Saya akan memenuhi permintaan salah satu teman, yang menyuruh saya menulis tentang akhlak kiai dan para ulama yang teduh, ditengah berbagai cacian dan hujatan di media sosial. Ini adalah tulisan pertama dari permintaan itu, berdasarkan pengalaman saya saja, karena sedang malas riset data.


Meski saya bukan ulama, suatu ketika, saya pernah diundang mengikuti Halaqah Alim Ulama se-Jawa Tengah, yang diselenggarakan di Kendal, oleh salah satu Partai Politik. Waktu itu, saya hadir dalam kapasitas sebagai ketua IPNU Purworejo. Tempatnya adalah Pondok Pesantren Al-Fadhlu wal Fadhilah, Kaliwungu, Kendal, pimpinan KH Dimyati Rois atau yang lebih dikenal Mbah Dim.

Pertemuan itu seperti laiknya pertemuan pada umumnya: ada sambutan, ceramah dan makan-makan. Khusus untuk makan-makan, disediakan pelbagai ikan laut yang segar. Prasmanan pula. Kata orang-orang, Mbah Dim sang pengasuh pesantren, memiliki banyak tambak ikan yang luas. Beliau adalah sosok kiai yang memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, khususnya di bidang perikanan. Para tamu tentunya puas dengan sambutan dan suguhan itu.

Namun, bukan itu yang paling menarik bagi saya waktu itu. Bukan pula sambutan dari banyak tokoh nasional yang hadir dan berceramah. Namun Mbah Dim, sang tuan rumah. Begini ceritanya.

Di depan ribuan yang hadir waktu itu, ada panggung kecil yang diisi oleh berbagai tokoh, baik dari politisi nasional maupun ulama. Tokoh-tokoh yang kadang nongol di televisi. Ada juga sang tuan rumah: Mbah Dim. Acara demi acara berjalan. Banyak tokoh yang dikawal maju ke panggung kecil. Ada juga tokoh yang – saya melihat dan mendengar sendiri – minta dikawal untuk maju di atas panggung yang kecil itu. Maklum, siapapun yang duduk di panggung kecil itu, akan menjadi pusat perhatian, difoto dan jadi gengsi tersendiri. Semua yang merasa dirinya tokoh ingin duduk di depan.

Singkat cerita, acara sudah ada di puncak. Sang MC membacakan urutan acara terakhir: doa, yang akan dibawakan oleh Mbah Dim.

Namun apa yang terjadi, semua tokoh yang ada di panggung kecil depan itu saling pandang: mencari keberadaan Mbah Dim. Ternyata beliau sudah tidak ada di depan. Mungkin karena saking banyaknya tokoh yang merangsek kedepan panggung kecil itu. Setelah semua tokoh yang ada di depan itu melihat kekanan-kekiri, juga para hadirin sibuk mencari di ujung mana Mbah Dim berada, tiba-tiba sesuatu terjadi.

Mbah Dim, kiai dan ulama yang akan memuncaki acara dengan doa itu, berdiri dari arah kami – hadirin – dan secara perlahan maju kedepan. Semua hadirin terperangah, khususnya saya, yang menyaksikan sendiri kejadian itu. Ternyata, beliau ada diantara kami, lesehan, menghadap ke panggung, dan menjadi peserta secara umum.

Hal ini, bagi saya adalah pelajaran yang menarik. Dimana menariknya? Yaitu ternyata beliau memiliki kepribadian yang rendah hati, tidak ingin menonjol-nonjolkan diri dan mau mengalahkan ego pribadi. Saya terkesan, dan terngiang sampai saat ini, meski waktu itu baru bertemu pertama kali. Inilah, sesuatu yang hari ini mulai langka, dimana semua orang ingin di depan sendiri, menang sendiri dan merasa benar sendiri.

Semarang, 27/11/2016