PURWOREJO, suaramerdeka.com – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kabupaten Purworejo melakukan kegiatan mengantisipasi infiltrasi dan propaganda ideologi radikalisme yang berpotensi menyasar para siswanya.

Kegiatan antisipasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Halaqah Dinniyah 2016 Seminar Keagamaan Remaja dengan tema: Radikalisme: Ideologi, Gerakan, dan Media.

Kepala MAN Purworejo Drs Wachid Adib MSI didampingi Ketua Panitia Mukhamad Arwani SAg MA menjelaskan, halaqah tersebut bertujuan untuk membentengi siswanya agar tidak menjadi korban dari propaganda faham radikalisme yang belakangan ini semakin subur.

“Faham radikalisme sekarang ini semakin subur. Banyak remaja yang ikut terjebak dalam ideologi radikalisme dan akhirnya terlibat dalam kegiatan terorisme. Kami tidak ingin siswa kami terseret ke arus itu. Upaya preventif semacam ini sangat penting,” katanya.

Melalui halaqah tersebut, sambungnya, para siswa diberikan pemahaman tentang ideologi dan gerakan radikalisme, termasuk upaya propagandanya melalui media. Baik menyangkut sejarah radikalisme global, nasional, serta bahayanya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Halaqoh tersebut menghadirkan dua orang narasumber. Yakni untuk radikalisme di media menghadirkan Wartawan Suara Merdeka Nur Kholiq.

Sedangkan ideologi radikalisme dan gerakannya menghadirkan narasumber Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah Ahmad Naufa Khoirul Faizun.

Ketua Panitia Mukhamad Arwani menjelaskan, penganut faham radikalisme saat ini telah memanfaatkan media sebagai kanal melakukan propaganda.

“Bisa dilihat bagaimana derasnya wacana-wacana radikalisme di internet. Terutama dalam beberapa waktu terakhir, propaganda radikalisme cenderung mengarah pada perpecahan bangsa,” katanya.

Menurutnya, remaja khususnya pelajar merupakan kelompok yang rentan. Pasalnya, pemahaman mereka tentang ideologi-ideologi global belum banyak. Sementara mereka termasuk kelompok pemanfaat media internet yang cukup intens.

“Penggunaan media sosial sekarang ini sangat tinggi. Sementara banyak sekali ditemukan konten radikalisme di media sosial. Kami tidak ingin siswa MAN terjebak dan bahkan ikut dalam faham radikal karena terprovokasi atas informasi-informasi yang diaksesnya di media sosial. Harapan kami siswa MAN tetap konsisten mengembangkan Islam moderat yang rahmatan lil alamin,” tandasnya.

Sumber: Surat Kabar Suara Merdeka, 21 Mei 2016