Tulisan ini saya dasari dari statemen dan nasehat guru bangsa, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun dalam suatu forum maiyah. “Jangan ada suatu peristiwa yang kamu tidak mengambil pelajaran darinya,” katanya.
Kasus Ahok yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, dengan segala pro dan kontranya, positif dan negatifnya, tentu adalah fenomena yang juga harus bisa kita ambil pelajarannya. Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita ambil pelajarannya.
Pertama, adalah sensitifnya penggunaan ayat Al-Quran untuk berkampanye atau berpolitik. Sebenarnya, hal ini juga terjadi di dalam sejarah Islam, khususnya ketika terjadi pertempuran antara Khalifah Ali k.w. dengan Muawiyah, yang menyebabkan perisriwa tahkim dan berujung terbunuhnya Sayyidina Ali.
Di dalam masa Orde Baru sendiri kita tahu bersama. Ayat Al-Quran: …..walaa taqraba hadzihis sajarata fatakuunaa minal khaasirin (terjemahan Bebas: …jangan dekati pohon ini agar kalian berdua tidak menjadi orang yang merugi), disitir untuk menyerang Golkar (berlambang pohon beringin). Dan masih banyak lagi.
Hal ini, bukan berarti dalam berpolitik kita tidak boleh menggunakan Al-Quran, justru prinsip, nilai dan ajaran kitab suci itu yang harus dipegang, seperti keadilan, kejujuran, amanah dan membela rakyat kecil dengan membuat kebijakan yang maslahat. Hanya saja, perlu kehatihatian dalam mempelajarinya (tidak asal comot terjemahan) dan dalam penggunaan, mengingat hal itu sangatlah sensitif. Apalagi untuk saling berdebat, menyerang dan bertahan.
Kedua, berhati-hati dalam berkata-kata (termasuk menulis). Dalam hal ini, Nabi Muhammad telah mengingatkan: salamatul insaan fi hifdzillisan, selamatnya manusia itu tergantung bagaimana ia menjaga lisannya. Orang bijak mengatakan, berkata baik atau diamlah.
Dalam sebuah kitab syair Alala karya Muhammad bin Ahmad Nabhan dari PP Lirboyo, Kediri, dijelaskan: dene mlesete lisan, nekakke mbalang endas. Dene mlesete sikil, sue-sue biso waras (Terplesetnya mulut itu bisa menyebabkan melempar kepala. Adapun terplesetnya kaki, lama-kelamaan akan bisa sembuh).
Kasus video Ahok yang menyitir Surat Al-Maidah 51 tersebut, merupakan wilayah yang sensitif. Meski ia telah mengaku tidak berniat menghina umat muslim dan bahkan sudah meminta maaf, proses hukum tetap berjalan.
Selain berhati-hati dalam berkata, juga perlu berhati-hati dalam menulis. Perlu diketahui, bahwa riuhnya kasus Ahok sampai adanya gerakan bela islam yang diikuti ribuan orang tersebut berawal dari sebuah akun fesbuk. Buni Yani, memotong video Ahok di Pulau Seribu itu dan mengambil di bagian yang sensitifnya. Lalu ia unggah, kemudian diberi tulisan transkrip sedikit namun provokatif, salah satu yang paling fatal adalah menghilangkan kata “Pakai”, sehingga bagi orang yang masih punya logika waras tentu ini akan merubah artinya.
Ketiga, kembali mengkaji kalam ilahi. Tak bisa dipungkiri, meski statemen Ahok tersebut kemudian menjadi kontroversial, banyak yang spesifik mengkaji ayat tersebut, berikut tafsir dan asbabun-nuzulnya. Ini artinya, ada hikmah yang bisa di ambil, bahwa orang ramai-ramai mengaji kembali kitab sucinya. Semoga, untuk mempelajarinya, kedepan umat Islam tak perlu menunggu ayat yang disitir oleh orang yang kemudian menjadi kontroversial.
Keempat, kita belajar bahwa hari ini media online merupakan pilar kekuatan baru. Pilar kekuatan demokrasi yang mampu menggiring opini dan mempengaruhi. Kebenaran menjadi semakin absurd. Orang sudah banyak yang tidak percaya kepada “lembaga infornasi dan berita” yang kian hari kian terlihat polarisasinya mengikuti kepentingan politik dan kemauan juragannya. Media tak mau lagi netral. Ia terlalu masuk wilayah politik dan kepentingan.

Media Memiliki ideologinya masing-masing.
Hari ini, informasi yang datang baik dari situs abal-abal, maupun akun pribadi seperti youtube, fesbuk ataupun lainnya, jika berita atau konten itu baik menurutnya, akan di share tanpa mengunyah sebelumnya. Tak peduli apa mereknya. Jika tak pandai memanfaatkan media, kita justru menjadi agen fitnah dan profokator, yang tentunya berimplikasi dosa sama dengan pengunggahnya. Dalam legal maxim (kaidah fiqh) islam disebutkan, Lil wasaail hukmul maqaashid, bahwa hukum perantara sama dengan hukum tujuan. Juga sebaliknya, jika kita berbagi atau menyebarkan konten yang positif, kemudian dibaca dan menginspirasi, tentu mendapat pahala.
Kelima, pentingnya klarifikasi atau tabayyun. Di era digital yang deras dengan informasi ini, kita meski melihat informasi secara utuh, tidak langsung menjustifikasi, main tuduh. Baik itu berita atau pernyataan orang di televisi, koran, website maupun media sosial.
Kita mesti melihat dan tahu siapa yang bijak bersikap, siapa yang memprovokasi, dan siapa yang hanya jualan isu dan kehebohan. Kita mesti cerdas menyikapi semua itu dengan prinsip agama dan logika yang sehat. Dengan demikian, kita tidak mudah dibohongi.

Terakhir, statemen Jokowi yang menganggap demo itu ditunggangi aktor politik. Meski jika memang itu benar terjadi, sebaiknya itu tidak dilakukan, karena hanya akan menimbulkan pertanyaan dan kegaduhanjika tak disebutkan. Juga pertemuannya baik sebelum maupun sesudah demo 4/11 yang hanya kepada NU dan Muhammadiyah, hanya memleruncing perbedaan. Idealnya, tidak hanya kedua ormas itu, meski keduanya di kenal memiliki basis masa terbesar.
Demikian beberapa hal yang bisa kita ambil dari peristiwa Ahok yang kian hari kian marak. Semoga, kasus ini akan segera reda dan semua pihak memfokuskan diri pada pekerjaan dan peningkatan kualitas dan pendidikan untuk masa depan bangsa.

Semarang, 9 November 2011