Rintik hujan malam itu mengguyur ribuan manusia, yang tengah berkumpul di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah Kamis malam (24/11). Puluhan pedagang mengamankan dagangannya. Beberapa anak-anak sibuk menjajakan kertas karton untuk alas, di tengah membludaknya pengunjung ke jalan. Alas tikar dan karpet yang disediakan panitia, tak mampu lagi menampung ribuan massa yang datang dari berbagai penjuru, untuk melakukan “Shalawat dan Doa Bersama Untuk Bangsa” bersama Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf, peshalawat asal Solo, Jawa Tengah.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Dari parkiran jauh, terdengar sayup-sayup, gelegar orasi yang disampaikan KH Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf, Pengasuh PP API Tegalrejo. “Wamaa arsalnaaka illaa rahmatal lil’aalamin; Nabi Muhammad diutus ke dunia, tidak hanya untuk umat Islam saja, tetapi untuk seluruh semua makhluk, tanpa terkecuali,” katanya, kepada ribuan hadirin.

Para tamu yang jauh dan tak kebagian tempat, masih bisa menyaksikan pidato lewat layar besar yang dipasang di beberapa titik. Masih dengan iringan rintik hujan, kiai yang kerap ceramah di radio Fast FM itu melanjutkan.

“Perbedaan kita selaku manusia adalah fitrah. Barangsiapa yang tidak mau menerima perbedaan, maka dia melawan fitrah Allah SWT,” paparnya, dilanjut mengutip ayat: “Yaa ayyuhannaasu inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa waja’alnaakum syu’u bawwaqabaa ila lita’aarafuu, Inna akramakum ‘indallahi atqaakum;(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu”. (QS. Al-Hujirat [49]:13).

Kemudian, kiai yang menggagas program santripreunership tersebut menjelaskan, bahwa ia menengarai ada pihak-pihak yang ingin memecah-belah umat Islam dan Indonesia. “Kita hargai umat Islam yang dengan niat tulus ikut demo 411 kemarin. Dari pagi sampai maghrib, demonya lancar. Baru ada provokator setelah maghrib, kita menyayangkan hal itu. Ke depan, tanggal 212 akan ada demo lagi di Jakarta, saya mengimbau kepada semua santri dan masyarakat untuk tidak mengikutinya. Itu sudah keluar dari tujuan semula. Apalagi, jika jumlah massa banyak, sulit mengendalikan apabila ada provokator menyusupinya. Lebih baik belajar dan bekerja, daripada malah memacetkan Ibu Kota,” ungkapnya, diikuti tepuk tangan hadirin.

Gus Yusuf juga beharap, semua pihak untuk saling menahan diri, dan masing-masing saling menghargai. “Yang kemarin ikut demo, jangan mengolok-olok yang tidak demo. Yang kemarin tidak demo, tidak usah menjelek-jelekkan yang demo. Apalagi, seperti santri di API ini, jika saya berangkatkan ke Jakarta, malah kesenengen jalan-jalan, enggak demo tapi malah ngeloyor ke Ragunan dan Ancol,” selorohnya, diikuti gelaktawa hadirin: grrr! “Para santri ngaji, belajar agama, mewarisi ilmu-ilmu yang diajarkan Nabi, itu juga bagian dari jihad,” imbuhnya.

Kemudian hujan mereda. Beberapa pedagang asongan tampak kesana-kemari menawarkan dagangan. Diantara mereka terdengar agak mengeluh, justeru karena padatnya pengunjung, sehingga akses jalan dimana-mana macet.

Gus Yusuf masih melanjutkan. “Mari kita jaga bersama kebinekaan Indonesia ini, jangan sampai mau dipecah-belah. “Dar ul mafaasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih; mencegah kerusakan itu lebih diutamakan daripada mencari kebaikan,” tuturnya, mengutip kaidah fiqhiyyah. Ia juga mengutip ayat Al-quran: “Innallaaha la yuhibbul mufisidien; Allah tidak menyukai hamba-hambanya yang berbuat kerusakan. Indonesia adalah hasil perjuangan dengan mengorbankan darah dan nyawa para ulama, pejuang dan pahlawan kita semua. Jangan sampai kita yang hidup dari hasil tanah dan air Indonesia pemberian Allah ini, justru ingin menghancurkan hanya karena perbedaan,” terangnya.

Usai berorasi membangun spirit nasionalisme dengan berapi-api, Gus Yusuf menyudahi. Kemudian dilanjutkan sambutan dari Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Condro Kirono dan Kasdam IV Diponegoro Joni Supriyanto. Pada intinya, mereka bersyukur masih ada santri dan warga nahdliyyin yang mau mendoakan bangsa, dan menjaga kedamaian ditengah keragaman dan keberagamaan. Khusus sambutan Kasdam, ia berharap lebih kepada para santri.

“Saya berharap dan mendoakan, para santri-santri yang ribuan ini, kelak ada yang mau mendaftarkan diri menjadi TNI,” ungkapnya diiringi riuh tepuk tangan para santri.

Kemudian Habib Syekh bin Abdul Qadir As-seggaf, yang duduk bersama para tokoh-tokoh Jawa Tengah pun melantunkan beberapa nomor shalawat. Alunan suara rebana, bass, ketipung, darbuk diiringi koor dari para hadirin pun menggema, tenggelam dalam gelombang cinta kepada Utusan Allah, Sang Manusia Utama. Mereka, hampir hafal semua shalawat-shalawat yang yang dibawakan di malam itu, dari syiir Tanpo Waton, Padhang Bulan, Sidnan Nabi sampai Al-Madad.

Di sela shalawatan, Habib Syekh juga membawakan syair khusus untuk Indonesia. “Kita memohon kepada Allah, dengan wasilah shalawat kepada baginda Nabi Muhammad ini, Indonesia diselamatkan oleh Allah dari tangan-tangan jahil. Insya Allah, dengan doa-doa dari para santri dan hadirin sekalian ini, Allah takkan membiarkan bumi Indonesia yang dibangun para ulama, habaib, nenek moyang dan pejuang kemerdekaan ini diinjak-injak oleh segelintir orang yang tak bertanggungjawab,” harapnya.

Pada pukul 00.00, Habib Syekh memuncaki acara dengan berdiri bersama-sama, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Seakan, pesan di malam itu jelas: takkan membiarkan siapa saja yang ingin mengganti Indonesia, dengan pelbagai dasar yang belum tentu jelas kemanfaatannya. Juga, sebuah pesan tersirat pentingnya persatuan segenap anak bangsa untuk membela Bangsanya, Tanah Airnya.

Selesai acara, ribuan hadirin membubarkan diri masing-masing, bagai lebah yang keluar dari sarangnya. Sementara kami rombongan aktivis IPNU Jawa Tengah, diterima hangat oleh Gus Yusuf di kediamannya. Banyak tokoh ulama, anggota dewan maupun pejabat yang hadir di malam itu. Mereka bersilaturrahmi, merekatkan persaudaraan, berbagi informasi terbaru dan pengetahuan. Usai dipersilakan menyantap hidangan makanan prasmanan, dan ngobrol secukupnya, kami berpamit untuk kembali ke kantor PWNU di Semarang, dengan membawa kesan yang mendalam.[]

Tulisan ini pernah dimuat di NU Online pada 26 November 2016.