atau minimal berusaha untuk bijak – dalam menyikapinya. Kebencian dan atau dendam harus diredam, dikonversi menjadi energi dan hal positif.

Cak Nun, dalam suatu tadabbur di Lustrum SMAN 7 Purworejo (2016) pernah berkata: “Saya selalu ingat siapa saja orang yang membenci, menghina bahkan memfitnah saya. Namanya saya catat semua. Namun saya tidak membalasnya, justru saya jadikan energi untuk lebih baik lagi.” Begitu kira-kira inti statemennya.

Ketika terjadi suatu pertentangan, entah dalam agama, politik ataupun nilai dalam kehidupan, kadang orang asik bermain di salah satunya. Yang satu mengumbar kebaikan diri dan mencari kejelekan yang lain. Yang lain pun demikian: mencerca yang lain tanpa otokritik. Kesalahan menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan, bukan untuk dibetulkan dan diambil sebagai pelajaran.

Mencari Keseimbangan

Ditengah derasnya arus informasi yang tak bisa dibendung, ada baiknya mencari jalan keseimbangan. Yang pertama mesti dilakukan adalah tidak memutlakkan kebenaran, kecuali kepada Allah dan Rasulullah, atau lengkapnya rukun iman yang lima itu.

Kedua, belajar berpikir jernih untuk mengambil kebaikan dan “kebenaran” darimanapun datangnya dengan logika. Kebenaran, yang banyak orang mengatakan relatif itu, bisa datang dari mana saja, tak peduli dari siapa. Terlebih pengalaman, semua yang kita lihat dan rasakan bisa dijadikan pelajaran. Intinya, apapun, bahkan beragama, takkan bisa tanpa logika dan akal sehat. Kata kuncinya adalah “belajar terus-menerus,” dan tak berpuas diri.

Ketiga, mencoba atau belajar adil. Disini kita mesti melihat dari dua atau banyak sisi dan berbagai sudut pandang. Cara melihat, jarak melihat dan sudut melihat menentukan pandangan dan bahkan keyakinan. Keyakinan pun masih terbagi levelnya: udzunul yaqin (keyakinan dari informasi dan pendengaran), ‘ainul yaqin (keyakinam dari penglihatan atau fakta empirik) dan haqqul yaqin (keyakinan yang benar-benar benar). Disini, bersikap adil penting dalam mengurai informasi atau bahan, apakah benar-benar valid atau hanya terkaan bahkan abal-abal.

Keempat, melambari sesuatu dengan cinta dan ilmu. Kita belajar dari para nabi, ulama dan kiai yang melihat manusia dengan ainirrahmah, mata kasih sayang. Jika itu tercapai, apapun yang kita keluarkan adalah niat baik, tanpa kebencian. Juga, dengan ilmu, kita bisa mengambil sisi positif sebagai pelajaran.

Kelima, pemakluman. Pemakluman menjadi penting bagi orang dewasa, terlebih orang berilmu. Dalam bahasa teman saya, Lukman Hakim, orang pandai harus tahu dan mau mengerti bahasa orang bodoh, bukan sebaliknya. Meski, bodoh disini adalah kata pengganti orang yang berhenti belajar. Tidak lebih.

Keenam, memahami kekerdilan dan kesalahan diri. Dalam hal ini, saya pernah membuat status di fesbuk: jika ada orang memuji saya, itu karena Tuhan menutupi aib-aib saya. Dan jika ada orang mencaci saya, mungkin Tuhan sedang memberi cermin kepada saya. Dengan begitu, kita selalu ada landasan untuk mengoreksi dan memoderasi diri.

Ketujuh, adalah memahami posisi, keadaan dan bahkan jati diri kita. Kita hidup di suatu desa, dalam kabupaten, dalam provinsi, dalam negara, dalam bumi. Kita penghuni planet bumi, diantara jutaan bintang dan galaksi semesta raya. Pertanyaan-pertanyaan filosofis-teologis patut kita ajukan. Siapa diri kita? Untuk apa kita di bumi ini? Apa yang akan kita tinggalkan? Dan lain sebagainya.

Jika kebencian adalah hal kecil yang membara dan terselip dalam hati kita, untuk menghilangkannya tentu dengan kebesaran dan keluasan hati dalam melihat dan membaca semesta. Jika tidak, meski kecil, kebencian bisa menjadikan malapetaka, seperti yang kita lihat dalam panggung sejarah dunia.

Akhirnya, yang bisa dan mungkin untuk kita lakukan adalah belajar dan terus belajar. Tuhan tidak melihat karya dan prestasi kita, tetapi niat dan usaha kita untuk terus-menerus menujunya. Belajar pun bisa dari apapun dan manapun: baik ayat qauliyah (Alquran dan Hadis) melalui ulama atau kiai maupun ayat kauniyah (fenomena semesta) dengan “meng-akali” atau mentadabburi segala yang ada. Wallahu A’lam.

Pemalang, 06 November 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: