Beredar luas di jagad dunia maya, sebuah capture salah satu akun twitter seseorang yang mengina KH. A. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, kiai kharismatik NU asal Rembang, Jawa Tengah, dengan kata-kata yang kurang pantas.

Sudah banyak dari santri, follower dan pecinta Gus Mus yang menyebarluaskan, mereproduksi penghinaan itu,meski diberi “caption” kecaman. Saya memilih tidak. Saya justeru berpikir, jika penghinaan itu tidak disebaluaskan, toh orang justeru tidak tahu, dan tidak banyak orang yang tahu dan mengutuk si penghina. Saya harus menghargai sikap orang-orang yang tidak terima itu; dan sikap dan pemikiran saya sendiri ini, di kondisi yang sedang carut-arut dan konteks saat ini, meski terkesan kurang wajar, dengan segala resikonya.

Disisi lain, ada kelompok yang sedang “merasa” Al-Quran dihina, dan saya diam saja. Meski saya pribadi, merasa hal itu tidak menghina. Namun saya perlu menghargai perasaan mereka yang menganggap itu menghina. Disaat seperti ini, jika reaktif, akan sangat mungkin mereka berpikir: “Alquran dihina kok diam saja, sedangkan ulamanya dihina tidak terima”. Saya menjaga tendensi semacam itu. Terlepas dengan segala perdebatannya, benar salah dan baik buruknya masing-masing pembela.

Bicara soal hina-menghina, cerca-mencerca, nista-menista, ada banyak kisah dan pelajaran yang menarik. Menarik dalam artian bisa kita ambil pelajarannya.

Ketika awal-awal Islam, nabi pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif. Mereka melempar batu yang diarahkan ke pembuluh darah di atas tumit Nabi saw sehingga kedua sandal beliau basah bersimbah darah. Ini tak hanya penghinaan, tetapi kekejaman yang menimpa sang pembawa Islam. Bahkan, saking geramnya, Malaikat Jibril ingin menghancurkan orang-orang itu, ingin menggulungnya dengan gunung. Namun, dengan sabar nabi menolak tawaran itu. Nabi masih berharap, keturunan mereka kelak masih mau mengikuti ajarannya. Boro-boro membalas, nabi justeru mendoakannya:

Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun (Ya Allah berilah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti).

Dalam kisah mengharukan lain, Nabi bahkan pernah ‘dihadiahi’ kotoran hewan, pada punggung, di saat Nabi sedang sujud dalam shalat. Abdullah bin Mas’ud jadi saksi, yang kemudian direkam pula dalam Shahih al-Bukhari.

Ibnu Mas’ud melihat Nabi tengah bersembahyang di dekat Ka’bah, dan pada saat yang sama Abu Jahl dan gerombolannya duduk-duduk tak jauh dari situ.

“Siapa mau membawa kotoran-kotoran kambing, yang disembelih kemarin, untuk ditaruh di atas punggung Muhammad, begitu dia sujud?”

Abu Jahl berseru pada punakawannya. Satu dari mereka, yang tak lain adalah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, serta Uqbah bin Abi Mu’ith, itu bergerak mengambil kotoran. Mereka tunggu hingga Nabi sampai pada sujud.

Dan benar, sampai ketika Nabi sujud, ditaruhlah kotoran itu di antara dua bahu Nabi. Abu Jahl, punggawa Quraisy yang selalu berupaya menghancurkan Nabi itu, dan gerombolannya menyaksikan dengan tawa keras. Nabi tetap dalam sujud hingga Fatimah az-Zahra membersihkan sembari meneteskan air mata. Tapi Nabi bukan sosok pemarah, bukan pendendam.

Menaikkan Derajat.
Saya pernah mendengar guru saya mengatakan, salah satu cobaan atau ujian bagi orang yang ingin diangkat derajatnya, ada lima. Namun saya tak hafal semuanya, alias lupa. Diantaranya adalah: dimusuhi sesama “profesi”-nya. Misal artis dengan sesama artis, pedagang dengan sesama pedagang, kiai dengan sesama kiai, dosen dengan sesaa dosen, penulis dengan sesama penulis, dan sebagainya. Kedua, dimusuhi keluarganya. Yah, keluarga. Meski tidak semuanya, ada diantara mereka yang “memusuhi” dan mengganjalnya. Ketiga, kata guru saya – salah satu ujian bagi orang yang akan diangkat derajatnya – adalah dihina, dicemooh dan dipisuhi orang bodoh. Dua hal lagi – maaf – saya lupa.

Saya sendiri, pernah merasakan sakit yang luar biasa, ketika guru, kiai, urabbi ruuhi saya “dilecehkan,” yang padahal itu kesalahan saya pribadi. Namun, ketika itu, saya tidak bisa berbuat banyak, karena yang “melecehkan” itu “levelnya” jauh diatas saya. Saya kalah segalanya: ilmu, amal dan sebagainya. Ketika terjadi hal seperti itu, saya lebih baik diam.

Memang, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk menangani orang yang menghina ulama. Pertama, di edukasi. Yah, penghinaan itu, kemungkinan besar, dari ketidaktahuan si penghina. Siapa tahu, setelah kenal, kemudian balik arah: mencintainya.

Kedua, bisa diberi pelajaran. Bisa di kaplok mukanya atau dihukum. Memang, teramat menyakitkan jika sesuatu maupun seseorang yang kita hormati, dihina dan dilukai. Namun, cara kedua ini, meski menurut saya tidak salah, kurang bijak. Tapi, menurut saya, itu sah-sah saja. Orang kadang bisa mengambil pelajaran setelah tahu akibat dari kesalahan yang ditimbulkan.

Lagu dari Sagita, salah satu musik koplo Jawa Timuran, dalam satu liriknya menarik untuk direnungi. “Sak sugih, Sugihe uwong mesti ono mlarate. Sak mlarat, Mlarate uwong mesti ono celengane (Sekaya-kayanya orang pasti ada miskinnya, dan semiskin-miskin orang, pasti punya tabungannya). Jika lagu itu tidak hanya dimaknai secara materialis, sejahat-jahat orang pasti punya kebaikan. Pun sebaliknya: sebaik-baik orang, punya sisi keburukan.

Itulah manusia dalam kehidupan: mahalul khata’ wan nisyan, tempat salah dan lupa. Jika salah, mesti ada yang membenarkannya (bukan justeru mengolok-oloknya), dan jika lupa perlu ada yang mengingatkannya.

Imam Syafii, salah satu pembangun madzhab terbesar di muka bumi, penah berkata soal kasus hina-menghina yang marak dewasa ini. “Biarlah mereka bersikap bodoh dan menghina, dan tetaplah kita bersikap santun. Gaharu akan semakin wangi ketika disulut api.”

Terakhir, apapun sikap kita, kita mesti tahu hakikatnya – kesejatian yang paling tidak menurut saya – adalah kunci pegangan kita semua. Yaitu, bahwa lebih mulia orang yang dihina dari pada penghina. Lebih selamat orang yang di dhalimi daripada orang yang mendhalimi. Lebih baik orang yang dibohongi daripada orang yang membohongi. Lebih tinggi derajat orang yang dinista daripada sang penista. Lebih agung orang yang ditindas daripada sang penindas. Wallahu A’lam.

[Semarang, 24/11/16] – Sumber foto: Fanpage Terong Gosong