Setelah berjibaku dengan kemacetan Semarang – Pekalongan, akhirnya kami rombongan pengurus PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah sampai di kediaman Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Presiden Jam’iyyah Ahlith Thariqah Almu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman), salah satu sayap organisasi NU yang mengkonsolidasikan tarekat. Malam senin bakda isya, 27 November 2016, suasana kediaman beliau sudah dipenuhi beberapa tamu, termasuk beberapa aktivis IPNU-IPPNU Pekalongan yang menyambut dan mengantarkan sowan kami.

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Usai menunggu beliau empat jam, yang sedang istirahat sehabis keliling berdakwah, akhirnya pada pukul 23.00 WIB beliau keluar juga dari kamar. Abah – begitu para nahdliyyin akrab memanggil – memakai kaus putih dengan sarung cokelat, menemui kami para tamu. Beliau tak berpeci atau sorban; terkesan lebih santai dan akrab.

Dengan bersndar pada bantal krem, beliau duduk bersila. Para tamu pun mengerubuti, duduk melingkar mengitari beliau. Satu persatu, aduan rakyat dari berbagai daerah, kondisi dan kepentingan di jam malam itu diterima.

Dari arah kanan beliau, sekelompok orang mendekat, meminta pendapat. “Bib, minta nasehat dan berkah doanya, kami sedang merintis usaha pabrik rokok,” buka salah satu darinya, sambil menyodorkan satu slop rokok. “Insya Allah, nanti sebagian keuntungan akan kami berikan kepada anak-anak yatim,” imbuhnya.

Menjawab hal ini, Abah mendoakan, diiringi nasehat yang bijak. “Menurut saya, kamu usaha ya usaha saja dulu, perkuat ekonomimu, jangan dulu berpikir sosial. Jika belum kuat usahamu sudah memikirkan hal sosial, nanti malah njomplang. Perkuat saja usahanya dulu, baru kalau sudah besar, kuat, silakan berpikir urusan sosial,” ungkapnya, menasehati. Tamu-tamu itu pun menurut, kemudian pamit undur diri.

Kelompok tamu selanjutnya mendekat. Kali ini mereka meminta pendapat, tentang rencana mereka membangun yayasan Anak yatim – piatu. Menanggapi hal ini, jawaban Abah tak seperti yang kami duga.

“Membuat yayasan untuk yatim piatu itu baik, tetapi harus sangat hati-hati: jangan sampai bukan yayasan yang membantu anak yatim tetapi anak yatim yang dijadikan “jualan” untuk mobilitas yayasan. Hari ini banyak terjadi seperti ini. Saya, kalau dapat amanat titipan uang untuk yatim piatu oleh seseorang, saya perbaharui kembali kesediaannya. Saya mau menyalurkan uang ini untuk yatim piatu, tetapi jangan untuk dan khusus untuk yatim piatu. Anda niatkan saja uang ini untuk pendidikan. Masalahnya, kalau sampai uang amanati itu tidak semuanya diberikan untuk yatim piatu, atau misalnya saya ketriwal, membeli rokok dengan uang itu, haram hukumnya. Ini penting. Maka, baiknya, kalau bikin yayasan bikin yayasan pendidikan saja, jangan atasnama yatim piatu, meski nantinya mengurusi yatim piatu. Karena kalau orang sudah niat menyumbang uang untuk yatim piatu, itu tidak boleh untuk yang lain,” ungkapnya, panjang lebar.

Para tamu yang jumlahnya puluhan itu pun menyimak dengan seksama, petuah demi petuah dalam bentuk kata. Sesekali Abah meminum minuman yang ada di depannya, kemudian melanjutkan.

“Sekarang ini banyak ceramah yang tinggi-tinggi, tetapi kadang lupa hal-hal yang kecil, amaliah fiqh sehari-hari. Contohnya: jika ada masjid di bongkar, lalu gentengnya diturunkan dan ditumpuk, kadang ibu-ibu melihat sambil duduk di atasnya. Jika ibu itu sedang haid, itu tidak boleh. Genteng itu asih bagian dari masjid yang tidak boleh diduduki wanita yang sedang haid. Contoh lain, misal masjid di pugar, kayu-kayunya itu masih barang wakaf milik masjid. Seandainya untuk bahan bakar, untuk merebus air misalnya, mesti digunakan untuk orang-orang yang bekerja – terlibat dalam – merenovasi masjid, yang lain tidak boleh. Nah, hal-hal kecil seperti ini bisa menjerumuskan kita pada keharaman kalau tidak hati-hati,” tuturnya.

Para tamu itupun menerima nasehat Abah, yaitu jangan pernah memanfaatkan yatim piatu yang justeru membantu yayasan, bukan sebaliknya. Juga, agar yayasan memakai nama yayasan pendidikan, dengan begitu terhindar dari makan harta haram yatim piatu, jika memanfaatkan uang untuk operasional. Kemudian mereka undur diri. Para tamu masih antri.
Seorang ibu, kemudian mendekat bersimpuh. Sambil mengeluh sedih, ia mengadu bahwa anak putrinya yang telah menikah diselingkuhi oleh suaminya. Sang ibu meminta doa kepada orang yang ada di hadapannya.

“Silakan anak ibu suruh baca Ayat Kursi sebanyak 17 kali setiap habis shalat subuh dan maghrib. Ini agar perempuan memiliki wibawa. Namun, wibawa disini bukan untuk berani dengan suami, kalau itu malah dosa,” tutur Abah. Sang ibu pun menurut. Ia kemudian undur diri.

Kemudian seorang pemuda mendekat, membawa beberapa lembar kertas putih. “Bah, Mohon doanya, ini syiir saya buat sendiri….”

Abah pun mengecek tulisan dari syiir itu. “Ini ada yang salah sedikit, tolong dibenarkan,” nasehat beliau.
“Anu, ini maksudnya begini…begini…,” kata sang pemuda, sampai beberapa kali.

“Kamu kesini minta nasehat atau gimana? Menurut saya, di syair itu ada yang salah. Sebelum kamu nanti digebukin sama para ahlinya, saya ingatkan. Terserah mau kamu pakai atau tidak,” kata Abah, mengingatkan. Sang pemuda pun menunduk diam, seakan mengakui bahwa ia datang untuk meminta nasehat. Ia bersalaman dan mengundurkan diri.
Sementara ia mengundurkan diri, ada juga seorang pemuda yang nyelonong di samping beliau, kemudian minta foto. Benar kata Gus Mus, kalau pemuda dulu, ketemu kiai atau ulama minta nasehatnya, sekarang minta foto bareng dengan berbagai gaya. Tapi sudah sangat mending: bisa cinta pada ulama.

Kemudian, ada juga yang membawa air putih, dengan dibuka tutupnya, minta di doakan. Abah mendoakan dan meniupnya ke arah minuman.

Seorang ibu, juga mendekat mengadu. “Bah, anak saya sudah sarjana, namun tak kerja-kerja,” adunya, sambil menundukkan muka, sedih.

“Begini, Bu. Coba anak ibu dinasehati: hatinya jangan ta’alluq – bergantung – pada ijasah atau gelar. Selagi bergantung pada ijasah, mestinya kerja gengsi, jika tidak atau belum sesuai dengan ekspektasinya.Kemudian bacalah fatihah tujuh kali, setiap habis shalat,” nasehatnya.

Sementara kami, meminta beliau untuk mengisi mauidlah chasanah dalam rangka Konferensi Wilayah IPNU-IPPNU Jawa Tengah, 11 Desember mendatang. Beliau menyanggupinya, dan jawaban itu membuat kami semua lega dan bahagia.

Semarang, 28 November 2016